Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 58. Suara Hati


__ADS_3

Matahari sudah muncul dari ufuk timur, namun pria ini masih belum tertidur sejak ia bangun sekitar 5 jam yang lalu.


Sejak dari pukul 1 malam tadi, dia terus terjaga dengan begitu banyak hal yang dia pikirkan.


Padahal ini adalah hari operasinya, seharusnya dia dalam keadaan bugar dihari ini, bukannya dengan mata panda yang terlihat begitu jelas.


Terlebih lagi dia harus melakukan puasa selama beberapa jam sebelum operasi dilakukan, ditambah dengan tidak tidur, bukankah kondisinya semakin tidak mendukung?


"Apa yang telah kulakukan?" gumam pria itu dengan lirih, "Aku telah menyakiti perasaannya," lanjut pria itu dengan nada yang semakin sedih.


Matanya melihat langit-langit kamar rumah sakit itu dengan tatapan kosong, sesekali dia beralih melihat ke jendela untuk memperhatikan matahari yang bersinar semakin terik.


"Terapi yang kulakukan gagal, apa mungkin operasi ini akan berhasil? Atau justru malah akan gagal juga?" Dengan bibir yang sudah kering, pria itu terus berbicara sendiri.


"Jika gagal ... Tidak! Aku masih belum mau jauh darinya, aku tak ingin membuatnya sedih lagi. Aku ... Aku tak ingin kehilangannya!" ucap pria itu dengan air mata yang sudah mengalir.


Beberapa saat kemudian, setelah sudah cukup lelah berbicara dan juga menangis, akhirnya pria itu bisa menutup matanya dan tertidur.


......................


Cklik ...


Pintu kamar rawat inap Radit terbuka, selang beberapa detik pelaku yang membuka pintu itupun masuk.


Dan ternyata dia adalah Surya, Surya masuk ke dalam kamar rawat inap anaknya itu diikuti oleh Pramana, dan juga Niandra—istrinya Pramana.


"Sudah sangat lama aku tidak melihat Radit, dan baru disaat seperti ini aku bisa melihatnya," ucap Niandra dengan lirih sembari terus berjalan untuk mendekat ke ranjang tidur Radit.


"Wajahnya terlihat begitu mirip dengan istrimu Surya, tapi aku sangat berharap dan akan terus berdoa agar umurnya jauh lebih panjang." Dengan tatapan sendu, Niandra terus memperhatikan Radit yang masih tertidur itu.


"Aamiin! Yasudah kita duduk saja dulu," balas Surya, "Masih ada sekitar 3 jam lagi sebelum operasinya dimulai," lanjut Surya sembari melihat jam yang ada ditangannya.


Lalu mereka bertiga pun duduk di sofa yang terletak tepat disamping kanan ranjang Radit.


Selama sekitar 1 jam mereka duduk sambil terus berbicara dan saling bercerita, dan pada akhirnya Rin juga kawan-kawannya yang sudah ditunggu sejak tadi datang.

__ADS_1


Rin, Gita, Alex, Saskia, Putri, Sofia, dan Fathur menyalami tangan Surya, Pramana, dan Niandra secara bergantian.


Setelah menyalami semuanya, mereka bertujuh pun duduk di kursi dan sofa yang masih tersisa.


"Sudah jam 2 siang, masih 2 jam lagi ya Pa?" tanya Rin dengan raut wajah yang cemas.


"Iya, Rin. Kamu gak kenapa-napa?" balas Surya, dan kemudian balik bertanya karena dia sadar dengan raut wajah Rin itu.


"Rin ... Rin hanya khawatir, Rin takut kalau op–" Dengan suara yang bergetar, Rin menjawab pertanyaan Surya. Namun belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Niandra langsung memeluk Rin yang duduk disampingnya itu.


"Shut ... Jangan mikir yang enggak-enggak sayang, semuanya pasti bakal baik-baik saja kok. Kamu harus yakin, kita semua harus yakin kalau Radit pasti akan sembuh," ucap Niandra sembari terus mengelus-elus kepala anaknya.


Karena aksi dan perkataan Niandra barusan, Rin merasa jauh lebih nyaman. Sosok mamanya itu benar-benar adalah obat yang sangat mujarab untuk menyembuhkan kekhawatirannya.


......................


Tak terasa dua jam berlalu begitu cepat. Saat ini para perawat, dokter, begitupun dengan Radit yang akan di operasi sudah ada di ruangan operasi RS Medistra Jakarta.


Sementara Rin dan yang lainnya akan menunggu di luar ruang operasi, mereka akan menunggu sembari terus berdoa untuk keberhasilan operasi yang Radit jalani.


Sebelum dokter Firmansyah—dokter bedah utama—melakukan pembedahan, dia dan juga seluruh rekannya melakukan doa terlebih dahulu.


Setelah selesai berdoa, dokter Firmansyah pun langsung memulai operasi dengan mengoyak daging Radit, dari area perut atas hingga sedikit di atas pusar menggunakan sebuah pisau bedah.


Lampu operasi pun diarahkan ke sayatan ditubuh Radit itu, lalu kemudian dokter Firmansyah mulai melakukan pengangkatan sel kanker.


Selama kurang lebih 2 jam operasi dilakukan, hingga akhirnya sel kanker ditubuh Radit berhasil di angkat. Kemudian dokter Firmansyah pun segera menutup sayatan operasi itu dengan beberapa jahitan.


"Operasinya sudah selesai? Tapi, mengapa aku merasa ada yang aneh? J–jantungku...."


Seorang perawat wanita yang bertugas sebagai asisten non steril melihat elektrokardiograf yang terhubung ke tubuh Radit.


Saat dia memperhatikan garis yang bergerak di benda itu, dia membulatkan matanya ketika garis tersebut perlahan mulai terlihat lurus.


"Dokter! Denyut jantung pasien melemah!" ucap asisten non steril itu, mereka semua yang ada diruangan operasi itupun langsung memastikan apa yang dikatakan oleh asisten non steril tersebut.

__ADS_1


Dan ternyata apa yang dikatakan oleh asisten non steril tersebut benar, seketika saja mereka yang sudah merasa lega karena berhasil dalam operasi, kembali dibuat panik.


"Siapkan alat pacu jantung!" seru dokter Firmansyah, dan asisten non steril itupun langsung segera menyiapkannya.


Setelah alat pacu jantung selesai disiapkan, dokter Firmansyah dibantu dengan asisten dokter mulai melakukan beberapa persiapan.


Mereka membuat sayatan kecil di dada kiri Radit, lalu memasang kabel-kabel kecil yang menghubungkan jantung dengan alat pacu jantung.


"Baik ... Akan aku lakukan," ucap dokter Firmansyah setelah alat pacu jantung itu telah terhubung ke jantung Radit.


Dokter Firmansyah saling menggosokkan kedua bagian di alat pacu jantung itu yang terlihat sedikit mirip dengan setrikaan.


Lalu setelah itu dia menempelkan bagian tersebut ke dada Radit, dada Radit pun langsung terangkat akibat tekanan listrik yang diberikan.


Dokter Firmansyah terus melakukan hal itu sebanyak 4 kali, namun tetap tidak terjadi apapun. Jantung Radit tidak merespon alat itu sama sekali.


"Rin ... Aku begitu mencintaimu, sangat mencintaimu, aku tak pernah ingin jauh darimu bahkan jika itu hanya sedetik."


"Namun ... Sepertinya aku akan pergi, pergi untuk selamanya. Apakah dirimu akan sedih saat ku pergi nanti? Karena aku tak ingin kamu sedih, tapi ku juga tak bisa menahan semua rasa sakit ini lebih lama lagi."


"Selamat tinggal Rin ...."


"Dokter! Denyut jantungnya!" Dengan wajah yang semakin terlihat panik, asisten non steril itu menunjuk mesin elektrokardiograf yang sudah memperlihatkan tiga garis lurus.


"Percuma saja, jantungnya tetap tidak ingin merespon alat pacu ini," gumam Si Asisten dokter yang sudah putus asa.


"Tidak!" Dengan tegas, dokter Firmansyah menolak untuk menyerah, dia tidak ingin kehilangan satu pasien kesayangannya lagi.


Dokter Firmansyah telah gagal menyelamatkan nyawa mamanya Radit, jadi kali ini dia benar-benar tidak ingin gagal dalam menyelamatkan nyawa Radit.


Namun bagi Radit, kata "Tidak" tadi bukan hanya berasal dari dokter Firmansyah, melainkan ada satu orang lain yang menolak untuk dia pergi.


"Rin ... Haha ... Maaf, aku baru menyadari betapa bodohnya aku, aku bahkan belum meminta maaf padamu atas kejadian kemarin kan?"


"Aku ... Aku belum boleh pergi, masih ada hal yang harus kulakukan denganmu. Aku belum mau meninggalkanmu! Aku harus membuka mata ini!"

__ADS_1


__ADS_2