
Milan mengusap punggung tangan Tania yang terlihat memaku menatap ke arah luar jendela mobil.
Tania gugup, lalu menoleh. Terlihat jelas jika ia sedang gelisah. Tatapan mata keduanya kembali bertemu. Jemari tangan Milan terangkat meraba lembut ke pipinya, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Tania.
Rasa apa itu. Jantungnya semakin berdetak tak biasa. Ingin sekali rasanya Tania berlari dan menghindari Milan. Namun, ia justru memaku menatap wajah tampan yang kini tidak lagi berlaku kasar padanya.
"Apakah kamu sudah siap bertemu Edo?" tanya Milan, matanya menyelidik dengan sebelah alisnya terangkat.
"Ya," balas Tania, disertai anggukan. Hatinya ragu, tetapi tidak ada pilihan lain. Saat ini, ia harus belajar untuk tidak mudah mempercayai siapapun.
"Aku bukan pria kejam, jika kamu memiliki kesulitan. Jangan ragu meminta bantuan ku. Lagi pula, aku ini sekarang sudah menjadi suami kamu," tukas Milan, berusaha membuat Tania nyaman.
Tania merasakan perbedaan sikap Milan setelah keduanya menikah. Mungkinkah keduanya saling jatuh cinta setelah menikah? Tidak. Prioritas Tania masih ingin mencari tahu siapa yang berusaha menguasai perusahaan Reyhan, yang seharusnya menjadi haknya.
"Aku mungkin seorang wanita, tetapi aku bukan wanita lemah seperti yang kamu pikirkan." Senyuman kecut Tania sengaja ia tunjukkan pada Milan. Membuat Milan terkekeh melihat istrinya percaya diri.
"Mengaku wanita tangguh, tetapi malam pertama saja tidak sadar," ucap Milan mencemeeh.
"Ini bukan saatnya lagi kita berdebat," sergah Tania, pandangannya tertuju pada pintu gerbang mansion. Jantungnya bergemuruh, tak sabar meluapkan emosi pada Edo nantinya.
Sejenak Tania menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya sejenak. Milan tersenyum simpul, menatap Tania yang justru lucu baginya.
"Ayo turun, ingat! Tunjukkan kemesraan di depan semua penghuni mansion, dan aku akan menggaji kamu tiga kali lipat," ujar Milan, berbisik lirih hingga napasnya berhembus hangat di telinga Tania.
Tania mengangguk, pipinya bersemu merah. Ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang kini ia rasakan. Setelah melewati malam dengan Milan, ia semakin gugup saja saat berdekatan dengannya.
Seperti biasa, mansion tidak pernah sepi dari penjaga. Beberapa maid terlihat mondar-mandir menyajikan makanan untuk tukang kebun yang ramai menata dekorasi di area taman.
"Akan ada banyak kejutan, mulailah berakting," bisik Milan, lirih. Kali ini ia sengaja membuat bibirnya bersentuhan dengan telinga Tania ketika berbisik. Membuat Tania merinding dibuatnya.
Ingin sekali rasanya Tania meluapkan emosi, karena merasa diperlakukan seperti barang yang bisa dibeli.
Baru saja Tania menoleh dengan wajah penuh amarah, Milan dengan gerakan cepat memeluk erat tubuhnya dari arah belakang. Membuat jantungnya semakin berdegup liar.
"Tania … Tania … maaf, jangan marah atau berdebat di sini. Oke, mungkin ucapan ku kurang sopan. Tetapi, perlu kamu ketahui, yang aku lakukan itu bukanlah kesalahan kita sudah menikah. Itu nafkah," ucap Milan, tidak ingin Tania gusar karena ucapannya.
__ADS_1
Milan meliriknya dari sebelah bahu istrinya, Tania mengangkat tangannya dan mulai mengusap bulir bening di pipinya.
Milan membalikkan badan Tania, hingga keduanya saling berhadapan. Ia bahkan tidak mempedulikan sedang diamati oleh Raya. Perlahan Milan mengangkat jemarinya, ia mulai mengusap bulir bening yang mengalir di pipi Tania menggunakan ibu jemarinya.
Tania menenggelamkan kepalanya di dada bidang Milan, ia pun membalas pelukan itu. Berusaha memberikan kehangatan yang menenangkan untuk Tania.
"Milan," panggil Gerry, angkuh.
Keduanya mulai melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Kemudian menoleh secara bersamaan dan menghampiri Gerry.
"Aku nginap di sini dua hari," kata Milan, sambil mengalungkan tangannya di bahu istrinya.
"Kamu tidak tahu malu, kamu pikir kenapa Edo tidak menghadiri acara pernikahan kalian! Aku akan membagikan harta yang kau inginkan, tetapi jangan pernah bawa gadis ini menginap di sini."
"Kenapa?" tanya Milan, singkat. Sengaja. Milan sudah mengetahui jika Gerry selalu menyayangi Edo dibandingkan dengan dirinya.
"Wanita ini licik! Tidak pantas berada di keluarga kita, pikirkan kembali, jika ingin keluarga kita utuh lepaskan dia," ucap Gerry.
Tania menghela napas, berusaha menguasai emosi. Milan memeluknya, sembari mengelus punggungnya berkali-kali. Seolah ingin menunjukkan, jika kini Milan berpihak padanya.
Netra Milan menyapu sekeliling mansion. Ia melihat Edo tergesa-gesa menapaki anak tangga.
"Tunggu di sini," bisik Milan, pada Tania. Setelahnya berjalan menjauh.
Langkah lebarnya berjalan cepat mendekati Edo, lalu dengan gerakan cepat pula ia menarik kemeja yang Edo kenakan.
"Temui Tania, atau kamu berurusan dengan polisi!" teriak Milan, membuat Edo membalikkan badannya.
Milan bahkan tidak melepaskan tangannya, yang masih menggenggam bagian kemeja Edo. Perlahan Edo berjalan mendekati Tania, kakinya terlihat gemetar.
Tania menatap sendu ke arahnya, kekecewaan Tania tergambar begitu jelas di raut wajahnya. Bagaimana mungkin, pria yang begitu dia cintai justru menjadi dalang penculikan yang menimpa dirinya.
"Apa salahku?" tanya Tania, suaranya terdengar parau khas orang hampir menangis.
"Aku tidak mengerti arah pertanyaan kamu," kilahnya.
__ADS_1
"Aku memiliki banyak bukti jika Adrian adalah orang yang kamu sewa untuk menculik aku," ucap Tania, dengan tatapan mata tajam.
"Kamu sudah mengkhianati kesabaran, dan juga kesetiaan yang aku kasih ke kamu, Tania!" suara itu meluncur pelan, dengan penuh penekanan. Terdengar sedikit gemetar.
"Jadi, intinya kamu tidak bisa berkilah 'kan? Akui kesalahan kamu di depan Papa kesayangan kamu, tunjukkan jika kamu lebih buruk dariku!" teriak Milan, sembari memukul kecil dadanya sendiri penuh emosi.
Tania melangkah mendekati Edo, tetapi Milan segera menarik lengannya.
"Jauhi dia, kamu tahu 'kan? Dia bukan pria baik, Tania." Milan menarik Tania hingga berbalik ke arahnya.
Tania diam, tangannya melepaskan cengkeraman erat Milan yang kini mendarat di lengannya. Kemudian kembali mendekati Edo. Langkahnya terhenti ketika keduanya hanya berjarak kira-kira satu meter saja.
"Aku bukan seorang pengkhianat, seandainya kamu lebih berani menghadapi segalanya, mungkin aku akan tetap menjadi milikmu. Sebelum ini, aku masih cinta sama kamu! Namun, rasa itu hilang setelah pengakuan Adrian," ucap Tania.
Saat terus menatap Edo, wajahnya terasa panas. Matanya pedih kemudian lembab. Mungkinkah Edo juga merasakan pedihnya? Tetapi Edo yang kini berada di depannya benar-benar berbeda, ia sedikit kasar dan juga terlihat banyak kelicikan yang mulai tampak.
Apa yang terlihat baik, tidak selamanya baik. Begitu juga dengan sikap dan sifat manusia. Terkadang dibutakan cinta, seseorang bisa kehilangan akalnya. Hal ini terjadi pada Edo saat ini. Sesal. Hanya kata itu yang tepat untuk Edo.
"Katakan padaku, kesempatan itu masih ada?" Edo menatap nanar.
Tania menggeleng pelan.
"Ceraikan dia! Gadis ini hanya membuat perpecahan di keluarga kita!" seru Gerry, dengan penuh penekanan. Sambil mendekati kegaduhan.
"Bagaimana jika aku memintamu menceraikan istrimu, Pa? Ya. Raya, ceraikan dia!" Mata Milan memerah, dan terasa memanas. Tania mendekat, dan melingkarkan tangannya di lengan kekarnya.
— To Be Continued
🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, jika kalian banyak yang penasaran dengan kelanjutan kisah novel ini. Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys.
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).
Found me on IG: lia_lintang08
__ADS_1