Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Ruang Cinta Milan


__ADS_3

Halo, Kak. Terimakasih sudah berkenan mampir membaca novel keduaku di platform ini. Terimakasih yang tak terhingga pula untuk respon positifnya. Jangan lupa mampir ke novel pertamaku juga ya, dengan judul:


— Bunga Desa Terdampar Di Kota.


🌠 Terimakasih, jangan lupa RATE, FAVORIT, dan LIKE ya, salam cintaku, Lintang.


~ Happy reading ~


Memang tidak mudah untuk merendah prahara tetapi apabila ada tongkah dengan seribu tabah.


Kini bermusim sudah, kita bersama menganyam jaring-jaring pasrah untuk di tebar di samudera cinta. Semua yang sukar pun menjadi mudah bila haluan kita searah.


Tania terbangun dari tidurnya, ia terkejut ketika menemukan selembar kertas yang bertuliskan sebuah sajak di sampingnya. Entah kenapa sekujur tubuhnya serasa kaku.


Jantung Tania kini berdetak liar. Ia duduk bersandar sambil memeluk lututnya sendiri, sambil menerka apa yang telah terjadi semalaman di kamar itu. Apakah itu kamar kehancuran? Ah … pikiran Tania semakin kacau. Bagaimana jika nanti ia telah memberikan ruang cinta untuk Milan. Pria yang ia yakini sebagai dalang perebutan harta peninggalan ayahnya.


"Kenapa ada selembar sajak cinta?" lirih Tania, ia semakin bertanya-tanya.


Tak lama kemudian, terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.


"Mungkin Milan sedang mandi," ucapnya santai.


Kemudian, ia memikirkan banyak hal. Kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Tania segera mengintip kondisi tubuhnya yang bergelung selimut. 


"Aman," desisnya. Dengan suara lirih. Karena tubuh bagian atas memang mengenakan kemeja milik Milan. 


Kemudian, Tania kembali terkejut ketika sadar itu bukan pakaian miliknya. Ya. Ia kembali membuka selimut yang ia kenakan. Berusaha mengamati lebih jauh ke area bawah bagian tubuhnya.


"Tidak!" teriaknya, dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri. Tentu saja Tania histeris, segitiga berenda telah tanggal dari tempatnya.


Suara teriakan Tania terdengar menggema memenuhi seisi kamar. Seketika Milan berlari kearahnya dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang.


"Ada apa?" tanya Milan bingung. Mata Tania semakin membulat sempurna, terlebih keadaan Milan yang begitu memalukan. Hanya memakai handuk yang melilit di pinggang, dan busa yang masih menutupi sebagian rambutnya membuat risih saja.

__ADS_1


Pikiran buruk tentang Milan terus saja mengganggu. Tak sedikitpun prasangka baik yang terlintas dipikiran Tania.


Karena Tania terlihat ketakutan, ia bahkan diam membisu. Membuat Milan semakin duduk mendekat, buku jemarinya mengelus pipi Tania yang semakin merah merona menahan malu. 


Rasanya, debaran jantung Tania semakin bergetar saja. Tubuhnya bak dialiri listrik. Seketika Tania menepis tangan Milan, diiringi isakan tangis dan bulir bening yang lolos melewati pipi mulusnya.


"Jangan sentuh! Kamu mengingkari kesepakatan yang sudah kita buat," ucap Tania, sembari memalingkan wajahnya, berubah parau dan bergetar. 


Milan tersenyum simpul, ia mengerti dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh istrinya.


"Aku minta maaf," jawab Milan cepat, sebelum Tania semakin murka ia berusaha mengambil hatinya.


"Jadi ... kamu sengaja," ujar Tania, di sela-sela tangisnya.


"Kamu belum mengenalku lebih jauh, awalnya aku ingin bersikap sesuai dengan kesepakatan. Namun, setelah kamu bertemu dengan Om Burhan saat itu, semuanya berbeda. Sudut pandangku tentang kamu juga berubah," jelas Milan panjang lebar. 


Kemudian ia mulai memberanikan diri untuk memajukan tubuhnya, memeluk Tania dari arah belakang. Sedangkan dagunya tertopang pada bahu gadis yang baru dinikahinya. Saat itu Tania semakin terlonjak, ia bahkan meronta. Membuat mata Milan membulat.


"Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui, terlebih tentang keluarga kamu. Aku akan membantu menjelaskan perlahan. Aku mencarimu sejak lama, saat kamu menjadi seorang model, aku tidak mengenali jika itu dirimu. Jadi aku minta maaf," jelas Milan.


Matanya berubah sendu menatap dalam ke arah Tania. Gadis itu terus menarik selimut yang sedari tadi bergelung di tubuhnya. Netranya melirik Milan dari sudut matanya, kemudian menahan tawa.


"Kembali ke kamar mandi," ucap Tania. Manik matanya bergerak-, gerak menatap ke arah kepala Milan. 


Milan yang kebingungan segera berdiri dan mematut dirinya di depan cermin, "Oh ... pantas saja, kenapa gak bilang kalau rambutku banyak busanya?"


Milan berjalan meninggalkan Tania kembali menuju kamar mandi. Seketika tubuhnya berbalik, membuat jantung Tania semakin bergemuruh, "Pakai handuk sebelum aku kembali, atau kamu akan tetap diatas ranjang seharian."


Wah ... ternyata si Milan, selain berwajah ganteng kini berubah jadi pria penggoda. Istri sendiri sih ga apa-apa ya, tetapi mengherankan setelah menikah berubah tujuan.


Tubuh Tania seolah kaku, ia memilih menarik sedikit sudut bibirnya agar tidak terlihat canggung. Mungkin hal terbaik yang harus ia lakukan adalah pasrah. Kenyataannya saat ini Tania benar-benar telah menjadi istri Milan.


Setelah melakukan aktivitas membersihkan diri ... menit kemudian, Milan telah keluar dari kamar mandi dan berpindah ke walk in closet miliknya memilih kaos santai dan juga celana jeans pendek selutut agar terlihat menawan. Lagi. Milan ingin menarik perhatian Tania.

__ADS_1


"Kenapa masih diam? Buruan mandi, kita segera sarapan. Masih banyak hal penting yang harus kamu ketahui dan lakukan," ucap Milan, setengah berteriak.


Tania berusaha menuruni ranjang. Namun, bagian pinggul ke bawah terasa nyeri. Ia menghentikan pergerakannya.


"Kenapa sakit sekali?" lirihnya, suaranya terhenti ketika melihat sepasang kaki sudah berdiri di depannya. Membuatnya gelagapan.


"Kalau pertama memang begitu, nanti lama-lama akan terbiasa," ujarnya, cengengesan.


Tania geram. Ingin sekali ia memukul, mencubit, menendang, atau apapun untuk mengekpresikan kekesalannya. Namun, fisiknya sedang tidak bisa diajak kompromi.


Dengan bagian bawah tubuh yang telah terlilit selembar handuk, dan bagian atas tubuhnya mengenakan kemeja milik Milan, Tania memaksa turun dari ranjang. Bibirnya meringis menahan sakit. Karena tak kuasa melihat Tania yang terlihat kesakitan, Milan langsung mengangkat tubuh ramping Tania. Membuat tubuhnya semakin bergetar, ia meronta kecil persis seperti anak kecil yang sedang kesal.


Ketika sampai di dalam kamar mandi, Milan merebahkan tubuh Tania di bathtub miliknya.


"Maaf ... aku akan menunggu di luar, jika sudah selesai cukup teriak saja. Maka aku akan datang membantu. Tidak perlu sungkan, semua sudah terjadi," bisik Milan, lembut berdengung di telinga Tania.


Hembusan napasnya yang hangat begitu menggoda ketika menerpa telinga. Di tambah lagi wangi parfum khas yang menyeruak menusuk hidung. Sungguh memabukkan bagi wanita yang berada di dekatnya.


Tania mulai tersadar setelah Milan berjalan meninggalkan kamar mandi, dan menutup rapat daun pintu dengan perlahan. Kali ini, pria dingin yang semula arogan itu sikapnya berubah lembut. Benar-benar seratus delapan puluh derajat dari sifat aslinya.


Namun, semangat Tania tidak pernah surut. Ia masih bertekad menjalankan rencananya. Sedikit menerima kenyataan, mungkin akan membantunya. Ia bahkan akan bersikap seperti biasa terhadap Raffa setelah ini.


Rencana apa yang akan Tania lakukan setelah mengetahui perubahan sikap Milan? Baca terus keseruan kisahnya ya guys.


To Be Continued


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, kalian pasti banyak yang penasaran dengan kelanjutan kisah novel ini. Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Sebab jempol, dan juga komentar kalian yang akan menentukan nasib novel ini nantinya. Bisa jadi jika level tetap dipersulit oleh pihak platform akan saya pindah ke platform lain. Jadi mohon dukungannya ya genk's. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2