
Waktu istirahat untuk pertandingan basket pun telah usai, kedua tim segera masuk ke lapangan dan membentuk formasi Tim mereka untuk memulai pertandingan.
Saat bola dilambungkan oleh wasit, kedua kubu penonton pun bersorak dengan sangat heboh.
Lambungan bola tersebut berhasil direbut oleh Radit, lalu dia mengoperkannya kepada Alex, selanjut nya terus dioperkan kepada rekan setim nya yang lain.
Ketika bola itu sudah tinggal beberapa langkah saja dari ring, Radit yang memegang bola melakukan shooting dari jarak yang jauh, membuat timnya langsung mendapat kan tiga poin hanya dalam kurang dari 2 menit.
"HHUAAAHHH MASSUUKK!!!"
"KEREN BANGET!!"
"Semangat, Semangat tim Gading Jaya!!"
Teriakan penonton pendukung Universitas Gading Jaya dan juga para cheerleader mendominasi seluruh tempat itu. Kombinasi yang sempurna dari setiap pemain benar-benar membuat mereka semua takjub.
Setelah berhasil mencetak poin, seluruh pemain dari kedua tim kembali ke posisi strategi mereka masing-masing. Hingga pertandingan yang sangat sengit pun terjadi di antara keduanya.
Benar dugaan Radit bahwa ada kemajuan dari Universitas Agung Podomoro, saat tim kampus nya berhasil mencetak gol, maka tim lawannya juga segera mencetak gol.
Hingga situasi kejar mengejar poin terus terjadi diantara mereka. Tapi pada akhirnya Universitas Gading Jaya lah yang memenangkan pertandingan tersebut dengan selisih 14 poin.
Pertandingan selesai, kedua tim pun saling berjabat tangan dan kemudian meninggalkan lapangan satu persatu.
"Kak Radit keren banget," seru Rin menghampiri Radit yang masih berada di lapangan bersama timnya dengan wajah yang begitu gembira.
"Ihh luh apa-apaan sih? Kok makin centil aja buat deketin Radit hah?!" sahut Saskia yang langsung mendorong Rin menjauh dari Radit, tak terima, Rin menarik Saskia hingga membuatnya terlempar jauh, dan Rin langsung meraih tangan Radit sembari memperlihatkan wajah mengejeknya kepada Saskia yang terlihat kesal.
"Kak tapi kok muka Kak Radit kayak pucat ya?" Rin memperhatikan wajah Radit yang terlihat kelelahan dan juga pucat dengan sangat khawatir.
__ADS_1
Tak lama setelah mengatakan hal tersebut, tubuh Radit kehilangan keseimbangan nya dan hampir terjatuh, namun untung saja dengan sigap Rin dibantu dengan Alex langsung menahan tubuh Radit.
"Kak, kak Radit baik-baik aja? Atau kak Radit sakit?" tanya Rin yang terlihat semakin khawatir.
"Gue gak apa-apa," balas Radit dengan lemas.
"Alex, gue percayakan tim sama luh untuk pertandingan selanjutnya, jangan sampai kalah!" lanjut Radit, kemudian Alex mengiyakan, lalu setelah itu Radit memintanya untuk dibawa ke UKS.
......................
"Kak sebenarnya kak Radit ada penyakit ya? Habisnya ini bukan pertama kalinya aku liat kak Radit kayak gini, kalau emang kak Radit sakit seharusnya kak Radit gak usah sampai capek-capek gitu dong." Rin yang khawatir kini menemani Radit di dalam UKS.
"Gue juga nggak bakal mau kalau gue tau bakal kayak gini. Gue cuma sering aja ngerasa drop tiba-tiba," balas Radit dengan dingin.
"Kalau luh mau pergi nonton pertandingan sana pergi aja, lagian masih ada Alex kan buat loh semangati?" lanjutnya dengan ketus.
"Aku gak bakal pergi dari sini, karena aku tau kalau kak Radit bakal kenapa-kenapa lagi kalau aku tinggal, Kak Radit kan gak ada apa-apanya tanpa aku. Lagian kalau cemburu bilang dong, jangan malah balas balik!" seru Rin sama ketusnya, mendengar hal itu Radit dibuat semakin kesal.
"Huft ... Nyebelin, tapi kok gue sayang ya," gumam Rin dengan sangat pelan sembari memandangi wajah Radit yang sedang tertidur.
"Ganteng juga," lanjutnya.
Saat masih sibuk memandangi wajah suaminya itu, tiba-tiba saja handphone Rin berbunyi, dan terlihat disana bahwa Surya lah yang menelponnya.
"Rin, bagaimana dengan Radit? Papa dapat informasi dari dosen kalau Radit di UKS sekarang," ucap Surya di telpon tersebut.
"Kak Radit lagi istirahat pa, tadi wajah kak Radit tiba-tiba jadi pucat terus mau jatuh gitu, makanya Rin sama kak Alex langsung bawa kak Radit ke UKS," balas Rin.
"Ya ampun, yasudah tunggu disana ya, papa bakal segera kesana!" ucap Surya lagi dan telpon pun dimatikan.
__ADS_1
Sebenarnya Rin sedikit bingung karena dari nada bicaranya Surya, dia terlihat benar-benar sangat khawatir, padahal Radit sendiri yang mengatakan dia hanya sering drop belakangan ini, tapi Rin berpikir mungkin ini karena Radit adalah anak semata wayang keluarga Surya.
Dan akhirnya sekitar 15 menit setelah telpon dimatikan, Surya pun tiba di UKS bersama dengan beberapa orang pria yang ia bawa.
"Kak bangun papa datang," seru Rin berbisik saat mengetahui Surya sudah berada di depan pintu, Rin pun sedikit menggoyang pelan tubuh Radit yang masih saja menutup matanya setelah terus dibisikkan.
"Tidak apa-apa Rin, Radit sepertinya pingsan," ucap Surya dan membuat Rin kaget sekaligus bingung.
"Kalian ayo angkat Radit ke mobil," lanjut Surya memerintahkan orang-orang yang dia bawah untuk mengangkat Radit. Melihat hal ini Rin masih dibuat diam.
"Pa sebenarnya ada apa ini? Jadi dari tadi kak Radit pingsan? Terus kenapa kak Radit bilang cuma mau istirahat?" tanya Rin yang bingung lalu Surya mengatakan akan menjelaskannya saat tiba di rumah sakit.
......................
Di rumah sakit Radit langsung ditangani oleh dokter yang sudah seperti dokter pribadi keluarga Surya. Hingga beberapa saat berlalu dan dokter itu keluar setelah menangani Radit.
Surya dan Rin pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat Radit.
"Kak Radit ... Pa sebenarnya apa yang terjadi? Tolong kasih tau aku, ini udah kedua kalinya aku liat kak Radit masuk rumah sakit, aku harus tau pa ada apa dengan kak Radit, aku istrinya," ucap Rin yang melihat Radit kemudian beralih menatap Surya dengan wajah yang penuh pertanyaan dan ingin penjelasan.
"Sayang, sebenarnya Radit punya penyakit bawaan dari Almarhumah ibunya, dia memiliki kanker yang sama seperti yang dimiliki oleh istri ku. Ini memanglah hal yang sangat jarang di jumpai, ini juga merupakan suatu kelangkaan. Dan inilah yang menjadi alasan mengapa Papa lebih memilih kamu untuk menjadi istri Radit, karena papa juga takut jika seandainya Radit bersama wanita lain, dia tidak akan di cintai dan malah justru akan disakiti, terlebih lagi jika orang itu tau tentang penyakitnya," jelas Surya tak terlalu panjang namun cukup jelas.
Penjelasan Surya itu pun sekaligus menjawab pertanyaan Rin sebelumnya, tentang mengapa dialah yang dipilih untuk menjadi istri dari seorang pewaris harta keluarga Surya yang kaya raya. Rin pun terdiam sejenak mendengar penjelasan tersebut.
"Kak Radit sakit?" tanya Rin lagi untuk memastikan, Rin pun bertanya dengan gemetar dan juga mata yang sudah siap untuk menumpahkan air mata.
"Iya, maaf kami telah merahasiakan ini dari kamu. Papa juga benar-benar gak tau dari mana harus memberitahu kamu, lalu papa kamu menyuruh papa untuk menunggu waktu yang tepat saja," balas Surya.
Mendengar hal tersebut air mata Rin pun akhirnya tumpah, dia tak menyangka bahwa seniornya yang begitu ngeselin itu ternyata memiliki penyakit bawaan, yang dimana Rin tau bahwa penyakit itulah yang telah merenggut nyawa mamanya Radit.
__ADS_1
"Aku tak ingin kehilangannya."