Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Selamat Datang Kembali


__ADS_3

Seandainya kalian dihadapkan pada dendam, dan cinta yang membawa luka apa yang akan kalian lakukan? Sama halnya ketika memiliki dua pilihan yang sulit. Bertahan demi cinta atau justru menyerah karena dendam yang kian membuncah.


Tania masih mencoba mencari siapa jati dirinya. Ada tanda tanya besar di benaknya semenjak kehadiran Burhan. Mencoba menerima pernikahan yang sebenarnya sebelumnya sempat ia tolak demi semuanya terkuak justru membuatnya jatuh dalam jeratan cinta Milan.


Pria bertubuh gempal, tinggi, besar masih berdiri di hadapannya. Raut wajahnya menakutkan. Tetapi sedikitpun Tania tidak menunjukkan ekspresi takutnya. Diliriknya, pria itu masih juga mengamati dari jarak beberapa meter.


Fokus mata Tania mencoba berpindah ke tamu lainnya untuk menghindari kontak dengan pria asing itu.


"Milan, apa kamu mengenalnya?" tanya Tania, berbisik lirih.


Hampir saja Milan menoleh menatap ke seberang sana, tetapi Tania segera berpindah tepat di hadapannya, menggapai tengkuk Milan seolah terlihat berpelukan mesra di tempat umum.


"Jangan menatapnya, pria di belakangku, yang bertubuh besar," desis Tania, kembali berbisik.


"Tidak, aku seperti pernah melihatnya. Tetapi aku lupa, ayo kita pindah untuk menemui rekanku," sahut Milan.


Milan memang pria yang memiliki ego tinggi. Namun, ego tinggi nyatanya mudah di taklukkan dengan tulusnya rasa.


Milan berjalan menuju ke sebuah ruangan pribadi milik rekan bisnisnya. 


"Halo, Ardy … ini Tania, istriku," sapa Milan, memperkenalkan rekan bisnisnya pada Tania.


Seorang pria bertubuh sedang namun berparas tampan menjabat tangan Tania, meski Milan masih lebih tampan darinya sih tapi nyatanya ia bisa cemburu juga.


Tatapan matanya yang tak biasa membuat Milan terburu-buru memisahkan tangan keduanya yang masih saling bersentuhan. Ada rasa cemas dan sakit ketika mengetahui pria lain mencuri pandang dan perhatian pada Tania.


"Cantik," desis Ardy.


Milan menghela napas, mendengar lagi-lagi pria lain memuji istrinya. Matanya bahkan hampir saja mencelos dari tempatnya.


Milan terkejut ketika mengedarkan ke arah berlawanan, ia menyadari jika dirinya sedang diawasi. Netranya mencari pengawal pribadinya. Fokusnya terhenti ketika menemukan sosok Raffa juga hadir di pesta itu.


"Ardy, kau juga mengenal Raffa?" tanya Milan, ia mengerutkan keningnya penasaran.


"Tentu, dia adalah orang kepercayaan Pak Reyhan," sahutnya, dengan nada terdengar santai sembari menuang minuman dari botol ke dalam sebuah gelas lalu meneguknya hingga tandas.


"Kau mengenal ayahku?" Tania membulatkan matanya, seolah ingin semua teka-tekinya segera terjawab, membuat Ardy menajamkan tatapan matanya mencoba mengingat-ingat.


Ardy tersenyum simpul, tatapannya beralih pada Milan yang juga menatapnya tak kalah tajam dari tatapan mata Tania. Ia tidak sedikitpun memberikan jawaban atas pertanyaan Tania, membuat gadis itu semakin geram. Bahkan suara gigi beradu terdengar jelas di telinga Ardy.

__ADS_1


"Ardy, sejak kapan kamu dekat dengan Raffa?" Milan berbasa-basi agar terlihat biasa, sementara genggaman tangannya semakin erat pada istrinya.


Milan memang bersahabat baik dengan sosok pengusaha muda bernama Ardy. Tetapi, setelah pertemuan kali ini, Milan menangkap ada banyak perubahan yang menandakan bahwa Ardy menyembunyikan rahasia besar bersama Raffa.


"Ah … itu tidak penting, ayo kita mulai pestanya. Ini sudah larut malam," sahut Ardy, kemudian bangkit meninggalkan ruangan.


Milan dan Tania mengekor mengikuti langkahnya. Ardy menyambut beberapa tamu undangan. Kemudian ia mengumumkan jika pesta hari ini ada karena ia berhasil menandatangani kontrak kerjasama dengan Milan Mahardika.


Setelah berdiri di podium dan memberikan kata sambutan kepada tamu undangan, selanjutnya acara berlangsung meriah. Milan sengaja memilih meja yang letaknya berdekatan dengan Raffa.


Pria berkulit sawo matang itu, nyatanya hanya tenang. Tidak menunjukkan tanda-tanda ia terkejut dengan kedatangan Milan dan juga Tania yang duduk di meja sebelahnya.


Alunan musik diputar dengan suara keras, untuk meramaikan pesta malam itu. Milan memberikan kode pada Raffa, netranya melirik ke arah pria bertubuh gempal yang masih mengawasinya. Raffa mengerti, mengangguk pelan sebagai isyarat. Namun, tidak sedikitpun beranjak menghampiri Milan.


Suasana pesta semakin seru dengan riuhnya para tamu undangan yang hadir. Sementara itu Ardy berjalan mendekati Tania.


Ia sengaja duduk di dekatnya, nampaknya ingin menguji kesabaran Milan. Perlahan sebelah tangannya meraih segelas minuman. Namun, karena Tania terkejut ia menyenggol lengan Ardy tanpa sengaja. Minuman di genggamannya pun lolos terjatuh dan tumpah membasahi gaun yang dikenakan Tania malam itu. 


Bagian dada hingga ke bagian pinggul pun akhirnya basah juga.


Beberapa pasang mata yang terkejut menatap ke arah mereka. Milan segera membantu membersihkan tumpahan minuman dan menyodorkan sapu tangan yang semula berada di sakunya. Ia juga rela melepas jas mahalnya untuk menutupi bagian tubuh Tania yang tercetak jelas akibat tumpahnya minuman tadi.


"Aku bersihin ke toilet sebentar," jawab Tania.


"Tidak perlu, kita langsung pulang," tolak Milan, kemudian beranjak dari tempat duduknya sambil menggandeng tangan Tania setelah sebelumnya berpamitan.


Tetapi sungguh di luar dugaan Milan, Tania menepis tangan Milan.


"Aku ke kamar mandi, sebentar saja. Jika cemas, tunggu di depan pintu," ujar Tania.


Akhirnya, Milan pun mengikuti langkah Tania. Lalu berdiri mematung tepat di lorong pembatas kamar mandi, sementara Tania tetap melenggang dengan langkah tenang berbelok ke arah toilet wanita, sepasang tangan kekar, meraih dan membekap Tania.


Tania terlonjak, matanya terbelalak ketika mengetahui jika sepasang tangan kekar yang menariknya bukanlah tangan milik Milan.


Ingin rasanya Tania berteriak, tetapi tangan itu menyumpal bibir ranumnya dengan amat kasar. Tania terpojok, meronta-ronta sekuat tenaga. Tendangan, dan juga pukulan tinju telah ia layangkan sebagai pertahanan diri. Bahkan ia sempat berlari namun masih juga tertangkap.


"Aku tidak ingin menyakiti," bisik pria misterius itu.


Membuat mata Tania membulat sempurna, mencoba memahami apa yang pria tersebut katakan.

__ADS_1


Di tariknya Tania berpindah melewati lorong yang lainnya, memasuki ruangan lainnya. Tania terkejut melihat sosok Burhan telah menanti di sana.


"Ada apa ini?" batinnya, ia mencoba menerka segala kemungkinan buruk.


Mencoba memahami siapa sosok Burhan, tubuhnya tercekat. Tetapi rasa ingin tahu yang besar memaksanya melangkah lebih jauh.


"Selamat datang kembali, apakah kamu tidak menginginkan profesi baru?" Burhan memeluk erat Tania, bahkan mengelus rambutnya.


"Profesi apa, Om?" tanya Tania, penasaran.


Tania kemudian terdiam, mencoba membaca apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Kenapa pria tua ini memperlakukan aku seperti ini?" batin Tania, sementara matanya masih memperhatikan Burhan yang terlihat menahan rindu yang dalam.


"Aku ingin kamu sedikit belajar tentang bisnis yang papamu geluti," ucapnya dengan wajah datar.


Suara dering ponsel membuatnya terkejut, Tania segera merogoh benda pipih yang semula berada di clutch bag miliknya. Kening Burhan berkerut.


"Siapa?" tanyanya, terlihat dari guratan wajahnya nampak begitu cemas.


"Milan, kenapa Om Burhan menemui aku secara diam-diam begini?" Tania menatap heran.


"Kembalilah, aku tidak bisa menjelaskan segalanya sekarang. Besok, temui aku di restoran bebek biasa di mana kamu selalu makan bersama Burhan. Ingat, jangan katakan apapun pada siapapun termasuk Milan."


"Kenapa begitu, Om?" tanya Tania, curiga dan cemas.


Netranya berpindah menyapu sekeliling ruangan yang sedikit lembab dan gelap dengan sebuah lampu yang menggantung, bergoyang ke kana dan ke kiri.


Burhan menghela napas sejenak, "Kamu bukan gadis biasa, kamu adalah pewaris kerajaan bisnis terbesar."


Baru saja Tania berbalik sejenak, mencoba menatap wajah pria paruh baya itu. Ingin membaca ekspresi wajahnya, tetapi begitu badannya berbalik, ruangan berubah sepi. Tak seorangpun berada di tempat itu.


🌠 Halo kesayangan semua, salam hangat untuk kalian. Mohon maaf, bukannya ingkar janji update rutin, tetapi author sedang berduka. Semoga levelnya naik, spam komentar sebanyak-banyaknya ya. agar author semangat update Bab barunya.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik)


Found me on IG: @li_lintang08

__ADS_1


__ADS_2