
~ Halo semua, maaf keterlambatan frekuensi update. Saya usahakan update rutin jika banyak komentar dan juga like ya. Karena like dan juga komentar kalian sangat menentukan kelangsungan karya saya di platform ini. Jangan lupa favorit juga. Salam hangat Lintang untuk kalian semua.
~ Happy reading ~
Masih di mansion Gerry.
Semakin hari Milan selalu menunjukkan keseriusan dalam hubungannya. Sungguh mengejutkan bagi Tania. Ia tidak menyangka, jika pria keras kepala yang sebelumnya sempat bermusuhan kini begitu mencintai dirinya.
Ketika Tania duduk termenung seorang diri di sisi ranjang kamar, suara dering telepon dari benda pipih berbentuk persegi yang bertengger di atas nakas mengejutkan dirinya.
Jemari lentiknya, segera menari bergegas menjawab panggilan telepon.
"Halo, kamu di mana?" tanya seorang pria di seberang telepon.
"Halo, Assalamualaikum Kak Raffa. Aku ada di mansion Om Gerry," sahut Tania, dengan suara berbisik.
"Wassalamu'alaikum salam, maaf lupa salam. Jangan lupakan apa yang menjadi tujuanmu, hanya karena kamu menikahi seorang 'Milan Mahardika'. Kamu lebih berharga dari apapun!" Tania memaku sejenak, mencoba mencerna ucapan Raffa.
"Halo, kamu masih mendengarkan aku?" tanya Raffa, memastikan. Seketika lamunan Tania buyar.
"Ya, aku rasa … aku sudah cukup beruntung, karena aku hanyalah putri dari pengusaha yang bangkrut. Ayahku pun sudah tiada, meski sedikit arogan dia mau memunguti menjadi seorang istri," jawab Tania, membuat Raffa terdiam sejenak.
"Aku tetap akan memberikan kamu bekal, kembalilah berlatih beladiri. Aku menunggumu di tempat latihan, nanti sore," ucap Raffa, kemudian ia mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Tania terdiam sejenak, ia masih memaku sembari menyandarkan punggungnya di sisi ranjang. Pikirannya kembali melayang memikirkan masa lalunya. Ia bahkan tidak siap mengingat peristiwa menyedihkan yang merenggut semua hartanya yang berharga, terlebih nyawa ayahnya.
"Sudah, teleponnya?" Suara bariton serak Milan yang khas membuat Tania terperanjat, refleks menoleh dan bergegas berdiri mendekat.
"Sejak kapan di sini?" tanya Tania, membuka suara selepas itu bibirnya melongo dan matanya membulat menahan kejut.
Milan hanya diam, ia lebih sibuk menggulung lengan panjang kemeja yang ia kenakan hingga sesiku, hingga memperlihatkan otot kekarnya. Penampilannya selalu rapi, dan memesona bagi siapapun yang memandang. Ia begitu pandai mempermainkan hati Tania, menarik ulur perasaan agar mendapat simpati dari istrinya.
Beberapa hal sedang ia persiapkan untuk mengungkap jati diri sang istri. Harapannya hanya satu, istrinya mampu berjaga-jaga jika saja hal buruk menimpanya di kemudian hari.
"Kak Raffa yang menelepon, mengajak latihan beladiri lagi. Apakah kamu memberikan ijin?" Tania mendekat, dan menajamkan tatapan matanya. Membuat Milan terpaksa memberikan jawaban.
__ADS_1
"Kapan?" tanya Milan, singkat. Sementara netranya tetap fokus pada cermin mematut dirinya.
"Sore ini." Tania mencoba menarik perhatian suaminya. Salahnya sendiri, akhir-akhir ini selalu bersama dan menebar pesona dan kemesraan membuat Tania terbiasa dengan kehadirannya.
Sebelumnya, Tania selalu risih bahkan enggan berdekatan dengan Milan sebab Milan tergolong pria yang sombong. Namun, kebersamaan nyatanya mampu mengikis jarak keduanya.
"Aku yang akan mengantar, oh ya … malam harinya, aku ada acara makan malam bersama sahabat lama, aku ingin kamu menemani," tukas Milan, sembari menatap penuh harap.
Dilihatnya istrinya yang kian hari semakin cantik itu mengangguk setuju sembari menyunggingkan senyuman lebar lalu mendekat dan gelendotan di bahunya. Pembuktian jika dirinya kini semakin manja. Jauh berbeda saat pertama kali mereka bertemu.
Milan melirik ke arah pintu, benar saja Tania tiba-tiba bersikap aneh. Rupanya ada Mira yang masih memata-matai mereka.
***
Mobil melaju perlahan di halaman kediaman keluarga Raffa. Semua keluarga menyambut, seperti anak Pramuka yang latihan baris-berbaris. Membuat Milan tertawa geli.
Sementara Raffa, masih seperti sebelumnya. Terlihat sibuk melayani Tania membukakan pintu mobil dan menyodorkan tangannya yang di sambut dengan gapaian tangan halus Tania. Ketika itu, Milan diam-diam melirik kesal.
Semua keluarga Raffa terlihat begitu menghormati Tania, terlebih ibu Raffa. Meskipun mereka tergolong keluarga sederhana mereka selalu memberikan yang terbaik untuk Tania. Melayani sepenuh hati seperti ketika ayah Tania masih ada.
Milan terkejut, mengerutkan keningnya begitu dalam. Sorot matanya menatap heran pada wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu kandung Raffa itu. Perhatiannya melebihi seorang ibu kandung terhadap Tania.
"Saya adalah suami Tania," desis Milan, ingin menyombongkan diri seolah memperingatkan wanita paruh baya tersebut hingga langkahnya yang kian menjauh terhenti.
"Tempat ini khusus untuk latihan beladiri, jika Anda ingin masuk, wajib menguasai beladiri. Minimal dasarnya," dengus ibu Raffa, sembari tersenyum kecut saat menoleh membalikkan badan.
Tentu saja ia memiliki tujuan tertentu. Membuat Milan mendengus kesal dan terpaksa melepaskan jas mewah yang semula melekat di tubuhnya.
"Saya harus melawan siapa? Ibu? Atau putra ibu?" Milan mengibaskan tangannya memberikan isyarat agar Tania menjauhinya. Ia tidak ingin Tania cidera terkena pukulannya barang sedikit saja.
"Lawan saya, dan juga Raffa! Baru kemudian boleh masuk," ujar pria lain bertubuh kekar yang juga berusia paruh baya.
Milan menarik napas dalam. Seumur hidup ia tidak pernah melawan orang yang bahkan tidak bersalah. Namun, kali ini situasi memaksanya. Membuat Milan, terpaksa mengambil sikap.
Netranya mencoba fokus, mencoba membaca pergerakan Raffa dan juga sang ayah yang sengaja mengeroyoknya dengan tiba-tiba. Susah payah Milan menghindari serangan keduanya. Raffa yang sebelumnya pernah adu beladiri, sudah menduga jika Milan bukan pria sembarangan.
__ADS_1
Ibu Raffa terkejut, ketika mengetahui Raffa roboh, terjatuh di rerumputan usai Milan melayangkan tendangannya.
"Berhenti!" teriak ibu Raffa.
Membuat Milan menghentikan gerakan dan juga langkahnya.
"Kamu boleh masuk," ucapnya. Dengan wajah ditekuk, wanita tersebut mempersilahkan Milan ikut masuk kedalam aula latihan. Ketika itu, Milan tersenyum penuh kemenangan. Diliriknya Tania mengelus dadanya sendiri terlihat lega.
Dua jam berlalu, Milan menyaksikan Tania terlihat serius latihan beladiri. Ia semakin kagum melihat wanita secantik Tania mampu menggeluti kegiatan yang tak biasa wanita lain lakukan.
"Bu, saya permisi ajak Tania pulang. Sebab malam ini, saya akan menghadiri pertemuan penting," tukas Milan, kali ini ia berhati-hati dan terlihat amat sopan.
"Lain kali menginap, Tania pasti rindu memasak dengan ibu," sahutnya sembari sedikit tersenyum.
Milan hanya mengangguk setuju saja ketika itu. Kemudian berpamitan dan bergegas melajukan mobilnya menuju mansion untuk bersiap.
***
Tania berjalan anggun dengan gaun merah maroon dan sepatu runcing warna senada, sementara talinya menggantung indah di leher, mengekspos indah bagian punggungnya yang mulus dan bening. Milan juga terlihat begitu menawan dengan setelan jas mewahnya berjalan mendekati para sahabat lamanya sambil menggandeng tangan Tania.
Seorang pria terlihat memperhatikan tanpa kedip dari jarak lima meter. Pria yang begitu menyeramkan dengan bulu tipis di bagian wajahnya.
Tania menyadarinya. Namun, Berpura-pura terlihat biasa. Sekilas, ia mengingat bahwa pria tersebut pernah menemui sang ayah di rumah sakit di masa lalu.
Sementara yang lainnya, menatap kagum kearah Tania. Bukannya bangga, tetapi hal itu justru membuat Milan tidak nyaman. Dengan gerakan cepat, Milan menarik Tania hingga berada dalam pelukannya.
"Tunjukkan bahwa kau hanya milikku," bisik Milan. Sementara netranya menyapu sekeliling, memastikan Tania tidak sedang dalam bahaya seperti yang ia pikirkan.
— To Be Continued
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).
Found me on IG: lia_lintang08
__ADS_1