
Saat Radit baru masuk ke kelasnya tadi, begitu banyak teman sekelasnya yang langsung menghampiri dia, dan menanyakan begitu banyak hal.
Namun untungnya kini Radit sudah bisa duduk dengan tenang di kursi nya setelah Alex yang juga baru tiba menyuruh teman kelasnya agar tak menganggu Radit.
Radit pun menanyakan kepada Alex tentang bagaimana hasil pertandingan basket beberapa hari yang lalu, dan Alex menjawab bahwa mereka telah memenangkan pertandingan itu, membuat Radit yang mendengar nya ikut senang meski tak memperlihatkan kesenangannya secara langsung.
Hingga akhirnya dosen pun masuk, mereka semua langsung dengan cepat duduk di tempat mereka masing-masing, dan mengikuti pelajaran dengan baik.
"Radit apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya dosen itu di sela-sela dia mengajar karena baru menyadari bahwa Radit sudah duduk di bangkunya.
"Ya pak saya sudah baik-baik saja, dan terimakasih karena anda sudah mau memberikan saya materi untuk dipelajari saat saya sakit kemarin," balas Radit dan dosen itu pun mengangguk dengan senyum, lalu kemudian melanjutkan pembelajaran nya kembali.
......................
Ketika pembelajaran telah usai, Radit langsung beranjak dari tempat duduknya pergi menuju kelas Rin, karena Radit tak ingin sampai kecolongan oleh Alex setelah Rin menceritakan bahwa Alex sering mengajak nya makan bersama saat dia tidak masuk.
Sesampainya dia di depan kelas Rin, ternyata masih ada dosen disana, jadi terpaksa Radit harus menunggu sampai akhirnya dosen itu keluar.
"Loh kak Radit? Ngapain disini?" ucap Rin kaget saat melihat Radit yang sedang duduk di bangku koridornya. Radit yang menyadari itu pun langsung berdiri.
"Gue disini nyari Alex, loh bilang Alex sering ajak loh makan bareng, makanya gue pikir dia ada disini," seru Radit memberi alasan palsu.
"Tapi kan harusnya Kak Radit udah tau kalau kak Alex gak ada disini, jadi kenapa malah masih nunggu, nyari kak Alex atau nyari siapa sih sebenernya??" sahut Gita bermaksud menggoda.
Radit yang mendengar itu pun langsung menatap mata Gita dengan penuh amarah, membuat nyali Gita yang awalnya besar seketika menjadi ciut dan langsung bersembunyi di belakang Rin.
__ADS_1
"Hahaha ... Makanya Gita jangan sembarangan ngomong," ucap Rin sambil tertawa ngakak.
"Kalau kak Radit nyari kak Alex, kak Alex pasti sekarang udah di kantin, karena kak Alex selalu ngajak kami makan bareng pas udah ketemu di sana," seru Rin menjawab alasan Radit tadi, namun bukannya pergi muka Radit justru berubah seperti seorang kekasih yang meminta agar pasangannya peka.
Menyadari akan hal itu, Rin pun bertanya kepada Radit apakah mau makan bersama dengannya di kantin.
"Yaudah boleh, sekalian biar gue bisa ketemu sama Alex disana," jawab Radit dengan nada yang seolah-olah terpaksa, padahal dalam hatinya dia senang karena Rin akhirnya peka.
Saat tiba di kantin, Rin memberi kode kepada Gita agar mau memberikan waktu untuknya berdua dengan Radit, bukan Gita namanya kalau tak langsung peka akan hal percintaan ini, jadi dengan sangat antusias dia mengajak Putri dan juga Sofia untuk pergi ke meja yang lain, dan berada cukup jauh dari Rin dan Radit.
Kini Rin dan Radit sudah duduk di tempat khusus mereka, tempat yang memang hanya boleh Radit duduki.
Dan ini adalah yang kedua kalinya Rin duduk di kursi itu, yang pertama adalah saat dia masih menjadi babu Radit, sekaligus menjadi tempat pertama Rin melihat Radit pingsan saat itu.
"Oke karena waktu itu aku gak bisa makan dengan puas karena kak Radit tiba-tiba pingsan, jadi hari ini Kak Radit harus traktir aku makan sepuasnya!" lanjut Rin menuntut sembari melihat daftar menu yang sudah ada di tangannya.
Selang beberapa menit setelah melihat-lihat daftar menu, akhirnya Rin sudah memutuskan makanan-makanan yang akan dia beli, Radit pun memesan menu yang sama dengan Rin.
Sembari menunggu makanan yang di pesan datang, Rin dan Radit pun mengobrol dengan suara yang sangat kecil agar orang lain tak dapat mendengarnya.
"Kak Radit tadi ke kelas aku cuma buat ajak aku makan kan? Ngapain pakek alasan gitu?" tanya Rin bingung.
"Geer Luh! Gue emang pengen nyari Alex ya, cuma karena dia gak ada, makanya sekalian aja gue nunggu luh buat ke kantin bareng," jawab Radit masih enggan mengaku.
"Gengsinya terlalu gede sih kak," balas Rin diiringi dengan tawa kecil, melihat hal itu Radit marah dan langsung menatap mata Rin dengan sangat dalam, bukannya takut Rin malah mengajak Radit untuk beradu tatapan dengannya, dia pun ikut melotot kan matanya, dan melihat mata Radit dengan sangat dalam.
__ADS_1
"Kak Radit juga aneh! Waktu di rumah sakit pengen di manja, disayang, dipeluk, panggil aku kamu, tiba baru masuk gerbang kampus eh berubah, gak asyik banget!" lanjut Karin dengan nada mengejek.
"Luh sekarang udah berani kurang ajar ya!" kesal Radit yang sudah mulai emosi melihat tingkah wanitanya itu, sementara Rin tak peduli dan malah menjulurkan lidahnya sambil tertawa.
......................
Hari yang panjang di kampus pun telah berhasil mereka lewati saat bel pertanda kuliah sudah usai berbunyi, Radit dan Rin langsung bergegas pulang karena Surya menelpon mereka untuk segera datang kerumah.
Sesampainya di rumah keluarga Surya, Rin dan Radit dibuat bingung karena ada begitu banyak mobil yang terparkir di pekarangan rumah itu.
"Ada apa ini pa?" tanya Rin saat masuk ke dalam dan langsung menemukan Surya yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang.
"Ah kalian sudah datang, ayo sayang salimi mereka, mereka adalah kerabat-kerabat papa. Dan setelah itu segera ganti baju kalian ya," ucap Surya, dan Rin langsung mematuhinya diikuti oleh Radit.
"Tapi pa kenapa Om dan Tante datang kesini semua? Apa akan ada acara?" tanya Radit karena pertanyaan Rin sebelumnya belum dijawab.
"Kamu lupa nak? Ini adalah genap 7 tahunan mama kamu, hari ini kita akan bersama-sama pergi ke makamnya, dan malam ini juga akan diadakan yasinan. Dan kamu Radit, kali ini kamu harus mau ikut!" jelas Surya.
Mendengar hal itu Rin pun akhirnya mengangguk tanda dia mengerti, sementara Radit tiba-tiba saja langsung pergi dengan cepat menuju kamarnya.
"Loh kak Radit?" bingung Rin yang melihat Radit berlalu pergi begitu saja.
"Pa ada apa? Papa tadi juga bilang kalau kak Radit kali ini harus ikut? Emang kak Radit tak pernah ikut sebelumnya?" lanjut Rin setelah baru menyadari kalimat terakhir dari Surya tadi.
"Iya Rin, papa juga tak tau kenapa, tapi semenjak mama Radit meninggal, Radit begitu membenci mamanya, dia bahkan tak ingin sekali pun untuk pergi ke makam mamanya. Sayang bisakah kamu bujuk Radit agar dia mau ikut ziarah untuk kali ini?" Jawab Surya, dan Rin pun mengerti, dia langsung pergi menyusul Radit untuk melakukan apa yang diminta oleh Surya.
__ADS_1