
Dari kampus menuju rumah sakit Medistra Jakarta sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit saja, namun kali ini jalanan utama dari kampus Rin menuju ke rumah sakit menjadi sangat macet.
Dan saat ini Rin beserta teman-temannya sedang terjebak di kemacetan itu, hal ini membuat mereka gagal tiba tepat waktu di rumah sakit.
"Tidak ada lampu merah di depan, dan saat ini juga bukan merupakan jam pulang kerja, namun kenapa begitu macet?" gumam Rin bingung.
Setelah sudah menunggu cukup lama kemacetan itu tak kunjung reda juga, sejak tadi mobil Rin dan teman-temannya hanya bergerak sedikit demi sedikit, bahkan jika dilihat sekilas mereka seperti tak bergerak sama sekali.
Ketujuh orang yang sudah tidak sabar itu pun memutuskan untuk keluar dari mobil mereka, dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka meninggalkan mobil mereka lalu berjalan ke depan, setelah cukup jauh mereka berjalan, akhirnya mereka menemukan akar dari kemacetan ini.
Mereka melihat sebuah truk besar berwarna putih yang menghalangi sebagian jalan, ban truk itu kempes, lalu supirnya entah ada dimana.
"Truk siapa ini?! Mengapa ada ditengah jalan?" tanya Fathur yang sedikit kesal, segera setelah mengetahui ada truk yang menghalangi jalan itu mereka semua langsung mencari siapa supir dari truk tersebut.
Rin dan Putri menghampiri salah satu pedagang pinggir jalan yang ada disekitar truk tersebut, mereka berdua pun memutuskan untuk bertanya kepada Si Pedagang.
"Dijalan tadi ada banyak paku dek, jadi ban truk pecah karena menginjak paku itu," jawab Si Pedagang saat Rin menanyakan mengapa ada truk di tengah jalan seperti ini.
"Lalu sekarang dimana supirnya pak? Kok truknya gak disingkirkan atau dipinggirkan dulu?" sahut Putri bertanya.
"Setau saya supirnya lagi pergi cari temannya buat ngangkut itu truk," jawab Si Pedagang lagi.
"Hah? Kenapa begitu lama? Astaga ... Yasudah pak terima kasih ya informasinya," ucap Rin dan kemudian pergi diikuti oleh Putri.
Rin dan Putri langsung bergabung dengan yang lainnya, lalu mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan truk itu sesuai dengan yang Si Pedagang tadi katakan.
"Biar aku saja yang telpon mobil derek untuk datang kesini, Sofia pergilah ke pedagang itu lagi dan beritahu padanya bahwa truk ini akan dibawa ke bengkel terdekat, dengan begitu jika supir truk ini kembali pedagang tersebut bisa memberitahunya," ucap Alex.
__ADS_1
Sofia pun mengangguk dan segera pergi ke pedagang yang tadi Rin dan Putri tanyai, sementara Alex langsung meraih ponselnya dan menghubungi pemilik mobil derek yang merupakan kenalan keluarganya.
Selang beberapa menit mobil derek pun tiba, mereka semua langsung membantu mengaitkan truk itu ke mobil derek.
Setelah truk dan mobil derek sudah terkait, dengan cepat Rin dan juga teman-temannya berlari untuk kembali ke mobil mereka.
Saat mobil derek itu pergi sembari membawa truk tersebut, maka jalanan yang akan mereka lewati pun kembali lancar.
Rin dan teman-temannya langsung kembali menancapkan gas mobil mereka untuk segera pergi ke rumah sakit.
......................
"Rin, mengapa kalian lama sekali?" tanya Surya saat melihat Rin dan teman-temannya yang baru saja tiba di depan kamar rawat inap Radit.
"Maaf Pak tadi ada masalah di jalan," jawab Rin sembari menyalami tangan Surya diikuti oleh yang lainnya.
"Masalah? Masalah apa?" tanya Surya lagi, lalu Rin pun langsung menceritakan dengan lengkap, dan rinci masalah yang dia dan teman-temannya hadapi saat sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Bagaimana tidak unik dan menjengkelkan? Ada truk di tengah jalan namun tidak ada satupun orang yang mau menepikannya, lalu supir truk yang hilang entah kemana, bukankah seharusnya dia hanya perlu menelpon supir derek?
"Tapi kalian benar-benar terlambat nih, Radit baru aja tidur karena dokter menyuruhnya untuk memperbanyak istirahat," ucap Surya setelah berhasil memberhentikan tawanya.
"Yaa!" Mendengar apa yang Surya katakan membuat Rin dan juga yang lainnya merasa sedih dan kecewa.
Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, melewati masalah yang menghadang, tapi Radit malah sudah tidur karena mereka yang datang terlambat.
Krryuukk ...
Ditengah-tengah rasa sedih dan kecewa mereka, tiba-tiba saja perut Gita berbunyi membuat semua orang langsung melirik dirinya.
__ADS_1
"Hehe ... Maaf, aku lapar banget!" seru Gita dengan tawa malunya, semua orang yang menyaksikan itu pun tertawa.
"Hahaha ... Yasudah kalau begitu, lebih baik kita pergi makan siang dulu ya," ucap Surya dan semuanya pun mengangguk setuju kecuali Rin.
"Rin mau menemani Radit aja Pak, kalian duluan saja," ucap Rin, Surya dan teman-temannya Rin pun mengerti, jadi mereka pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang tanpa Rin.
Setelah Papa mertua dan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi, Rin pun langsung memasuki kamar rawat inap Radit secara perlahan, setelah masuk dia langsung menutup pintu kamar tersebut.
"Syukurlah!" gumam Rin lirih saat melihat alat-alat medis yang terpasang ditubuh Radit sudah tidak sebanyak saat Radit masih berada diruang ICU.
Dari depan pintu, Rin berjalan selangkah demi selangkah secara perlahan menuju ranjang rumah sakit tempat Radit terbaring.
"Huft ..." Rin duduk di kursi kecil yang terletak tepat di samping ranjang Radit, lalu tangannya langsung bergerak begitu saja untuk meraih tangan kekasihnya itu.
Rin menggenggam tangan itu dengan kuat, dan sesekali dia juga mencium tangan kekasihnya itu.
"Terima kasih karena kamu sudah mau berjuang," lirih Rin dengan air mata yang mulai menetes.
Satu tangan Rin perlahan bergerak untuk memegang wajah Radit, saat tangan Rin sudah menyentuh wajah pucat kekasihnya itu tangannya bergetar kuat.
"Dingin ...," gumam Rin dengan tersenyum namun air mata yang semakin deras keluar, "Maaf ya aku lama datangnya," lanjut Rin.
Rin terus memandangi wajah Radit, dia mengelus wajah Radit secara perlahan, memberikan rasa kasih sayang yang selama ini sudah lama tidak dia lakukan.
Rin berusaha untuk terus menyalurkan kehangatan ditubuhnya ke tubuh Radit yang terasa begitu dingin itu, dia menggenggam tangan Radit semakin kuat, dan mengelus wajah Radit dengan penuh kehangatan.
"Terimakasih ... Terimakasih sayangku, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan aku lebih mencintaimu dibandingkan dunia ini," ucap Rin dengan lirih.
Jujur sebenarnya Rin bingung mengapa dirinya mengatakan hal seperti itu, itu memanglah kalimat yang wajar untuk diucapkan oleh seorang sepasang suami istri.
__ADS_1
Tapi kali ini Rin merasa ada yang aneh, seolah-olah dia tidak akan bisa mengatakan kalimat seperti itu lagi nanti, jadi dia harus mengatakannya sekarang.
"Firasat buruk apa ini?"