Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Dilema Gaun Pengantin


__ADS_3

🌟 LIKE, FAVORIT, RATE 🌟


~ Hay semua ... jangan lupa tinggalkan jejak komentar setelah membaca, sebagai apresiasi terhadap penulis ya.


~ Happy Reading ~


Pagi terasa dingin, tetapi dekapan tangan Milan yang begitu erat membuat hawa ruangan berubah menjadi panas. Tania terus saja berontak, tetapi Milan semakin mengeratkan pelukannya. Milan meletakkan dagunya di bahu Tania sembari memejamkan matanya, jantung Tania seketika berdetak dua kali lipat dari biasanya.


"Milan, lepaskan!" pekik Tania, sembari berontak.


Milan mengabaikan teriakan Tania dan juga penolakan yang sengaja gadis itu tampakkan terhadapnya.


Merasa diabaikan, Tania memutar otak mencari jalan keluar. Ia pada akhirnya justru pasrah membiarkan Milan hanyut mendekapnya.


"Kalau gak cepetan, aku gak jadi ikut ke perancang busana. Biar saja aku ngambek," ucap Tania, mendesah kesal.


Milan tersadar, lalu mengangkat kepalanya dan merenggangkan pelukannya. Saat itu, Tania segera beranjak berdiri meninggalkan meja makan dan menapaki anak tangga satu persatu. Sementara sorot matanya tetap tertuju pada Milan yang saat itu duduk memaku menatapnya.


"Aku hanya mengambil tas," ucap Tania, sejenak menghentikan langkahnya karena tak mau Milan gelisah menunggunya. Kemudian melanjutkan langkahnya.


Sepuluh menit kemudian, Tania menuruni tangga sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik ke arah meja makan. Ia kembali menghentikan langkahnya mengetahui Milan terlihat lahap menyantap bubur ayam yang semula di bawa olehnya.


"Buburku dihabiskan?" Tania menarik mangkuk yang sedang di pegang oleh Milan.


"Milan." Panggilan Tania membuat Milan tersentak, bahkan tersedak. Pria tersebut nampak menyedihkan ketika kesakitan sambil memegangi lehernya.


Jemarinya meraih gelas, dengan sigap Tania menuangkan air lalu menyodorkan pada Milan. Pria tersebut menerima uluran tangan Tania dan meneguk air hingga tandas.


"Maaf, aku pikir kamu gak suka pemberianku," balas Milan, setelah batuknya mulai reda.


"Kok malah ngelamun, katanya buru-buru."


"Ah ... enggak, aku hanya merasa bersyukur bisa memiliki gadis cantik sepertimu. Meski dengan cara yang mungkin membuatmu kesal." Raut wajah Milan berubah sendu. Ada kesedihan mendalam yang sedang ia rasakan.

__ADS_1


Tanpa sadar Tania menyendok bubur ayam yang tersisa sedikit lalu ia makan. Milan mengerutkan keningnya.


"Ayo, aku kita sarapan di luar saja," ucap Milan. Segera bangkit dan meninggalkan tempat. Tania segera mengikuti Milan menuju mobilnya.


Tania tak habis pikir apa yang ada dipikiran Milan sebenarnya. Bagaimana bisa pria mapan, tampan dan hidupnya serba berkecukupan tega menjerat kekasih adiknya sendiri demi mewujudkan keinginannya.


Selama tiga puluh menit di dalam mobil Milan, pikiran Tania berputar pada keseharian dan juga keluarga pria itu saja. Tanpa disadari jika mobil sudah berhenti. Milan segera turun, tetapi yang membuat Tania terkejut adalah Milan menghentikan mobilnya di pelataran sebuah PT. Bertuliskan perusahaan 'properti' yang lumayan besar.


Milan segera membuka pintu mobil untuk Tania, membuat gadis itu semakin memaku tak percaya. Bukankah Milan selalu kasar, tetapi anehnya ia selalu bersikap baik dibalik sikap kasarnya. Membuat Tania terkadang tidak tega jika menolak keinginan Milan secara tiba-tiba.


Milan membenarkan pakaian santainya. Sementara Tania masih diam mematung memikirkan jika Milan akan menemui siapa di tempat tersebut dengan menggunakan pakaian santainya.


Hatinya bertanya-tanya semakin penasaran saja. Baru saja nama Milan melintas di pikirannya, pria dingin berwajah tampan itu sudah menyapa para karyawan yang sibuk menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Pagi, Bos," ucap mereka. Mata Tania melebar seketika.


"Ya, lanjut bekerja ya." Milan membalas dengan senyuman manis pada semua karyawan dan juga karyawati yang bekerja di perusahaan tersebut. Senyum maut bagi kaum hawa yang single. Membuat hati Tania memanas menahan rasa cemburunya yang kian membuncah.


Tania sampai geleng-geleng dan tersenyum kecut melihatnya.


Tania yang sedang fokus dengan sikap konyol para staf kantor terhenyak seketika Milan menyapanya.


"Ah, ya. oke." Tania seketika gugup tak menentu. Aneh memang, seharusnya Tania tidak perlu melibatkan perasannya terhadap Milan.


Lalu Tania berjalan mengekor di belakang Milan memasuki area kantor, melewati koridor sepi hingga terhenti di sebuah ruangan kebesaran penguasa perusahaan. Mata Tania semakin membulat sempurna ketika mengetahui nama Milan terpampang di sebuah papan nama yang terletak di atas meja bertuliskan jabatan dan nama dengan tinta emas.


"Duduk dulu," ucap Milan.


Tania segera menjatuhkan tubuhnya di sofa sudut ruangan yang terlihat mewah dengan bahan bludru berwarna merah maroon namun nampak elegan.


"Katanya ke perancang busana?" tanya Tania, berusaha mengingatkan Milan.


"Sabar dulu," jawab Milan yang amat irit kata.

__ADS_1


Tak lama kemudian, suara langkah kaki beberapa orang terhentak memasuki ruangan. Tania tersentak, seketika menoleh refleks ke arah sumber suara.


Seketika Tania terperanjat ketika mengetahui Edo dan juga keluarga datang bersama beberapa orang perancang busana lengkap dengan koper berukuran besar yang di seret dan diletakkan tepat di depan Tania.


"Aku akan membantumu mengenakan gaun pengantin milikmu, ini keinginan Milan," ucap Raya, semakin membuat napas Tania naik turun akibat menahan emosinya.


Hal yang membuat Tania tidak memahami adalah, Milan begitu tega berbuat sejahat itu pada keluarganya sendiri. Terlepas bagaimana pun Raya adalah ibu tirinya.


Edo menangkap raut wajah Tania tak nyaman saat itu. Tapi ia tetap diam tak bergeming. Menerima keadaan meski terpaksa.


Setelah dua puluh menit kemudian, Tania keluar dari ruangan lain dan berjalan perlahan dengan seikat bunga di tangannya. Membuat hati Edo teriris nyeri melihatnya.


"Kamu cantik, Tania. Aku tidak salah memilih kamu menjadikan sebagai seorang istri," tukas Milan, sambil tertawa licik melirik Edo lalu berpindah menatap Raya yang memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata tajam Milan saat itu.


Dahi Tania berkerut memperhatikan sikap Milan yang dirasa tak wajar ketika berhadapan dengan ibu tiri dan juga adiknya. Ada rasa dendam yang lama tertahan yang sengaja Milan perlihatkan pada semua orang yang berada di tempat itu. Baru saja Milan terlihat baik dan perhatian terhadapnya, sekarang membuat pikiran Tania kembali berubah.


"Tania." Suara bass terdengar amat dekat di telinganya. Tanpa Tania tahu Milan telah berdiri tepat di belakangnya sambil melingkarkan tangannya di perut Tania di hadapan semua orang.


Tania tersentak kaget hingga berjingkat dan oleng ke samping. Untung saja Milan, segera menangkapnya hingga ia tidak sampai terpelanting jatuh ke lantai.


Mata Tania kian melebar sempurna ketika menyadari Milan menangkapnya, kedua mata mereka beradu pandang tepat di hadapan seluruh keluarga Milan.


Namun, Tania yang merasa risih segera bereaksi lebih hingga refleks mendorong Milan hingga sama-sama tersungkur di lantai saat Milan secara tak sadar juga turut menarik pinggangnya saat terjatuh. Kecelakaan naas pun terjadi. Tubuh ramping Tania kini berada tepat di atas tubuh Milan yang masih menggenggam erat pinggangnya.


***


— To Be Continued


🌠 Hollaaa kesayangan semua, "Dia Bukan Gadis Biasa" adalah novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik)

__ADS_1


Found me on IG: @lia_lintang08


__ADS_2