
Sinar mentari pagi yang menembus celah-celah jendela, menyinari wajah remaja wanita yang merupakan anak tunggal dari keluarga Pramana.
Saat sinar matahari yang masuk ke kamarnya semakin banyak, perlahan wanita yang sudah dapat merasakan kehangatan itu bangun.
Dengan sangat perlahan dia membuka matanya, lalu ketika mata wanita itu telah berhasil terbuka, dia langsung menutupnya kembali.
"Terlalu terang!" gerutu wanita itu. Dan dia pun ingin kembali tidur, mencoba untuk kembali ke dalam mimpinya yang indah itu. Mimpi dimana dia dapat berbicara dengan kekasihnya.
Namun suara teriakan seorang wanita dari luar kamarnya, membuat remaja yang masih ingin tidur itu terpaksa untuk membuka kembali matanya.
Tapi sebelum dia membuka matanya, wanita tersebut terlebih dahulu menghalangi sinar matahari yang jatuh ke atas wajahnya.
Dia mengangkat tangan kirinya, lalu meletakkan tangganya itu tepat di depan wajahnya, "Mama?" gumam wanita itu dengan lirih.
"Rin? Kamu sudah bangun sayang? Ayo sarapan!" Niandra berteriak dari balik pintu kamar Rin.
Mendengar teriakkan tersebut, Rin yang masih terbaring di atas kasurnya langsung mencoba untuk duduk. "Baiklah, Ma. Rin segera keluar!" balas Rin saat sudah dalam posisi duduk.
Setelah mengatakan kalimatnya itu, Rin pun memandangi kamar tempat dia tidur saat ini, sementara Niandra pergi menjauh dari depan pintu kamar Rin untuk ke ruang makan.
"Ini kamar lamaku, ya." Mata Rin berputar melihat setiap sudut dari ruangan yang cukup besar itu. Ruangan yang penuh dengan kenangan akan masa kecilnya.
Itu adalah kamar lama Rin, kamar dari dia kecil, kamar saat dia masih tinggal di Bogor, dan saat keluarganya belum mengalami kebangkrutan.
Lalu ketika keluarganya bangkrut, mereka harus pindah ke Jakarta, dan rumah Rin di Bogor itu pun di sita oleh pihak bank.
Jadi saat ini Rin benar-benar tidak menyangka, bahwa setelah perusahaan Papanya kembali, Pramana langsung merebut kembali rumah itu dari pihak bank.
Kini mata Rin pun mulai berkaca-kaca, "Kira-kira sudah hampir setengah bulan, ya? Aku pikir akan kehilangan kamar ini, dan harus kehilangan semua kenangan indah disini."
Disaat masih dalam perasaan nostalgia, tiba-tiba saja Rin teringat pada mimpinya tadi malam.
__ADS_1
Sebuah mimpi yang membuatnya merasa bahagia, karena di dalam mimpi itu dia berada di tempat yang benar-benar indah bersama dengan Radit, orang yang paling dia rindukan untuk menjadi teman bicara.
Rin ingat dengan semua kata-kata yang Radit lontarkan dalam mimpinya itu, dan yang paling berkesan bagi Rin adalah bagian dimana Radit mengatakan, bahwa mimpi yang indah itu akan menjadi sebuah kenyataan.
Rin juga sangat ingat kalau Radit mengatakan akan mengabulkan permintaannya, yaitu untuk segera sadar dari koma. Dan Radit juga telah menyuruh Rin untuk sabar menunggu.
"Aku akan pegang semua kata-kata kamu, Radit. Aku juga sangat berharap bahwa apa yang kamu katakan, itu semua benar!"
......................
Di atas meja makan berbentuk persegi panjang kecil, terdapat 3 piring berisikan nasi goreng, dua gelas teh, segelas susu, dan juga beberapa jenis buah-buahan.
Di kedua sisi panjang di meja tersebut pun terdapat empat kursi yang saling berhadapan, dan dari keempat kursi itu, tiga kursi diduduki oleh satu keluarga kecil.
Mereka adalah Rin, Pramana, juga Niandra, dan tentu saja saat ini mereka tengah menikmati sarapan mereka.
"Nasi goreng buatan Mama! Ahh ... Sudah sangat lama aku tidak makan masakan mama!" seru Rin di tengah-tengah sarapannya.
"Hahaha ... Iya nih, semua gara-gara mantan teman mama yang kurang ajar itu! Gak lagi deh Mama temanan sama mereka, waktu senang aja mereka mendekat, pas lagi susah eh malah menjauh!" Dengan nada suara kesal bercampur dengan tawa, Niandra mengingat masa-masa suram saat dia berada di RSJ.
Dan setelah itu, percakapan yang menyenangkan terus terjadi di waktu sarapan mereka ini, namun satu pertanyaan dari Rin membuat suasana menjadi suram seketika.
"Kak Radit udah sadar Ma, Pa?" Itulah hal yang Rin tanyakan, mendengar pertanyaan itu Niandra dan Pramana langsung menghentikan makan mereka, kemudian mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Setelah cukup lama saling pandang, kini mereka berdua beralih untuk melihat putri semata wayangnya itu.
Dengan kompak Pramana dan juga Niandra menggelengkan kepala mereka, "Belum, sayang."
Mendengar jawaban itu, bukannya sedih Rin malah tersenyum, padahal sejak awal Pramana dan Niandra takut mengatakannya karena tak ingin Rin kecewa, namun putri mereka itu malah terlihat baik-baik saja.
"Aku percaya sama Kak Radit, dan aku juga yakin kalau dia akan segera sadar. Jadi aku akan terus tersenyum sembari menunggunya kembali!" ucap Rin dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya, senyum indah yang sudah cukup lama tidak Rin perlihatkan pada orang lain.
__ADS_1
Melihat hal tersebut Pramana dan juga Niandra dibuat bahagia bukan main, wajah Rin yang selalu terlihat murung dan sedih selama Radit dirawat di rumah sakit, kini kembali berseri.
Dan tak lama kemudian, sebuah telpon masuk ke ponsel Pramana, saat melihat nama kontak yang menelponnya adalah Surya, dengan cepat Pramana langsung mengangkatnya.
"Pram! R–radit! ... Hiks ... Radit untuk sadar Pram!" seru Surya diiringi dengan isak tangis bahagia dari balik telpon itu.
"Seriusan Surya?!" balas Pramana yang hampir tidak percaya mendengar pernyataan tersebut.
"Benar! Sekarang kalian semua cepatlah kemari!" Dengan suara yang jelas, Surya mengatakan kalimat terakhirnya itu, karena setelah dia mengatakan kalimat tersebut telpon pun langsung terputus.
"Pa, ada apa? Papa Surya ngomong apa?" Rin yang tidak dapat mendengar pembicaraan Pramana, dan juga Surya memutuskan untuk bertanya karena penasaran.
Tapi bukannya langsung menjawab, Pramana diam beberapa saat dengan senyum bahagianya, membuat Rin juga Niandra semakin penasaran.
"Huft!" Sebelum mengutarakan kabar gembira itu,
Pramana menarik napas panjang terlebih dahulu, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Rin, suamimu udah sadar! Radit udah siuman, dia sudah melewati masa kritisnya!" Dengan wajah yang berbinar-binar, akhirnya Pramana mengatakan apa yang Surya katakan di telpon tadi. Dan ketika mendengar hal itu, Rin maupun Niandra dibuat sama senangnya.
Diantara mereka bertiga, wajah Rin lah yang terlihat paling bahagia, wajahnya jauh lebih bahagia dari beberapa saat yang lalu.
"Sudah, sudah ... Sekarang juga kita semua akan berangkat ke Jakarta! Cepat ke garasi mobil!" seru Pramana dengan suara yang sangat bersemangat.
Dan dengan cepat Rin maupun Niandra langsung berlari ke garasi mobil, sementara Pramana pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci.
Setelah semuanya sudah berada di dalam mobil, dengan cepat Pramana langsung menginjak gas mobilnya, dan melajukan mobilnya itu ke Jakarta.
Perjalanan panjang sekitar 1 jam 30 menit pun akan mereka lalui, mereka bertiga akan pergi meninggalkan Bogor untuk sampai ke Jakarta.
"Radit! Kamu benar-benar telah mengabulkan permintaanku! Terimakasih, sayang!" Suara hati Rin terus berbicara di sepanjang jalan.
__ADS_1