
Tania memilih untuk berdiam diri bersama Edo ketika berada di kapal laut. Mereka sedang menyeberang menuju ke Bali, terpaksa harus dilakukan dengan jalur ini untuk menghindari para preman sewaan yang sudah menunggu mereka di bandara.
Ayah kandung Tania, yang sengaja meminta mereka melewati jalur tersebut dan memberikan kabar pada Milan setelah orang kepercayaannya memberikan informasi terkait.
"Mau duduk di atas? Biar kamu gak mabuk ombak laut," ucap Edo menawarkan diri.
Tania menyambutnya dengan senyum ramah. Namun, ia masih memikirkan perasaan Milan. Bahkan meski Milan telah menyakiti hatinya. Bagi Tania, Milan yang kini masih berstatus suami sudah sepantasnya ia hormati.
Sekilas ia menoleh arah Milan yang berusaha bersikap tak acuh di depan keduanya.
Edo mengesah, kemudian dengan sengaja ia mendekati Milan yang justru tak acuh. Karena Milan tidak memberikan respon terhadap keduanya, Edo memberanikan diri menyenggol bahu kakak tirinya hingga beradu.
DUG!
Milan terkesiap. Matanya membola menatap Edo dengan wajah geram. Malas meladeni, Milan pun mengalihkan pandangan pada istrinya.
"Aku mau Edo, jika Milan juga mau menemaniku duduk di atas," jawabnya, sembari melempar pandang pada Milan yang terkesan sedang menunggu jawabannya.
Sementara Milan hanya membalas dengan senyum kecut, seakan tak rela wanita yang dicintai berdekatan dengan adik tirinya. Terlebih Edo adalah mantan kekasihnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa mereka sudah menyeberang. Sebuah mobil mewah telah menunggu. Edo ternyata meninggalkan mobil miliknya di pelabuhan untuk mengelabui para preman jalanan yang masih juga mengejar dan menggantinya dengan mobil lainnya yang sudah disediakan sebelumnya.
Tania dan Milan memilih menuruti perintah Edo. Tentu saja mereka lelah dengan pelarian ini. Hidup damai adalah keinginan keduanya.
"Kita berhenti di rumah makan Tempoe Doelo ya," ucap Edo. Setelah mendengar suara dari perut Tania. Bahkan gadis cantik itu pun sedang memegangi perutnya sendiri.
Tania dan Milan saling bertukar pandang. Tania membaca isyarat yang diberikan oleh Milan padanya dengan kedipan mata yang bergerak slow motion.
Mungkin Tania tak ingin suaminya sakit hati seperti dirinya.
"Kita langsung saja Do, aku lelah," tukas Tania menimpali.
"Om Burhan menunggu di sana," balas Edo cepat. Sembari melangkah lebar.
Membuat Tania memicingkan matanya, ia terkejut mendengar nama Burhan.
"Om Burhan?" tanya Tania, ragu-ragu.
"Ya, dia ayah kandung kamu. Itu kenapa dia yang menikahkan kalian. Memangnya Kak Milan tidak cerita?" tanya Edo, sengaja menjatuhkan Milan.
Milan geram, raut wajahnya berubah merah padam. Ingin rasanya ia menghajar Edo saat itu juga, kalau saja tidak berada dalam situasi sulit. Semua pasti Milan lakukan.
__ADS_1
Sementara Tania, ia begitu terkejut. Meski sebenarnya ia sudah lama menduga. Pernah sekali Tania menangkap raut wajah cemas yang Burhan tampakkan dulu kepadanya. Ketika mereka sering bertemu.
Mata Tania berubah berembun. Sesekali ia bahkan mengusap bulir bening yang terus merembes membasahi pipi putihnya.
Milan semakin gusar melihat perhatian yang ditunjukkan oleh Edo. Ketika itu, Edo bergegas berjalan mendekati Tania. Sentuhan ibu jari yang lembut sengaja Edo daratkan di pipi Tania untuk mengusir sedihnya.
Namun, Tania yang merasakan kesedihan begitu dalam mulai lupa keberadaan suaminya. Ia larut dalam tangis. Napasnya semakin sesak, isakan tangis pun semakin menjadi ketika mengingat perhatian yang sama yang ia dapatkan dari Edo di masa lalu.
***
Kini Tania dan Burhan saling bertemu. Keduanya saling memandang dari jarak kira-kira sepuluh meter, saat Tania hendak berlari menghampiri, tiba-tiba Burhan memberikan isyarat mengangkat sebelah telapak tangan agar Tania diam. Setelahnya, Burhan justru menghilang di tengah-tengah kerumunan orang.
Tania yang masih syoook kemudian jatuh bersimpuh di lantai. Ia berubah kecewa. Ingin rasanya ia mendengar pengakuan langsung dari pria paruh baya itu jika benar adanya Tania adalah keturunannya.
Di saat yang bersamaan suara ponsel dari balik jas yang Edo kenakan berdering. Edo bergegas mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi tersebut.
Edo mengerti jika itu adalah panggilan telepon dari Burhan yang ditujukan untuk Tania.
"Tan, berbicaralah. Jangan sedih, ataupun marah. Om Burhan memiliki alasan, tentu ini beliau lakukan demi kebaikan dan kebahagiaan kamu," ucap Edo, sembari menyodorkan ponsel yang digenggamnya.
Tania pun segera menggapainya, tanpa ragu. Meski tangisnya semakin jelas terdengar. Edo memegang bahu gadis cantik tersebut membantunya untuk berdiri, dan menopang tubuh ramping itu dengan lengan kekarnya.
Mata Milan membola, ia bergegas menggantikan posisi Edo dan memeluk erat istrinya.
"Halo gadis kuat," balas pria paruh baya di seberang telepon, yang tak lain adalah Burhan.
"Katakan, siapa aku ini sebenarnya?" tanya Tania dengan mata yang berembun dan kian merebak mengalir deras.
"Aku minta maaf, aku tidak pantas untuk dipanggil ayah!"
"Apa itu artinya kau adalah ayah kandungku?"
"Ya. Maafkan pria tua tak berguna ini, Nak." Keduanya kembali bertatapan mata dari jarak yang lumayan jauh.
"Aku ingin menemui Papa! Kenapa ketidak adilan ini terjadi?" tanya Tania, sambil terisak-isak.
Sementara dari kejauhan, di balik pilar bangunan rumah makan, seorang pria paruh baya sedang memperhatikan putrinya. Meski matanya berkaca-kaca, ia tidak sedikitpun melepaskan tatapan matanya.
Sungguh mengharukan. Sejak Tania kecil bahkan ia belum pernah mengatakan bahwa dirinya lah orang tua kandungnya.
"Ini demi keselamatan kamu. Jalani hidup dengan bahagia. Meski bukan dengan identitas sebenarnya, Papa janji akan tetap berada di dekatmu. Meskipun kita tidak akan pernah bisa bersama, Nak," tutur Pak Burhan.
__ADS_1
Tangis Tania pecah dalam pelukan Edo. Namun, Milan tidak tinggal diam dan mengambil alih.
"Aku butuh alasan, untuk semua ini. Apa salahku?" tanya Tania, sembari mengedarkan pandangan kesekitar tempat. Mencari-cari keberadaan ayahnya.
Kedua mata mereka bertemu pandang hanya sepersekian detik. Kemudian Tania bergegas melangkah menghampiri, tiba-tiba segerumbulan orang melintas. Beberapa saat kemudian, Pak Burhan kembali menghilang.
"Tania, sebenarnya aku ditugaskan untuk Menjemput kamu dan Kak Milan untuk ke suatu tempat," ucap Edo, memberikan arahan agar lekas bergerak.
"Kemana?" tanya Tania, sembari mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang membanjiri pipi mulusnya.
"Villa pribadi keluarga, nanti kamu akan tahu harus apa dan bagaimana masa depan kamu selanjutnya," balas Edo.
"Ayo lekas bergerak," ajak Milan sembari melangkah ke luar rumah makan Tempo Doeloe.
"Tunggu, aku lapar," desis Tania. Suaranya terdengar lirih. Membuat kedua pria tampan yang mendampingi nya menghentikan langkah lalu saling bertatapan mata.
Seakan mengerti isyarat mata Edo, Milan bergegas mengeluarkan ponselnya dan memperhatikan sekitar. Benar saja, ternyata Burhan telah mengirimkan pesan agar mereka lekas meninggalkan tempat itu.
"Kita makan di villa saja ya," bujuk Milan, sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya.
Menunjukkan kemesraan di depan Edo memang sengaja Milan lakukan. Ia hanya ingin Edo sadar, bahwa kini Milan dan Tania bagaimana pun telah terikat dengan pernikahan. Sungguh tak pantas baginya mengganggu orang yang sudah memiliki suami.
Tania memilih menurut. Melangkah menuju mobil dengan langkah lebar. Ia penasaran dengan kejutan apa lagi yang disiapkan oleh Burhan untuknya.
Mereka tidak lagi memperhatikan tempat sekitar. Senyum lega terpancar dari raut wajah pria paruh baya yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Sementara itu, sepanjang perjalanan Milan dan Edo tidak lagi menunjukkan persaingan. Entah apa yang terjadi dengan keduanya. Seisi mobil hanya diam. Suasana menjadi hening.
Tania, merasa lega telah mengetahui jati dirinya. Namun, masih banyak lagi hal yang perlu ia kuak. Masih banyak rahasia tentang masa lalunya.
Kini, Tania justru penasaran dengan siapa wanita yang telah melahirkannya. Siapa sosok ibunya. Kenapa jadi dirinya harus disembunyikan seperti ini? Pikiran itu kembali mengganggu.
Setiap kali memikirkan hal yang sama. Seperti bayangan samar selalu muncul di benaknya. Sama halnya mimpi buruk yang selalu hadir setiap malam.
Seorang wanita yang jatuh tersungkur dengan linangan darah, sementara tangannya mengulur ke arah Tania kecil yang bersembunyi di bawah ranjang. Mata indah wanita cantik itu, terus menatap hingga meregang nyawa.
Ingatan itu, selalu berputar berulang-ulang di benak Tania. Sering kali ia berteriak sendirian. Merasa trauma dengan mimpi buruk yang selalu hadir di setiap tidur malamnya.
"Tania, kita sudah sampai," ucap Milan menepuk bahunya.
Seketika Tania terhenyak dan refleks menoleh. Lamunannya buyar seketika.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" tanya Milan dan Edo bersamaan. Setelah melihat wajah Tania berubah seperti orang ketakutan.
Tania hanya menjawab dengan anggukan kepala, kemudian netranya mengedar ke sekeliling villa.