Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Ingin


__ADS_3

🌟 Jangan lupa LIKE, FAVORIT, dan RATE 🌟


~ Happy Reading ~


Hari tak lagi sama. Pasang surut kehidupan bagai aksara diterpa ombak yang hilang ketika terhempas lautan. Seperti itu pula jelmaan cinta.


Ingin sekali sejenak melebur bersama udara yang kau hirup. Mengalir di darahmu ... menuju hatimu ... ingin sekali memastikan. Adakah nama Tania yang melintang di hatinya.


Dada Tania semakin bergemuruh, pikirannya tak karuan.Di Hatinya masih tersemat sebuah nama yang ia simpan rapih di sana. Ya, nama itu Edo Mahardika. Pria yang mencintai Tania segenap hati meski ia tidak sesempurna Milan.


Tania menatap kosong, meski di hadapannya dua orang terlihat begitu serius berseteru.


"Dengar, jika kamu masih berniat untuk menikahi Tania. Aku yang berhak menjadi wali nikahnya," ujar Raffa.


Milan membalasnya dengan senyuman kecut, tidak ada niat mencemeeh. Hanya saja menurutnya sikap Raffa yang terlalu memaksa dan terlihat kekanak-kanakan.


"Kamu mengenal Om Burhan? Dia lebih berhak, tertulis jelas di wasiat Pak Reyhan. Jika yang berhak menikahkan putrinya hanya Om Burhan. Jika kamu penasaran, datanglah berkunjung besok ke kantorku. Oh ... aku lupa, aku tidak ada waktu," ucap Milan, setengah mendengus kesal.


Lagi. Raffa dan Tania tersentak bersamaan. Keduanya menatap tajam ke arah Milan, kemudian Raffa dan Tania saling bertatapan penuh tanya dengan pernyataan yang baru saja Milan lontarkan.


Tangan Milan mencengkram kuat lengan Raffa yang begitu kekar menghalangi jalan. Dengan gerakan cepat pula Milan menghempaskan lengan itu ke udara.


Tania terkesiap, pikirannya masih melayang memikirkan perkataan Milan. Ia berusaha mencerna kata demi kata. Namun, melihat Milan masih terlihat menahan amarahnya ia memilih diam.


Dengan kasar Milan menarik Tania agar mengikutinya berjalan menuju mobil. Ia bahkan mengabaikan meski tahu Tania meringis kesakitan akibat genggaman di pergelangan yang amat kuat.


Di dalam mobil, ia sesekali menoleh menatap Milan yang fokus menatap jalanan yang ramai. Kali ini, ia memilih bersama sopir agar bisa mencuri perhatian Tania dan melancarkan aksinya.


Ia masih berusaha bersikap dingin, meski sebenarnya hatinya meronta ingin bertegur sapa dengan gadis yang membuatnya semakin terobsesi. Milan meliriknya sesekali.


Entah rasa apa itu, Milan yang awalnya menyukai bersikap membenci. Sedangkan Tania, hatinya masih sama tertawan dengan cinta Edo. Adik tiri dari pria yang akan dinikahinya.


Berbagai macam kemungkinan buruk pun Tania pikirkan. Bagaimana nanti akan menghadapi Edo setelah pernikahannya? Ah ... hatinya semakin kalut saja.

__ADS_1


Selain hal mengenai Edo, Tania juga memikirkan banyak hal tentang Milan. Tanpa sengaja keduanya saling bertatapan mata.


"Apa?" tanya Milan, mencoba membuyarkan lamunan Tania yang masih diam membeku.


"Ummmm ... Om Burhan, sejak kapan kamu mengenalnya?" tanya Tania penasaran. Ia tidak melupakan apa tujuan hidupnya, untuk mencari tahu siapa saja orang-orang yang berniat jahat dan siapa yang masih setia berpihak dengan mendiang ayahnya.


"Sejak aku masih duduk di bangku SMA. Dia teman Papa, tetapi dia juga Om dari wanita yang aku cintai. Namun, sayangnya gadis itu sepertinya kurang mengenal banyak tentang latar belakang keluarganya," jawab Milan. Kini ia menatap intens raut wajah Tania terkejut mendengar penuturan darinya.


Mata Tania membulat sempurna, hampir saja mata bulat yang dihiasi bulu-bulu lentik itu mencelos dari tempatnya.


"Kemana kamu akan membawaku?" tanya Tania, kini ia harus berhati-hati. Mengingat Milan seperti pria yang memiliki kepribadian ganda dalam bersikap. Sebentar cinta, sebentar pula berubah emosi.


Milan berkacak pinggang, ia gugup. Namun, setelah menghela napas. Ia berhasil menguasai kekacauan di hatinya.


"Hotel milik Pak Reyhan," sahut Milan, suaranya terdengar serak. Kini matanya terlihat sendu dan sayu. Mata tajamnya hilang seketika.


Milan hanyut terbawa suasana, berbeda dengan Tania. Sedikitpun ia tidak terlintas melabuhkan cintanya pada Milan yang akhir-akhir ini bersikap kasar padanya. Ia menatap bukan bermaksud membalas tatapan mata Milan. Melainkan, ucapan Milan membuatnya semakin yakin jika pria disampingnya melakukan kesalahan besar.


Heran. Kenapa Milan tersenyum? Ada apa dengan senyum itu.


Akan tetapi, hati Tania berdebar tidak enak. Punya rahasia apa si Milan? Apa yang sedang ia rencanakan? Pertanyaan itu selalu muncul melintasi pikirannya. Rasanya mustahil pernikahannya berjalan lancar. Bagaimana mungkin, ia harus menikah paksa seperti ini demi untuk membayar kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan.


Tania menghela napas panjang, "Kita batalkan pernikahan kita."


Milan mengerutkan keningnya, emosinya meluap, tiba-tiba saja ia sudah berada dekat dengan wajah Tania.


"Jangan mencoba bermain api jika kamu tidak ingin terbakar," ucap Milan. Napasnya berhembus hangat di pipi Tania.


"Aku tidak mengerti maksud kamu, aku tidak ingin menikah paksa, Milan! Jangan khawatir, aku akan membayar semua kerugian kamu," ucap Tania, ia membalas tatapan mata Milan yang masih tajam mengiris.


"Tidak ada yang boleh menolak Milan Mahardika, kamu pun tahu itu!" teriak Milan, membuat sopir pribadinya yang terkejut menoleh ke arah keduanya.


"Hei, fokus ke jalan. Jangan ikut campur jika tidak ingin dipecat," tukas Milan dengan suara tinggi. Kali ini ia terlihat menakutkan.

__ADS_1


Milan menaikkan kaca jendela mobil, dan menutup gorden yang mengelilingi. Tania semakin ketakutan, tubuhnya berubah dingin meski keringat mulai bercucuran.


Tawa seringai mulai Milan tampakkan. Tania bergerak memundurkan tubuhnya, tetapi karena tempat yang begitu sempit menyulitkan pergerakannya. Diliriknya sang sopir tidak bergeming sedikitpun.


Milan mendekatkan wajahnya, bibirnya kini mulai bersentuhan dengan bibir Tania. Mata gadis itu membulat, sementara kedua pergelangan tangannya terkunci dengan cengkeraman tangan Milan yang amat kuat.


Tania meronta, membuat Milan semakin bersemangat melakukan aksinya, Tania yang menguasai beladiri harus pasrah karena kalah tenaga.


Dalam jarak terkikis, Milan mengamati ekspresi wajah yang Tania tampakkan. Seketika ia melepaskan diri, sedikit menjauh memberikan ruang untuk Tania. Gadis itu cepat-cepat membuka gorden jendela mobil, dan membuka kaca yang semula menutup. Seolah ingin menghirup udara bebas, Tania memalingkan wajahnya ke luar jendela.


"Itu akibatnya jika kamu menolak," desis Milan, kemudian memalingkan wajahnya.


Canggung, tak nyaman. Ini yang kini Tania rasakan. Lelaki yang kini duduk di sampingnya berubah menggila, membuatnya semakin takut dan tertekan.


Belum juga debaran jantungnya normal, ia dikejutkan dengan pertanyaan yang berhubungan dengan Edo.


"Kenapa kamu masih mengharapkan Edo?" tanya Milan, tanpa menoleh sedikitpun.


"Dia berhati baik," jawab Tania, meski sebenarnya enggan memberikan jawaban.


"Lalu aku kau nilai kejam?" Milan kembali memutar tubuhnya, membuat bibir Tania terbuka lebar, ia segera ancang-ancang menghindar.


"Salahkah jika aku berharap ia menjadi pria yang lebih baik? Okelah. Tak apa aku kehilangan Edo. Atau bahkan Milan sekalipun. Kepalaku cukup pusing dengan insiden yang baru saja terjadi. Harga diriku juga masih mahal untuk menjilat ludahku sendiri. Hal yang terpenting adalah mencari kebebasan dari keduanya dan mencari tahu segalanya mengenai Papa." Batin Tania, ia masih memaku mengabaikan Milan.


— To Be Continued


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, kalian pasti penasaran dengan siapa Tania akan menikah bukan? Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2