Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 17. Alasan sebenarnya


__ADS_3

"Sayang, aku boleh masuk?" Rin yang sudah berada di depan kamar nya dan Radit itupun mengetuk pintu kamar tersebut.


Tapi karena tak kunjung ada jawaban dari dalam, jadi Rin langsung memutuskan untuk masuk, dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Radit.


Saat Rin masuk, dia sudah melihat Radit duduk dengan wajah sedihnya, namun masih mencoba menahan air mata agar tak terjatuh.


Dengan perlahan Rin menghampiri Radit lalu duduk disampingnya.


"Kamu tak apa-apa?" ucap Rin pelan sembari kedua tangannya menggenggam salah satu tangan Radit,tapi Radit hanya diam tak menjawab.


"Sayang, aku boleh tau kenapa kamu bersikap seperti ini? Beliau adalah Ibu kamu, jadi alangkah baiknya jika kamu mau mengunjungi makamnya untuk kali ini," lanjut Rin dengan sangat pelan dan lembut, namu tetap saja Radit masih diam tak mau bersuara.


"Baiklah, aku tak akan memaksa mu, cerita lah jika memang kamu merasa aku adalah tempat yang layak untuk menjadi wadah cerita mu, dan janganlah cerita jika tidak. Aku akan selalu ada untuk mu, jadi kamu tak perlu khawatir," ucap Rin dengan penuh ketulusan dan kasih sayang.


Sesaat tak ada percakapan di antara mereka, namun selang beberapa menit akhirnya Radit mau membuka suaranya.


"Aku tak pernah membenci mama, aku membenci diriku sendiri. Alasan aku kenapa tak ingin pergi ke makamnya setiap saat, adalah karena aku tak ingin menunjukkan wajah bodoh ku ini kepada orang yang begitu baik sepertinya."


"Karena aku mama meninggal, dia tau kalau aku juga memiliki penyakit sepertinya, itu sebabnya dia lebih mempedulikan kesehatan ku dibandingkan dirinya sendiri."


"Jika saja aku tak lahir, atau jika saja aku tak sakit, maka dia akan tetap ada sampai sekarang. Akulah penyebab kematiannya, aku yang telah membunuh orang yang begitu baik padaku itu. Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri!"


"Setiap saat ketika aku memikirkan nya, atau melihat wajahnya di foto, jantung ku terasa sakit sekali, itu kenapa aku tak berani untuk menemuinya."


Radit pun akhirnya menjelaskan alasannya selama ini, hingga membuat dia tak bisa lagi membendung air matanya itu, dan akhirnya air mata itu terjatuh.


"Radit ... Kamu gak boleh ngomong gitu, kematian adalah takdir yang sudah dituliskan oleh Allah, dan kamu gak ada salah apa-apa, aku yakin Mama mu bangga karena bisa melahirkan kamu, aku juga yakin bahwa dia tak pernah menyesal karena sudah menyelamatkan nyawa kamu," balas Rin.

__ADS_1


"Seorang ibu memang akan selalu melakukan yang terbaik untuk anaknya. Sayang, percayalah bahwa mama akan senang melihat kamu bahagia disini, kamu tak bersalah atas kematian nya, kamu harus kuat, dan buktikan bahwa kamu bisa menjadi lebih baik karena kerendahan hati yang pernah dia berikan," lanjut Rin memberi nasihat sekaligus dukungan kepada Radit dengan sangat lembut.


"Rin...," lirih Radit


Rin pun menarik pelan kepala kekasihnya itu untuk bersandar di bahunya.


"Kamu bisa menjadikan ku sebagai tempat bersandar mu, aku akan selalu ada disisi mu saat kamu membutuhkanku," lanjut Rin mencoba menenangkan Radit yang masih menangis itu.


"Berjanjilah kau tak akan menceritakan semua ini kepada siapa pun, ya?" lirih Radit.


"Aku berjanji, kamu telah mempercayakan ku, maka aku akan memegang kepercayaan tersebut. Kamu tau aku begitu mencintaimu, aku tak akan pernah mau melihat mu kesakitan atau bersedih lagi, jadi tersenyum lah," jawab Rin sembari mengelus pelan kepala Radit yang sedang bersandar di bahunya itu.


Kini mereka berdua larut dalam kehangatan dan kasih sayang yang tulus.


Selang beberapa menit Radit pun sudah merasa lebih baik, air matanya sudah mulai bisa dia hentikan, dia juga tak dapat melanggar perintah dari wanitanya itu untuk tersenyum.


......................


"Rin, Radit, bagaimana?" tanya Surya yang langsung menghampiri saat sepasang kekasih itu sudah terlihat keluar dari kamar.


"Rin udah bujuk Kak Radit Pa, jadi akhirnya Kak Radit mau ikut," jawab Rin, mendengar hal itu Surya dibuat senang bukan main.


"Syukurlah, akhirnya kamu mau juga nak, Rin kamu memang hebat!" ucap Surya bersyukur kemudian mengajukan jempol kepada Rin.


Jadi karena semua orang sudah siap untuk berangkat, termasuk Radit dan juga Rin, mereka pun akhirnya pergi menuju makam mama Radit, mereka menaiki mobil yang berbeda-beda namun akan saling beriringan.


"Sayang, kalau nanti disana kamu merasa sakit atau tiba-tiba saja merasa tidak enak, maka genggam saja tanganku ya" seru Rin saat di perjalanan menuju makam, dia tau bahwa saat ini sebenarnya Radit sedang sangat takut, itu sebabnya dialah yang mengendarai mobil sembari terus menggenggam tangan Rin.

__ADS_1


"Huft ... Aku akan mencoba untuk kuat kali ini!" balas Radit menguatkan dirinya sendiri, melihat hal itu Rin dibuat sedikit lega.


Sekitar 45 menit perjalan dari Rumah keluar Surya menuju TPU Pondok Kelapa tempat dimana makam mama Radit berada.


Hingga akhirnya kini mereka semua sudah tiba disana, mereka pun memarkirkan mobil-mobil mereka, dan kemudian turun untuk berjalan menuju makam mama Radit tersebut.


Air mata Radit kembali mulai terjatuh saat melihat sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama mamanya, Rahayu Kirani Surya.


"Ma...," lirih Radit dengan suara yang bergetar.


Rin yang melihat Radit sudah mengepalkan tangannya itu langsung meraih tangan tersebut lalu menggenggamnya.


"Sayang yang sabar," ucap Rin berusaha menenangkan Radit, dia pun semakin mempererat genggamannya itu setelah merasa Radit sudah sangat menahan rasa sakit, dan kegelisahan hatinya tersebut.


Dan akhirnya Radit mampu bertahan selama kurang lebih 30 menit di tempat itu karena ditemani oleh Rin. Jujur saja jika Rin tidak ada di sana, maka Radit sudah akan langsung melarikan diri, dan tak mampu bertahan selama itu menahan rasa sakit dan sedihnya.


Setelah mengirimkan doa dan menaburkan bunga di makam Mama Radit, mereka pun satu persatu meninggalkan makam tersebut untuk segera kembali ke kediaman Surya, dan mempersiapkan acara yasinan malam nanti.


......................


Malam pun tiba, kini rumah keluarga Surya sudah sangat ramai dipenuhi oleh banyak orang, baik dari keluarga Surya, Pramana, rekan bisnis mereka, para anak-anak dari panti, juga para tetangga.


Dan karena acara belum dimulai, Rin dan Radit masih berada di kamar mereka untuk mempersiapkan diri sebelum akhirnya keluar, dan ikut melakukan yasinan.


"Rin, maaf karena hari ini aku terlalu banyak menangis, kamu pasti sekarang mengira aku adalah pria yang cengeng bukan?" tanya Radit.


"Hahaha ... Tentu saja tidak, aku mengerti perasaan mu, itu memang sangat berat, bahkan aku tak yakin akan sekuat dirimu," balas Rin sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Melihat hal itu Radit dibuat benar-benar lega, dia bersyukur karena bisa memiliki Rin yang begitu pengertian, dan mau menerima setiap kondisinya.


__ADS_2