
Setelah keributan antara Radit dan Rin dengan si Gara itu, Radit pun memutuskan untuk membawa Rin pergi ke suatu tempat yang dapat membuat Rin tersenyum kembali.
"Rin, ayolah jangan menangis lagi." Bujuk Radit saat mereka tengah berada di dalam mobil.
"Aku tidak menangis." Balas Rin dengan cepat sembari menolehkan pandangannya ke arah jendela, berniat untuk membelakangi Radit.
"huft ..."
"Baiklah, aku akan membuat senyum mu kembali." Gumam Radit sangat pelan, dan mungkin hanya dirinya saja yang dapat mendengar itu.
Radit semakin mempercepat kecepatan mobilnya, dia melaju di kecepatan 85km/jam menuju ke suatu tempat yang cukup jauh.
Radit fokus mengendarai mobilnya, sementara Rin masih terdiam dan tak bertanya sama sekali kepada Radit mengenai kemana dirinya akan dibawa, hanya ada kesunyian di dalam mobil itu selama perjalanan.
Hingga akhirnya setelah menempuh jarak dengan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit, Radit pun mengurangi kecepatan mobilnya saat mereka telah memasuki sebuah kawasan pantai, dengan gapura besar bertuliskan "Welcome to Rin Beach", sebagai penanda bahwa mereka telah memasuki kawasan pantai tersebut.
"Rin Beach? Mengapa nama pantai ini seperti namaku?" Lirih Rin yang bingung saat matanya tak sengaja melihat sekilas apa tulisan yang ada di atas gapura besar tersebut.
Radit pun memarkirkan mobilnya di pinggir sebuah pohon kelapa besar, dengan tanda bertuliskan "VIP Parking Area" disana.
Setelah memarkirkan mobilnya, tanpa berlama-lama lagi Radit turun dari mobil itu, kemudian berjalan untuk membukakan pintu Rin. Rin yang terlihat tak ingin bergerak dari duduknya, langsung digendong oleh Radit untuk keluar.
"Ihh Radit lepaskan!" Teriak Rin sembari berusaha untuk membuat Radit agar melepaskannya dari gendongan Radit itu. Namun Radit benar-benar memegang Rin dengan sangat erat, hingga membuat perlawanan Rin itu tidak berguna sama sekali. Meski Rin sudah menganggu Radit, Radit tetap tidak peduli, dan terus melanjutkan untuk mengendong istrinya itu.
"Kamu masih ingat tempat ini sayang?" Tanya Radit di tengah pemberontakan Rin tersebut, seketika Rin terdiam setelah mendengarkan perkataan Radit barusan.
__ADS_1
"Masih ingat? Apa aku pernah datang kesini?" Ucap Rin dalam hatinya, Rin pun memutar bola matanya untuk melihat setiap titik di pantai tersebut, dia mencoba untuk mengingat apakah dia pernah datang kesana sebelumnya
Cukup lama Rin terdiam dan berpikir, hingga akhirnya dia mengingat sesuatu, bahwa Radit pernah memberikannya sebuah Pantai dengan Villa yang ada di dalamnya, sebagai mahar pernikahan mereka.
"Ini pantai tempat kita menikah?" Tanya Rin yang akhirnya telah sadar, Radit pun membalasnya dengan anggukan tanda apa yang Rin katakan itu benar.
"Dan Villa disana adalah tempat kita menghabiskan malam pertama kita, saat itu kita belum sedekat saat ini bukan? Aku ingin mengulang kembali malam pertama kita itu." Seru Radit dengan dagu yang sembari menunjuk ke sebuah Villa yang letaknya berada di pinggir pantai tersebut.
Rin kini benar-benar telah mengingat semuanya, matanya berbinar setelah mengetahui akan hal ini, dia pun menjadi penurut dan membiarkan Radit mengendong nya, dan sepertinya Radit ingin membawa Rin ke Villa itu.
Benar dugaan Rin, Radit berjalan menuju Villa tersebut, lalu setelah sampai di depannya, dia pun masuk. "Gantilah baju mu terlebih dahulu," Ucap Radit saat dia menurunkan Rin dari gendongan nya.
Rin menurut begitu saja, kakinya bergerak menuju ke suatu tempat yang dia masih ingat bahwa itu adalah kamarnya di Villa tersebut.
Rin pun memasuki sebuah ruangan yang merupakan kamar tempat dia dan Radit melalui malam pertama mereka setelah pernikahan.
Setelah sekitar 15 menit Rin berada di dalam kamar, akhirnya dia keluar dan pergi menuju keruang tamu, disana terlihatlah Radit yang juga sudah siap dengan baju pantainya.
Baru saja Rin memasuki ruang tamu itu, Radit langsung menyadarinya dan kemudian terus memandangi Rin yang tampak sangat cantik dengan pakaian nya itu.
"Aku sudah siap, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Rin kepada Radit yang masih bengong karena terus melihatnya.
Radit pun tersadar, dia langsung berdiri dari duduknya kemudian menarik pelan tangan Rin untuk keluar dari Villa itu.
"Aku akan membuat mu merasa bahagia kembali Rin." Seru Radit sembari terus menarik tangan Rin menuju ke bibir pantai.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu menyiapkan semua ini?" Tanya Rin yang bingung ketika melihat sudah ada karpet piknik di pantai tersebut, lengkap dengan hiasan di pinggirnya, juga makanan yang terlihat lezat di atas karpet itu.
Radit tersenyum mendengar ucapan dari Rin, "Bukan aku yang menyiapkannya, tapi para pekerja disini, aku menelpon mereka tadi saat di perjalanan." Jawab Radit menjelaskan, hal ini malah membuat Rin semakin bingung, karena seingatnya Radit tak menelpon siapapun saat di mobil tadi, "Apa aku saja ya yang tidak memperhatikan?" Ucap Rin dalam hatinya.
"Sudahlah, ayo kesana."
Setelah berada tepat di depan karpet piknik yang telah disiapkan itu, Radit berhenti. Radit menatap dalam mata Rin, dengan kedua tangannya yang memegang kedua tangan Rin.
"Rin percayalah dengan ku, apa yang dikatakan oleh Gara itu semua bohong, kamu bukanlah wanita seperti yang dia katakan," Ucap Radit memulai pembicaraan diantara mereka berdua.
"Bohong? Dari mana bohongnya Radit? Aku merasa bahwa apa yang dikatakan Gara itu memang semuanya benar, niatku awalnya menikah dengan mu memanglah untuk membangkitkan kembali usaha keluarga ku yang sudah bangkrut." Balas Rin dengan lirih.
"Aku memang wanita murahan yang tak pantas untukmu!" Lanjut Rin dengan air mata yang mulai menetes kembali.
Radit secara refleks langsung memeluk Rin saat mengetahui bahwa Rin akan menangis, dia tak ingin lagi melihat air mata sedih dari istrinya untuk hari ini.
"Salah Rin! Jika kamu melihatnya dari saat itu, maka aku juga sama bukan? Aku menikahi mu hanya karena terpaksa agar papa tidak mengusir ku. Namun setelah itu kita saling berbenah diri, kita mulai saling memahami satu sama lain, hingga akhirnya cinta tumbuh. Kamu benar-benar wanita paling spesial yang pernah ku temui Rin, aku tak pernah merasa ragu saat menceritakan mengenai ketakutan terbesar ku itu dengan mu, kamu benar-benar membuatku nyaman. Awal kita menikah memang bukanlah karena cinta, namun saat ini bukankah kita bersyukur karena telah dijodohkan oleh kedua orang tua kita?" Seru Radit dengan panjang lebar.
Semua perkataan yang begitu berarti itu membuat Rin diam dan mulai tenang, namun air matanya malah terus menetes.
"Mengapa kamu terlalu bersikap baik dengan ku?" Lirih Rin saat Radit telah melepaskan pelukannya.
"Bukan aku, tapi kamu. Kamu yang terlebih dahulu bersikap baik padaku, aku berutang banyak padamu Rin, bahkan termasuk nyawaku. Kumohon berhentilah berpikir mengenai apa yang Gara katakan. Ingat ini, kamu bukanlah wanita murahan, karena kamu adalah wanita paling sempurna yang pernah ku temui dalam hidupku, kamu mirip seperti mama yang rela melakukan apapun demi ku, jika kamu saja berpikir seperti itu mengenai dirimu, lalu bagaimana dengan ku?" Jelas Radit panjang lebar lagi.
"Aku mencintaimu Rin, dengan semua kelebihan maupun kekurangan yang kamu punya, kamu adalah wanita spesial dalam hidupku, yang akan selalu berada di dalam doaku dan setiap hembusan nafasku, tanpamu maka aku tidak akan bisa hidup. Kamu Spesial, dan aku mencintaimu." Lanjut Radit lagi dengan begitu emosional juga tulus dalam mengatakannya, tangan Radit pun bergerak untuk semakin mempererat genggaman tangan mereka.
__ADS_1
Kini Rin tak mampu lagi membendung tangisannya, tangisan Rin pun pecah, air matanya mengalir begitu deras keluar dari mata indah tersebut.
"Terimakasih!" Lirih Rin sambil memeluk Radit.