
Surya, Pramana, dan Niandra saat ini sedang berbincang-bincang di luar ruangan recovery room. Sementara teman-teman Rin yang lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, karena hari yang memang sudah malam.
Dan tepat pada pukul 07.45 Rin keluar dari ruangan recovery room. Saat dia keluar dan melihat orang tuanya, dan juga papa mertuanya tengah berbicara, Rin pun memutuskan untuk duduk sedikit jauh di antara mereka.
Rin duduk sembari menunggu ketiga orang itu selesai bicara. Dia tidak pulang terlebih dahulu, karena malam ini dia memutuskan untuk tinggal dirumah orang tuanya, jadi dia akan pulang bersama dengan Pramana dan Niandra.
Namun karena perbincangan antara Surya, Pramana, dan juga Niandra cukup lama, Rin yang kelelahan sudah tidak mampu menahan rasa ngantuk nya, dan perlahan dia pun tertidur di bangku rumah sakit itu.
......................
Sinar cahaya yang cukup terang menyilaukan matanya yang terpejam, karena cahaya itu perlahan dia pun membuka matanya.
"Dimana aku?" Dengan lirih dan dengan raut wajah yang bingung, wanita itu melihat sekeliling tempat dia berada saat ini.
Tempat yang begitu asing baginya, tempat yang indah dengan danau dan juga taman yang hijau.
Bunga-bunga primrose dan juga mawar merah mempercantik tempat yang indah itu, suara kicauan burung yang manis terdengar seperti nada lagu cinta yang harmonis.
Mata wanita itu pun berbinar melihat semua hal yang ada di depannya saat ini. Pemandangan indah yang belum pernah dia temui sama sekali, pemandangan ini membuatnya lupa akan kesedihan yang saat ini tengah dia alami.
Saat wanita itu masih sangat terpesona, tiba-tiba saja suara pria yang begitu ingin dia dengar muncul dari arah belakangnya.
"Rin." Dengan cepat wanita itu pun langsung membalikkan badannya, untuk melihat sesosok pria yang telah menyebut namanya itu.
"R–Radit? K–kamu kah itu? Tapi bagaimana mungkin, bukankah saat ini kamu sedang terbaring di ranjang rumah sakit? A–aku baru saja melihatmu tadi." Dengan suara yang bergetar dan tak percaya, Rin memandangi Radit yang perlahan mendekat ke arahnya.
Saat Rin kembali ingin berbicara, dengan cepat Radit menutup mulut Rin dengan jari telunjuknya.
"Aku begitu ingin melihatmu, Rin!" ucap Radit dengan senyum yang mengembang manis diwajahnya itu.
Mendengar hal itu, kondisi Rin semakin tidak karuan. Di satu sisi dia merasa senang, karena akhirnya kekasihnya berbicara dengan dirinya sembari tersenyum.
__ADS_1
Namun di satu sisi lagi, dia merasa benar-benar tak percaya, dan sedikit takut dengan hal yang baru saja dia temui ini.
Karena bagaimana mungkin, pria yang baru saja dia temui beberapa menit yang lalu, pria yang dia temui dalam keadaan yang tidak sehat, tiba-tiba saja sudah berdiri bugar di depannya saat ini.
Tempat yang begitu indah itu pun kali ini justru membuat dirinya menjadi semakin tidak tenang, dia pernah melihat hal seperti ini di film-film yang pernah dia tonton.
Ketika seseorang sedang berada di ujung napasnya, terkadang orang itu akan pergi menemui orang yang dia sayang, sebelum akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya.
Mata Rin yang awalnya berbinar karena bahagia, perlahan mulai berkaca-kaca.
"Tidak! Radit! A–apa yang terjadi saat ini? Tempat apa ini? A–aku takut ... Hiks!!" Tangis Rin pun akhirnya pecah, saat ini pikiran-pikiran negatif mulai menghantuinya.
Melihat hal itu Radit malah tersenyum, membuat Rin justru semakin ketakutan, air matanya pun turun semakin deras.
Saat tangis kekasihnya semakin kuat, dengan cepat Radit memeluk wanitanya itu.
"Tenanglah Rin, aku datang bukan karena aku akan pergi, tapi aku datang karena aku begitu ingin bertemu denganmu."
"Kamu tenang saja, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku akan berusaha untuk secepat mungkin bangun dari tidurku ini, aku tidak akan membuatmu menangis lagi Rin. Aku tidak ingin melihat air matamu, jadi jangan menangis lagi, Ya."
Radit mengatakan semua hal itu dengan suara yang lembut, dan juga dengan usapan tangan yang membelai lembut kepala Rin, Rin yang menangis itu perlahan mulai tenang kembali.
Beberapa saat kemudian, dia pun berhasil menghentikan tangisannya. Perlahan Radit melepaskan pelukannya itu, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang masih ada di pipi Rin.
"Kan kalau begini jadi lebih cantik!" seru Radit sembari tersenyum, tanpa sadar Rin pun ikut tersenyum, "Jadi kamu akan baik-baik saja, kan?" tanya Rin untuk memastikan, dan dengan cepat Radit pun menganggukkan kepalanya.
"Ayo!" Secara tiba-tiba Radit menarik pelan tangan Rin, dan kemudian mereka berlari menuju ke arah danau yang ada di tempat itu.
Saat sudah berada di pinggir danau, mereka berdua pun duduk di atas rumput yang hijau.
Tepat di sebelah Radit ada beberapa bunga primrose, Radit yang menyadari akan hal itu kemudian memetik bunga tersebut.
__ADS_1
"Bunga yang cantik, bukan?" gumam Radit sembari meletakkan setangkai bunga itu ke telinga Rin. Sementara setangkai yang lainnya dia berikan ke tangan wanitanya itu.
"Bunga apa ini?" tanya Rin yang bingung.
"Bunga primrose, kamu tahu makna dari bunga ini?" jawab Radit, dan kemudian dia balik bertanya.
Rin bahkan tidak tahu nama dari bunga itu, jadi tentu saja dia juga tidak tahu makna dari bunga tersebut, oleh karena itu Rin pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Bunga primrose, bunga ini memiliki makna cinta yang abadi. Seseorang akan memberikan bunga ini kepada orang yang paling berharga dalam hidupnya, sebagai tanda bahwa orang itu tidak dapat hidup tanpa orang yang dia cintai."
Radit menjelaskan sembari melihat Rin dengan tatapan yang penuh cinta, dan juga kasih sayang. Rin yang mendengar penjelasan itu pun seketika saja langsung terharu.
"Rin!" Radit meraih tangan Rin, kemudian dia menggenggamnya dengan erat. "Jangan menangis lagi, ya!"
"Kamu harus percaya, bahwa cinta kita berdua itu abadi. Aku tak akan mampu tanpamu, begitupun sebaliknya. Aku sangat mencintaimu Rin, dan aku yakin kamu juga sama."
"Percayalah bahwa kita akan kembali bersama seperti sebelumnya di kehidupan yang nyata. Meski ini hanyalah sebuah mimpi, tapi ini bukanlah sembarang mimpi."
"Ini adalah mimpi yang akan menjadi kenyataan, suatu saat nanti kita akan bersama, duduk di atas rumput yang hijau, di depan danau yang indah, dan juga disertai dengan alunan musik dari siulan para burung. Bersama kita akan temukan tempat seindah ini di dunia nyata!"
"Bersabarlah sebentar lagi, ya!"
Setelah mengatakan semua hal yang harus dia katakan, Radit pun mengecup kening kekasihnya.
Kemudian setelah itu, dia kembali memeluk Rin dengan erat, Rin membalas pelukan tersebut dengan sama eratnya.
Namun, disaat dirinya ada di saat-saat paling bahagia, tiba-tiba saja pandangan Rin berubah menjadi gelap.
Perlahan matanya mulai tertutup secara paksa, meski dia berusaha untuk tetap membukanya.
Secara perlahan, pemandangan indah yang dia lihat sebelumnya berubah menjadi pemandangan yang gelap gulita.
__ADS_1
Sosok pria yang memeluknya beberapa detik yang lalu pun terasa menghilang, dia sudah tidak dapat merasakan pelukan dari siapapun saat ini.