Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 22. Tak Terima


__ADS_3

"Tapi Rin, kok kak Radit bilangnya kalian cuma pacaran?" Saat di sela-sela makan siang mereka, Gita pun bertanya kepada Rin.


"Kak Radit bilang, kalau orang lain tau kami ternyata udah menikah, yang ada mereka malah mikir kalau kami menikah karena hal yang enggak-enggak."


"Terus masalahnya kan aku sama Kak Radit awalnya juga gak dekat, gimana bisa tiba-tiba udah nikah aja coba, kan pasti aneh."


"Ya aku juga setuju sih sama keputusan nya Kak Radit, itu memang yang terbaik!"


Masih sambil memakan makanannya, Rin menjawab pertanyaan yang Gita utarakan padanya barusan.


Selang beberapa menit, Radit dan Alex datang berbarengan ke meja nya Rin, Rin yang melihat itu pun terlihat bingung. "Dah akur?" tanyanya sambil sedikit mengunyah.


"Tidak!" seru Radit dan Alex berbarengan.


"Pas dia nanya gue mau kemana dan gue jawab mau ketemu sama kamu, dia ngikutin gue terus sampai kesini," lanjut Alex sambil menunjuk-nunjuk Radit dengan dagunya, karena tangannya penuh dengan makanan.


"Gue? Luh yang salah! Belum denger apa? Kalau gue udah mengumumkan ke seluruh orang-orang yang ada di kampus ini, kalau Rin itu sudah sah menjadi milik gue!" balas Radit dengan nada yang kesal karena tak terima melihat Alex yang masih saja mau mendekati Rin.


Alex pun menjawab bahwa itu wajar, karena dia dan Rin adalah teman semasa kecil. Namun tetap saja Radit tak mau menerima apapun alasannya, dia benar-benar tak suka kalau Rin akan lebih dekat dengan Alex dibandingkan dirinya. Jadi terjadi perdebatan lah di antara mereka berdua.


"Hai Rin! Itu Kak Alex sama Kak Radit gak mau dipisahkan?" ucap Sofia yang baru saja datang juga bersama dengan Putri.

__ADS_1


"Iya Rin, aduh di liatin tuh pacar kamu sama satu kampus," lanjut Putri yang sejujurnya sudah mulai risih karena perdebatan antara Alex, dan juga Radit itu sangat bising dan mengganggu.


"Huft... Kalau kalian ke sini cuma buat cari ribut, mendingan langsung ke ring tinju sana, biar gak ganggu kenyamanan orang lain. Dan emang kalau mau makan, duduk!" Rin menghela berat napasnya, kemudian mengucapkan hal tersebut, dia juga mempertegas kata terakhirnya yaitu "Duduk." Dan seketika dua pria yang asyik ribut dari tadi pun langsung terdiam, dan terduduk di kursi depan Rin setelah mendengar kata itu.


Kedua pria itu pun duduk terdiam dengan kepala yang terus menunduk, sementara Rin tidak henti-hentinya menatap mereka berdua, membuat kedua pria itu semakin tak berani untuk mendongakkan kepala mereka.


"Maaf!" ucap Alex dan Radit berbarengan lagi. Awalnya mereka ingin kembali marah karena merasa selalu diikuti satu sama lain, Alex yang merasa Radit selalu mengikuti perkataannya, begitu pun sebaliknya. Tapi niat mereka itu langsung saja buyar saat mengingat Rin yang akan marah jika mereka kembali bertengkar.


"Sudahlah lanjutkan makan kalian, kami sudah siap jadi aku pulang ke kelas dulu. Bye!" Rin berdiri dari tempat duduknya, dan kemudian beranjak pergi diikuti oleh ketiga temannya.


Melihat Rin yang sudah menjauh beberapa langkah dari mereka, mereka mulai berani untuk saling menatap satu sama lain lagi dengan tatapan panas. Namun saat mulut mereka kembali ingin bergerak dan bertengkar tiba-tiba saja—


"Jika aku dengar kalian bertengkar lagi, maka aku akan menjauhi kalian berdua!" teriak Rin tiba-tiba, sontak Radit dan juga Alex yang mendengarnya kembali menundukkan kepala mereka, dan mengurungkan niat untuk bertengkar lagi.


Saat sedang berjalan menuju kelas mereka, tiba-tiba saja Rin terjatuh akibat tersandung kaki seseorang.


"Jauhi Radit!" ucap orang yang dengan sengaja menyandung kaki Rin itu, dan siapa lagi orang itu kalau bukan Saskia. Satu-satunya orang yang mungkin tak akan terima dengan apa yang telah Radit katakan saat di lapangan tadi pagi.


"Maaf kak Saskia, maksudnya apa ya tadi? Kenapa pakek sengaja jatuhin aku? Kalau kak Saskia marah kok pelampiasannya cuma sama aku? Lagian kan Kak Radit yang ngomong!" balas Rin dengan suara yang sudah mulai berani untuk meninggi.


Karena kali ini dia tau bahwa dia benar-benar benar harus melawan Saskia, agar Si Ketua OSIS yang tak benar itu tidak semena-mena lagi dengannya.

__ADS_1


Rin tak terima jika dirinya terus saja dianggap oleh Saskia sebagai seseorang yang merebut Radit darinya, dia juga sangat membenci sifat Saskia yang selalu mengaku bahwa Radit adalah miliknya, padahal sudah sangat jelas Radit adalah suami dari seorang Rin.


Meski Saskia tak mengetahui akan hal itu, setidaknya nya sekarang dia sudah tau bukan? Bahwa Rin dan Radit memiliki hubungan spesial. Namun mengapa dia masih menganggap dirinya lah satu-satunya wanita yang pantas bagi Radit.


Dia juga masih terlihat sombong, dan selalu berpikir bahwa Rin bukan lah tipe Radit, melainkan dirinya lah tipe Radit.


"Radit punya gue!" lanjut Saskia dengan nada bicara yang sangat tinggi, Rin dan juga ketiga temannya itu pun dibuat kaget saat mendengarnya.


"Kak Saskia sadar dong! Orang Kak Radit sendiri yang bilang kalau Rin itu pacarnya, kok masih ngarep? Lucu tau!" sahut Gita secara tiba-tiba, dan dia langsung menyindir Saskia dengan terang-terangan.


Jelas Saskia begitu marah mendengar hal tersebut, dia yang ingin melayangkan tangannya ke Gita, tapi langsung di cegat oleh Sofia juga Putri.


"Kak Saskia tolong minggir ya, kami mau masuk ke kelas!" ucap Sofia dengan lantang tanpa ada keraguan dan ketakutan sama sekali.


"Dan aku mau kak Saskia ingat sama satu nasihat aku ini. Mahasiswa-mahasiswi di kampus ini itu takut dan gak berani lawan Kak Saskia, karena yang mereka tahu Kak Saskia itu adalah wanita yang paling dekat dengan Kak Radit, anak dari pemilik saham terbesar di kampus ini, eits tapi itu dulu! Sekarang semua udah tahu bahwa Rin lah wanita pertama yang berhasil menggapai hatinya Kak Radit, jadi udah gak akan ada orang yang mau takut sama Kak Saskia lagi. So jangan sombong-sombong lagi ya kak Saskia!"


Sama seperti Sofia, Putri pun mengatakan kalimat-kalimatnya yang panjang itu tanpa rasa takut sama sekali.


"Good job girls!" gumam Rin yang tanpa sadar mengatakan hal tersebut, dia pun juga tak sadar bahwa telah mengatakan hal itu dengan sedikit senyum puas yang terbesit di wajahnya.


Kali ini Saskia bukan hanya di buat marah lagi, namun dia juga telah dibuat malu dan dijatuhkan berkali-kali oleh keempat orang itu. "Kurang ajar kalian! Awas aja!!" teriak Saskia yang kemudian dengan cepat berlalu pergi.

__ADS_1


"Hahahahaha ...." tawa keempat teman itu secara refleks saat melihat Saskia yang pergi dengan rasa kesal dan juga malu. "Rasain!" ucap mereka yang lagi-lagi berbarengan.


__ADS_2