Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Semua Telah Berakhir


__ADS_3

Bulir bening dari sudut mata Milan terus menetes tanpa henti. Saat Edo menekan luka agar pendarahan terhenti di bagian perutnya.


Sementara Tania, juga ikut serta dalam mobil ambulance dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia terlihat tegar, jemarinya menggenggam erat tangan Milan yang tak berdaya.


"Milan, kamu harus bertahan!" Edo terus mengusap kepala Kakak tirinya tanpa henti, sementara sebelah tangannya menekan bagian perut Milan.


Milan hanya membalas dengan senyuman, matanya berkedip slow motion seakan sebagai isyarat mengiyakan.


Ya. Begitu menyedihkan melihat Milan sedang sekarat. Tania menggenggam sebelah tangan Milan dan meletakkan di depan dadanya. Berharap mampu menguatkan Milan.


**


Ambulance telah tiba di rumah sakit. Rumah sakit yang sama tempat Raffa dirawat sebelumnya. 


Dokter dan perawat segera mengambil tindakan. Sementara Tania dan Edo memilih menunggu.


Tania terlihat begitu gelisah. Ia mondar-mandir tanpa henti di ruang tunggu. Membuat Edo berpikir cepat, agar bisa menenangkan wanita yang begitu dicintainya.


Ia segera mengeluarkan benda pipih dari balik jas mewahnya dan menghubungi Burhan tanpa sepengetahuan Tania.


"Tania, duduklah. Semua akan baik-baik saja." Edo mengulurkan tangannya, dan Tania segera duduk mendekat. 


"Edo—" ucapan Tania terhenti karena ragu.


"Ya, katakan," balas Edo, suaranya kini mulai lirih akibat lelah sambil memijat pelipisnya.


"Bolehkah aku meminjam bahumu sebentar saja? Bahu tempat biasa aku bersandar saat sedang terluka," desis Tania, lirih. 


Tanpa menjawab, Edo meraih kepala Tania, dan menyandarkan di bahunya. 


Lalu, Tania memejamkan matanya dengan sedikit air matanya yang mengalir di sudut mata. 


"Aku tidak mau kehilangan dia, Edo. Aku tahu dia memaksaku hingga terjebak dalam pernikahan ini. Pernikahan yang sebelumnya tidak pernah jadi anganku, bahkan namanya tidak pernah tertulis dan mengisi ruang rinduku. Tapi … nyatanya, aku tidak mampu hidup tanpa dia," keluh Tania tanpa sadar.


Edo menghela napas panjang. "Terkadang, yang terjadi tidak sesuai rencana kita."


"Ya. Kamu benar," jawab Tania. 


Kemudian ia menegakkan posisi tubuhnya. Sejenak Edo menurunkan tatapan matanya, membuat keduanya saling bertukar pandang.


"Apa kini kamu menerima pernikahan ini?" tanya Edo ragu.

__ADS_1


"Dulu mungkin tidak, tapi sekarang berbeda. Tidakkah cukup jelas perkataanku?"


"Ya, aku hanya sedikit ragu," sahut Edo dengan tatapan mata sendu.


"Permisi, keluarga Milan Mahardika?" suara seorang pria berbaju putih mengagetkan keduanya.


"Kami Dok," tangkas mereka berbarengan. Membuat sang dokter tersenyum simpul, lalu mempersilahkan mereka untuk masuk dan menjenguk Milan.


"Tunggu!" panggil Edo, menghentikan langkah dokter yang merawat Milan, hampir saja beranjak pergi. 


"Ya?"


"Apakah Kakak ku akan baik-baik saja?" tanya Edo, memastikan.


Ia takut menerima kenyataan pahit dan hatinya tidak baik-baik saja. Ia begitu takut kehilangan seorang kakak yang sejak kecil selalu menganggapnya sebagai saingan bahkan perenggut kebahagiaan.


"Dia pasti membaik. Masuk, dan pastikan saja sendiri!"


Dokter tersebut mengangkat sebelah tangannya mengarahkan ke pintu ruangan tempat Milan dirawat. Saat itu, Edo membalas dengan sedikit senyum dan anggukan kepala. 


Menit setelahnya, kakinya mulai melangkah memasuki ruangan. Menyusul Tania yang sudah lebih dulu duduk di samping Milan.


"Milan belum sadar, ya?" Tania segera duduk dengan posisi tegak, lalu mengusap air matanya berulangkali saat Edo bertanya.


"Tidak perlu malu karena ketahuan menangis. Terkadang, menangis dibutuhkan untuk membuat tenang dan sedikit menyembuhkan luka," imbuhnya kemudian.


Tatapan mata Tania kosong, menatap Milan lurus ke depan. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga buku jemari Milan akhirnya bergerak-gerak.


"Milan, kau sadar? Aku tidak meninggalkan kamu, kau adalah Kakak terbaik yang menjadi impianku. Aku tidak pernah sedikitpun membencimu, aku menyayangimu, lihatlah! Aku bahkan menjaga cintamu!" tukas Edo terus berbisik tanpa henti.


Suara langkah kaki membuat Tania dan Edo bersiaga. Langkah yang terdengar semakin mendekat. Membuat keduanya bangkit membentengi Milan yang terkapar di ranjang.


"Ini aku," ucap pria paruh baya bertubuh kekar yang kemudian menghentikan langkahnya.


Tania menatap sendu, ia tak lagi bersemangat untuk menemui Burhan. Pasalnya semua permasalahan yang terjadi karenanya. Hidup Tania bahkan tak tenang karenanya.


"Untuk apa lagi ke sini?" tanya Tania, sinis tak acuh. Ia memalingkan wajahnya, memilih menatap suaminya yang terbaring memejamkan matanya di ranjang pasien.


"Aku datang hanya ingin minta maaf," tukas Burhan.


"Maaf? Maaf karena telah menjadi pecundang?"

__ADS_1


"Tania! bentak Edo, terkejut mendapati gadis yang dicintainya berani menentang ayah kandungnya sendiri. Tania yang selama ini ia kenal tidak pernah begitu.


Tania menoleh, menatap tajam ke arah Edo kemudian, tatapan matanya berpindah pada Burhan yang hanya bisa membalas dengan tatapan sendu.


Sementara Burhan semakin berjalan mendekat dengan senyum getirnya. Ia mendekati Milan yang ternyata sudah dalam keadaan sadar dan menatap dirinya.


"Berhenti! Jangan dekati keluargaku lagi!" sergah Tania. Sorot matanya menajam.


Burhan diam. Ia terlihat berpikir keras, sambil menatap Tania yang terlihat begitu dikuasai emosi.


"Tapi, Nak. Aku juga keluargamu," jawab Burhan. 


Matanya mulai berembun, menatap putri semata wayangnya kini berani berontak. Tania yang dulunya lembut benar-benar berubah sejak kematian Reyhan.


Meski Reyhan adalah pembunuh ibu kandung Tania. Tetapi, pria itu memberinya cukup kasih sayang. Mungkin ia merasa bersalah atau bahkan ingin menebus dosa?


"Jika kamu benar-benar seorang ayah yang mencintaiku. Tidak menungguku dewasa untuk mengakui aku sebagai anakmu. Tidak seharusnya juga kau menggunakan Kak Raffa sebagai pion balas dendam!" Rahang Tania mengeras, pipinya merah padam.


"Lihat, kau lihat! Suamiku berbaring seperti saat ini juga karenamu! Aku membencimu, ayah! Sangat! Menjauh lah dariku dari sekarang. Anggap saja aku mati bersama Mama sejak kecil dulu," imbuh Tania dengan tatapan matanya yang kosong berubah sendu.


Edo mendekati Burhan. "Relakan Tania menjalani hidupnya sendiri, lagi pula ia sudah terbiasa tanpa Om Burhan bukan? Aku berjanji akan selalu di sisinya bersama Kak Milan jika suatu hal terjadi!"


Burhan mengangkat wajahnya. Terlihat dari sudut matanya ada bulir bening yang mengalir deras.


Tania begitu kecewa. Sebab selama ini Burhan hanya berani menyuruh anak buahnya, tidak memperkenalkan diri sebagai seorang ayah secara langsung.


Hari itu, hujan turun begitu lebat, disertai petir menggelegar yang terdengar sampai di ruangan tempat Milan di rawat.


Meski sedih, berat, kecewa, tetapi Burhan harus menerima kenyataan pahit itu. Pada akhirnya, ia melangkah mendekati Tania untuk terakhir kalinya. Tentu dengan niat berpamitan.


"Tania ... seluruh aset akan dibalik nama atas nama mu! Semoga kamu bahagia tanpa ayah! Jaga dirimu baik-baik, seperti inginmu ... aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapan kalian," ucap Burhan, kemudian ia memeluk erat tubuh Tania.


Gadis itu masih tercengang, namun ia tidak berani mengangkat kedua tangannya membalas pelukan ayahnya. Ada rasa tenang, hangat, menjalar ke seluruh tubuhnya. 


'Aku menyesali yang kuucapkan, Ayah!'


Bulir bening dari pipi Tania akhirnya menetes tak kalah derasnya. Di saat bersamaan, Burhan melihat Milan telah membuka mata. Dan sedang menatapnya penuh kemenangan. Entah apa artinya itu.


— To be continued


— Follow me on IG: @lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2