Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 31. Kisah di Balik Deburan Ombak


__ADS_3

Malam hari pun tiba, tadi setelah waktu shalat ashar Rin juga teman-temannya mendapatkan informasi terbaru mengenai kampus mereka, di dalam informasi tersebut disebutkan bahwa besok mereka masih diliburkan.


Kampus Lily dan Icha pun sama, jadi akhirnya mereka semua sepakat untuk bersenang-senang sehari lagi.


Setelah mendapatkan informasi itu, mereka langsung memutuskan untuk bermalam di Villa yang ada di pantai tersebut, lalu besok pagi mereka akan berkeliling pantai, bermain air di pinggir pantai, dan masih banyak hal seru lainnya yang mereka ingin lakukan.


"Kata Kak Radit di pantai ini banyak permainan airnya loh, ada snorkeling, jet ski, banana boat, juga ski air," Ucap Rin ditengah-tengah makan malam mereka.


Semua yang mendengarnya pun dibuat semakin antusias, "Benarkah itu Kak? Boleh gak nyobain semua wahananya?" Tanya Putri.


Radit mengangguk, "Besok kalian boleh memainkan semuanya," Jawab Radit, semua orang yang mendengar hal tersebut bersorak riang.


Beberapa menit setelah itu, mereka telah menyelesaikan makan malam mereka, mereka berpisah di meja makan tersebut, lalu masuk ke kamar masing-masing.


Karena masih ada 4 orang di antara mereka yang belum tau hubungan sebenarnya antara Rin dan Radit, maka Rin dan Radit terpaksa untuk tidur di kamar yang berbeda.


Radit tidur sendiri di kamar miliknya juga Rin yang terletak di lantai 2 paling ujung, lalu Rin tidur bersama Gita di kamar yang tidak jauh dari kamar Radit, Lily dan icha tidur di kamar yang letaknya di depan kamar Rin dan Gita.


Sementara empat orang lainnya tidur di kamar yang letaknya berada di lantai 1, Fathur dan Alex tidur bersama di kamar paling depan, lalu Sofia dan Putri tidur di samping kamar Fathur dan Alex.


Dan kini mereka semua sudah berada di kamar masing-masing, bersiap untuk segera berlabuh ke alam mimpi.


"Gita, kamu duluan saja ke kamar mandinya, kayak nya kamu udah ngantuk banget tuh, biar kamu bisa tidur duluan." Ucap Rin karena sedari tadi melihat Gita yang terus menguap.


"Iyaa, aku duluan Rin, Huuaaahh ...," Balas Gita yang diakhiri dengan nguapan terbesarnya.


"Hahaha dasar Gita, sudah sana cepat!" Rin mendorong pelan tubuh Gita untuk mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.

__ADS_1


......................


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam, Rin baru saja selesai dari rutinitas skincare nya, sementara Gita sudah tidur terlebih dahulu.


Rin berjalan pelan menuju ke ketempat tidurnya, namun langkahnya terhenti karena memikirkan kekasihnya.


"Apakah Radit sudah tidur?" Gumam Rin yang kemudian melanjutkan langkahnya kembali, lalu dia membaringkan tubuhnya di sebelah Gita yang sudah tertidur lelap itu.


Rin memandang langit-langit kamarnya, "Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia sudah tertidur? Atau sama sepertiku yang masih sulit untuk tidur ini?" Ucap Rin dalam hatinya.


Meski hari sudah sangat malam, namun Rin tetap saja tidak bisa untuk menutup matanya, dia terus saja merasa rindu dengan kekasihnya itu, dia terus memikirkan Radit selama ada di atas kasurnya tersebut.


"Gita ... Gita," Lirih Rin yang ingin ditemani untuk bergadang, tapi sahabatnya itu benar-benar telah tertidur lelap. Gita menjadi yang terlalu aktif di pesta tadi, wajar jika saat ini dia sangat kelelahan.


"Aisshh... mengapa aku tetap tidak bisa tertidur? Apa aku kurang aktif seperti Gita?" Ucap Rin yang sudah mulai frustasi.


Karena masih belum bisa menutup matanya itu, dan masih terus memikirkan kekasihnya, Rin pun akhirnya memutuskan untuk melihat Radit di kamarnya.


Rin turun dari kasur pelan-pelan agar Gita tidak menyadari bahwa dia pergi, dia juga berjalan dan membuka pintu dengan sangat perlahan.


"Huft ..." Rin menghela napas lega karena telah berhasil keluar tanpa membangunkan Gita.


Kemudian Rin melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamar Radit yang tak jauh dari tempat dia berdiri saat ini.


TOOKK ... TOOKK ... TOOKK


Rin mengetuk pelan pintu kamar Radit, dan karena tidak ada jawaban dari dalam, dia pun memutuskan untuk masuk saja, pintu kamar itu di kunci menggunakan kunci sandi, jadi karena Rin mengetahui sandinya, dia bisa masuk meski sebelumnya Radit mengunci pintu itu dari dalam.

__ADS_1


"Sayang?" Gumam Rin setelah dia mengunci kembali pintu kamar tersebut, lalu setelah itu dia berjalan menuju ke kasur Radit.


"Hah? Dimana Radit?" Lirih Rin yang kaget setelah mengetahui Radit tidak ada di atas kasurnya.


Mata Rin melihat sekeliling, mencoba mencari dimana keberadaan kekasihnya tersebut, hingga akhirnya mata Rin berhenti saat melihat gorden yang menutup pintu kaca menuju ke teras kamar berterbangan, terlihatlah ada sesosok bayangan di balik gorden yang berterbangan itu.


Rin tau bahwa itu pastilah Radit, jadi dia segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke teras kamar yang menghadap ke laut tersebut.


"Radit? Apa yang sedang kamu lakukan sayang?" Tanya Rin yang bingung saat melihat Radit diam termenung melihat ke laut lepas.


"Rin? Kamu tidak tidur?" Balas Radit yang malah balik bertanya.


Rin menghampiri Radit dan berdiri tepat disampingnya, "Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan mu, dan sekarang jawablah pertanyaan ku," Jawab Rin yang kemudian kembali meminta jawaban atas pertanyaannya.


"Aku juga tidak bisa tidur, itu sebabnya aku disini, melihat ombak yang ribut di saat malam hari itu membuat ku tenang," Jawab Radit dengan wajah yang masih terus memandangi lautan.


Rin menatap Radit bingung, "Apakah ada hal berharga yang pernah terjadi dengan mu disini? Di pagi hari setelah pernikahan kita itu, kamu juga terlihat sendirian berjalan di bibir pantai sambil terus memandangi laut. Kenapa Radit, ada apa dengan laut ini?"


"Pantai ini menjadi tempat terakhir aku dan mama liburan bersama, dan di lautan ini menjadi tempat paling bahagia untukku dan mama saat itu. Lalu setelah kembali ke kota, mama langsung sakit dan harus dirawat di rumah sakit, sampai akhirnya dia pergi untuk selamanya," Ucap Radit menjelaskan dengan lirih.


"Aku yakin saat itu mama tau bahwa dirinya sudah tidak akan lama lagi berada di dunia ini, itu sebabnya dia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menghabiskan waktu bersama dengan ku," Lanjut Radit dengan mata yang sudah mulai mengeluarkan air mata ketika mengingat semuanya.


Rin dengan refleks langsung meraih tangan Radit, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Mama orang yang hebat ya, aku merasa jadi kurang beruntung karena tidak sempat bertemu dengan beliau. Kamu, Mama, dan juga Papa Surya adalah orang yang benar-benar luar biasa."


"Jangan menangis karena sedih, tapi jika saat ini kamu ingin menangis karena bahagia mengingat semua kenangan indah itu, maka menangis lah," Lanjut Rin sambil terus mempererat genggamannya.


Sementara Radit sudah mulai mengeluarkan air matanya, perlahan dia pun menyenderkan kepalanya ke bahu Rin, "Aku lemah ya, aku selalu saja menangis di depanmu, aneh. Aku yang seorang pria, namun akulah yang selalu menangis di depan seorang wanita."

__ADS_1


"Itu bukan lemah, hati kamu terlalu lembut, dan aku menyukainya. Kamu selalu terlihat dingin, kaku, juga kalem di depan orang lain, namun kamu akan bersikap hangat dengan orang yang sudah kamu anggap dekat, mungkin sekarang baru aku, tapi sebentar lagi mereka bertujuh juga akan menjadi orang yang bisa membuat kamu tenang, dan nyaman meski harus menunjukkan sisi lembutmu ini."


__ADS_2