Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 59. Sebuah Keajaiban


__ADS_3

Disaat hampir semua orang mulai menyerah, sebuah keajaiban datang. Tiga garis lurus yang ada di mesin elektrokardiograf perlahan mulai bergelombang kembali.


Melihat hal itu mereka yang putus asa kembali memiliki tekad. Mereka yang sempat berhenti melakukan tindakan, kembali melakukannya.


Dokter Firmansyah pun kembali menempelkan alat pacu jantung ke dada Radit, dia melakukan hal ini sebanyak dua kali.


Dan akhirnya tubuh Radit mulai merespon dunia luar. Secara perlahan tangan Radit terlihat bergerak, melihat hal itu dokter Firmansyah langsung mengecek respon pupil mata Radit.


Saat matanya dibuka, dan diberikan sedikit cahaya senter, pupil mata Radit pun merespon.


"Ahhh ... Syukurlah!" Semua orang yang ada di dalam ruangan operasi itu benar-benar merasa sangat lega. Mereka berhasil.


Bruukk ...


Sebagian dari mereka menjatuhkan tubuh ke lantai ruang operasi itu, sementara sebagian lainnya bersandar pada suatu benda.


Tubuh mereka yang awalnya tegang, menjadi lemas ketika keajaiban ini terjadi.


Mereka hampir tidak percaya, bahwa saat jantung Radit berhenti berdetak, datang sebuah keajaiban di waktu yang tepat.


Jantung yang awalnya enggan untuk bekerja, tiba-tiba saja memompa begitu kuat. Seolah-olah ada sebuah dorongan yang besar sehingga hal itu dapat terjadi.


Dan diantara seluruh orang yang bertanggung jawab dalam operasi Radit, dokter Firmansyah lah yang paling merasa lega sekaligus senang, "Livia, aku telah berhasil menyelamatkan putramu, aku telah menepati janjiku!"


......................


Di luar ruangan operasi, semua orang menunggu dengan perasaan yang begitu khawatir.


Sudah lebih dari 2 jam operasi dilakukan, namun sampai saat ini, lampu berwarna merah pertanda operasi sedang berlangsung belum berubah menjadi warna hijau.

__ADS_1


"Mengapa lama sekali?" Dengan sangat khawatir, Rin terus bergumam dan bertanya pada orang-orang disekitarnya.


Sejak operasi dimulai, Rin bahkan hampir tidak pernah duduk, dia terus berjalan mondar-mandir di depan keluarga maupun teman-temannya.


Sudah sering Pramana dan juga Niandra meminta Rin untuk duduk bersama mereka, namun pada akhirnya dia hanya duduk beberapa detik lalu kembali berdiri.


"Rin, tenanglah sebentar. Pada umumnya operasi itu memang membutuhkan waktu yang tak sebentar, bahkan tak jarang operasi berlangsung hingga lebih dari 5 jam lamanya." Dengan suara yang lembut dan tenang, Alex berusaha menenangkan Rin.


Tapi usaha Alex itu tak berarti apa-apa bagi Rin, baginya saat ini setiap detik adalah waktu yang lama, apalagi ketika dia membayangkan Radit sedang berjuang di dalam ruangan operasi itu.


Setiap detiknya Rin semakin merasa khawatir, hatinya semakin tak tenang. Dia memang tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, namun dia begitu takut akan hal yang tidak ingin dia pikirkan itu.


Disaat kegelisahannya hampir mencapai batas, hal yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Lampu operasi yang awalnya berwarna merah, seketika berubah menjadi warna hijau.


Semua orang berdiri dari duduk mereka, dengan perasaan tak sabar, mereka memperhatikan pintu ruangan operasi itu tanpa berkedip sama sekali.


Selang beberapa detik, pintu ruang operasi itu perlahan mulai terbuka. Sosok dokter yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi, perlahan mulai keluar dari dalam sana.


"Alhamdulillah, operasinya berhasil. Namun saat ini Radit masih belum melewati masa kritisnya. Obat bius ditubuhnya juga belum habis, jadi kita harus menunggu sampai obat bius itu habis, agar kita tahu bagaimana perkembangannya," jawab dokter Firmansyah menjelaskan.


Mendengar hal itu semua orang dibuat lega sejenak. Operasinya memang berhasil, namun Radit masih belum melewati salah satu bagian yang tersulit. Sebelum Radit melewati masa kritisnya, maka sampai saat itulah mereka akan selalu berada di ambang kegelisahan.


"Huft ... Kalau begitu saya pamit, kalian semua boleh melihat Radit setelah dia dipindahkan ke ruang rawat," lanjut dokter Firmansyah dengan suara yang melemas, secara perlahan diapun melangkahkan kakinya untuk pergi.


Namun dokter Firmansyah berhenti di langkahnya yang ke lima belas. Saat jarak antara dirinya dengan rombongan orang-orang yang mencemaskan Radit sudah cukup jauh, dokter Firmansyah berbalik dan melihat mereka.


Matanya melihat satu persatu orang disana, lalu kemudian dia berhenti cukup lama di orang terakhir yang ia lihat.


Orang itu adalah Rin, dokter Firmansyah memandangi Rin dengan cukup lama, dan dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

__ADS_1


Selang beberapa saat, dokter Firmansyah pun kembali membalikkan badannya, dan kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Aku memang telah menepati janjiku pada Livia, semua orang-orang itu juga telah melakukan hal yang sangat berarti bagi keselamatan Radit kali ini. Namun dia, aku yakin dialah orang yang telah membuat keajaiban itu. Dialah orang yang telah menarik kekasihnya yang sudah berada di dasar laut, kembali ke atas permukaan. Rin, kamu memang sangat mirip dengan Livia, tak heran jika Radit bisa sangat jatuh hati padamu."


......................


Rin, Surya, Pramana, Niandra, dan juga seluruh teman Rin memutuskan untuk shalat magrib berjamaah terlebih dahulu, selagi menunggu Radit dipindahkan ke ruang rawat.


Karena beberapa menit sebelum operasi Radit selesai dilakukan, azan magrib sudah berkumandang.


Namun karena mereka khawatir, mereka menunda untuk shalat, oleh karena itu mereka shalat magrib terlebih dahulu sebelum melihat Radit di ruang rawatnya.


Shalat magrib itu pun diimami oleh Pramana, setelah sekitar 5 menit mereka shalat, mereka pun melanjutkan dengan berdoa.


Mereka berdoa kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikan oleh-Nya. Mereka mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan operasi Radit, dan mereka juga berdoa agar Radit bisa segera melewati masa kritisnya.


Dan selama sekitar 10 menit mereka berada di dalam mushola rumah sakit itu, untuk shalat dan juga berdoa.


Setelah itu mereka pun segera bergegas untuk pergi ke ruang rawat Radit. Dan karena mereka tidak tau dimana ruang rawat Radit yang baru, mereka pun memutuskan untuk bertanya ke bagian resepsionis rumah sakit.


"Pasien atas nama Radit, ya. Saat ini pasien masih berada di recovery room (ruang pulih sadar), hal ini karena pasien belum melewati masa kritisnya, jadi masih harus dipantau oleh pihak medis," ujar Si Petugas resepsionis.


"Kalau begitu, apa kami boleh mengunjungi pasien?" Rin yang sudah benar-benar khawatir itu sudah sangat ingin bertemu dengan kekasihnya.


"Silahkan, namun disana nanti hanya akan diperbolehkan satu, atau dua orang saja yang masuk oleh petugas medis," jawab Si Petugas resepsionis itu.


"Baiklah, terimakasih ya, Pak." Pramana pun menarik pelan tubuh Rin, lalu mereka semua pergi untuk menuju ke ruang recovery room.


"Pa, mengapa hanya boleh satu atau dua orang saja? Aku ingin melihat Radit, Pa!" lirih Rin yang mulai kembali sedih.

__ADS_1


"Itu sudah cukup, Rin. Jika hanya boleh dua orang saja, maka kamu dan Surya lah yang akan masuk," balas Pramana menenangkan putrinya itu. "Tapi bagaimana jika hanya satu orang yang boleh masuk?" Lagi-lagi Rin bertanya.


"Kalau gitu kamu saja yang masuk, Papa yakin kalau Radit juga sangat ingin bertemu dengan kamu!" sahut Surya. Mendengar hal itu rasa sedih Rin pun mulai mereda, matanya pun sedikit berkaca-kaca karena terharu.


__ADS_2