
'Ketika hatiku memilihmu, bahagiaku hanya karena mu. Senyummu yang manis, lengkap dengan pipi merona sebagai penghias selalu ada di pejam dan kedipku. Cintaku adalah ketika jantungku terus berdebar saat berdekatan denganmu. Hari yang mengesankan adalah, melewati segala rasa berdua denganmu. Dan hal yang paling membahagiakan bagiku adalah, karena aku mengenal wanita seperti dirimu ... dan menjadikannya bagian hidupku. Mencintaimu, adalah rasa yang bahkan tak sanggup kuucapkan dengan kata-kata, Tania'. Batin Milan, yang terus menatap dengan pandangan yang kian berubah nanar.
"Bagaimana? Jika kalian siap, besok pagi kita akan berpisah," Bi Marni menukas, dengan sorot matanya yang berubah tajam memperhatikan para pemuda yang kini berdiri di samping Tania.
Milan menghela napas yang dirasakan berat. "Beranikan kami waktu untuk menghabiskan malam berdua. Ya, besok pagi aku siap untuk kembali ke perusahaan. Mencoba mencari tahu tentang Raffa."
"Pilihan yang bagus, Memang seharusnya begitu. Baik, aku akan mencari kamar kosong untuk beristirahat," sambut bi Marni.
Edo masih saja mematung sembari terus menatap Tania yang justru salah tingkah. Edo memang tidak setampan Milan. Tapi kharismanya mampu membuat para wanita cantik jatuh hati padanya, meski hanya sekali lirik.
Tentu saja Tania salah tingkah, sebelum menikahi Milan, Edo adalah kekasih pertamanya.
"Tania, aku pergi ke kamar. Jika nanti terjadi sesuatu, kamu tahu 'kan harus apa?" Edo mendekat sambil sedikit mencondongkan wajahnya, berusaha mengimbangi tinggi badan Tania.
"Y-ya, aku sudah menyimpan nomor ponsel kamu yang tentunya bisa dihubungi di saat terdesak," jawab Tania, dengan suaranya yang kian tergagap sebab tak mampu menutupi kegugupannya.
Edo tersenyum simpul, sementara Milan terus menyorotinya dengan tatapan tajam dengan iris mata yang terkesan menantang.
"Aku permisi," pamit Edo kemudian.
"Ya, selamat istirahat. Terimakasih, sudah menyelamatkan aku dan Milan," balas Tania.
"Hufft ... butuh berapa lama sih basa-basinya? Kalau mau pergi ya pergi saja," cecar Milan dengan raut tak menyenangkan.
Edo sangat mengerti keadaan Milan, ia hanya membalas senyuman kecil kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar Tania.
Setelah kamar sepi, Milan buru-buru menutup dan mengunci pintu. Tak lupa ia menutup semua gorden yang menghiasi jendela kamar dengan renda berumbai bak istana megah di film-film.
Milan bahkan belum menyentuhnya. Namun, entah kenapa jantung Tania rasanya tak karuan. Terbesit pikiran, jika Milan bisa saja nakal melakukan hal yang tidak-tidak. Semua itu, membuat pikiran Tania melayang sesaat. Bahkan dengan memulihkan pikirannya kembali normal ia mengerjapkan matanya berulang kali.
'Apa yang kau pikirkan Tania. Semua akan baik-baik saja'. Batin Tania.
__ADS_1
"Lekas mandi, kemudian istirahat. Biar bangun nanti fresh. Besok, jika aku jauh dari kamu, jangan ada keraguan untuk kesekian kalinya, ya. Semua yang aku lakukan semata-mata demi kamu, Tania. Aku jatuh cinta padamu," desis Milan, suaranya begitu lirih namun terdengar jelas di telinga Tania.
napasnya yang mulai menghangat, berhembus menerpa bulu-bulu halus di tengkuk gadis cantik itu, membuat rona di wajahnya meremang.
Tania tidak memberikan jawaban, kecuali sikapnya yang tersipu malu dan berlari meninggalkan Milan ke arah kamar mandi.
Malam itu, seakan menjadi malam terakhir bagi Milan dan Tania. Setelahnya, mereka akan menjalani kehidupan baru. Entah sampai kapan semuanya kembali berjalan normal. Hingga Tania akhirnya memutuskan melakukan penyamaran yang melelahkan untuk kesekian kalinya.
***
Pagi hari,
Pukul 06.00 WIB
Tania menggeliat meregangkan otot tubuhnya, setelah terkena sinar matahari masuk lewat kaca jendela.
Tangannya meraba-raba ke sebelahnya, ia terkejut tidak menemukan keberadaan Milan.
Tania terlonjak dan bergegas bangun. "Milan! Milan!" teriaknya.
Bi Marni bergegas menapaki anak tangga, menghampiri Tania.
"Milan sudah pergi bersama Edo, hari ini juga kita ke Bandung. Kehidupan baru kamu akan dimulai di sana," terang bi Marni.
Tania seketika menangis. Membuat bi Marni refleks mendekat dan memeluknya erat. Elusan tangan bi Marni yang ia daratkan di punggung Tania, nyatanya mampu memberikan sedikit rasa tenang. Ya, sejak dulu memang hanya bi Marni yang menggantikan tugas ibunya.
"Aku bahkan belum sempat mengatakan semua keinginan, dan ucapan perpisahan padanya Bi," keluh Tania sambil terisak.
"Kamu yang sabar ya cah ayu," tukas bi Marni, yang mahir berbahasa jawa. Membuat Tania menyunggingkan senyumnya.
***
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, kini Milan dan Edo telah sampai di tempat tinggal mereka.
Kali ini Milan dan Edo berusaha menampakkan keakraban di depan Gerry, ayahnya. Bahkan Raya benar-benar tak percaya melihat putra kandung dan juga anak tirinya terlihat akrab.
"Aku senang kalian kembali dengan keadaan baik-baik saja," puji Raya, sembari menyodorkan camilan ringan di atas meja.
Milan memilih diam tidak menjawab ucapan Raya. Sama seperti sebelumnya, ia terkesan dingin meski di tengah-tengah keluarganya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat, membuat Milan melirik siapa yang datang dari sudut matanya. Ia bahkan tidak menunjukkan pergerakan, semua sengaja ia lakukan. Milan hanya berjaga-jaga jika saja yang datang adalah Mira.
Baru saja ia memikirkan tentang gadis yang liciknya melebihi ular. Begitu sebutan Milan kepada gadis itu ketika marah. Tenyata ia sudah muncul mengenakan pakaian seksi.
Mungkin banyak pria di luaran sana tergoda. Namun, bagi Milan dan Edo tidak semudah itu tergoda dengan wanita cantik.
Milan sebelum ini memang memiliki banyak wanita, tetapi ia tidak pernah bermain-main jika itu menyangkut masalah hati.
Kecuali Mira menggodanya dengan urusan ranjang. Milan memiliki kelemahan jika berurusan dengan itu.
"Milan, kemana saja selama ini? Aku merindukanmu," cerocos Mira, yang tiba-tiba nyelonong dan nekad duduk dipangkuan Milan. Membuat Milan yang terkejut segera bangkit, hingga Mira terpelanting dan tersungkur di lantai dibuatnya.
Edo terkekeh, namun ia memilih menyembunyikan senyuman kecilnya di balik tubuhnya.
"Milan, jangan kasar seperti ini dong. Aku masih tetap tunangan kamu, jika mungkin kamu lupa," gerutu Mira, sambil mengusap sikunya yang berdarah dengan menggunakan tissue.
"Kamu sudah mulai mengkhayal sepertinya, dan jika kamu lupa ... aku adalah pria yang sudah menikah! Aku sudah memiliki istri Mira. Jauhi aku," desis Milan, suaranya terdengar menusuk di telinga pendengarnya
Membuat Mira yang mendengarnya tersentak. Harapannya untuk mendapatkan seorang Milan seakan pupus dan runtuh seketika.
Raya segera bangkit dan mendekati Mira yang tak kuasa menahan tangisnya, karena gertakan Milan yang sengaja menyakiti hatinya.
🌟 Halooo semua, maaf ya Lintang gak tepat janji lagi. Abis mau gimana lagi, Lintang kejar Bab di mana-mana dan masih on going. Jadi untuk keterlambatan frekuensi update mohon maaf yang sebesar-besarnya..
__ADS_1
— To be continued
— Follow me on IG: @lia_lintang08