Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Aku Yang Salah


__ADS_3

Hatiku luka ketika selalu menggaungkan rindu. Rindu yang tak berkesudahan pada hati yang seiring berjalannya waktu kian menjauh. Mungkinkah cintaku akan bertahan? Ataukah pendarnya semakin bergejolak? 


***


Milan nampak hancur dengan situasi rumah tangganya. Niatnya mengunjungi orang tua satu-satunya justru berakibat fatal bagi kehidupan rumah tangganya.


Milan menyalakan mesin mobil dengan tangan gemetar. Netranya menyapu sekeliling mansion. Benar. Milan tidak menemukan lagi keberadaan Tania. Belahan jiwanya menghilang entah kemana. Hatinya perih ketika mulai menyisir jalanan yang basah akibat hujan deras yang baru saja reda.


Jiwanya porak-poranda. Rasa bersalahnya menyelimuti hati dan pikirannya saat ini. Ia menyesal datang menjenguk Gerry.


"Seandainya saja aku tidak perduli lagi dengan Papa? Ah … penyesalanku sudah terlambat," gerutu Milan, sembari memukul-mukul kecil kemudi mobilnya.


Sepanjang jalan yang ramai. Tak satupun netranya menemukan Tania. Wanita yang selama ini mengisi hari-harinya. Kini Milan sadar, jika Tania tidak bisa dibandingkan dengan wanita lain. Terlebih wanita penggoda seperti 'Mira'.


Ketika itu. Hujan kembali turun meski hanya rintik-rintik. Hati Milan semakin pilu. Ada nyeri luar biasa yang ia rasakan. Ketika saatnya terhenti akibat terhadang lampu merah, benda pipih berbentuk persegi miliknya berdering. Membuatnya melaju perlahan ketika lampu berubah hijau kemudian mobilnya berpindah di pinggir jalan yang sedikit sepi. 


"Halo … Om Burhan, maafkan saya—." Belum sempat Milan menyelesaikan ucapannya pada pria di seberang telepon, kata-katanya terhenti diikuti suara isakan.


"Kamu pria tegas, Milan! Aku tidak menyangka jika kamu bisa berbuat kesalahan! Cari Tania, buktikan keseriusan kamu! Tetapi jika kamu tidak bisa memberikan pembuktian, maka kamu harus rela kehilangan Tania untuk selamanya," ucap Burhan, suaranya terdengar mendengung keras di telinga Milan.


"Akan aku lakukan semampuku, Om," sahutnya. Suaranya terdengar parau dan bergetar. Pertanda ia terpukul dengan sikap yang diambil oleh Tania.


Panggilan telepon pun di tutup secara sepihak oleh Burhan. Kemudian, Milan kembali melajukan mobilnya menyisir jalanan dengan suasana hati tak karuan.


***


Sementara itu. Tania yang kini bersama Raffa menyadari bahwa Mira dan Raya mengancam dengan terang-terangan dirinya. Membuat Tania menyusun rencana.


"Kak, untuk sementara waktu aku akan menghilang. Namun, aku akan tetap mengawasi Milan. Carikan tempat tinggal baru sementara," desis Tania, dengan penuh penekanan.


"Kamu tinggal di salah satu rumah milik perusahaan saja. Kita langsung menuju ke sana. Tempatnya lumayan, terletak di kawasan elite, aku rasa … cocok buat kamu," ucap Raffa, ketika memacu kendaraan dengan kecepatan sedang sembari sesekali menoleh ke arah Tania.


"Oke, aku setuju," sahut Tania, diikuti anggukan kepala.


Mobil yang dilajukan Raffa berhenti di sebuah rumah mewah.


Kaki jenjang milik Tania, perlahan melangkah di sebuah rumah mewah dengan pekarangan luas. Tania mengamati sekitar, rumah yang berukuran besar dengan cat serba putih mendominasi nampak begitu megah, dilengkapi dengan kolam renang besar di samping halamannya menambah nuansa klasik yang memukau.

__ADS_1


"Aku tinggal sama siapa di sini?" tanya Tania, ragu-ragu.


"Dengan aku, Bi Marni dan beberapa orang lainnya," jawab Raffa.


Tania tersentak mendengar nama 'Bi Marni' disebutkan oleh Raffa. Matanya membulat, senyuman indah seketika merekah dari bibir ranumnya.


Saat itu. Hujan rintik-rintik mengguyur kota Bogor, hembusan angin menerpa wajah dan tubuhnya yang berbalut kain dua lapis pun mampu menciptakan gigil. 


"Bi Marni?" tanya Tania, seakan tidak percaya dengan ucapan Raffa yang baru saja ia dengar.


"Ya, ayo masuk!" ajak Raffa, ia segera melepaskan jas mewah miliknya. Mengenakan sebagai pelindung kepala dirinya dan Tania.


Gadis itu refleks menoleh, dengan jarak yang begitu dekat. Pria pribumi berkulit sawo matang itu nyatanya begitu berkharisma. Namun, Tania bukanlah wanita yang mudah tergoda, pantang baginya mempermainkan hubungan pernikahan, apa lagi pria tersebut adalah Raffa yang sudah dianggap sebagai seorang Kakak olehnya.


Raffa memaku sejenak. "Kamu wanita atau bidadari?"


Raffa menyunggingkan senyum setelah mendengus dan menatap wajah ayu Tania tanpa kedip.


"Ayo masuk! Mau sampai kapan kita di sini? Aku menahan dingin sejak tadi." Tania sengaja menghindari perbincangan yang menurutnya kurang bermutu.


Keduanya berlari berpayung jas hitam mewah milik Raffa memasuki rumah megah bak istana.


"Apa Kak Raffa memperlakukan Bi Marni dengan baik selama ini?" tanya Tania, dengan tatapan mata yang tajam mengiris mengalahkan belati.


"Tentu, kenapa pertanyaan kamu seperti itu?"


Raffa menyipitkan matanya, ia begitu heran dengan pertanyaan Tania. Ia mencoba berpikir keras. Namun tidak sedikitpun menemukan jawaban yang melintas di benaknya.


"Bi … Bibi Marni!" pekik Tania, setengah berteriak saat perempuan berusia paruh baya tersebut hampir sampai di depan anak tangga.


Bi Marni terkejut, ia mencoba menerka suara tersebut tidaklah asing terdengar di telinganya. Perlahan ia memutar tubuhnya hingga posisi mereka saling berhadapan. Matanya yang ditutupi oleh embun mulai merebak kemudian mengalir deras.


"Apakah ini Non Tania?" tanya bi Marni. Manik matanya bergerak-gerak. Seakan membaca keadaan. Kakinya yang bergetar perlahan berjalan mendekat.


"Ya. Ini aku Bi … Tania Wijaya," balas Tania, dengan penuh penekanan. Memberikan jawaban kepastian, bahwa benar ini dirinya. Gadis kecil yang ia rawat dengan cinta sejak kepergian ibu kandung Tania.


Keduanya berhamburan, saling berpelukan menatap rindu. Keduanya larut dalam isakan tangis. Sementara Raffa, hanya berdiri mematung menyaksikan suasana penuh haru itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Raffa mendekati keduanya, menepuk punggung keduanya dengan perlahan, "Sudah kangennya? Masuk ke kamar sana, biar lekas istirahat."


Tania dan bi Marni melepaskan pelukannya. Keduanya menatap Raffa dengan senyum yang mengembang. Tak disangka. Tania dan bi Marni berpindah memeluknya secara bersamaan. Mulut Raffa menganga. Matanya membulat sempurna, hampir saja mencelos dari tempatnya.


"Ada apa ini?"


"Tentu saja rasa terimakasih kami, karena sudah dipertemukan," balas Tania, dengan kepala mendongak menatap Raffa yang bertubuh tinggi di hadapannya.


Raffa membalasnya dengan mengacak-acak rambut Tania sembari tersenyum.


"Non Tania cantik sekali, bibi hampir saja tidak mengenali. Terlihat berbeda, lebih berwibawa dan juga tegas. Tidak seperti dulu, lemah lembut dan terlihat lemah," celoteh bi Marni, sembari berjalan bersama Tania menapaki anak tangga.


"Ah … masa sih Bi, aku masih Tania yang sama. Ada banyak hal yang ingin aku bagi sama Ni Marni," tukas Tania sembari menggandeng lengan bi Marni. Keduanya nampak begitu dekat. Tania memang sudah menganggap Bi Marni sebagai ibunya sendiri.


"Bener Non, penampilan berbeda loh," sahut bi Marni.


"Bi … aku ingin menanyakan banyak hal, aku harap nanti bibi jawab dengan jujur pertanyaanku ya," ucap Tania, sorot matanya terlihat antusias dan penasaran.


"Tentang apa Non?"


"Bibi orang yang membesarkan aku sejak kecil, 'kan?" tanya Tania sembari menyipitkan matanya.


"Iya, benar," jawab bi Marni.


"Aku ingin tahu siapa diriku sebenarnya, siapa pula keluarga asliku," tukas Tania. 


Bi Marni tersentak mendengar ucapan Tania. Namun apalah daya, ia hanya bisa mengangguk pasrah.


Sementara itu, Raffa terlihat sibuk menghubungi seseorang. Suaranya terdengar keras seperti orang yang sedang terlibat pertengkaran.


— To Be Continued


🌠 Halo jangan lupa spam komentar kalian sebanyak-banyaknya jika ingin author update rutin ya. Covernya diganti pihak platform guys, aku lebih suka buatanku sendiri sih sebenarnya. Tapi apalah daya, semoga suka deh ya semua. Terimakasih sudah mampir membaca, salam hangat Lintang untuk kalian semua ,❤️❤️❤️.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).

__ADS_1


Found me on IG: lia_lintang08


__ADS_2