Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 35. Saskia Minta Maaf?


__ADS_3

Gita menghampiri Rin yang baru masuk ke dalam kelas mereka, diikuti oleh Sofia juga Putri "Rin luh tadi di ganggu lagi sama si Kak Saskia itu?" Tanya Gita dengan wajah paniknya.


Rin menjawab pertanyaan Gita tersebut dengan anggukan kecil, wajah ketiga temannya pun langsung berubah menjadi marah dan kesal.


"Apa sih maunya tuh cewek? Terus tadi kata Lucy, beneran dia hampir tampar Luh Rin?" Seru Sofia dengan nada marahnya.


Rin tersenyum mengetahui bahwa ketiga temannya begitu mencemaskan dirinya, "Iya, hampir doang kok. Untung aja Kak Radit datangnya tepat waktu," Jawab Rin.


"Hadeuh ... Emang ya, kayaknya si Saskia itu gak bakal kapok kalau gak kena karma yang benar-benar besar!" Sahut Putri yang kesal.


"Husstt... Put, gak boleh ngomong gitu ah, gak baik tau. Kak Saskia emang salah, tapi tetap aja kita gak boleh ngomong sampai kayak gitu, apalagi sampai bawa-bawa karma," Balas Rin yang langsung menegur Putri dengan tegas.


"Hmm ... Iya deh maaf, tapi luh beneran gak kenapa-napa kan Rin?" Ucap Putri sembari menundukkan kepalanya, kemudian bertanya untuk memastikan keadaan Rin.


"Iya aku beneran gak kenapa-napa, udah ya kalian gak perlu khawatir kali kayak gitu," Balas Rin dan yang lainnya pun mengangguk sembari tersenyum.


Beberapa saat setelah itu jam pelajaran pertama mereka pun dimulai, dan hari ini mereka akan melakukan debat antar kelompok.


......................


Seorang wanita yang saat ini namanya sedang dibicarakan oleh hampir seluruh mahasiswa/i di Universitas Gading Jaya mulai merasakan resah.


Tubuhnya bergetar karena tak nyaman, telinga nya hampir meledak karena terus mendengarkan namanya disebutkan oleh teman-teman kelasnya, maupun orang-orang lain yang berlalu-lalang di sekitarnya.


Mulutnya ingin segera berteriak untuk menyuruh semua orang-orang itu diam, namun dia tak dapat melakukannya, seolah-olah mulutnya di kunci oleh gembok yang sangat besar.


"Diam ... Diam ...," Lirih wanita itu dalam hati sambil terus menutup telinganya dengan kedua tangannya.


"Hei lihat dia, sedang apa dia sekarang?"


"Setelah ini bagaimana dengan nasibnya?"


"Dia benar-benar akan mendapatkan masalah!"


"Tentu saja, dia mencari gara-gara dengan kekasih pemilik saham terbesar di kampus ini,"


"Selama ini dia terlalu bersikap sombong!"


"Hari ini dia telah dipermalukan oleh sepasang kekasih yang terus dia ganggu, lucu sekali!"


"Kita lihat apa yang akan terjadi dengannya selanjutnya!"

__ADS_1


Dan masih banyak hal lagi yang terus masuk ke dalam telinga wanita itu, semakin lama, semakin banyak orang yang membicarakannya, hingga akhirnya membuat dia benar-benar sudah tidak kuat untuk mendengar semuanya.


"DIAM KALIAN!!"


Akhirnya mulut dia bisa mengeluarkan suara juga, kini seluruh orang di dalam kelas itu memandangnya dengan tatapan aneh.


"Ada apa Saskia? Mengapa kamu berteriak seperti itu di tengah-tengah jam pembelajaran saya?!" Seru seorang dosen yang marah.


"M–maaf bu, saya i–izin ke toilet ya bu," Ucap Wanita itu dengan gemetar, yang tak lain dan tak bukan adalah Saskia.


"Huft ... Yasudah sana cepat," Balas si dosen memberikan izin, dengan cepat Saskia berdiri dari tempat duduknya dan pergi ke luar kelas.


Meski sudah di luar kelasnya, namun dia tetap bisa mendengar orang-orang yang terus berbisik membicarakan dirinya, dia pun mempercepat jalannya menuju ke toilet sembari terus menutup telinganya itu.


BBRRUUKK


Saskia menabrak seseorang saat dirinya memasuki pintu kamar mandi, hingga membuat keduanya terjatuh dan terduduk di lantai.


"M–maaf," Ucap Saskia gugup dan panik.


"Kak Saskia? Kakak kenapa?" Tanya wanita yang ditabrak oleh Saskia barusan dengan wajah bingung karena melihat Saskia yang terlihat begitu ketakutan, dia berdiri kemudian membantu Saskia untuk berdiri juga.


"Iya kak ini aku Rin, Kakak Saskia kenapa?" Balas Wanita itu yang ternyata adalah Rin.


Saskia dengan cepat meraih tangan Rin, bibirnya gemetar karena berusaha mengeluarkan sebuah kata yang selama ini sangat jarang dia ucapkan.


Matanya menatap Rin dengan sangat dalam, "Rin maafin aku, aku benar-benar menyesal udah melakukan semua ini, aku gak kuat Rin! Aku gak kuat kalau harus dimusuhi sama satu kampus ini," Ucap Saskia dengan air mata yang akhirnya jatuh dari matanya.


"Loh? Maksud Kak Saskia apa? Kenapa Kak Saskia sampai dimusuhi sama satu kampus?" Tanya Rin yang masih benar-benar bingung.


"Sekarang semua orang ngomongin aku, ini semua karena aku udah jahat sama kamu tadi Pagi Rin. Rin aku mohon bantu aku!" Jelas Saskia dengan tangan yang bergetar juga tangisnya.


Rin yang mendengar dan melihat apa yang terjadi dengan Saskia saat ini mencoba untuk menenangkan Saskia terlebih dahulu.


"Kak ini aku bawa minum, minum dulu ya," Ucap Rin saat sudah membawa Saskia keluar dari kamar mandi, dan mendudukkannya ke kursi yang ada di ujung taman, tempat yang cukup sepi sehingga membuat Saskia bisa lebih tenang.


Saskia pun mengambil minuman yang diberikan oleh Rin dan segera meminumnya, beberapa saat setelah itu kini dia sudah mulai tenang, tangisnya pun sudah mulai berhenti.


"Kak Saskia sekarang gimana? Udah lebih membaik?" Tanya Rin dan Saskia mengangguk perlahan, "Syukurlah."


"Rin, kamu mau maafin aku?" Lirih Saskia dengan kepala yang menunduk, Rin yang mendengar itu langsung menarik bahu Saskia hingga menghadap ke dirinya.

__ADS_1


"Jujur aku marah sama Kak Saskia, aku gak suka sama sikap Kak Saskia selama ini. Tapi marah ku cuma bersifat sementara, setelah itu aku bakal langsung ngelupain semuanya. Dan sekarang aku udah gak marah tuh sama Kak Saskia," Ucap Rin dengan tersenyum.


Mata Saskia berbinar mendengar perkataan Rin barusan, segitu baik kah wanita yang pernah dia sakiti ini?


"Kak Saskia gak perlu mikirin apa-apa lagi, aku yakin semua orang bakal mau jadi teman Kak Saskia lagi kalau Kak Saskia minta maaf sama mereka, bukan minta maaf sama aku aja, tapi minta maaf sama semua orang yang udah pernah Kak Saskia sakiti," Lanjut Rin.


Rin menggenggam erat kedua tangan Saskia dan terus berusaha untuk menenangkan seniornya yang ingin kembali menangis itu.


"Terimakasih Rin, aku sekarang tau kalau Radit akhirnya berhasil mendapatkan wanita terbaik buat dirinya. Aku benar-benar menyesal karena pernah berpikir kamu tak pantas untuk Radit," Seru Saskia setelah beberapa saat dia sudah benar-benar tenang.


Rin yang mendengar kalimat Saskia barusan dibuat bingung sekaligus kaget, mengapa hal yang pertama kali Saskia katakan saat dirinya sudah tenang adalah hal seperti itu?


"Maksud Kak Saskia dengan 'akhirnya berhasil' apa?" Tanya Rin yang bingung dan penasaran.


"Hah? Kamu belum pernah dengar rumor tentang Radit yang pernah pacaran sama 4 wanita di kampus ini dulu?" Balas Saskia yang malah balik bertanya dan bingung.


Rin yang tak mengerti langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, memperbaiki posisi duduknya, lalu meminta Saskia untuk segera menjelaskan semuanya.


"Dulu pas awal masuk ke kampus ini, aku sebagai salah anggota BEM yang menjadi pengawas Radit selama Ospek, nah di hari pertama Ospek Radit udah di tembak sama satu cewek, dan ya anehnya Radit langsung terima. Mereka pacaran selama beberapa hari kemudian putus karena cewek itu cuman main-main." Ucap Saskia yang mulai menjelaskan.


"Dan setelah putus, dalam rentang waktu yang cukup dekat Radit punya pacar lagi, dan lagi-lagi mereka putus padahal belum pacaran selama satu bulan, hal seperti ini terus terjadi hingga empat kali. Mereka putus karena keempat wanita itu memang cuma pengen mempermainkan Radit." Lanjut Saskia.


"Lalu Kak? Ayo lanjutkan," Seru Rin yang sangat tidak sabar menunggu Saskia kembali melanjutkan ceritanya.


"Setelah beberapa bulan Radit putus dari cewek keempatnya, aku pun tau kalau ternyata Radit mau nerima keempat cewek itu juga cuman buat main-main. Dan ternyata yang ngajuin putus terlebih dahulu itu Radit, bukan keempat cewek tersebut."


"Sejak awal masuk Ospek, aku juga emang udah tertarik sama Radit, tapi cuma memang gak mau bilang aja. Namun setelah tau bahwa Radit pacaran hanya karena untuk main-main, aku pun mulai mendekati Radit, aku berpikir bahwa dia sangat kesepian, makanya sampai menjadikan wanita sebagai objek permainannya."


"Dan akhirnya beberapa bulan setelah itu kamu datang, aku berpikir bahwa wanita cantik seperti mu akan memperlakukan Radit sama seperti keempat wanita itu, jadi aku tidak suka kalau melihat kalian bersama. Ternyata aku salah ya,"


Cerita Saskia pun akhirnya selesai, mata Rin berbinar takjub setelah mendengar penjelasan dari Saskia barusan, Saskia bersikap seperti itu ternyata memang karena ada alasannya, Saskia bukanlah sepenuhnya wanita yang jahat.


"Kak Saskia ternyata orang baik ya," Gumam Rin dengan bibir yang bergerak begitu saja.


Saskia tersipu malu mendengarnya, "Biasa saja. Oh ya, aku mau tau dong menurut kamu 'Cinta' itu seperti apa sih?"


"Cinta ya? Menurut aku cinta itu adalah kebebasan. Bebas dalam mengekspresikan kasih sayang, bebas dalam mengungkapkan rasa kasih, bebas dalam menciptakan kebahagiaan, yang terkadang cinta seringkali membuat seseorang terkekang, yang membuat larangan pada hal yang tidak semestinya untuk dilarang. Jadi jika kita siap untuk mencinta, bersiaplah menemukan suatu kebebasan dan terkurung dalam kebebasan itu sendiri." Jawab Rin.


"Waw? Apa itu? Begitu indah, apa kamu sendiri yang membuatnya?" Tanya Saskia yang takjub mendengar filosofi tentang 'Cinta' yang begitu indah dari Rin itu.


Rin pun cengengesan mendengar pertanyaan Saskia, "Hehe ... Bukan kak, itu dari buku yang pernah aku baca, 'Pada sebuah kata pergi' karangan Gentakiswara."

__ADS_1


__ADS_2