
Saat ini Rin, Surya, Pramana, Niandra, dan juga seluruh teman Rin yang lainnya sedang berada tepat di depan ruang recovery room.
Mereka menunggu di luar terlebih dahulu, sebelum petugas medis yang ada di dalam ruangan itu memperbolehkan salah satu dari mereka masuk.
Setelah sekitar 7 menit mereka menunggu, akhirnya para petugas medis yang ada di dalam ruangan itu keluar.
Dari 3 petugas medis yang ada di dalam tadi, 2 diantara mereka pergi berlalu, sementara yang satunya menghampiri Rin dan juga yang lainnya.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Si Petugas Medis itu dengan ramah sembari tersenyum. Mendengar hal tersebut, Rin yang duduk pun langsung berdiri.
"Suster, apa boleh saya masuk ke dalam?" balas Rin yang balik bertanya, namun Si Petugas Medis itu tidak langsung menjawabnya.
Si Petugas Medis tersebut diam beberapa saat, kemudian dia melihat orang-orang yang ada disekitar Rin, lalu kembali melihat Rin.
"Ahh ... Kalian semua pasti keluarga dan teman-teman pasien atas nama Raditya, ya?" Dengan senyum ramahnya, Si Petugas Medis itu bertanya, dan langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh orang-orang yang ditanya.
"Begitu ternyata. Tapi maaf, saat ini hanya boleh satu orang yang masuk," lanjut suster tersebut. Dia mengatakan hal itu karena melihat jumlah Rin dan yang lainnya sangat banyak.
Dia berpikir bahwa mereka semua ingin masuk untuk melihat Radit, jadi tentu saja dia harus mengatakan hal tadi sebelum dia pergi.
Tidak mungkin dia membiarkan orang sebanyak itu untuk masuk, bukan?
"Huft ... Kalau begitu biar menantu saya saja yang masuk, ayo Rin!" sahut Surya sembari sedikit mendorong Rin dengan pelan.
Dorongan itu membuat Rin sedikit maju, dan membuatnya menjadi lebih dekat dengan Si Petugas Medis itu.
Hal ini membuat suster tersebut tahu, siapa orang yang dimaksud Surya untuk masuk ke dalam ruangan recovery room itu.
__ADS_1
"Kalau begitu mari, biar saya antar anda ke dalam, di dalam nanti saya akan memberikan skort medis untuk anda gunakan sebelum anda masuk," ucap Si Petugas Medis itu.
Beberapa saat kemudian dia pun melangkah untuk kembali masuk ke dalam ruangan recovery room, dan Rin mengikutinya dari belakang.
Saat masuk ke dalam ruangan recovery room, tepat beberapa langkah dari pintu masuk, disebelah kiri langsung terdapat sebuah pintu.
Dimana dibalik pintu tersebut terdapat ruangan kecil yang digunakan untuk para pengunjung memakai skort medis mereka.
"Silahkan pakai skort medis yang ada di rak paling atas, ya nona Rin. Setelah itu baru anda boleh masuk untuk melihat pasien." Dengan suara tegas, Si Petugas Medis itu menjelaskan.
Setelah mendengar hal itu, Rin pun segera mendekat ke pintu, lalu secara perlahan dia membuka pintu yang ada dihadapannya itu.
Di dalam ruangan itu, Rin langsung membuka lemari paling atas yang dimaksud oleh suster rumah sakit tersebut.
Lalu dia meraih salah satu skort medis yang ada, dan kemudian langsung memakainya. Selang beberapa detik, setelah selesai memakai skort medis itu, Rin pun keluar dari ruangan tersebut.
"Sudah, ya. Kalau begitu saya keluar dulu, pasien atas nama Radit berada tepat di ruangan yang ada di depan. Waktu berkunjung maksimal 30 menit, setelah 30 menit saya akan kembali kesini. Jika terjadi sesuatu dengan pasien, tolong segera tekan tombol merah yang berada tepat di atas lemari, dengan begitu kami akan segera datang." Dengan suara yang jelas, Si Petugas Medis itu menjelaskan beberapa prosedur di ruangan recovery room sebelum Rin masuk.
Setelah Rin menganggukan kepalanya tanda dia mengerti, suster itu pun keluar dari ruangan tersebut.
Rin menunggu sampai suster tersebut keluar, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruangan tempat Radit dirawat pasca operasi.
......................
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Rin berjalan perlahan ke arah Radit yang sedang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit itu.
Rin membendung air mata yang ingin keluar dari matanya itu sebisa mungkin, wanita ini tak ingin mengeluarkan air matanya yang mungkin dapat menganggu Radit.
__ADS_1
"Radit." Dengan suara dan langkah yang pelan, Rin terus mengurangi jarak diantara dirinya dengan sang kekasih.
Saat jarak diantara mereka hanya tinggal selangkah saja, Rin pun berhenti untuk memandangi Radit.
Ketika melihat Radit dengan seksama, dia langsung mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Tubuhnya yang tak henti-hentinya gemetaran, membuat Rin harus mengigit bibirnya untuk mengurangi hal itu.
"R–Radit ... Aku gak sanggup kalau harus liat kamu seperti ini dalam waktu yang lama ...."
"Haha ... Padahal sebelumnya aku begitu ingin bertemu denganmu, dan kemudian petugas medis yang menjagamu tadi memberikan ku waktu 30 menit. Namun, sepertinya aku tak akan mampu bertahan selama itu."
"Maaf ... T–tapi sepertinya aku hanya akan sebentar disini. Aku memang begitu ingin bertemu denganmu, tapi saat sudah bertemu bodohnya aku malah menunjukkan sisi yang lemah ini ... Hiks ... M–maaf ...."
Rin mengatakan semua hal itu dengan suara yang sangat lirih, tubuhnya pun bergetar semakin kuat, dan di kata-kata terakhirnya, dia sudah tak mampu untuk membendung tangisannya.
Beberapa tetes air mata pun keluar dari mata Rin, namun dengan cepat Rin menyekanya, agar tak semakin banyak tetesan air mata yang terjatuh.
Setelah sudah mampu membendung kembali air matanya yang ingin jatuh itu, Rin kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu, kamu telah berusaha sekuat mungkin untuk berjuang dalam operasi tadi. A–aku tahu, sudah banyak energi yang kamu gunakan, tapi ... Bisakah kamu berusaha lebih keras lagi untuk kali ini? Aku ingin kamu melewati masa kritis mu ini dengan cepat Radit."
"Meski ... Huft ... Sebenarnya aku tak pantas untuk meminta ini, aku telah membuat dirimu sangat marah kemarin, aku telah melanggar janjiku padamu. A–aku tau kalau aku salah ... Hiks ... D–dan aku juga sangat marah pada diriku sendiri, tapi Radit aku mohon dengerin aku kali ini! Bangun! Aku mohon bangun!"
Ketika melanjutkan kalimatnya, tangis Rin kembali pecah. Dan kali ini dia memutuskan untuk langsung keluar.
Dia sudah tak mampu untuk menahan air matanya yang memberontak untuk terus keluar, jika dia kembali menyekanya, maka air mata itu akan tetap terus mengalir.
Semua usahanya untuk menghentikan air mata yang ingin keluar itu akan sia-sia saja, jadi karena dirinya sudah mengatakan semua hal yang ingin dia katakan, dia pun benar-benar memilih untuk keluar dari ruangan itu.
__ADS_1