
Setelah menjalani perawatan 5 hari sebelum operasi, dan 9 hari pasca operasi. Akhirnya hari ini, Radit sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dengan catatan, Radit harus selalu melakukan check up setiap seminggu sekali.
Di ruang rawat inap Radit, Rin dan juga Niandra sedang mengemasi semua barang-barang yang mereka bawa ke dalam dua tas besar.
Sementara itu, Surya dan Pramana pergi ke ruang administrasi pembayaran untuk membayar semua biaya Radit selama dirawat disana.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan lagi, kan?" tanya Niandra yang sedang membantu anaknya mengemasi semua barang-barang mereka yang ada di ruang rawat inap Radit itu.
Mendengar pertanyaan dari Niandra tersebut, Rin pun kembali mengecek semua barang-barang yang telah mereka kemasi.
"Sudah, Ma. Semuanya sudah dimasukkan ke dalam tas!" ucap Rin setelah selesai memeriksa semuanya, lalu Niandra pun merespon dengan anggukan kepala.
Selang beberapa saat, Surya dan Pramana yang pergi ke bagian administrasi pembayaran rumah sakit akhirnya kembali.
"Semuanya sudah siap?" Saat masuk ke dalan ruang rawat inap anaknya itu, Surya langsung berbicara dengan melontarkan pertanyaan.
Rin, Niandra, dan juga Radit yang tengah duduk di atas ranjang rumah sakit itu pun menganggukkan kepala mereka hampir bersamaan.
"Yasudah, sekarang ayo kita pulang! Semua tas-tas biar kami berdua saja yang bawa, Rin kamu bantu Radit berjalan, ya," sahut Pramana diiringi dengan aksi menunjuk dirinya, dan juga besannya itu. Lalu kemudian dia meminta tolong kepada sang putrinya.
Rin mengangguk, "Baik, Pa!"
Hingga akhirnya Rin, Radit, Surya, Pramana, dan Niandra meninggalkan ruang rawat inap tersebut.
Dengan perlahan, mereka berlima pun keluar dari rumah sakit Medistra Jakarta itu, setelah mereka melunasi semua pembayaran, juga mengemasi barang-barang yang mereka bawa.
......................
Sinar matahari yang menyilaukan masuk ke dalam kamar Rin, dan Radit melalui sela-sela jendela yang ada.
__ADS_1
Karena cahaya yang amat menyilaukan tersebut, sepasang kekasih yang sedang tidur pulas itu pun mulai membuka mata mereka.
Radit yang menjadi orang pertama membuka mata dengan lebar, langsung bangun dari posisi tidurnya dan kemudian berubah ke posisi duduk.
Dia memandangi cahaya yang terlihat di balik gorden jendela kamarnya itu, cahaya yang terasa begitu hangat baginya saat ini.
Cahaya itu, adalah cahaya pagi pertama yang Radit lihat melalui jendela kamarnya, setelah 6 hari dia harus melihat cahaya seperti itu dari alam bawah sadarnya. Dan 9 hari dari balik jendela kamar rawatnya.
Memang, tidak ada yang beda dari suatu cahaya matahari, semua cahaya matahari itu memang sama. Hanya saja, ketika melihatnya dari dalam kamarnya itu, Radit merasa benar-benar bahagia, ada ketenangan sendiri saat melihatnya.
"Rin, ayo bangun!" Setelah puas melihat cahaya matahari, Radit pun menyuruh kekasihnya yang masih bermalas-malasan tersebut, untuk segera bangkit dari tidurnya.
Semua itu dia lakukan, agar Rin bisa melakukan hukuman yang dia berikan 4 hari yang lalu, yaitu selama 24 jam Rin harus bersama dirinya.
Dan seperti yang dia katakan, Rin harus selalu menempel padanya, kecuali jika mereka sedang di kampus dan berada di kelas masing-masing.
"5 menit lagi, ya!" lirih Rin yang masih sangat enggan untuk bangun dari tidurnya itu, jangankan untuk bangun dan duduk, membuka matanya saja dia masih tidak mau.
Hingga kesabaran Radit pun mulai menipis, "Huft ...." Dia menghela kasar napasnya, melihat wanitanya yang masih memejamkan mata itu dengan tatapan yang ganas.
Setelah cukup lama memandangi Rin, Radit pun mulai melakukan beberapa taktiknya untuk membangunkan istrinya itu.
"Rin ... Jika kamu tetap tidak mau bangun juga, maka aku akan langsung menggendong mu untuk masuk ke dalam kamar mandi! Apa kamu ingin jahitan bekas operasi ku ini terbuka karena harus bersusah payah mengangkat mu?" ucap Radit dengan suara yang memelas.
Namun, masih belum ada respon apapun dari Rin, wanita itu masih setia untuk menutup matanya.
Karena cara pertamanya itu tidak berhasil, Radit lanjut ke taktik keduanya. Secara perlahan, dia tidur di atas paha istrinya itu.
"Ahh ... Kemana perginya kekasih ku yang bernama Rin itu? Yang menangis tiap saat ketika diriku dirawat di rumah sakit? Mengapa setelah aku keluar dari rumah sakit, dia menghilang tanpa jejak? Saat ini dadaku terasa benar-benar sangat sesak karena begitu merindukannya!" Dengan raut wajah dan nada bicara sedih yang dibuat-buat, Radit pun berakting.
__ADS_1
Akan tetapi, lagi dan lagi tidak ada pergerakan sama sekali dari Rin, dia begitu tenang dan masih dalam kondisi sadar namun memejamkan mata.
Lagi pula, siapa yang akan terpancing dengan hal seperti itu? Tentu saja semua orang akan tahu kalau itu hanyalah akting belaka.
"Hahaha ... Setelah dalam waktu yang cukup lama dia menunjukkan sikap dinginnya padaku, akhirnya bayi besar ku ini kembali ke sifat kekanakannya!" Dalam hatinya saat ini, Rin benar-benar merasa sangat senang.
Tanpa sadar, senyum manis terukir di wajah yang masih menutup matanya itu, membuat senyum manisnya menjadi seperti lebih alami.
"Sudahlah!" Karena tak kunjung diberi harapan, Radit menjadi kesal, raut wajahnya saat ini seperti seorang bayi kecil yang sedang ngambek.
Disaat dirinya masih kesal dengan sikap Rin saat ini, tanpa sengaja mata Radit menangkap satu benda yang menurutnya akan sangat berguna.
Benda itu adalah jam alarm, terlihat di jam itu bahwa Rin menyetelnya untuk menyala pada pukul 08.00 pagi, sementara ini masih jam 07.17 pagi, melihat hal itu ide usil Radit pun keluar.
Dengan nakalnya, pria itu mengotak-atik jam alarm yang saat ini sudah ada di tangannya. Selang beberapa saat, akhirnya Radit sudah berhasil mengubah waktu di alarm itu, membuat alarm tersebut akan berbunyi pada pukul 07.18, tinggal kurang dari 1 menit lagi!
"7 ... 6 ... 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1!"
Ddrreeetttt ... Ddrreeetttt ... Ddrreeetttt
Jam alarm Rin berbunyi dengan keras, suara alarm yang besar itu langsung membuat Rin membulatkan matanya.
"Sudah jam 8!" teriak Rin, dan dengan begitu cepatnya, wanita itu bangun dari tidurnya, lalu kemudian langsung berdiri di samping kasur.
Akhirnya, setelah Radit melakukan 2 taktik untuk membangunkan Rin dan gagal, kini Rin sudah bangun hanya dengan suara alarm tersebut.
Rin bangun dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, melihat hal tersebut dengan cepat Radit mengikuti langkah Rin. Radit juga tersenyum kecil, karena melihat tingkah lucu sang istri.
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar mandi bersamaan, tapi ini bukan berarti mereka akan mandi bersama. Karena sejujurnya kedua orang itu pun masih belum berani melakukannya, termasuk Radit yang mengatakan ingin 24 jam bersama istrinya tersebut.
__ADS_1