
Rin tiba dirumahnya dengan keadaan yang sudah basah kuyup. Dengan lemas dia pun memencet bel rumahnya yang ada di samping pagar masuk.
Biasanya Pak Bayu yang merupakan penjaga rumah Surya, akan langsung membukakan pagar tersebut ketika mendengar suara mobil milik majikannya yang sudah sangat dia hapal.
Namun karena Rin datang dengan berjalan kaki, dan kondisi juga sedang hujan, membuat Pak Bayu tentu tidak akan dengar jika Rin hanya memanggilnya, sehingga Rin harus menekan bel.
Rin menekan bel rumahnya itu hingga tiga kali, dan akhirnya orang yang ditunggu-tunggu pun keluar. Dengan memakai payung Pak Bayu pun keluar, dan langsung menghampiri Rin.
"Yaampun Nona? Astaga maaf Nona Rin, saya sedang minum kopi di pos." Dengan cepat Pak Bayu langsung membukakan pagar rumah tersebut agar Rin bisa masuk.
Lalu setelah pagar sudah terbuka, Pak Bayu pun langsung memayungi Rin dengan payung yang dia bawa, hingga sampai ke depan pintu masuk rumah tersebut.
"Non, kenapa bisa basah kuyup seperti ini? Dimana mobil anda?" tanya Pak Bayu yang bingung dengan keadaan Rin saat ini.
"Ban mobil saya pecah disekitar blok E, Pak. Jadi saya terpaksa berlari dari sana kesini, dan sialnya malah turun hujan. Tolong bantu urus ya Pak Bayu." Dengan tubuh yang sudah menggigil itu, Rin pun menjawab pertanyaan Pak Bayu.
Setelah Pak Bayu menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan permintaan Rin, Rin langsung masuk ke dalam rumahnya itu.
Saat Rin masuk ke dalam rumah tersebut, salah seorang asisten rumah tangganya menghampiri Rin, dia adalah Bik Ina. Melihat Rin yang sudah sangat basah kuyup, Bik Ina pun pergi berlari untuk mengambil sebuah handuk.
"Yaampun Nona Rin, bagaimana bisa basah kuyup seperti ini? Ayo, ayo bibi antar ke kamar!" ucap Bik Ina sembari menyelimuti Rin dengan handuk yang dia bawa, lalu Bik Ina langsung membantu Rin untuk berjalan ke kamarnya.
"Terimakasih, Bik," ucap Rin setelah sudah sampai di depan pintu kamarnya itu.
Bik Ina pun mengangguk sembari tersenyum, "Yasudah Non, sekarang sebaiknya Nona Rin langsung mandi pakai air hangat. Lalu pergi istirahat, ya." Dengan suaranya yang lembut, Bik Ina memberikan arahan kepada Rin. Dan dengan sangat menurut, Rin akan melakukan apa yang dikatakan oleh asisten rumah tangganya itu.
Selang beberapa detik Bik Ina pun pergi meninggalkan Rin, sementara Rin langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dengan lemas Rin berjalan perlahan menuju kamar mandinya. Lalu setelah sudah sampai di dalam kamar mandinya itu, Rin pun langsung membuka semua bajunya yang sudah basah, dan memasukkannya ke tempat pakaian kotor.
Setelah melepas semua bajunya, dia pun memutar keran shower dengan simbol api, yang merupakan tanda bahwa itu adalah keran yang akan mengeluarkan air hangat.
__ADS_1
"Huft ...," Rin menghela napas lega karena akhirnya tubuhnya perlahan mulai menghangat.
Dan karena sudah sangat lelah, Rin pun mandi dengan cepat. Setelah mandi, Rin pun langsung tertidur dengan lelap ketika dia membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
......................
Matahari dengan malu-malu mulai muncul dari ufuk timur. Sinarnya yang sedikit redup itu memberikan rasa nyaman kepada semua orang yang masih ingin tertidur.
Namun lain halnya dengan Rin, meski dia masih sangat lelah karena semua kejadian naas yang dia alami semalam, Rin tetap harus bangun.
Biasanya Radit lah yang akan bangun lebih awal dari Rin, lalu Radit akan membangunkan wanitanya itu.
Jadi kali ini, karena Radit masih dirawat di rumah sakit, Rin jadi harus bisa lebih mandiri, salah satunya dengan bangun awal sendiri.
Setelah mengumpulkan nyawanya selama beberapa saat setelah bangun, Rin pun langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Dengan cepat dia mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat subuh.
"Aku tidak tau apakah jam segini masih boleh melakukan shalat subuh, karena aku juga bukan muslim yang baik. Tapi seingat ku, kata ustadz kita boleh langsung melakukan shalat subuh ketika bangun kesiangan," gumam Rin sembari mempercepat memakai mukenanya.
"Allahuakbar!" Rin yang sudah memakai mukenanya itu langsung memulai shalatnya.
Setelah sekitar 5 menit telah berlalu, Rin yang sudah selesai shalat subuh berlalu pergi ke kamar mandi. Dia mandi, lalu kemudian segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
......................
"Hai Rin!" Terdengar suara seorang pria yang menyapa Rin dari arah belakangnya, mendengar hal itu Rin pun langsung membalikkan badannya untuk melihat siapa orang yang telah memanggilnya itu.
"Kak Fathur?" gumam Rin setelah membalikkan badannya, dan ternyata pria yang memanggilnya itu adalah Fathur.
Fathur tersenyum dengan ramah sembari berjalan perlahan ke arah Rin, dia terus mendekat untuk mengurangi jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Ada apa Kak?" tanya Rin ketika Fathur sudah berdiri tepat dihadapannya, "Radit dioperasi hari ini kan? Jam berapa, Rin?" balas Fathur yang kemudian langsung bertanya.
"Iya kak hari ini, dan tadi Pak Surya chat aku kalau Kak Radit akan dioperasi jam 4 sore." Dengan nada bicara yang mulai sedih, Rin menjawab pertanyaan Fathur.
"Ahh begitu, baiklah aku bakal kasih tau Alex juga. Pulang sekolah kita semua ke rumah sakit bareng ya?" ucap Fathur, dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Rin.
Setelah itu Fathur pun pergi ke arah yang berlawanan untuk kembali ke kelasnya, sementara Rin kembali melanjutkan langkah menuju kelasnya yang sempat terhenti.
Namun baru saja Rin berjalan beberapa langkah, terdengar suara seorang wanita yang lagi-lagi berasal dari arah belakangnya.
Mau tidak mau Rin pun segera menoleh, "Ada ap–" Saat Rin menoleh, omongannya terhenti karena orang yang menyebut namanya tadi tiba-tiba langsung muncul di depan mukanya, dan membuatnya menjadi sangat kaget.
"GITA!" teriak Rin yang sangat marah, dan kesal karena perilaku dari orang yang menyebut namanya tadi, dan siapa lagi kenalan Rin yang suka jahil selain Gita?
Melihat Rin yang kesal, Gita malah hanya cengengesan, dan bersikap seolah-olah tidak salah sama sekali.
Saat Rin ingin kembali memarahinya karena tingkahnya itu, Gita langsung membuat topik pembicaraan.
"Mobil luh mana Rin? Tadi gue lihat luh turun dari taxi online," tanya Gita dengan topik obrolan barunya yang dia buat.
"Huft ...." Rin menghela kasar napasnya, "Ban mobil kue pecah semalam, dan sekarang masih di bengkel." Dengan lemas Rin menjawab pertanyaan Gita.
Mendengar hal itu Gita langsung mengernyitkan dahinya, "Semalam?" tanya Gita lagi untuk memastikan, dan dengan cepat Rin mengangguk.
"Dan luh tau Gita?!" Kali ini Rin lah yang bertanya dengan suara yang tiba-tiba meninggi, karena Rin berbicara tidak tuntas, Gita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Luh tau semalam?!" Rin kembali mengulangi kalimatnya, membuat Gita menjadi semakin heran, "Ya mana gue tau lah! Luh belum cerita Rin Ayu Pramana!"
"Makanya dengerin!" balas Rin dengan suara yang semakin ngegas, Gita yang mendengar suara ngegas Rin itupun dibuat benar-benar kaget, "I–iya maaf, ayo l–lanjutkan," ucap Gita dengan sedikit gugup karena takut dengan Rin yang sedang aneh itu.
Setelah itu Rin pun mulai menceritakan tentang nasib sial yang menimpanya semalam, mulai dari dia yang salah jalan, ban pecah, hingga pulang ke rumah dengan keadaan yang sudah basah kuyup karena hujan.
__ADS_1
Rin bercerita dengan sangat serius dan sesekali menampakkan wajah sedihnya, Gita yang melihat itupun dibuat ikut sama sedih juga.