
Bandung, Indonesia
14.00 WIB.
Dengan raut cemas Milan duduk bersandar sembari berulangkali melirik ke arah jam dinding, ruang ICU. Rasa cemas yang ia rasakan, membuat dirinya lupa jika ada jam tangan yang melingkar.
Tak lama kemudian ketukan pintu beritme, sampai ke telinga pendengarnya.
"Masuk!" perintah Milan, ia tetap saja terlihat datar.
Edo dan Tania muncul bersamaan dari balik pintu. Mencoba memelankan langkah agar tidak menganggu yang sedang sakit. Milan terlihat lelah.
Milan memejamkan matanya sambil bersandar di dinding, dan duduk di sebuah sofa berwarna coklat gelap di sudut ruangan ketika suara langkah kaki yang sedikit berisik terdengar mendekat.
"Milan, aku lapar! Belum makan siang, kamu punya solusi?" suara manja khas itu berhasil membuat Milan membuka kelopak matanya dan menoleh.
Milan terkejut, melihat Edo berdiri sejajar dengan istrinya seolah menunggu instruksi.
Milan menghela napas ringan. "Pergi sana! Cari makan, bungkus saja untukku!"
Suara berat itu semestinya adalah perintah untuk meringankan rasa lapar Tania. Tetapi entah kenapa, sejak saat itu justru membuatnya bagai ditikam belati. Hatinya berubah sedih dan membuat matanya sedikit berembun.
Namun, Tania bukanlah gadis cengeng, ia tak mau dianggap lemah oleh siapapun. Begitulah cara Raffa mengajarkan pengalaman hidup padanya.
Memang tak ada hati setegar karang jika itu berurusan dengan hati. Tetapi, setidaknya Tania sudah bukan gadis yang dulu lagi. Hidupnya telah banyak berubah karena kerasnya kehidupan.
Edo memperhatikan meskipun diam. Ia perlahan berjalan menuju pintu keluar menjauhi sepasang suami-isteri yang diyakininya kini saling jatuh hati. Mungkin merasa mengganggu atau justru tak enak hati.
"Aku saja yang keluar! Kalian di sini saja menunggu Raffa, aku sedikit mencemaskan dia." Edo mendesis dengan suara meninggi.
Tak apa ia merasakan sedikit nyeri, yang terpenting gadis yang dicintainya merasa nyaman dan aman.
Bagaikan menjaga dari hujan lebat yang turun dengan derasnya, begitulah cara Edo menjaga hati dan cinta Tania. Memastikan Tania nyaman dan baik-baik saja. Kini ia mulai terbiasa, dengan keyakinannya sendiri, bahwa cinta tak harus memiliki. Cukup menjaganya dalam hati.
Tak terdengar suara Milan atau bahkan Tania berusaha menghentikan langkahnya. Membuatnya semakin mempercepat langkahnya meninggalkan ruangan.
Langkahnya mulai melambat ketika berjalan sendirian di koridor rumah sakit. Ia berhenti sejenak, lalu berjalan lagi.
__ADS_1
"Milan mengijinkan aku mengikutimu!" teriak Tania, berhasil membuat Edo membalikkan badannya sambil menautkan kedua alisnya.
Ia terkejut, bahkan nyaris tak percaya. Jika Milan mungkin merasa kasihan padanya, memberikan sedikit ruang temu meski sekedar menyapa rindunya.
"Tania, keadaan semakin rumit. Aku bahkan semakin lelah menerka, tidak seharusnya kamu keluar bersamaku. Kau akan baik-baik saja dan lebih aman jika bersama dengan kakakku." Edo setengah berteriak sambil mengangkat tangannya agar gadis di depannya menghentikan langkahnya.
Saat Edo memberikan saran, Tania hanya bisa diam dan menatap teduh. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir ranumnya yang refleks terkatup.
"Edo," panggil Tania setengah berlari. Hanya sepotong nama itu yang kemudian keluar saat Edo berlanjut melangkah.
Edo kembali menghentikan langkahnya, saat mendengar teriakan Tania. Gadis itu setengah berlari mendekati Edo yang tak kunjung berbalik.
"Edo, selama ini aku belum pernah meminta maaf dengan benar padamu! Maafkan aku," ucapnya, diiringi suara parau dan isakan tangis. Sementara kedua tangannya melingkar di tubuh Edo, sementara dagu gadis cantik itu ia sandarkan di sebelah bahu pria yang dulu begitu dicintainya.
Aku ingin Tuhan membekukan waktu, ketika segala momen bersamamu berlangsung. Momen yang selamanya tak akan abadi, karena kau bukan milikku lagi.
Edo memejamkan matanya sejenak, dadanya terasa menghangat. Jantungnya kembali berdebar, debaran yang bahkan terlalu lama tak dirasakan dan membuat Edo melupakan bagaimana rasanya.
Menit kemudian, Edo merenggangkan kedua tangan Tania yang melekat di tubuhnya.
"Jangan membuat orang yang mencintaimu kecewa, lagi. Ayo bergegas! Kak Milan sedang menunggu," ajak Edo. Membuat Tania menengadah menatap pria jangkung itu.
Pria tampan yang selalu berpenampilan rapi itu selalu paham bagaimana maunya wanita. Ia segera mengeluarkan sapu tangan berwarna biru muda dari saku kemejanya. Dengan perlahan pula ia mengusap sisa bulir bening di pipi Tania.
"Aku sudah ikhlas melepasmu." Edo berucap sambil mengusap pipi mulus Tania.
Bukannya berhenti mengalir, tangisnya justru semakin menjadi. Meski tangis itu tidak dibarengi dengan suara, tetapi bisa terlihat jelas guratan kesedihan dan penyesalan Tania.
Menit kemudian, keduanya pergi meninggalkan rumah sakit, menuju rumah makan pinggir jalan dengan jarak yang lumayan dekat. Jaraknya hanya berkisar dua ratus meter saja dari rumah sakit.
Selama tiga puluh menit keduanya menghabiskan waktu dengan makan bersama sambil sekedar ngobrol ringan tentang kehidupan sehari-hari.
Tak lama kemudian dering telepon seluler dari balik jas yang dikenakan Edo membuat Tania mengerutkan keningnya.
"Siapa? Cewek baru ya? Kenalin ya, nanti," cerocosnya tanpa henti seakan sibuk menyelidik.
Edo menautkan kedua alisnya hingga bertautan. "Kak Milan."
__ADS_1
"Edo, jangan terlalu lama. Lekas kembali tidak perlu beli makan untukku! Raffa sudah sadar, cepat!" teriakan dari seberang telepon terdengar melengking kemudian terputus sepihak.
Edo segera bangkit menuju kasir. Ia bahkan tidak lagi peduli Tania sedang makan atau bahkan sudah selesai. Sikap tak acuhnya membuat Tania menduga-duga.
Kenapa ia terlihat cemas? Panggilan telepon dari siapa itu? Mungkinkah aku sedang dalam keadaan bahaya di sini?
Netra Tania mengedar memperhatikan sekeliling. Kemudian mempercepat langkahnya mendekati Edo. Tanpa sadar ia melingkarkan tangannya ke lengan Edo. Edo terkejut, kemudian meliriknya sesaat.
Tanpa berbasa-basi, Edo segera menggandeng Tania dan melangkah dengan langkah lebar. Tania bahkan setengah berlari mencoba mengimbangi. Meski begitu ia juga malu bertanya, jadi ia lebih memilih diam saja.
***
Edo langsung memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu, sementara Tania langsung berlari mendekat tak terkendali. Ia tak mampu lagi menahan rindu dan sedihnya pada Raffa.
Tidak ada rasa benci, kecewa atau kesan tak percaya yang ditampakkan Tania pada Raffa. Raffa pun membalas pelukan wanita yang telah dianggap adik olehnya sejak lama.
Tiba-tiba, mata Raffa membulat saat melihat seseorang yang mengenakan pakaian berjubah serba hitam. Mengeluarkan pistol dari balik jubahnya.
Dan.
Dooor ...!
Suara tembakan tak terelakkan, membuat sebuah tubuh tersungkur dan bersimbah darah. Seketika keadaan menjadi riuh disertai suara teriakan histeris dari pasien lain dan juga beberapa perawat.
Semua orang berhamburan meninggalkan tempat sekitar kejadian.
— To be continued
— Follow me on IG: @lia_lintang08
.
.
.
Catatan Author:
__ADS_1
Terimakasih tak terhingga untuk siapapun yang telah menyempatkan membaca dan bersabar menunggu kisah ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena ketidak nyamanan saat menunggu lama. Jangan lupa ramaikan kolom komentar, like, favorit juga untuk mendapatkan pemberitahuan ketika Bab Di update ya. Salam hangat Lintang untuk semua.