Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Bertemu Diam-diam


__ADS_3

Tania melangkahkan kakinya mencari keberadaan Milan yang juga kebingungan mencarinya, sebab Tania menghilang dalam beberapa waktu.


Gadis itu terus saja berjalan, hingga di belokan tepat di depan papan bertuliskan toilet ia mendengus karena menubruk tubuh kekar yang tak asing baginya.


Bruk!


"Awww … sakit!" pekik Tania, ia mengadu kesakitan.


"Bagian mana yang sakit?" Suara serak Khas itu membuat Tania mengangkat wajahnya, kemudian ia segera memeluk erat tubuh kekar yang tak lain adalah milik Milan Mahardika.


"Milan … ayo kita pulang, aku takut," bisiknya, berdesis lirih.


Milan merangkul bahunya, melewati beberapa koridor di sebuah gedung yang berusia tua yang sengaja di jadikan tempat mengadakan pesta oleh Ardy.


Baru saja Tania mengalami kejadian yang sedikit mengerikan. Kini ia berusaha mendengarkan apapun saran Milan. Paling tidak, akhir-akhir ini pria yang baru saja dinikahinya itu bertingkah laku baik.


Keduanya saling diam ketika dalam perjalanan pulang. Mulut keduanya sama-sama terkatup rapat, tidak sepatah katapun terdengar. Kecuali, hembusan angin yang menerpa wajah alam dalam sunyi.


Setelah dua puluh menit melakukan perjalanan pulang, suara deru mesin mobil yang sedikit bising akibat dimodifikasi itu akhirnya berhenti di depan halaman mansion mewah milik Gerry.


Beberapa bodyguard kepercayaan keluarga dengan seragam yang di padu padankan dengan kacamata dan juga sepatu serba hitam berjalan mendekati Milan.


"Ada pesan dari ayah Anda, untuk segera menemui beliau di ruang keluarga," tukas salah seorang bodyguard.


Milan hanya mengangguk, sembari menggandeng tangan Tania yang masih mengenakan jas milik Milan untuk menutupi sebagian tubuhnya yang basah dan terlihat seksi.


Milan melangkah tergesa-gesa, berharap bisa mengajak ke kamar untuk mengganti pakaian sebelum ada orang yang memergoki mereka. Milan tidak ingin Edo melihat pemandangan yang menakjubkan menurutnya.


Meski ia adalah pria dingin, terkadang Milan amat posesif ketika menyangkut dengan Tania.


Namun, langkahnya terhenti tepat di samping tangga, yang mana di sana merupakan ruang keluarga. Suasana nampak ramai dengan berkumpulnya keluarga, bahkan Mira yang merupakan mantan tunangannya berada di sana pula. Membuat emosi Milan semakin tersulut.


"Hey … Milan, sejak tadi kami menunggu kedatangan kamu! Kemari Nak, ada hal penting yang perlu dibicarakan," ujar Gerry melambaikan tangannya ke arah Milan.


Milan mengerutkan keningnya, ada rasa tidak suka dan terpaksa. Tetapi ia tetap mendekat meski langkahnya di rasa berat.

__ADS_1


Di sebuah ruangan yang cukup besar, dengan karpet permadani merah maroon yang di gelar sebagai alas dan juga sofa king size berbahan beludru berwarna cokelat gelap, Milan menjatuhkan tubuhnya bersandar sembari mengajak Tania di sampingnya.


Sepasang mata indah yang dihiasi bulu lentik milik Edo terus menatap bahkan menyisir seluruh bagian tubuh Tania, tatapan tak biasa itu membuat Tania tak nyaman bahkan salah tingkah.


"Katakan, aku tidak memiliki banyak waktu," ucap Milan, dengan suara lantang yang terdengar tegas. Membuat semua tergemap mendengarnya.


"Mulai besok, Edo akan menggantikan posisi ayah di kantor untuk sementara waktu!"


Suara menggelegar milik Gerry seolah membuat Milan tersambar petir. Lagi. Gerry berusaha menguji kesabaran dan kemampuan Milan sebagai anak kandungnya. Darahnya seolah mendidih. Namun, saat ini perusahaan milik papanya tidaklah penting baginya.  Karena Milan telah memiliki perusahaan lain yang ia rintis diam-diam dari hasil menanam modal di perusahaan 'Reyhan Wijaya Grup'.


Milan mengangkat kepalanya, garis tegas yang nyaris sempurna itu mendominasi wajah tampannya. 


"Sudah? Masih ada lagi yang lainnya?" tanyanya, berusaha terlihat acuh. Belum sempat Gerry menjawab, Milan bangkit sembari menggenggam tangan Tania meninggalkan ruangan.


Ia melangkah hingga berderap menapaki anak tangga menuju kamarnya. Dibantingnya daun pintu dengan kerasnya hingga menimbulkan suara berdemdum yang mungkin saja bisa di dengar oleh Gerry dan juga keluarga.


Di dalam kamar, Milan menjatuhkan tubuhnya lunglai di sofa sudut kamar. Di saat bersamaan Tania mendekat, duduk di sampingnya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Tania, manik matanya yang coklat indah bergerak-gerak menatap Milan penuh kasih.


Tania menggeleng pelan sebagai isyarat jawaban. Tanpa kata Milan menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Tania. 


"Karena aku kesepian, aku sendiri, aku memiliki seorang ayah … tetapi ia seolah tak ada," suara serak itu kembali mendominasi ruangan. Membuat Tania membalas pelukan Milan dan perlahan mengelus punggungnya.


"Aku akan ada untuk kamu," jawab Tania.


Perlahan Milan melepaskan pelukannya, menatap tanpa kedip wajah ayu yang terlihat begitu tulus menerimanya apa adanya.


"Apakah aku terlihat bercanda? Aku juga tidak memiliki siapapun bukan? Kecuali dirimu," ucap Tania, sesaat kemudian bibir keduanya saling bersentuhan. Buku jemari Milan perlahan bergerak mengelus rambut, berpindah ke tengkuk kemudian di punggung istrinya. Keduanya hanyut dalam sesaat.


Hingga menit kemudian, Tania menjauhkan diri dari Milan. Membuat Milan menatap heran, "Ada apa?"


"Kamu ingat seorang pria bertubuh gempal yang selalu mengawasi kita di pesta?" 


"Ya, kenapa?" Milan terkejut, dan rautnya berubah serius memperhatikan istrinya.

__ADS_1


"Dia menarik, mendekapku dan membawaku ke sebuah ruangan berbeda. Ruangan kosong yang sunyi dan sedikit gelap, tebak aku bertemu siapa?" 


"Siapa? Apa mereka berbuat kasar padamu?" tanya Milan, mengintimidasi. Sedangkan raut wajahnya berubah cemas.


"Untungnya tidak, aku diarahkan dan dipertemukan dengan Om Burhan," jawab Tania, memelankan suaranya.


"Apakah Om Burhan mengatakan sesuatu?" tanya Milan, entah kenapa  jantung Milan yang kini justru berdebar tanpa irama. Ada hal besar yang mendebarkan, sejak pertama penuturan Tania ia cemaskan.


"Ia mengajakku bertemu di restoran bebek biasanya besok sore," sahut Tania, sedikit ragu dan berhati-hati.


"Aku akan temani," balas Milan.


"Tidak, Om Burhan menginginkan aku datang sendiri! Ini artinya, ia tidak ini ingin siapapun mendengar ucapannya atau pun privasinya di ganggu," jelas Tania, menatap serius.


"Kalau begitu biarkan aku mengawasimu dari jauh, meski jauh pun aku akan tetap menjagamu, Tania. Aku suamimu," ucap Milan sembari mengelus puncak kepala istrinya, lalu menggapai dan menenggelamkannya di dada bidangnya.


Setelah itu keduanya memutuskan untuk saling melengkapi, dan juga berbagi. Tania pun diminta untuk berjanji bahwa tidak akan lagi ada rahasia sekecil apapun pada Milan.


Saat keduanya sedang asyik berbagi cerita, ponsel Tania bergetar, pertanda sebuah pesan singkat WhatsApp masuk. Segera diraihnya benda pipih itu, jemari lentiknya segera menari di atas layar untuk membukanya.


[Tania, jangan lupa temui Om Burhan di restoran kesukaan kamu pukul 15.00 WIB. Jangan ada orang lain, bahkan Milan sekalipun.]


Begitulah isi pesan singkat yang dikirim oleh Burhan untuknya. Tania memaku sesaat, ia bingung. Serahasia apa yang akan Burhan sampaikan hingga ia melarang keras Tania mengajak serta suaminya.


"Ada apa?" tanya Milan membuyarkan lamunannya seketika.


"Oh … aku bingung harus menjelaskan apa," sahut Tania, dengan wajah di tekuk dan rautnya yang cantik kini berubah murung.


"Katakan saja padaku ketika kamu siap, nanti kamu juga akan terbiasa denganku," ucap Milan, membuat Tania semakin merasa bersalah jika harus berbohong kepadanya.


🌠 Halo semua, jangan lupa kasih jempol kalian dan juga komentarnya ya, gratis kok spam juga gak apa-apa. Kalau banyak komentarnya, aku update sehari dua kali deh ya, salam hangat untuk kalian semua. Terimakasih telah mampir ke karyaku.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).

__ADS_1


Found me on IG: @lia_lintang08


__ADS_2