
TEENNGGG... TEENNGGG... TEENNGGG...
Terdengar bunyi sebuah lonceng hingga tiga kali di tengah-tengah keramaian dalam ruangan yang kini menjadi tempat pertemuan para perwakilan perusahaan yang ada di Indonesia.
Suara dari lonceng itu terdengar sangat besar, suaranya bergema keseluruh ruangan, suara lonceng itu bagaikan suara sebuah lonceng di kerajaan dalam cerita dongeng.
Saat bunyi lonceng pertama, semua orang masih sibuk dengan diri mereka masing-masing, mereka masih ribut, dan mereka belum menyadari akan kehadiran suara tersebut.
Saat bunyi lonceng yang kedua, mereka pun akhirnya menyadarinya, dan kemudian mencari dari mana asal suara lonceng itu.
Dan ketika lonceng itu berbunyi untuk yang ketiga kalinya, seorang pria berumur sekitar 50 tahunan, berjenggot putih dan terlihat seperti orang asing berdiri di tengah-tengah ruangan yang besar itu.
"Good afternoon everyone, and welcome to the event I'm hosting," ucap pria tersebut dengan suara yang lantang hingga dapat didengar oleh semua orang disana.
(Selamat siang semuanya, dan selamat datang di acara yang saya selenggarakan)
Saat mendengar suara lantang dari si pria tersebut, seketika saja semua mata tertuju padanya, semua orang dalam ruangan itu melihatnya dengan begitu seksama.
"Sorry to keep you all waiting so long. So now let's go to the meeting room," lanjut pria tersebut dan kemudian langsung beranjak pergi dari tempatnya berdiri saat ini.
(Maaf membuat kalian semua menunggu begitu lama. Jadi sekarang mari kita pergi ke ruang rapat)
Saat pria itu pergi untuk menuju ke ruang rapat yang ia maksud, semua orang pun mengikutinya untuk menuju ke ruang rapat yang ada di dalam gedung tersebut. Begitu pun dengan Rin, Alex, dan juga Saskia.
"Kak, dia siapa?" tanya Rin dengan suara yang amat sangat pelan agar orang lain tidak dapat mendengar perkataannya.
"Kamu gak kenal dia Rin?" tanya Saskia yang kaget, dan Rin hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia Mr. Max, pengusaha dari Amerika yang banyak menjalin kerja sama dengan pengusaha Indonesia," sahut Alex menjelaskan.
"Yaampun Rin, bisa-bisanya kamu gak kenal sama orang seperti beliau, dia begitu terkenal di kalangan para pengusaha Indonesia tau," seru Saskia dengan wajah kaget tak percaya nya.
Rin yang mendengar hal itu pun cengengesan, "Habisnya kan aku dari kecil gak pernah tuh kak disuruh buat mempelajari tentang bisnis, ataupun segala hal yang berhubungan dengannya. Papa bilang aku bebas menentukan impianku. Dan karena menjadi seorang pengusaha itu bukan impianku, makanya aku sedikit kurang tau mengenai hal ini."
__ADS_1
"Yaa enak dong kalau gitu, aku malah dipaksa sama keluargaku buat menjadi seorang pengusaha, kata mereka anak satu-satunya harus mewarisi pekerjaan orangtuanya," sahut Alex dengan wajah sedihnya, karena merasa dirinya tak jauh lebih beruntung dari Rin.
Sementara Saskia dibuat heran saat mendengar perkataan dari Rin dan Alex mengenai diri mereka yang ternyata tidak suka dalam berbisnis, juga menjadi seorang pengusaha.
"Bukannya jadi pengusaha itu enak ya? Apalagi kalau jadi seorang CEO, kalian bos nya, kalian bebas melakukan apapun, ya selagi itu tidak merugikan. Kalau aku sih emang suka ya jadi pengusaha, aku juga memang pengen banget mewarisi perusahaan yang papaku bangun dari nol," ucap Saskia.
"Wah, kalau begitu kita punya pemikiran masing-masing ya mengenai perusahaan juga berbisnis ini, dan ternyata setiap pemikiran kita berbeda-beda," seru Rin yang menarik kesimpulan dari apa yang baru saja mereka bicarakan itu.
Entah dari mana pertanyaan kecil dan sederhana yang Rin katakan tadi bisa menjadi percakapan yang cukup panjang dan bermakna ini, tapi setidaknya mereka bertiga setuju mengenai kesimpulan yang Rin ambil.
......................
Terlihat semua orang yang tadi berada di ruangan utama, dan menikmati acara pembuka, kini sudah ada di sebuah ruangan tertutup yang sangat luas, dengan dinding yang berwana putih bersih, juga ada meja persegi panjang yang benar-benar sangat panjang di ruangan tersebut.
Di meja itu, juga sudah ada sekitar 50 kursi yang berjejer dan saling berhadapan, lalu 2 kursi lainnya terletak di ujung kanan dan kiri meja panjang tersebut.
Total ada 52 kursi, dimana 51 kursi diduduki oleh 51 perwakilan dari setiap perusahaan yang ada di Indonesia, dan 1 kursi lainnya diduduki oleh Mr.Max si pengusaha asal Amerika.
(Nona Rin, benar?)
Mendengar sapaan dari Mr.Max, Rin yang sudah setengah duduk itu langsung kembali berdiri, "Yes sir, how can I help you?"
(Ya pak, ada yang bisa saya bantu?)
Mendengar jawaban dari Rin tersebut, Mr.Max pun tersenyum, dia menjulurkan tangannya ke arah Rin, dan dengan cepat Rin pun meraih sambutan tangan tersebut.
"I'm Max, and I was Pak Surya's best friend when we were both studying in London," ucap Mr.Max ditengah jabat tangan itu.
(Saya Max, dan saya adalah sahabat Pak Surya ketika kami sama-sama belajar di London.)
"Ah I see, nice to meet you too sir, I'm Rin. Sorry that Mr. Surya could not attend the event you are holding," balas Rin dengan senyum ramahnya.
(Ah begitu, senang bertemu denganmu juga pak, saya Rin. Maaf Pak Surya tidak bisa menghadiri acara yang Anda selenggarakan.)
__ADS_1
Selang beberapa detik Mr.Max pun melepaskan jabat tangan tersebut, kemudian matanya yang sejak tadi memperhatikan Rin, kini beralih melihat kursi yang akan Rin duduki.
Saat selesai memandang kursi yang ingin Rin duduki, Mr.Max tak sengaja melihat Alex dan Saskia selama beberapa detik, "Are they your friends?" tanya Mr.Max dan Rin mengangguk.
(Mereka temanmu?)
"Oh hello you two. You are Mr. Sufiks's son, and you are Saskia, Mr.Rian's golden child, right?" ucap Mr.Max sembari menunjuk Alex dan Saskia secara bergantian.
(Oh halo kalian berdua. Kamu anak Pak Sufiks, dan kamu adalah Saskia, anak emas Pak Rian, benar?)
Alex dan Saskia pun menjawab pertanyaan dari Mr.Max itu dengan anggukan diiringi dengan senyum grogi mereka.
"Hmm ... Actually I don't want to disturb you who want to sit beside your two friends, Miss Rin. But your seat is over there," seru Mr.Max.
(Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu anda yang ingin duduk di samping kedua teman anda, nona Rin. Tapi tempat duduk anda disana,)
Mr.Max pun menunjuk ke sebuah kursi yang terletak di paling ujung, benar-benar merupakan kursi terjauh dan terujung.
Tapi itu bukan berarti Rin diusir untuk menjauh ataupun dikucilkan karena disuruh duduk di paling ujung, karena kursi yang Rin akan duduki sebenarnya adalah kursi untuk perwakilan perusahaan yang terpilih.
Kursi yang ditunjuk oleh Mr.Max tersebut berhadapan dengan kursi miliknya, dimana bentuk kedua kursi tersebut sama, tapi berbeda dengan ke-50 kursi yang lain.
Singkatnya itu adalah kursi VIP yang semua orang ingin, dan berharap agar merekalah yang dapat duduk disana.
"Why me sir?" tanya Rin yang bingung karena dia tau apa arti dari kursi yang berhadapan dengan sang penyelenggara rapat.
(kenapa saya pak?)
"Because it's the Surya family company that will play a major role in this meeting, and Miss Rin is our important guest. So come on sit down, the meeting is about to start," jelas Mr.Max dengan nada yang tegas di kalimat terakhirnya.
(Karena perusahaan keluarga Surya yang akan berperan besar dalam pertemuan ini, dan Nona Rin adalah tamu penting kita. Jadi ayo duduk, rapat akan segera dimulai,)
Rin yang mendengar hal itu pun dengan sangat terpaksa harus duduk di kursi yang telah ditunjuk oleh Mr.Max, meski dia tidak ingin, namun sudah tidak ada waktu untuk menolak karena rapat akan segera dimulai.
__ADS_1