Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 48. Terbongkar?


__ADS_3

Gara memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah sakit, "Rumah sakit Medistra Jakarta?" gumam Sora saat melihat mobil Rin juga Mr.Max memasuki rumah sakit tersebut. "Ayo cepat ikuti Gara!!" lanjut Sora.


"Iya sabar," balas Gara dan dengan cepat langsung menjalankan kembali mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Gara mengikuti dua mobil yang mereka buntuti itu dengan tetap menjaga jarak aman, mereka mengikuti mobil Rin dan Mr.Max hingga akhirnya kedua mobil itu berhenti di tempat parkir.


"Mereka turun! Ayo cepat Gara parkiran mobil mu!" seru Sora yang sepertinya memang sangat tidak sabaran. Gara yang tidak ingin meladeni si mak lampir itu pun langsung memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari mobil Rin dan Mr.Max.


Saat mobil Gara sudah terparkir dengan baik, Sora dan Gara langsung turun dan berlari untuk mengejar Rin dan Mr.Max yang sudah berlalu jauh meninggalkan mereka.


Mereka memasuki rumah sakit itu, dan mencari keberadaan Rin dan Mr.Max, namun sudah beberapa menit mereka mencari tapi tetap tidak bisa menemukan dua orang itu.


"Aish kan! Luh si Gara! Masa memarkirkan mobil aja lama banget, kita jadi ketinggalan jejak mereka nih!!" omel Sora yang kesal karena kehilangan jejak Rin dan Mr.Max.


"Gue yang salah? Kenapa luh gak turun duluan tadi?! Kan luh bisa ngejar mereka," balas Gara yang tak terima di salahkan.


"Au ah, malas gue sama luh!" Sora yang kesal ingin pergi meninggalkan Gara, namun dengan cepat Gara memegang tangan Sora dan menghentikannya.


"Luh mau kemana?" tanya Gara dengan wajah heran, "Ya cari Rin lah! Kalau gue diem aja disini sama luh yang ada gue bisa gila!" jawab Sora dengan suara cemprengnya.


Mendengar hal itu Gara tersenyum sinis, "Wahai Akira Sora, emang luh tau dimana Rin sekarang?" tanya Gara lagi dan Sora langsung menggelengkan kepalanya.


"Hahaha ... Emang ya, cewek mak lampir kayak luh itu suka kerja tanpa otak! Kan dirumah sakit ini ada resepsionis, ya kita tanyain lah sama mereka dimana Radit dirawat sekarang! Rin pasti ada disana," ucap Gara dengan nada mengejek.


Perkataan Gara yang sangat benar itu langsung membuat Sora merasa malu seketika, dia yang selama ini menyebut Gara dengan sebutan "bego" malah diberi arahan oleh orang yang dia sebut "bego" itu.


"Bising luh! G–gue emang mau ke resepsionis kok!" balas Sora dengan nada yang sudah sedikit gugup, "Bukannya resepsionis berada di arah yang berlawanan dengan yang ingin luh tujuh tadi?" ucap Gara lagi.


Sekakmat! Sora yang beralasan karena tak ingin dirinya terlihat terlalu bodoh dengan kesalahan pertamanya tadi, justru membuatnya malah semakin bodoh dengan alasannya itu.


Sora terdiam beberapa saat untuk menahan rasa malu sekaligus emosinya, "Apa-apaan pria ini?! Mengapa dia selalu ingin menjatuhkan ku dengan semua kesalahan yang kubuat?!" gerang Sora dalam hatinya, juga dengan mata yang melihat tajam ke arah Gara.


"Hahaha ... Yaudah ayo kita ke resepsionis!" ajak Gara, Gara pun meraih tangan Sora dan menarik Sora untuk menuju ke tempat resepsionis di rumah sakit tersebut.


Jarak antara tempat mereka bertengkar tadi dengan resepsionis memang tidak terlalu jauh, jadi hanya perlu waktu kurang dari 2 menit mereka sudah berada di depan resepsionis.


"Selamat pagi buk dan pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa petugas resepsionis itu dengan ramah.

__ADS_1


"Hah?! Buk? Aduh mbak saya ini masih mudah loh," seru Sora yang malah menjadi semakin kesal saat dirinya disebut "buk" oleh si petugas resepsionis.


"Ah maaf kak," balas resepsionis, sementara Gara malah tertawa mendengarnya, "Gak usah minta maaf mbak, dia ini emang pantas disebut buk, malahan mak lampir lebih cocok!" ucap Gara dengan tawa mengeledeknya.


"Apaan sih luh?!" Sora yang kesal pun memukul bahu Gara dengan cukup keras, hingga mengeluarkan bunyi "Plankk" yang membuat orang-orang yang berada di sekitar resepsionis itu melihat mereka.


"Maaf mas, kak tolong jangan ribut, ini rumah sakit," tegur si petugas resepsionis.


"Ah maaf mbak, sebenarnya kami disini ingin menanyakan kamar teman kami yang dirawat dirumah sakit ini," ucap Gara.


"Baik kalau begitu, boleh tolong sebutkan nama pasien?" balas si petugas resepsionis.


"Radit ... Raditya Surya?" jawab Gara namun dengan nada ragu, membuat si petugas resepsionis menjadi bingung.


"Ish masa luh gak tau nama panjang Radit?!" sahut Sora, "Ya mana gue tau! Emang apa gunanya gue tau nama panjang orang itu?!" balas Gara dengan kesal.


"Gara!" Sora menyebut nama Gara dengan cukup tegas, namun masih pelan. Sora pun membuat kode menggunakan matanya.


Sora menatap Gara dengan tajam beberapa saat, kemudian dengan cepat dia menggerakkan bola matanya untuk melihat ke arah resepsionis lalu kembali melihat Gara.


Sora pun mendekat ke Gara, meletakkan telinga Gara tepat disamping mulutnya, "Kalau luh ngomong kayak tadi, yang ada orang bakal curiga, entar kita dikira penjahat lagi!" bisik Sora dengan suara yang amat pelan.


Gara pun langsung mengerti maksud Sora, dia pun menganggukkan kepalanya pelan, setelah tahu bahwa Gara sudah mengerti maksudnya, Sora pun menjauh.


"Maaf mbak, kami mencari kamar teman kami yang bernama Raditya Angga Surya," ucap Sora kepada si petugas resepsionis.


"Baik kalau begitu, tunggu sebentar biar saya cari," balas si petugas resepsionis, dan langsung mengotak-atik komputer yang ada didepannya untuk mencari data pasien atas nama "Raditya Angga Surya."


Dan setelah kurang lebih 3 menit telah berlalu, si petugas resepsionis yang sedari tadi melihat komputer yang ada didepannya beralih dan melihat ke arah Sora juga Gara.


"Pasien atas nama Raditya Angga Surya saat ini sedang berada di ruangan ICU," ucap si petugas itu menjawab pertanyaan Sora dan Gara tadi.


"Ruangan ICU?" gumam Sora lirih, "Baik mbak terimakasih ya!" lanjut Sora dan langsung menarik tangan Gara untuk pergi dari bagian resepsionis itu.


......................


"Itu Rin dan Mr.Max!" seru Sora saat melihat Rin dan Mr.Max yang sedang berbincang di depan pintu ruangan ICU.

__ADS_1


Sora dan Gara pun bersembunyi dibalik dinding yang tidak jauh dari Rin dan Mr.Max berbicara.


"Thank you for allowing me to visit your husband, Miss Rin," ucap Mr.Max sembari menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rin. (Terima kasih telah mengizinkan saya mengunjungi suami Anda, Nona Rin)


"Of course Mr.Max, thank you also for wanting to visit my husband," balas Rin dengan tangan yang juga membalas jabat tangan dari Mr.Max. (Tentu saja tuan Max, terimakasih juga karena anda sudah mau mengunjungi suami saya."


Beberapa detik mereka berdua mempertahankan jabat tangan itu, lalu kemudian melepaskannya karena Mr.Max harus segera pergi karena ada urusan penting.


"Then let me take you to the parking lot Mr.Max," seru Rin dan Mr.Max pun mengangguk. (Kalau begitu biarkan saya mengantar anda ke tempat parkir tuan Max.)


"Ayo! Ayo cepat!" ucap Sora saat melihat Rin dan Mr.Max yang sudah meninggalkan ruangan ICU tersebut, dia dan Gara pun berlari kecil menuju keruangan ICU dimana si resepsionis tadi mengatakan bahwa Radit dirawat disana.


Sora dan Gara berhenti sejenak di depan pintu masuk ruangan ICU, "Luh yakin mau masuk?" tanya Gara yang sebenarnya sedikit ragu.


"Yah yakinlah, gue penasaran sebenarnya Radit kenapa, gimana ceritanya dia bisa masuk ICU? Padahal terakhir kali gue ketemu dia, dia masih baik-baik aja," balas Sora.


"Ayo Gara masuk, gue penasaran!" lanjut Sora karena melihat Gara yang diam saja tak merespon dirinya.


"Iya, iya, sabar!" seru Gara dan terpaksa mengikuti Sora masuk ke dalam ruangan ICU tersebut.


Saat mereka berdua masuk, seorang perawat yang bertugas untuk menjaga ruang ICU saat ini menghampiri Sora dan Gara.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" ucap si perawat yang langsung bertanya.


"Saya ingin menjenguk kakak saya Sus, namanya Raditya," balas Sora yang berbohong.


"Raditya? Ah maaf mbak, untuk saat ini jam kunjungan sudah berakhir, tadi juga sudah ada yang datang kesini untuk menjenguk pasien atas nama Raditya, jadi sebaiknya anda datang kembali lain waktu," ucap si perawat menjelaskan.


"Kalau begitu, apa saya boleh melihatnya dari luar saja mbak? Saya begitu ingin melihat kakak saya," ucap Sora dan si perawat pun mengizinkannya.


Sora dan Gara pun berjalan menuju ke dinding kaca yang bisa langsung memperlihatkan kondisi ruangan yang ada di dalamnya.


Dari dinding kaca itu terlihat jelas Radit yang masih tak sadarkan diri dengan begitu banyak alat medis yang terpasang ditubuhnya.


"Radit?" lirih Sora yang tak percaya.


"Sakit apa sebenarnya orang itu? Mengapa ada begitu banyak alat medis yang terpasang ditubuhnya?" ucap Gara sama bingung dan tak percayanya.

__ADS_1


__ADS_2