
"Bisakah Om Burhan jujur, menceritakan siapa papa kandungku? Kenapa begitu tega membiarkan aku hidup seperti ini?" Tania terisak-isak, membuat Burhan segera meraih dan mendekapnya.
"Tidak sekarang, seharusnya kita tidak boleh bertemu seperti ini. Raffa mengacaukan segalanya, cepat kembali. Aku tidak ingin banyak orang tahu, jika kita dekat," ucap Burhan, seorang pria paruh baya yang mulai berembun di kedua matanya.
Tania mendongak menatap wajah pria yang mulai dihiasi sedikit kerutan di wajahnya. Lalu mengangguk pelan, dan mulai melangkah kembali menuju meeting room. Sementara pikiran Tania memikirkan banyak hal tentang ucapan Burhan.
Seluruh anggota kembali melanjutkan membahas launching hotel cabang perusahaan. Di sana ada hal menarik yang membuat Tania mulai mengerti segalanya. Ya. Raffa dengan begitu lancang memberikan identitas baru untuk Tania. Mengatakan jika Tania adalah adik kandungnya. Tentu saja ia hanya mengarang identitas palsu. Membuat Burhan geram. Anehnya, Milan pun terlihat tidak suka. Tentu ia curiga. Bukankah istrinya juga selalu bersama Raffa.
***
Setelah dua jam berlalu, akhirnya selesai juga urusan meeting. Tania segera menghirup napas panjang lalu ia bergegas bangkit hendak pulang. Ketika berpapasan dengan Milan, ia berhenti sejenak kemudian melanjutkan langkahnya. Ia menjaga langkahnya agar tidak terlihat goyah seperti saat di toilet. Tania kembali gemetar melihat Milan berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa lagi mau pria ini?" desis Tania, perlahan.
Milan tersenyum simpul. Namun Tania membuang muka sebab Milan menggandeng Mira saat mendekatinya. Mungkin dia bisa Berpura-pura. Namun tidak dengan hati Tania.
"Hai … Tania, kenalkan … dia Mira, asisten pribadiku bukan pacar! Jadi, aku harap tidak ada kesalahpahaman. Aku pria beristri," jelas Milan, dengan tegas dan lantang.
"Maaf, saya rasa ini bukan urusan saya. Permisi," sahut Tania berkilah.
"Demi keselamatan kamu! Tolong pikirkan kembali tawaranku tadi," ucap Milan berbisik.
Tatapan mata Tania berpindah mengamati Mira yang kini menatapnya, gadis itu terlihat menggoda dengan pakaian seksi setengah terbuka di area dada, dengan rok ketat yang hanya berukuran satu jengkal membuat Tania jengkel melihatnya.
"Ya. Aku akan pertimbangkan. Pergilah, aku juga akan pulang," tukas Tania, kemudian berlalu melenggang melewati Milan.
Dengan tangan kekarnya, Milan menarik lengan Tania hingga terpelanting ke dalam pelukannya. Jantung Tania berdegup kencang. Dengan susah payah ia berusaha menghindari tatapan mata Milan.
"Jangan berbuat tidak sopan!" pekik Tania, dengan mata tajam bak elang yang siap menerkam.
"Maaf. Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin meminta nomor telepon. Kamu buru-buru, jadi aku refleks," jelas Milan, sembari menggaruk tengkuknya sendiri.
"Untuk apa?" Tania mengerutkan keningnya penasaran.
__ADS_1
"Janji temu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan," ucapnya singkat, ia menyudahi ucapannya setelah mengetahui dari arah berlawanan Raffa sedang berjalan mendekat.
Tania menoleh ke belakang, memastikan apa yang dilihat oleh Milan. Lalu Tania pun mulai mengerti, jika ini harus ia rahasiakan dari Raffa.
"Di taman kota besok sore, pukul 15.00 WIB. Jangan terlambat, datang sendiri. Jangan ajak siapapun," ucap Tania, berbisik menyentuh telinga Milan.
Mira meradang, ia mengira Tania mencium pipi Milan dengan sengaja di depan umum. Sementara Raffa, dari kejauhan tampak terkejut melihat hal itu.
Siapa sangka jika Mira menarik paksa Tania agar menjauhkan diri dari Milan. Ia kesal dan merasa tersaingi. Tentu saja Milan tidak tinggal diam. Ditariknya dengan kasar bahu Mira hingga tersungkur. Wanita berpakaian seksi itu pun terkapar di lantai.
"Tolongin dia, bawa ke rumah sakit terdekat! Dan … bilang, jangan genit dan ubah pakaian sedikit sopan!" teriak Tania, Milan memaku sepersekian detik. Kemudian meminta sopir mengangkat tubuh Mira ke dalam mobil.
***
Keesokan harinya.
Pukul 13.00 WIB.
Saat itu, Tania sedang membolak-balik halaman majalah popular trend fashion. Ia menghentikan aktivitasnya dan pandangannya berpindah ke arah Bi Marni. Ada yang berbeda dengan dandanan pengasuhnya tersebut. Kini bi Marni berpenampilan seperti wanita modern berkelas.
Senyuman tipis mulai terbit dari bibir mungil Tania. Raffa pun meraih tumpukan dokumen tersebut.
"Tania, kemari. Ini semua identitas baru untuk kamu! Pak Burhan mengacaukan segalanya. Nama kamu masih sama Tania, tetapi dengan identitas baru. Di sini kamu sebagai adik kandungku dan Bi Marni menjadi ibu kita berdua."
Tania segera mendekat dan menerima dokumen tersebut.
"Aku yakin Milan akan segera mengenali aku. Mengingat namaku masih sama dan lagi, selama ini kita selalu dekat," jawab Tania.
Raffa diam. Terlihat berpikir keras. Sementara Bi Marni menarik kursi untuk ia duduki.
"Kamu sebagai penanam modal, tetapi aku ingin menjadi CEO. Bisakah kau atur nantinya kekuasaan ada padaku?" suara Raffa berubah pelan, seolah ia ragu-ragu.
Tania terkejut. Matanya melotot. Ia tidak menyangka jika ternyata Raffa haus kekuasaan.
__ADS_1
"Tentu Kak, semua akan berjalan sesuai keinginanmu," balas Tania meyakinkan. Hatinya terasa berdenyar mendengar ucapan Raffa, tatapan matanya berpindah pada pengasuhnya yang kini jauh berbeda.
Tania melirik jam dinding. Ia mengingat janji temu dengan Milan. Membuatnya berpikir harus meninggalkan kediaman Raffa. Ia segera memutar otak.
"Kak, aku pinjam motor. Mau ke minimarket terdekat. Ada barang pribadi wanita yang harus aku beli. Tidak mungkin juga 'kan aku minta padamu. Jadi biarkan sebentar saja aku keluar sendirian," pinta Tania, mengiba.
Tanpa berpikir panjang. Raffa membuka laci dan memberikan kunci motor matic untuk Tania. Gadis itu segera bersiap dan pergi.
Tania mengirimkan sebuah pesan singkat WhatsApp dengan nomor baru yang tidak dikenali oleh Milan. Namun, di akhir pesan ia mencantumkan namanya.
[Milan. Kita bertemu sekarang di taman. Tania.]
Begitu isi pesan singkat yang Tania kirimkan untuk Milan. Terlihat centang biru, tandanya Milan telah membaca isi pesan singkat tersebut. Kemudian Tania bergegas pergi.
Tak butuh waktu lama. Tania berdiri di sebuah kursi panjang milik taman. Netranya menyapu sekeliling taman. Tatapan matanya terhenti pada sosok pria tampan dengan perawakan tinggi besar.
Milan tertegun saat pandangan matanya membentur sosok Tania, yang begitu cantik mengenakan pakaian santai berwarna pink dipadukan dengan celana jeans pendek selutut berwarna biru. Rambutnya dibiarkan tergerai lurus dan lembut karena baru saja di smooting.
Senyuman manis mengembang dari bibir ranumnya. Langkahnya berubah cepat kemudian menyodorkan seikat bunga Lily berwarna putih. Membuat Tania semakin gemetaran.
"Kenapa?" tanya Milan.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Tania.
"Apakah masih ada rasa itu?" tanya Milan, Tania tersentak mendengarnya.
"Apa kau tidak lelah selalu melakukan penyamaran? Sampai kapan? Harus berapa lama?" tanya Milan bak mengintimidasi.
"Pertanyaan itu seharusnya untuk kamu, aku melihat sendiri dengan mata kepala sendiri. Kamu sedang apa dengan Mira di kamar kita?" Tania menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi taman.
"Aku minta maaf, tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kembalilah, aku akan pecat Mira. Kita perbaiki semua. Terimakasih, karena kamu sudah jujur ini benar kamu," tukas Milan, buku jemarinya menggapai jemari lentik milik Tania.
"Kita mulai dengan Kak Raffa. Ada banyak hal janggal," sahut Tania, yang dibalas anggukan oleh Tania.
__ADS_1