
Surya yang baru kembali dari shalat magrib, langsung menghampiri Rin yang sudah tertidur dengan posisi duduk di sofa kamar rawat inap Radit itu.
"Rin, ayo bangun Rin." Dengan lembut Surya menggoyang-goyangkan tubuh menantunya itu.
"Apa terjadi sesuatu lagi? Mengapa dia bisa tertidur disini?" gumam Surya bingung sembari terus berusaha untuk membangunkan Rin.
Setelah cukup lama Surya berusaha untuk terus membangunkan Rin, akhirnya usahanya mulai membuahkan hasil.
"Pa?" Wanita yang sedari tadi tidur itu perlahan mulai membuka matanya, lalu membenarkan posisi duduknya.
"Kamu kelelahan Rin?" tanya Surya langsung setelah Rin benar-benar telah sadar dari tidurnya.
Rin yang mendengar itupun secara cepat langsung menggelengkan kepalanya, "Lalu kenapa kamu tidur disini? Kenapa tidak duduk disisi Radit? Apa terjadi sesuatu?" Surya menginterogasi Rin, karena dia merasa ada yang disembunyikan oleh menantunya itu.
Rin terdiam sembari menundukkan kepalanya, dan berpikir apakah dia harus mengatakan apa yang terjadi dengannya, dan Radit beberapa saat yang lalu.
"Hmm ... Tadi kak Radit bangun Pa, terus Kak Radit minta maaf sama aku atas kejadian tadi sore," jawab Rin dengan nada yang sedikit ragu.
"Hanya itu?" Surya mengernyitkan dahinya, dan kembali bertanya karena dia meragukan jawaban dari Rin barusan.
Rin mengepal kuat tangannya, dia yang menunduk perlahan mulai mengangkat kepalanya, "Apa aku harus jujur?" Wanita ini terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Rin menatap Surya dengan sendu, membuat Surya menjadi semakin mudah untuk menebak apa yang terjadi saat dirinya shalat magrib tadi.
"Anak itu ya!" Surya yang mulai geram terlihat ingin menghampiri Radit, namun Rin dengan cepat menahan Surya, "Huft ... Apa yang dia katakan?" tanya Surya dengan tegas.
"Kak Radit hanya tak ingin aku mengganggunya, Pa. Aku tau kalau Kak Radit benar-benar sangat butuh istirahat, oleh karena itu aku duduk di sofa ini agar tidak mengganggunya." Rin menjelaskan kepada Surya, dengan senyuman yang menutupi kesedihannya.
"Huft...," Surya menghela kasar napasnya, kemudian tangannya bergerak memegang pundak Rin.
__ADS_1
"Yasudah, sekarang kamu pulang saja ya Rin. Biar Papa yang jaga Radit disini, besok kan kamu masih harus berangkat kuliah. Jadi pulang dan istirahat yang cukup, oke?" ucap Surya dengan suara yang lembut dan membujuk.
Rin menggelengkan kepalanya, "Rin ingin tetap disini, Pa." Dengan teguh Rin menolak bujukan dari Surya.
Tapi dengan sama teguh nya Surya terus membujuk Rin untuk pulang. Surya tau betul bahwa Rin sudah sangat lelah saat ini, terlebih lagi dia telah cukup banyak menangis.
Setelah cukup lama mereka beradu keinginan, akhirnya Rin pasrah dan mengikuti apa yang Surya katakan.
Rin pulang ke rumah dengan perasaan yang amat sedih. Sedih karena tidak bisa berada di sisi Radit saat ini, dan sedih karena tau Radit juga sedang tidak menginginkan dirinya untuk berada disisi Radit.
Diperjalanan pulang Rin mengendarai mobilnya dengan tatapan yang sering kosong. Bahkan, sesekali Rin kehilangan fokusnya, dan membuat mobilnya sering oleng.
"Mengapa jalannya terasa jauh sekali?" gumam Rin dengan lirih, "Aku merasa sudah lama mengendarai mobil ini, kenapa belum sampai juga?" Rin yang mulai bingung langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
Perlahan dia membuka kaca mobilnya, dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat sekeliling.
Rin hanya melakukan hal itu sebentar, karena dia takut akan terjadi sesuatu dengannya, jika terlalu lama melakukan hal seperti itu di jalan yang sepi saat ini.
Rin kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu karena kondisi jalan yang sedang sepi, Rin langsung memutuskan untuk belok dan berpindah jalur disitu juga.
Tttiiiittt ... Tttiiiittt
Baru saja Rin membanting setirnya ke kiri untuk berbelok, tiba-tiba saja ada truk es yang datang dari arah yang berlawanan.
Beruntungnya truk itu tidak terlalu laju dan bisa ngerem di waktu yang tepat, sehingga kecelakaan yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Woi! Luh bisa bawa mobil gak sih? Di depan ada bundaran buat luh belok! Ngapain mau belok disini?!" Seorang pria yang turun dari truk es itu datang menghampiri mobil Rin. Dia mengetuk kaca mobil Rin dengan cukup kuat, dan marah dengan suara yang membentak.
Rin yang takut tak berani membuka kaca mobilnya itu. Dari dalam mobilnya Rin pun meminta maaf.
__ADS_1
Pria itu terus marah dan memaksa Rin untuk keluar, sementara Rin yang masih ketakutan terus meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.
Rin menyatukan kedua telapak tangannya untuk terus meminta maaf, tangannya pun terlihat semakin gemetaran ketika pria itu mengetuk mobilnya semakin kuat.
Namun untungnya beberapa saat kemudian sopir truk es itu kembali membunyikan klaksonnya, dan kali ini dia membunyikannya untuk memanggil temannya yang sedang marah-marah itu.
Dengan sangat kesal pria yang sedari tadi terus mengetuk pintu mobil Rin, meninggalkan mobil Rin itu dan masuk kembali ke dalam truk tersebut.
Tak lama setelah pria itu masuk ke dalam truk tersebut, truk itupun berlalu pergi meninggalkan Rin yang masih ketakutan.
"Huft ... Hiks ... A–aku takut Radit, kalau kamu ada disini, pasti gak bakal kayak gini." Rin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu. Dengan suara yang lirih Rin mulai menangis.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan oleh Rin untuk menenangkan kembali dirinya. Setelah merasa sudah lebih baik, Rin pun segera pergi dari tempat itu.
Dia menjalankan mobilnya untuk pergi ke bundaran yang ada di depan, lalu belok disana. Setelah itu Rin langsung kembali ke persimpangan tempat dia salah mengambil jalan tadi.
Dari persimpangan itu Rin langsung mengambil jalan yang benar untuk kembali ke rumahnya.
......................
"Akhirnya sebentar lagi sampai." Rin mulai merasa senang, dan lega ketika dirinya sudah memasuki area perumahan kediaman keluarga Surya.
Namun kesenangannya itu tidak bertahan lama, lagi dan lagi Rin mendapatkan kesialan. Saat dirinya hanya tinggal beberapa meter saja dari rumahnya, tiba-tiba ban mobilnya pecah.
Dengan sangat kesal Rin keluar dari mobilnya, lalu melihat bannya yang pecah itu. Ternyata bannya pecah karena melindas sebuah paku.
Mau tidak mau Rin yang sudah kelelahan itu terpaksa berjalan kaki menuju rumahnya.
Dan sepertinya malam ini benar-benar malam yang paling sial bagi Rin, baru saja dia berjalan beberapa langkah, hujan mulai turun.
__ADS_1
Secara perlahan hujan yang awalnya hanya rintik-rintik kecil, berubah menjadi tumpahan air yang banyak.
"Aish ... Malam yang sial!" ucap Rin dengan frustasi, hujan yang deras itupun memaksa dirinya untuk terus berlari dengan cepat.