
Di depan seluruh keluarga, Milan berusaha terlihat lebih santai. Meski faktanya situasi ini menegangkan. Milan berjalan perlahan menuju sebuah sofa mewah berukuran king size berbahan beludru otentik dengan warna merah gelap. Menampakkan jika gaya hidup keluarga tersebut terkesan glamor.
Sementara keluarga yang lainnya, memilih mengikuti langkah Milan dari arah belakang. Kemudian semua keluarga berkumpul di ruang tengah mansion mewah milik keluarga Gerry.
"Ada apa ini? Setelah sekian lama kamu pergi tanpa kabar, dan sekarang ingin membuat kami cemas?" dengkus Gerry yang merupakan ayah kandung Milan Mahardika.
Milan berkacak pinggang membenarkan posisi duduknya dan menegakkan tubuhnya. Sejenak ia melempar tatapan matanya ke arah satu persatu anggota keluarga yang hadir di ruangan itu. Tak terkecuali gadis yang tidak tahu malu bernama Mira. Ia bahkan tidak memiliki hubungan kekerabatan, tetapi masih juga berani tinggal di mansion itu berlama-lama.
"Aku ingin menegaskan padamu, 'Raya'. Mulai hari ini, jangan bersikap implusif mendahulukan egomu, jangan campuri urusan pribadiku. Aku hargai selama ini kamu sudah mencoba memberikan yang terbaik untukku! Namun, Edo adalah putra kandungmu, lebih membutuhkan kamu dibandingkan diriku."
Sorot mata Raya menajam. Ia terkejut, Milan begitu berani memberikan ketegasan pada dirinya secara lantang di depan seluruh keluarga. Harga dirinya seolah dihempaskan. Kedua tangannya mengepal erat.
"Tentu Edo prioritasku! Dia adalah putraku tersayang, atas dasar apa kamu berani menuduhku lebih mendahulukan ego dibandingkan akalku?" Raya menukas dengan suara lantang bahkan tubuhnya sedikit terguncang.
"Atas dasar kamu yang berani memberikan ijin pada gadis muda yang tidak tahu malu bernama Mira untuk tinggal di mansion ayahku!" Milan bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya menegang.
Gerry terlihat menahan gusar. Melihat istri mudanya dan juga anak dari istri pertamanya sedang bersi tegang seolah melupakan keberadaannya sebagai kepala keluarga.
"Diam semua! Milan! Hargai wanita, terlebih usianya lebih tua dari kamu!" pekik Gerry dengan suara yang terdengar sedikit melengking.
"Hargai? Wanita yang sejak awal datang ke keluarga kita dengan cara yang salah? Aku tidak bisa, Pa. Maaf!"
Kemudian Milan menatap tajam pada Raya yang juga tak kalah tajamnya menatap dirinya. Suhu udara dalam ruangan seakan meningkat. Bahkan, rasanya nyala AC tak sanggup mendinginkan suasana ruangan.
"Dengar! Kepulanganku, dan adaku di ruangan ini karena ingin menyampaikan rasaku yang semakin tak nyaman dengan adanya turut campur orang asing," ucap Milan, dengan tatapan dingin pada Raya.
"Umm ... dan lagi, tolong katakan pada gadis bernama Mira ini untuk segera mencari tempat tinggal baru!" imbuhnya. Ucapan Milan terdengar begitu menusuk pada semua telinga yang mendengarnya terutama Mira.
__ADS_1
"Milan! Aku tunanganmu!" teriak Mira, masih tidak terima dengan keputusan dan pernyataan Milan.
Tidak heran jika Mira begitu mendambakan seorang pria seperti Milan Mahardika, bahkan mungkin hampir delapan puluh persen wanita di muka bumi jika bertemu langsung dengan Milan, pria sejuta pesona ini pasti akan luluh juga hatinya.
"Tunangan katamu? Kamu lucu, pertunangan kita sudah berakhir sejak aku memutuskan menikahi gadis cantik bernama 'Tania Wijaya'. Dia ... pemilik hatiku!"
Milan berucap sambil tersenyum getir menatap Mira dan Raya secara bergantian.
"So, sudah jelas ya! Jangan ada lagi kata kamu ngaku-ngaku tunanaganku di depan siapapun! Terutama jika nanti di depan istriku!" terang Milan, setengah mengancam.
Mira seakan terkena petir di siang hari. Air matanya tumpah, gadis cantik berbusana seksi itu benar-benar kehilangan harga dirinya setelah mendengar pernyataan tegas yang dilontarkan oleh Milan Mahardika pada dirinya.
Setelah dulu ia mencampakkan Edo kini berharap mendapatkan sandaran dari pria yang sejak awal berkepribadian lembut itu. Semua tergambar jelas ketika ia berusaha mengayunkan kaki mendekati Edo.
"Mira, yang dikatakan oleh Kakak ku benar! Jadi jangan berusaha mendekati ku. Inilah hidup, terkadang memang menyakitkan. Begitu banyak rencana yang kita inginkan, tetapi memang ada kalanya semua tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tolong, jangan dekati aku ataupun Kakak ku! Terlalu sia-sia waktumu untuk itu," jelas Edo, mendahului Mira yang hampir saja membuka suara.
"Mira sayang, nanti Tante akan mencarikan tempat tinggal baru untuk kamu ya, jangan cemas." Raya berjalan menghampiri Mira.
Gadis yang sebelumnya begitu berani dan menggoda itu seakan kehilangan rasa percaya dirinya.
Menit kemudian, Milan dan Edo berjalan beriringan meninggalkan mansion setelah berpamitan terlebih dahulu.
Keduanya begitu terlihat dekat dengan mengendarai mobil yang sama. Ini adalah pertama kalinya mereka berdua akur dan bekerja sama.
"Hari ini kita ke kantor Om Burhan, bukan?"
Edo berusaha memastikan, jika kali ini ia dan Milan akan benar-benar mengakhiri permainan Raffa.
__ADS_1
"Ya. Aku tidak yakin Raffa berada di tempat itu." Milan memutar kemudi sambil menengok ke kiri dan kanan memastikan bahwa tidak ada kendaraan lain melintas.
"Lantas—" ucapan Edo terhenti saat Milan berbalik menatapnya.
"Kamu pernah dekat dengan Raffa, bukan? Sebenarnya pandai dia menguasai penyamaran?"
Fokus Milan kembali tertuju ke jalanan setelah bertanya poin penting dari sosok Raffa, yang kini mulai terkuak mendendam pada ayah kandung Tania.
"Mahir, itu kata singkatnya. Dia ingin menggunakan Tania sebagai alat balas dendam." Edo menukas sambil menatap ke luar jendela, netranya memperhatikan beberapa kendaraan yang sedang melintas.
"Jadi, kita kemana dulu?" imbuhnya merasa cemas dengan tujuan Milan.
"Ke villa tempat terakhir Tania dan Raffa bertemu. Siapa tahu ada petunjuk mengenai keberadaannya. Setelah itu kita urus kantor Om Burhan." Milan meminggirkan mobilnya di bahu jalan. Membuat Edo mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" tanya Edo beberapa saat setelah mobil mereka berhasil berhenti bergerak.
Milan mematikan mesin mobil, derunya kian memudar lalu hilang. Ia menghela napas panjang yang terasa berat, lalu mengeluarkan benda pipih yang disebut ponsel masa kini.
Tertera nama Tania di sana. Sekilas saja Edo melirik jantungnya hampir saja melompat mengetahui bahwa gadis pujaannya sedang melakukan panggilan telepon dengan pria lain yang kini adalah suaminya.
Nyeri di dada Edo kembali terasa. Sangat sakit melihat keakraban keduanya. Entah sampai kapan ia mampu melewatinya. Cinta yang semula benar berubah menjadi cinta yang salah karena suatu ikatan. Ya. Pernikahan. Hal yang mampu memisahkan keduanya, dan berhasil menyatukan perbedaan gadis impiannya dengan sang kakak yang membuat hatinya semakin lara.
"Istriku menelpon," sahut Milan. Sebuah kata 'istri' yang justru mampu menusuk hati Edo yang semakin terasa sesak dibuatnya.
Mampukah Milan dan Edo menemukan Raffa? Apa yang akan terjadi setelah mereka bertemu? Akankah Tania hidup tenang dan bahagia? Bagaimana kelanjutan hidup Edo yang selalu merasakan luka meratapi nasibnya? Baca terus keseruan kisahnya.
— To be continued
__ADS_1
— Follow me on IG: @lia_lintang08