Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Pesona Suamiku


__ADS_3

~ Halo semua, Lintang hadir lagi menyapa kalian. Mohon maaf, karena lama tidak up. Lintang galau sama regulasi, maaf jadi curhat. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang beragama Islam. Dan mohon bijak memilih bacaan ya reader kesayangan, apa lagi yang bergenre romance di bulan puasa. Oh ya, 'Dia Bukan Gadis Biasa' akan publish setiap hari usai buka puasa ya demi kenyamanan di bulan Ramadhan. Terimakasih ❤️❤️❤️


~ Happy reading


Mentari pagi menyeruak masuk menyinari sebuah jendela kamar, pasangan suami-istri yang bergumul menghangatkan diri bekas percintaan semalam. Tania menggeliat, tetapi kembali melanjutkan tidurnya. Dari wajahnya ia terlihat lelah. 


Saat itu Milan yang bangun lebih pagi, membelai lembut rambut yang menutupi wajah cantik Tania yang masih menenggelamkan wajah di ranjang empuknya. Membuat gadis itu terlonjak kaget hingga beringsut bangun.


"Aku akan mandi lebih dulu, kita harus bersiap. Papa kamu sakit, Milan. Jangan sampai kamu nanti menyesalinya, bagaimanapun dia adalah orang tua kamu," tukas Tania sedikit meninggikan nada suaranya.


Kini ia mulai terbiasa dengan kehadiran Milan, kesedihan Milan membuatnya ikut bersedih. Meskipun sebenarnya Milan tidak terlalu memikirkan ayahnya karena di rasa sang ayah tidak perduli.


"Kamu tidak perlu sok simpati, biarkan semua berjalan semestinya. Nanti kamu juga tahu kalau ini dibuat-buat," balas Milan mendengus kesal, terlihat sikapnya acuh sambil memiringkan senyumannya. Dasar Milan pria pendendam yang keras kepala.


Namun, Tania tetap melenggang meninggalkan Milan menuju ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia kembali ke dalam kamar, tetapi menuju sisi lain kamarnya. Ia memilih beberapa setel baju untuknya dan juga Milan di walk in closet miliknya.


Aktivitasnya mendadak terhenti, setelah sebelumnya aktif memindai beberapa pakaian ke dalam koper besar. Ia dikejutkan dengan sosok pria tampan yang tak asing baginya beberapa hari terakhir. 


Ya. Sosok itu adalah Milan Mahardika. 


Milan terlihat menawan dan menggoda dengan tubuhnya yang kekar, yang hanya mengenakan handuk terlilit di pinggang.


Lalu ia berganti pakaian dan kini sedang mematut diri di depan cermin besar seukuran dengan tubuhnya, terlihat serius memasang sebuah dasi yang menggantung di lehernya. Seketika Tania mendekat, jemari lentiknya perlahan menggantikan tangan Milan untuk mengikat 'dasi'.


Milan tersenyum. Biasanya ia pelit senyum. Tetapi pada Tania ia berbeda akhir-akhir ini. Balas dendamnya karena ulah Tania memecahkan kaca mobilnya beberapa waktu lalu terasa sirna.


"Aku sudah hampir selesai, aku tunggu di bawah. Lekas bersiap ya, jangan lupa tampil yang cantik," tukas Milan, sembari menoel dagu istrinya yang masih terlilit handuk di tubuhnya. Pipi wanita berkulit bening itu memerah seketika.


"Memangnya kapan aku pernah jelek!" Tania mengelak, kemudian ia bergegas menyiapkan diri.


***


Kini Tania dan Milan telah berada di mansion milik Gerry. Ketika kedatangan mereka, Raya terlihat menyambut bersama Edo. Namun, Milan menghindari perdebatan dengan mereka, hingga langsung menuju kamarnya mengabaikan sapa basa-basi yang sengaja dilontarkan oleh Mira.


Senyuman nakal pun sengaja Mira tampakkan di depan Milan. Pertunangan mereka belum berakhir, meskipun Milan telah menikah. Membuat wanita licik itu masih berpikir memiliki kuasa akan diri Milan. Salah. Jika ia berpikir lawannya adalah wanita lemah.

__ADS_1


Mungkin Mira berpikir balas dendamnya baru di mulai. Namun, sebenarnya ia tidak mengenal siapa lawannya sebenarnya. Tania adalah gadis tangguh berkelas yang sudah terbiasa dengan wanita nyiyir seperti Mira. 


Terkejut, dan juga gugup. Hanya itu yang Milan rasakan saat itu. Seolah takdir tak berpihak kepadanya ketika mengetahui Mira berada di mansion ayahnya. Namun, Milan berusaha bersikap biasa.


Seorang maid meminta Milan dan juga Tania ikut sarapan pagi bersama dengan keluarga. Mengingat kesehatan Gerry memburuk, membuat pria menawan itu akhirnya setuju.


Mira duduk berhadapan dengan Milan, sementara Tania yang tak kurang akal lebih memilih duduk tepat di sampingnya. Edo masih sama seperti sebelumnya, ia memilih berdekatan dengan Tania dibandingkan dengan Mira. Jelas semua itu membuat wanita bernama Mira semakin iri.


Wanita dengan lipstik berwarna merah menyala itu memang terlihat menggoda. Caranya mengunyah makanannya saja dibuat-buat. Mungkin jika lelaki yang melihat akan terbuai hingga melongo. Namun, Tania justru ingin muntah dan merasa jijik dengan tingkahnya.


"Makan yang banyak Milan, mau aku ambilkan yang mana?" Mira menggapai piring kosong dan juga sendok. Mencoba mencari perhatian, tetapi Milan mengabaikan ocehannya.


Karena tidak di tanggapi, Mira nekad berdiri dan justru berpindah duduk di samping Milan sambil memberanikan diri mengelus dada bidangnya.


Seketika Tania berdiri tersulut emosi. Tania segera membalikkan tubuh Mira lalu didorongnya hingga terhimpit ke dinding.


Marah. Tania melampiaskan emosinya yang semula tertahan. Di jambak hingga diplintir tangannya sudah Tania lakukan hingga Mira menjerit kesakitan. Ditariknya baju di bagian dadanya yang hampir dipamerkan separuhnya pada semua lelaki hingga robek.


Niat Tania memang ingin mempermalukan Mira karena kesal sedari tadi wanita itu terlihat binal menggoda pria yang telah sah menjadi suaminya.


Sementara Edo yang cemas terhadap Tania, segera melerainya.


"Tania sayang, kita makan sepiring berdua ya!" Milan membuyarkan lamunan Tania. Dengan suara tinggi berdenging membelah seisi ruangan.


Tania menoleh, mengerti dan memahami keinginan Milan. Wajah Milan merah padam. Giginya beradu hingga menimbulkan suara karena emosinya kian membuncah.


Tania tersadar, jika ternyata dirinya hilang kendali. Cemburu? Rupanya Tania tidak menyadari akan hal itu. 


Bahkan hal yang sama di rasakan oleh Milan, ketika mengetahui Edo masih berusaha mencuri perhatian istrinya.


"Tania, aku rasa kamu adalah wanita berkelas seperti yang di gadang-gadang kedua putraku selama ini, kenyataan kamu beringasan!" hardik Raya, sementara matanya melotot menatap tajam dengan tangan mengepal dan tubuh bergetar.


Raya sungguh terkejut, dan tidak mengira jika menantunya yang terlihat kalem mampu juga berbuat kasar ketika terdesak.


Milan bergegas berdiri hendak meninggalkan meja makan, tetapi Tania segera menahan lengannya. Memaksa Milan untuk kembali duduk, bukan tanpa alasan Tania melakukan hal itu. Ia masih memikirkan keadaan Gerry jika Milan meninggalkan sarapan pagi itu.

__ADS_1


"Aduh gimana ya Tante Raya yang saya hormati, saya hanya membela diri ketika melihat suami sah saya di goda perempuan gatal. Tetapi mau gimana lagi, pesona suamiku memang membuat wanita manapun ingin memiliki," balas Tania diiringi senyum kemenangan.


Sungguh di luar dugaan, Milan dan Edo terkejut melihat Tania begitu berani menentang Raya setelah sebelumnya ia bersikap kasar pada Mira.


"Jadi, kamu tidak mengenal siapa Mira sebenarnya?" Raya tersenyum licik. Membuat Milan bergegas berdiri siaga.


"Memangnya siapa?" tanya Tania, iseng tentunya.


"Dia 'kan masih resmi menjadi tunangan suami kamu!" Tatapan 


"Raya, kau tidak berhak ikut campur urusan pribadiku," sergah Milan, kesal.


"Tetapi bagaimanapun aku adalah mama kamu, Milan," balas Raya, ketus.


Milan melempar pandangan menatap datar Gerry yang terlihat pasrah saja dengan keadaan. Membuat Milan mendengus kesal.


"Aku datang karena ayahku, jika kalian semua tidak suka itu urusan kalian. Dan ... ya, aku sekedar mengingatkan padamu, Raya. Kau hanya ibu sambung!" Milan menajamkan tatapan matanya, kemudian memantapkan langkah meninggalkan tempat berlalu menuju kamar sambil menggandeng tangan Tania.


Tania tak bergeming, hanya diam mengekor mengikuti langkah suaminya. Tentu saja sempat terlintas rasa kesal, tetapi melihat pembelaan Milan, membuatnya sedikit lega.


"Terimakasih," ucap Tania, dengan kepala tertunduk sesampainya di kamar.


"Untuk?" tanya Milan, menyipitkan matanya.


"Sudah membelaku," jawab Tania, lirih.


Milan tersenyum, lalu meraih mesra dan menenggelamkan kepala Tania ke pelukannya. 


"Ini ... tidak gratis," balasnya, licik. Sambil mengecup puncak kepala istrinya. Membuat aliran darah Tania berdesir, jantungnya semakin bergemuruh. Rasa itu, selalu ia rasakan tiap kali bersama Milan. Lalu, bagaimana jika nanti ia bertemu dengan Edo berdua saja? Mungkinkah rasa itu masih ada?


— To Be Continued


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).

__ADS_1


Found me on IG: lia_lintang08


__ADS_2