
1 Jam 30 menit telah Rin dan keluarganya lalui, dan saat ini mereka bertiga telah tiba di rumah sakit Medistra Jakarta, tempat Radit dirawat.
Setelah memarkirkan mobil mereka di parkiran mobil, mereka pun langsung berjalan cepat menuju ke dalam rumah sakit.
Surya juga telah memberitahu bahwa Radit sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, oleh karena itu Rin dan orang tuanya tidak pergi ke ruang recovery room, melainkan langsung ke ruang rawat inap Radit.
"Kamar Mawar-1"
Itulah nama ruang rawat inap VIP yang kini menjadi tempat Radit dirawat, dimana letaknya berada di lantai 4–lantai paling atas—rumah sakit Medistra Jakarta tersebut.
Saat sudah menemukan kamar rawat inap Radit itu, Rin, Pramana, dan juga Niandra langsung masuk secara perlahan.
Suara pintu yang terbuka membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut langsung memperhatikan pintu yang mulai terbuka itu.
"Akhirnya kalian sampai juga!" Surya berdiri dari duduknya, kemudian berjalan ke arah tiga orang yang baru memasuki ruangan itu.
Dan setelah Surya, enam orang lainnya yang duduk di kursi berdiri dan ikut menyapa ketika orang tersebut. Sementara satu orang yang berbaring di atas ranjang tentu saja tidak bisa kemana-mana, dan dia hanya memperhatikan kedatangan tiga tamu baru itu dari ranjangnya.
"Rin! Kok lama banget sih!" Setelah menyalami tangan Pramana dan juga Niandra, Gita pun langsung memeluk singkat sahabatnya itu.
"Hehe ... Sorry ya, kan jarak Bogor ke Jakarta memang lumayan jauh, ini untung aja lagi gak macet karena jam kerja!" balas Rin dengan cengengesan, dan sedikit tidak menyangka bahwa semua teman dekatnya di Universitas Gading Jaya sudah ada di ruangan itu.
"Tapi Rin, kok kamu nginep di rumah kamu yang ada di Bogor malam tadi? Kenapa gak tinggal di rumah yang ada disini saja?" sahut Alex bertanya karena penasaran.
Rin berlagak seperti orang yang sedang berpikir, "Hmm ... Lagi kangen aja sama rumah lama, jadi sekalian ngobatin rasa rindu!" ucapnya menjawab pertanyaan yang Alex lontarkan tadi.
Semua orang yang ada disana pun mengangguk, termasuk Pramana dan juga Niandra, sehingga memunculkan tawa diantara mereka semua.
Selang beberapa saat kemudian, mereka semua berhenti bercanda gurau dalam posisi berdiri, lalu duduk ke kursi mereka masing-masing.
"Halo Radit sayang!" Niandra duduk di sisi Pramana, dimana tempat duduk mereka berdua berada di sebelah kiri ranjang Radit. Sementara Rin duduk di sebelah Pramana yang tempat duduknya di sebelah kanan ranjang Radit.
__ADS_1
Radit tersenyum, "Halo juga Ma!" balas Radit dengan suara yang masih terdengar lemas.
"Syukurlah kamu sudah sadar, sepanjang waktu kamu buat kami semua khawatir banget tahu Radit, tapi kan kalau udah gini enak!" sahut Pramana dengan basa-basi nya.
Radit pun membalas Pramana dengan anggukan kecil sembari tetap tersenyum.
"Hai Kak Radit, aku senang banget kamu udah sadar, aku khawatir banget sama kamu." Dengan lirih dan sedikit ragu, Rin berbicara kepada Surya dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya.
Namun, saat Rin berbicara dengannya, Radit dengan cepat langsung memudarkan senyuman yang sedari tadi dia tunjukkan pada orang lain.
Dan hal ini terus berlanjut hingga ke jam-jam berikutnya. Radit telah bersikap seperti biasanya kepada semua orang, kecuali Rin.
Dia bersikap hangat kepada Surya, Pramana, dan Niandra. Lalu bersikap dingin sebagai sosok biasa dari seorang pangeran kampus kepada Gita, Saskia, Alex, Fathur, Sofia, dan juga Putri.
Meski bersikap dingin kepada teman-temannya, tapi Radit tetap berbicara dan bercanda dengan mereka. Namun dengan Rin, Radit benar-benar tidak berbicara sama sekali.
......................
Hingga di hari kelima setelah Radit siuman dari komanya, akhirnya Radit bisa berdiri dan tidak menggunakan alat infus di tangannya lagi.
Ceklek ....
Suara pintu yang terbuka membuat Radit langsung melihat ke arah pintu tersebut, selang beberapa detik, ternyata Rin lah yang masuk.
Rin melangkahkan kakinya secara perlahan ke arah Radit yang saat ini sedang duduk di bagian pinggir atas ranjangnya, dengan kaki yang dia biarkan jatuh ke lantai.
"S–syukurlah infus kamu sudah dilepas ya, dan sebentar lagi kamu boleh pulang ke rumah, aku sangat b–bahagia akan hal itu." Dengan sedikit gugup, Rin berbicara sambil terus melangkah untuk semakin dekat dengan Radit.
Namun, Radit tidak merespon ucapan dari Rin itu, lagi dan lagi dia kembali menunjukkan raut wajah dinginnya kepada sang istri.
Melihat tidak ada respon dari Radit, Rin merasa begitu sedih. Jujur, saat ini dia benar-benar rindu dengan senyuman manis yang sering terukir di wajah suaminya dulu.
__ADS_1
"Huft ...." Rin menghela pelan napasnya, "Dia pasti benar-benar sangat membenciku," lirih Rin dengan suara yang sangat pelan.
Pada akhirnya Rin memutuskan untuk pergi dari kamar rawat inap itu, karena dia ingin meluapkan emosi sedihnya, dan tentu saja dia tidak bisa meluapkan hal tersebut di depan Radit.
Rin yang sudah berdiri sangat dekat dengan Radit itu langsung membalikan tubuhnya, kemudian dengan cepat dia pun ingin melangkah pergi.
Tapi gerakan tangan Radit jauh lebih cepat dibandingkan dengan langkah kaki Rin. Radit menarik salah satu tangan Rin, dan membuat langkah wanita itu langsung terhenti.
"Ada apa?" Rin berbalik, dan kembali melihat Radit sembari bertanya dengan suara yang lirih.
Namun Radit tidak menjawab pertanyaan dari Rin itu, melainkan pria ini malah melanjutkan aksinya dengan mendorong pelan tubuh Rin, hingga punggung Rin bersentuhan dengan tembok.
Kemudian, Radit menaikan kedua tangannya. Menempelkan kedua telapak tangannya itu ke dinding, dan sejajar dengan telinga Rin.
"Aku tidak mungkin bisa membencimu, karena aku sangat menyayangimu, Rin." Radit berbicara dengan suara yang lembut, dan seolah-olah dia mendengar perkataan Rin yang diucapkan dengan suara yang sangat pelan tadi.
"Tapi, sebagai hukuman karena kamu telah melanggar janji yang pernah kamu buat, kamu harus selalu di sisiku, 24 jam! Ya kecuali saat di kampus kita berada di kelas masing-masing," lanjut Radit masih dengan suara yang lembut.
Perlahan senyum manis mulai terukir di wajah Radit, membuat Rin yang melihatnya benar-benar sangat kaget sekaligus bingung, Rin benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang Radit lakukan saat ini.
"Hanya saat di kelas?" gumam Rin yang memberi pertanyaan atas pernyataan Radit tadi, dan Radit langsung menganggukkan kepalanya.
"L–lalu bagaimana saat kamu ke kamar mandi?" tanya Rin lagi dengan wajah yang mulai memerah karena malu, sekaligus tidak habis pikir sendiri dengan apa yang baru saja dia tanyakan itu.
"Kamu juga harus ikut!" Tanpa ragu, Radit langsung menjawab pertanyaan Rin, sembari semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sang kekasih. Dengan hal itu, Radit mampu membuat wajah Rin semakin memerah.
Rin yang sudah tidak dapat berkata-kata lagi itu, secara refleks dia menginjak kaki Radit, untuk membuat wajah Radit menjauh darinya.
"Hahaha ...." Radit yang melihat wajah Rin sudah merah seperti buah peach itu pun tertawa untuk pertama kalinya, setelah kurang lebih 2 minggu dia berada di rumah sakit itu.
Mendengar tawa Radit, Rin menjadi benar-benar sangat senang, meski dia masih malu dan juga sulit mencerna apa yang terjadi, tapi ketika melihat tawa Radi itu, dia pun ikut tertawa.
__ADS_1