
"Okey, makasih ya Rin udah mau kasih tau ke kita, penjelasan luh berguna banget!" seru Sora dengan senangnya disaat Rin masih diam dan gemetar.
"Yaudah kalau gitu kami pergi dulu, bye Rin!" sahut Gara sembari berjalan pergi menjauhi Rin diikuti oleh Sora.
Disaat kedua orang itu pergi, Rin masih terpaku di tempatnya berdiri, air matanya turun semakin deras, tubuhnya pun juga semakin gemetaran, Rin benar-benar sudah tidak kuat.
"M–mengapa mereka bisa sejahat i–ini?" ucap Rin dengan lirih dan sedikit terbata-bata karena tangisnya.
"Jahat ... Jahat! Kalian jahat!" lanjut Rin yang semakin sedih, kali ini batas kesedihannya pun sudah sampai ketingkat paling atas.
Sesekali Rin menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sedih itu, meski bibirnya sudah terluka, tetap saja rasa sedih itu tak kunjung hilang.
Dengan tubuh yang masih gemetaran dan siap untuk tumbang kapan saja Rin berjalan menuju ruangan ICU.
Dia benar-benar melangkah sangat perlahan, di setiap langkahnya pun ada kekuatan yang dia paksa untuk keluar agar bisa terus berjalan.
Setelah sudah sangat berusaha, akhirnya Rin telah berdiri di depan dinding kaca ruangan ICU tempat Radit dirawat, air matanya yang sempat berhenti kembali mengalir ketika melihat kekasihnya yang terbaring itu.
Rin mengangkat perlahan tangannya dan kemudian menyentuh dinding kaca tersebut.
Lalu Rin melakukan hal yang sama seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya, yaitu mengusap dinding kaca tersebut seolah-olah dia sedang mengusap kepala Radit.
"Maaf," lirih Rin.
......................
Entah kenapa suasana pagi di Universitas Gading Jaya sedikit aneh, banyak mahasiswa-mahasiswi yang sedang membicarakan sesuatu, dan jika dicermati semua yang mereka bicarakan membahas hal yang sama.
Rin berjalan melewati setiap koridor kelas untuk menuju ke kelasnya, sepanjang koridor itu banyak orang yang menatap Rin.
Beberapa dari mereka menatap dengan sedih, beberapa yang lainnya menatap dengan tatapan bingung. Rin yang melihat hal itu pun dibuat sama bingungnya.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Rin dalam hatinya. Namun Rin tetap fokus dan terus berjalan untuk menuju ke kelasnya.
"Rin yang sabar ya, kamu dan Kak Radit pasti bisa melewati semua ini." Seorang mahasiswi teman kelas Rin menghampiri Rin dengan wajah yang seolah-olah sedang berduka cita.
"Semoga kak Radit cepat sembuh ya Rin," sahut seorang mahasiswi yang lain.
__ADS_1
"A–apa? Apa m–maksud kalian?" ucap Rin lirih dan dengan wajah panik sekaligus kagetnya.
"Rin!" Gita berteriak memanggil Rin dari tempat duduknya, segera setelah mendengar hal itu Rin berlari menghampiri Gita.
Rin berniat untuk menanyakan hal aneh apa yang orang-orang itu maksud sejak tadi, tatapan aneh apa yang mereka berikan pada Rin?
Kali ini Rin berpikir bahwa hanya dengan Gita lah dia bisa menanyakan apa hal yang membuatnya bingung, sekaligus mendapatkan jawaban yang pasti dari kebingungannya.
"Gita! Kenapa mereka semua aneh? Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Rin langsung saat sudah berdiri di depan Gita.
Gita diam sejenak mendengar pertanyaan dari Rin itu, Gita menunduk beberapa saat sampai akhirnya dia mau melihat Rin.
Tatapan Gita terlihat sendu, di satu sisi tetapan itu terlihat seperti tatapan seseorang yang merasa sedih. Tapi di satu sisi lagi tatapan itu terlihat seperti tatapan seseorang yang sedang kecewa, sangat kecewa.
"Rin ...," ucap Gita dengan lirih saat menyebut nama temannya itu.
"Kenapa luh menyembunyikan semua ini dari kita Rin?! Kenapa luh menyembunyikan tentang penyakit kak Radit? Apa aku, Putri, Sofia, kak Alex, kak Saskia, ataupun kak Fathur tidak termasuk ke dalam orang yang luh percaya? Sampai-sampai luh lebih milih cerita ke Sora dan si Gara itu!!" ucap Gita dengan penuh emosional.
Tubuh Rin seketika membeku saat mendengar kalimat-kalimat Gita barusan, Rin membulatkan matanya tak percaya.
"G–Gita, a–apa yang luh b–bilang? Apa m–maksudnya Gita?" tanya Rin dengan terbata-bata.
"2 orang itu? Maksudnya Sora dan Gara?" tanya Rin untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar, "Iya!!" jawab Gita langsung.
"Huft ..." Rin menghela dan menghembuskan napasnya dengan kasar, dia melakukan ini selama beberapa kali untuk menenangkan dirinya.
"Gita ... Sekarang dimana Sora dan Gara itu?" tanya Rin dengan nada yang tegas juga marah. Tapi Gita yang mendengar hal tersebut malah tertawa kecil.
"Jawab dulu pertanyaan gue tadi!!!" teriak Gita yang kesal karena merasa telah dibohongi selama ini.
Siapa coba yang tidak akan kesal ketika seseorang yang dia kira sudah dekat, tapi malah menyembunyikan sebuah rahasia yang sangat besar?
"Gita, gue bisa jelasin semuanya, dan gue ngerahasiain ini dari kalian semua itu ada alasannya! Tapi ceritanya panjang, gue nggak bisa cerita sekarang. Gue bakal cerita semuanya ke luh, Putri, Sofia, kak Saskia, kak Alex, dan kak Fathur kalau gue udah nyelesaiin masalah sama si Sora dan Gara itu," balas Rin.
"Jadi untuk sekarang kasih tau gue di mana mereka berdua?! Gue bakal selesaikan ini dengan cepat, dan setelah itu gue bakal langsung cerita ke kalian!" lanjut Rin dengan nada yang tegas.
Setelah mendengarkan kalimat-kalimat panjang dari Rin barusan, Gita pun akhirnya mencoba untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Setelah beberapa detik Gita sudah cukup tenang, akhirnya Gita pun memberitahukan kepada Rin di mana tempat dia bertemu dengan Sora dan Gara tadi. "Area belakang tempat parkir mobil."
Ketika sudah mendengar lokasi kedua orang yang telah membuat semua keributan ini, Rin pun dengan cepat langsung berlari menuju ke tempat tersebut.
Jarak dari kelas Rin menuju ke area belakang tempat parkir mobil yang Gita maksud itu memang cukup jauh, namun karena Rin berlari dengan sekuat tenaga dia dapat sampai ke sana dalam waktu yang cukup cepat.
Rin memberhentikan langkah kakinya saat sudah berhasil melihat Sora dan Gara dari kejauhan, kini mulai dari tempat Rin berdiri saat ini, sampai ke area belakang tempat parkir mobil Rin akan berjalan dengan perlahan.
Rin berjalan perlahan sembari mengamati kegiatan apa yang saat ini Sora dan Gara lakukan.
Meski sebenarnya hal yang dua orang itu lakukan jelas tidak akan jauh dari apa yang telah mereka lakukan di kampus hari ini.
"Rin? Gara itu Rin!"
"Ahh ... Hai Rin! Gimana luh sehat kan?"
PLANKK...
PLANKK...
Terdengar suara tamparan hingga dua kali, tamparan pertama adalah tamparan dari Rin untuk Sora, lalu tamparan yang kedua adalah tamparan dari Rin untuk Gara.
"Puas?! Kalian berdua puas?! Kemarin kalian udah janji sama gue kalau kalian nggak bakal kasih tahu apa yang gue jelaskan ke kalian ke semua orang! Tapi sekarang apa?! Kalian berdua emang jahat banget ya!!" marah Rin dengan suara membentak yang besar.
"Janji? Sejak kapan kami berjanji?!" ucap Gara dengan senyum liciknya sambil memegang pipinya yang masih terasa sakit itu.
"Huft ...," Rin meraih ponsel yang ada di saku bajunya, kemudian dia pun terlihat menekan sebuah nomor di layar ponselnya tersebut, tak lama setelah dia menekan nomor itu, hp miliknya pun terhubung ke nomor yang dia pencet.
"Pa, Sora dan Gara sudah keterlaluan, mereka sudah memberitahu kesemua orang tentang penyakit Radit," ucap Rin di telpon tersebut.
Sora dan Gara yang melihat aksi Rin itu pun dibuat keheranan, mereka memang tidak dapat mendengar apa balasan dari si pemilik nomor yang Rin telpon itu.
Jadi mereka mengira yang Rin telpon adalah Pramana, karena Rin memanggilnya dengan sebutan "Pa," diawal ucapannya.
"Hahaha ... Luh nelpon orang tua luh? Buat apa Rin? Lucu banget! Luh pikir Pak Pramana punya kuasa untuk berbuat sesuatu ke kita berdua?" seru Sora dengan tawa mengeledeknya.
Mendengar ucapan Sora Rin tersenyum semirik, "Bukan Papa Pramana, tapi Papa Surya yang gue telpon!" balas Rin dengan senyum yang semakin melebar diwajahnya.
__ADS_1
"Apa?!" teriak Sora dan Gara berbarengan karena mereka benar-benar bingung, apa maksud Rin? "Papa Surya?"
"Luh bakal dikeluarin dari kampus ini Sora, dan luh Gara, mungkin Mr.Max akan membatalkan kerja sama dengan keluarga luh! Karena asal luh tau, Mr.Max dan Papa Surya itu sahabat dekat. Saat mendengar kejahatan kalian berdua, Papa Surya dan Mr.Max benar-benar marah, maaf karena aku telah mengadukan semuanya!!" ucap Rin masih dengan senyumnya.