Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Tamu Pernikahan


__ADS_3

🌟 Jangan lupa LIKE, FAVORIT, dan RATE 🌟


~ Happy Reading ~


Seperti petir, yang hanya menyambar sekali di tempat yang sama ….


Seperti itu pula cintaku semestinya ….


Namun, kenapa kini kembali bergetar di hati yang berbeda ….


***


"Aku akan meminta Milan melepasku pada hari-hari tertentu. Dan aku akan menemui seseorang di hari itu. Tetapi, kenapa Milan selalu tersenyum penuh arti ketika menatapku," batin Tania ketika terbaring sembari menatap langit-langit kamarnya dan menoleh ke arah Milan yang kini juga menatapnya sambil tidur dengan posisi miring.


Entah sejak pukul berapa setelah lelah bercengkrama, keduanya tiba-tiba saja tertidur pulas. Milan memang sengaja menunjukkan sikap agresif ketika di depan Tania. Padahal sebenarnya justru ia menjaga, Milan tidak akan menyentuh Tania tanpa ijinnya, meskipun status mereka kini adalah sepasang suami istri.


***


Hari mulai pagi. Tania menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia terkejut ketika mendapati Milan berada tepat di sampingnya sambil memeluk erat pinggulnya yang ramping.


Perlahan Tania menyingkirkan lengan kekar itu, lalu perlahan meninggalkan Milan menuju kamar mandi. Setelah beberapa saat membersihkan diri, Tania keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya.


Matanya membulat sempurna  ketika mendapati Milan telah berdiri menunggu di samping pintu kamar mandi, dan yang membuat Tania semakin terlonjak adalah keberadaan dua maid yang ikut serta bersama Milan berdiri di sana.


"A-apa ini?" tanya Tania, dengan nada tergagap. Ia malu sekaligus cemas. 


Tania tidak pernah menyangka jika orang lain akan memergoki mereka berdua dalam kamar. Padahal mereka sudah resmi menjadi suami istri. Namun, tetap saja karena ini pertama kali membuat Tania tidak nyaman.

__ADS_1


"Mereka akan segera merias kamu, sebentar lagi perancang busana juga akan datang. Jangan bikin malu," bisik Milan, ditelinga Melissa. Suaranya terdengar mendesis lirih. Hembusan napasnya berhembus hangat, membuat pikiran Tania melayang menjalar ke segala arah karena gugup yang luar biasa.


Tania masih memaku, ia bahkan tidak menyadari jika Milan masih berada tepat di depannya. Karena gemas, Milan meniup wajah cantik Tania yang nampak segar sehabis mandi. Seketika gadis itu terlonjak, pipinya memerah lalu mengerjap berulang kali hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti maid menuju meja riasnya.


"Aku permisi ganti pakaian dulu," lirih Tania.


"Tidak perlu, sebentar lagi juga ganti gaun pengantin. Kenakan saja ini," ucap salah seorang maid, sambil mengulurkan handuk berbentuk kimono Jepang. Karena Tania jelas terlihat kurang nyaman dengan hanya mengenakan selembar handuk.


Seketika gadis itu meraih handuk yang diberikan oleh maid, setelah selesai mengenakannya ia segera duduk di depan meja riasnya.


Kedua maid tersebut saling bertatapan dengan penuh rasa kagum melihat Tania yang begitu cantik.


"Belum dirias saja kamu cantik Non ... beruntung sekali ya Pak Milan," ucap seorang maid, membuat maid yang lainnya mengangguk setuju. Setelah itu keduanya sibuk mengeluarkan peralatan makeup dan segera memulai pekerjaan mereka.


Mereka harus bekerja dengan cepat, tentu saja karena Milan tidak suka dengan siapapun yang bekerja mengulur waktu dengannya. Karena sikapnya yang dingin dan tegas, menjadikan Milan sosok yang disegani berbagai kalangan.


Saat itu, Tania sedang mematut diri di depan cermin. Ia meraba perlahan pipinya sendiri, disaat yang bersamaan Milan keluar dari kamar mandi. Seketika maid dan juga perancang gaun pengantin menoleh refleks secara bersamaan.


"Kami harus membantu Anda mengenakan jas yang sudah kami sediakan," ucap asisten perancang busana tersebut.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Tunggu saja di luar. Tolong semuanya keluar," ucap Milan, nadanya sedikit meninggi setelah melambaikan tangannya ke arah luar kamar. Tanpa menunggu aba-aba, mereka pergi bersamaan meninggalkan kamar pengantin baru itu.


Tania masih berdiri dengan kepala tertunduk di depan cermin. Siapa sangka jika Milan memeluk Tania dari arah belakang, meski kondisinya masih dengan sehelai handuk yang hanya terlilit di pinggangnya saja.


"Milan! Ini bukan bagian dari kesepakatan kita," lirih Tania, dengan tubuh bergetar. Namun, ia juga enggan menolak.


Perlahan Milan mulai menjauh, dan bergegas mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh perancang busana pengantin sebelumnya. Warnanya senada, dengan gaun pengantin yang di kenakan Tania. Jas body fit berwarna putih, membuat Milan nampak begitu tampan berkharismatik kala itu. Tania membelakangi Milan ketika pria itu sedang berganti pakaian, sehingga setelah selesaipun ia tidak tahu.

__ADS_1


"Tania!" panggil Milan, dengan penuh penekanan, meski tidak dengan suara keras. Suara berat, dengan serak yang khas saja mampu membuat siapapun yang mendengarnya bergetar tubuhnya dan juga hatinya pasti bergetar. Antara takut, dan juga takjub.


Tania menoleh perlahan, ia tertegun menatap Milan. Tidak heran. Milan memang memiliki paras yang lebih memukau dari Edo. Hanya saja, kali ini Milan terlihat berbeda dengan balutan busana pengantinnya.


"Ayo kita keluar! Sopir sudah menunggu, dan mungkin orang-orang juga sudah menunggu di gedung tempat acara kita digelar," ucap Milan, kemudian meraih dan menggenggam tangan Tania meninggalkan tempatnya.


Ketika suara deru mesin mobil mulai terhenti, Milan mulai melangkah turun sambil menggandeng tangan Tania. Semua pasang mata tidak berhenti menatap keduanya. Sungguh sangat serasi. Pria tampan bersanding dengan wanita cantik yang sejujurnya tujuannya ingin membalas dendam atas kematian sang ayah. Ironis sekali memang.


Netra Tania mengedar ke seluruh tamu yang datang. Keluarga Milan sudah hadir di sana. Menunggu pengesahan pernikahan digelar. Tetapi, Tania tidak menemukan keberadaan Edo di gedung itu. Hatinya seketika sakit, perih dan terluka.


Tania dan Milan tetap berjalan perlahan. Keduanya masih saling mengeratkan genggaman tangannya. Meski sebenarnya hati Tania semakin tak karuan, tetapi ia berusaha menguasai keadaan agar tidak membuat masalah bagi Milan.


Tak butuh waktu lama, setelah lima belas menit berlalu melewati beberapa proses keduanya akhirnya sah juga menjadi sepasang suami istri di mata agama dan juga negara. Entah kenapa, Milan justru tersenyum lega seperti pengantin pria kebanyakan usai pernikahan. Namun, berbeda dengan Tania. Wajahnya terlihat pucat, sorot matanya hanya menatap sendu ke arah Raffa dan Burhan.


"Permisi, selamat atas pernikahanmu," ucap seorang tamu yang tiba-tiba muncul dan mencium punggung tangan Tania.


Sontak saja membuat Milan gusar ketika itu. Berani sekali pria itu. Memangnya siapa dia. Memang benar, terlihat dari dandanannya, ia bukan dari kalangan biasa. Mata Tania membulat sempurna, gadis itu ternyata mengenali tamu dengan wajah tampan yang ikut serta hadir di acara pernikahannya.


— To Be Continued


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, motivasi kalian sangat penting untuk kelangsungan novel ini. Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2