
"Huft... Udah dong sayang marah nya, lagian kan itu udah lama banget, terus aku juga gak suka kan sama mereka, cuma dekat sebagai teman aja" ucap Rin yang berusaha untuk membujuk Radit yang merajuk.
Sejak mendengar perkataan teman-teman Rin saat di lobby hotel tadi, Radit mendiami Rin bahkan hingga pesta di mulai.
Jadi saat ini Rin sedang terus berusaha untuk mengembalikan mood kekasihnya itu. Saat yang lain tengah menikmati pesta, saling berbicara, berjoget sambil mendengarkan musik, Rin malah duduk di pojokan dengan wajah yang cemberut karena kekasihnya itu tak kunjung tersenyum.
"Pergilah sana, ini pesta reuni kalian, jadi sebaiknya kau menikmatinya." Ucap Radit dengan dingin dan seolah-olah sedang mengusir Rin, Rin yang mendengarnya pun dibuat kaget juga sedih. "Kau?" Lirih Rin bingung.
"Iya, kenapa? Kau tak suka?" Sahut Radit masih datar di tambah dengan wajah yang semakin terlihat marah.
"Aneh Kamu! Kamu marah cuman gara-gara aku yang punya banyak teman cowok waktu SMP? Aku tanya sekarang, kamu sama Kak Saskia apa kabarnya? Mungkin memang iya Kak Saskia yang ngedeketin kamu, tapi kalian tetap dekat kan? Ya aku juga gitu sama teman-teman cowok SMP ku, lagian itu udah lama banget, sementara kamu sama Kak Saskia masih dekat kan sekarang? Ada aku marah kayak kamu gini?" Balas Rin dengan panjang lebar, dan juga nada suara yang menaik karena emosi Radit menyebutnya dengan sebutan "Kau,"Juga mengusirnya untuk pergi.
Radit yang mendengar kalimat panjang Rin itu pun terdiam seribu bahasa, dia menyadari bahwa apa yang dikatakan Rin itu benar, "apa aku terlalu kekanak-kanakan?" tanya nya dalam hati.
"Sudahlah kalau kamu emang masih marah, benar kata kamu, ini pesta reuni kami jadi sebaiknya aku ikut bergabung bersama mereka." Ucap Rin lagi sembari berdiri dari duduknya.
"Tunggu!"
Radit ikut berdiri dan meraih tangan Rin yang ingin pergi itu, dia pun menarik pelan tangan wanitanya hingga membuat Rin jatuh ke dalam pelukannya. "Maaf." lirih Radit pelan dalam pelukan itu.
Rin menghela pelan napasnya, kemudian tangannya bergerak dengan sendirinya untuk membalas pelukan Radit tersebut.
__ADS_1
"Sudah, tidak apa-apa," gumam Rin pelan sembari mempererat pelukannya, beberapa saat setelah itu mereka melepaskan pelukan tersebut. "Kau terlihat seperti anak kecil sekarang, sangat menggemaskan!" Lanjut Rin dengan tangan yang mencubit kedua pipi Radit.
Pipi Radit menjadi merah karena Rin, bukan hanya merah karena di cubit oleh Rin, namun juga merah karena kedekatan mereka itu di saksikan oleh beberapa teman Rin sehingga membuat nya merasa malu.
"Huhuhu...gemas banget liat mereka!! Jadi pengen ahhh!" Ucap salah satu teman Rin yang menyaksikan aksi Rin dan Radit itu.
Seketika Rin dan Radit langsung memberi jarak di antara mereka saat mendengar perkataan teman Rin tersebut. Meski jarak tersebut masih bisa dibilang sangat dekat, namun setidaknya tidak sedekat tadi, saat tak ada jarak sama sekali di antara mereka berdua.
Saat masih di tengah-tengah kehebohan orang-orang yang menyaksikan kemesraan Rin dan Radit, tiba-tiba saja ada seorang pria yang juga merupakan teman SMP Rin berteriak. "Gara guys! Itu Gara!" Teriak pria tersebut.
Mendengar hal itu, perhatian orang-orang yang awalnya tertuju pada Rin dan Radit, langsung teralihkan oleh ke sosok pria tampan yang baru saja memasuki ruangan pesta itu.
Saat pria itu masuk, semua orang pun menyambutnya. "Gara, aku pikir kau tak akan datang ke pesta yang ku buat ini." Ucap Riskaya penyelenggara pesta reuni itu, saat menghampiri pria tersebut.
Saat telah melihat sosok wanita yang Riskaya tunjuk, Gara pun berjalan perlahan ke arah Rin. Rin yang sedari tadi melihat ke arah orang-orang yang mengerumuni Gara itu, tanpa sadar berkontak mata sekilas dengannya.
"Hei Rin! Lama tidak bertemu" sapa si Gara yang kini sudah berada tepat di depan Rin, "Ya" balas Rin singkat bahkan tanpa menoleh sama sekali.
"Haha... Luh sekarang makin cantik aja, kenalin dong gue sama cowok yang berhasil dapatin hati loh itu, gue yang seorang anak Adi Putra saja loh tolak terus." ucap Gara lagi dengan tangan yang bergerak untuk menyentuh Rin.
Radit yang merasa bahwa Gara bukan pria yang baik-baik langsung menangkis tangan Gara itu yang ingin menyentuh wanitanya.
__ADS_1
"Sialan loh! Berani-beraninya loh sama gue!" Gertak Gara yang marah, sorot mata tajamnya pun bertemu dengan sorot mata dingin Radit, hingga membuat kedua nya saling menatap satu sama lain.
"Tunggu, gue kenal sama loh. Raditya Angga Surya?" Gumam Gara beberapa saat setelah cukup memperhatikan Radit.
"Apa?"
"Dia anak dari Pak Surya?"
"Pacar Rin adalah seorang anak CEO kaya raya?"
Saat Gara menyebut nama panjang Radit, seketika seisi ruangan menjadi begitu heboh kembali, semua orang tak menyangka bahwa pria tampan yang sedari tadi bersama Rin adalah anak dari Pak Surya.
"Luh Gara Adi Putra, kan?" Balas Radit dengan dingin, dan masih terus menatap Gara yang juga menatapnya. "Wah! ternyata anak dari Pak Surya yang di kenal dingin dan tak mau bersosialisasi itu, mengenal anak dari rival perusahaan papanya? Luar biasa!" Seru Gara dengan keras.
"Cckk... Sekarang gue tau kenapa Rin bisa jadian sama Luh! Dia pasti di jual sama papanya kan, buat mengembalikan usaha keluarga nya yang udah bangkrut itu? Kasian banget luh Radit, luh harus bersama dengan wanita murahan ini yang cuma menginginkan harta loh!!" Lanjut Gara.
Rin yang mendengar perkataan Gara itu pun tanpa sadar menjatuhkan air mata dari mata indahnya.
BBUUUKKK ...
Radit yang sudah geram dan sangat marah karena Rin dibuat menangis oleh Gara, langsung memukul Gara tepat di dagunya hingga membuat pria kurang ajar itu tersungkur ke lantai, dengan darah yang sudah keluar dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kurang ajar luh!! Asal luh tau, Rin bukan cewek murahan seperti apa yang luh bilang itu. Rin cewek paling berkelas dan mahal yang pernah gue kenal, bahkan sehelai rambutnya aja cukup buat membayar harga diri luh yang murahan itu!!" ucap Radit dengan sangat keras dan menekankan setiap kata-kata nya tersebut.
"Ayo Rin kita pergi, ada sampah disini. Gue takut kalau bau gak sedapnya bisa nempel di kamu." Seru Radit kepada Rin sembari menarik tangan kekasihnya yang masih mengeluarkan air mata itu, untuk pergi dan keluar dari pesta tersebut.