
🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟
~ Hay semua, jangan lupa bagi jempol dan komentar sebanyak-banyaknya ya setelah membaca. Karena komentar dan jempol kalian berarti banget untuk kelangsungan karya author.
~ Happy Reading ~
Kini semua orang mulai tahu jika Milan mulai hadir dalam kehidupan Tania. Meski sebenarnya semua menilai keduanya sebagai sepasang kekasih yang akan menikah. Tetapi, kenyataannya berbeda.
"Semua orang pasti menganggap telah terjadi apa-apa diantara kita setelah kejadian tadi," ucap Milan, gusar.
"Bukankah besok hari pernikahannya? Masih ada waktu jika ingin dibatalkan," sahut Tania. Tentu saja ini saat-saat yang sengaja ia tunggu.
Tania paham betul, jika Milan pria yang menjaga nama baiknya terutama di kalangan bisnisnya.
"Tidak, tidak boleh batal. Kamu akan menanggung akibatnya jika nanti batal," sergah Milan.
Tania mengesah lalu menoleh sekilas wajah tampan yang kini terlihat mendung di wajahnya. Tania tak tahan lagi. Ya. Ia harus segera menyudahi semuanya sebelum membuatnya semakin tertekan nanti.
"Aku tidak tahan jika terpaksa menjadi istrimu." Tania mendengus lalu berdiri membelakangi Milan.
"Kamu terikat janji, tidak apa-apa meski kita hanya berstatus sebagai teman biasa. Tetapi, aku tidak akan pernah membiarkan kamu membatalkan rencana yang telah kita sepakati bersama," kata Milan. Tidak perlu menunggu lagi, pria itu segera menyeret Tania dan mendorongnya masuk ke sebuah kamar, lalu Milan menguncinya.
Milan masih berada di depan pintu, pikirannya kacau. Ia berpikir sejenak, kemudian mencoba menghubungi Raffa dan juga Burhan yang merupakan orang yang ia segani dan juga percayai selama ini.
"Tidak ada cara lain, jika pernikahan ini batal maka Raya yang akan memenangkan hati Papa!" Milan segera mengetikkan pesan singkat yang sengaja ia kirimkan untuk Raffa dan Burhan.
Tak ada suara pemberontakan yang gadis itu tampakkan. Milan menempelkan telinganya di daun pintu. Tidak ada suara apapun yang ia dengar.
Menit kemudian, ia memutuskan membuka pintu kamar itu. Ia kembali mendengus kesal saat menemukan Tania justru tidur terlelap di atas ranjang.
Segera. Milan berjalan mendekati Tania. Ia mengguncangkan tubuh Tania yang tertidur pulas.
Entah kenapa semuae seakan indah saat dirinya berada di dekat Tania. Tania seakan menyembuhkan lukanya.
"Ajari aku cinta, jangan benci." Milan menyingkap anak rambut gadis itu yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
Tania mendengar perkataan Milan, tetapi ia memilih diam. Mencoba menyelami bagaimana pribadi Milan sebenarnya. Kenapa sikapnya berubah? Ah ... Tania semakin tidak tega rasanya.
Terdiam. Di tengah siang yang dilanda hujan mendera siang itu. Tania membayangkan, merasakan, jika seandainya ia menjadi seorang Milan. Memiliki ibu tiri yang terlihat kurang bersahabat dengan dirinya.
Tiba-tiba saja sudut pandang Tania goyah, "Ah ... aku tidak boleh lemah, aku belum mengenal pria ini lebih jauh."
Hadirnya Milan hanya sekilas. Namun, ternyata meninggalkan ruang tersendiri di sudut ruang hati Tania. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak membuka matanya.
Napasnya kembali berhembus hangat di pipi mulus Tania. Milan terbiasa dekat dengan banyak gadis yang wajahnya cantik-cantik. Tapi yang satu ini rasanya berbeda.
Muka Milan tiba-tiba panas. Terlebih Tania seketika membuka kelopak matanya mengagetkan Milan yang ketahuan sedang mengikis jarak. Sepasang mata itu bentrok dengan mata yang kelewat tajam ketika menatap, sedang menjelajah.
"Apa yang akan kau lakukan! Menjauh!" teriak Tania, mendorong dada bidang Milan yang masih diam membeku.
Milan tersadar, memilih duduk di samping ranjang sambil mengusap wajah berulang kali. Sesekali celingukan menoleh Tania yang juga duduk bersandar di tepian ranjang.
"Bagaimana jika kita berteman, ini demi kesepakatan bersama kita," ucapnya, dengan kepala tertunduk Milan memberikan penawaran.
Tania menghela napas panjang. Setelah napasnya terasa berat, "Apakah kamu serius?"
"Mungkin ini lebih baik, dari pada setiap hari harus bertengkar," sahut Milan kemudian beranjak berdiri.
Milan berbalik setelah sebelumnya sempat melangkah berjalan hendak keluar ruangan beberapa langkah saja. Keningnya berkerut, tetapi kali ini tidak sedikitpun menunjukkan rasa emosinya.
Tania berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tidak terlihat bergetar menahan gugup. Dia berusaha keras menghindari tatapan mata tajam Milan yang terus berpusat menatap raut wajahnya.
Tetapi tetap saja terasa jika sepasang mata mengawasi. Mau atau pun tidak membuatnya semakin grogi. Untungnya seorang maid yang datang mendekat mengalihkan perhatian si ganteng.
"Ada tamu, Pak! Mai disuruh masuk kemari langsung?" tanya maid tersebut. Namun, terdengar aneh di telinga Milan.
"Tidak perlu, aku akan menemui mereka di ruang tamu!" Suara Milan terdengar serak dan berat di telinga maid itu.
"Ayo ikut aku temui Raffa dan Om Burhan!"
"Akan tetapi, Milan ...."
__ADS_1
"Kamu mau semuanya berjalan dengan baik-baik atau aku harus mencari cara kasar untuk memaksa kamu?" bentak Milan, tak sabar.
Tania menghela napas panjang, ia kini benar-benar tersudut dan harus menerima kenyataan. Jantungnya berdegup kencang mendengar nama Raffa dan Burhan disebut-sebut. Dengan cekatan, Tania bergegas turun dari ranjang dan berjalan mengikuti langkah Milan.
Meski takut dan gugup, Tania berusaha memberanikan diri menemui Raffa dan juga Burhan yang sedang duduk menunggu di ruang tamu.
"Ada apa? Kenapa menyuruh kita datang kemari?" tanya Raffa, yang begitu penasaran.
Bukannya Milan mulai tak menyukai Milan dari awal perjumpaan mereka. Apakah mungkin Milan menganggapnya penting hingga pria itu seketika membutuhkan dirinya.
Sering kali Milan menganggap Raffa tidak pernah ada. Entah benci, atau karena memiliki alasan lainnya.
"Keadaan semakin tak terkendali, meski semalam aku tidak bisa jauh dari Tania. begitu juga dirinya," ucap Milan, meski ia sedang serius tetapi matanya mulai meredup.
"Lantas, apa yang kamu inginkan" tanya Burhan. Sementara itu ia memperhatikan raut Tania yang mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Nikahkan aku secara agama dengan Tania, sekarang juga!" teriak Milan tak sabar.
Seisi ruangan terkejut, tak terkecuali Tania yang sebelumnya dia memaku duduk di samping Milan. matanya seketika membulat, fokusnya tertuju pada Milan yang kini membalas tatapan matanya.
Ingin marah, kecewa, semuanya campur aduk di hati Tania. Ia meraba dadanya sendiri yang kini terasa mulai sesak. Napasnya bahkan berubah berat. Ia bahkan tidak pernah menyangka Milan semakin nekad.
"Jadi ini maksud kamu? Kamu bahkan tidak pernah memikirkan perasaanku, bagaimana aku bisa memenuhi tawaran kamu tadi," ucap Tania, lirih.
"Aku hanya berjaga-jaga, jika saja kamu mencoba menggagalkan rencanaku," sahut Milan cepat. Tania tak bergeming. Hening. Suasana menjadi sepi.
***
— To Be Continued
🌠Pasti kalian penasaran dengan keseruan kisah keduanya ya, ramaikan kolom komentar dong ya, biar semangat update.
🌠Hollaaa kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua. Jangan lupa sematkan jempol ya ... gratis guys, kasihan yang bikin tombol kalau dianggurin hehehe.
Follow me on IG: @lia_lintang08
__ADS_1
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).