Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 65. Akhirnya Kembali Ke Kampus


__ADS_3

Hari-hari yang tenang dan sepi di kampus terkenal di Jakarta, Universitas Gading Jaya akhirnya telah berakhir.


Karena hari ini, Si Pangeran kampus yang tampan, pria yang selalu membuat kegaduhan karena para mahasiswi terus saja mengejarnya, setelah lama tidak masuk akhirnya hari ini dia kembali ke kampusnya itu.


Saat turun dari mobil, pria tersebut langsung dikerumuni oleh begitu banyak mahasiswi, dan juga mahasiswa Universitas Gading Jaya.


Dia yang turun bersama Sang Kekasih bahkan hampir tidak bisa berjalan, karena jalan mereka yang terus dihadang oleh begitu banyak orang.


Beruntungnya, di saat kondisi semakin memanas, dan semakin tidak memungkinkan untuk lewat, para sahabat dari kedua orang yang sedang dikerumuni itu pun datang.


"Wah ... Wah ... Kayak pembagian sembako aja ini! Ayo, ayo kasih jalan buat Radit!" teriak Fathur sembari mendorong pelan orang-orang yang menghalangi jalan Radit dan Rin.


Alex juga melakukan hal yang sama, begitupun dengan Saskia, Gita, Putri, dan Sofia. Mereka sebisa mungkin membuat jalan agar sepasang kekasih itu bisa melewati kerumunan yang ada.


"Woi anak BEM! Bantu gue, awas aja kalau kalian malah pada ikutan rusuh ya! Gue kasih poin nanti kalian!" Dengan suara yang tegas dan jelas, Saskia berteriak kepada anggotanya.


Teriakan tersebut pun membuat para anggota organisasi BEM, yang ikut dalam keributan itu langsung berhenti, dan seketika saja mereka ikut membantu ketua mereka membuat jalan untuk Radit dan Rin lewati.


"Haha ... Keren Kak Saskia! Setengah kekuatan lawan langsung hilang!" seru Gita diiringi dengan tawa kecil, dan juga wajah yang takjub, karena teriakan Saskia tadi membuat sekitar 15 orang yang mengerumuni Rin, dan Radit beralih untuk membantu mereka.


"Itulah kekuatan ketua BEM kita!" sahut Sofia, dan juga Putri berbarengan sembari tertawa.


Namun, meski sudah begitu, tetap saja masih ada cukup banyak orang yang berusaha untuk terus mendekati Radit. Hal itu karena mereka ingin menanyakan beberapa hal kepada pangeran kampus mereka itu.

__ADS_1


"Kak Radit!"


"Kak Radit sakit apa?"


"Dit! Gimana kabar luh sekarang?"


"Kak Radit udah sehat?"


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut para mahasiswa, dan mahasiswi Universitas Gading Jaya itu.


Mereka semua benar-benar sangat penasaran, tentang Radit yang dirawat di rumah sakit sekitar 3 minggu lamanya.


Terlebih lagi, awal mereka tahu bahwa Radit sakit itu dari Sora dan Gara, orang yang saat ini sudah di blacklist dari Gading Jaya, tentu saja hal itu menambah rasa penasaran mereka.


"Kenapa Kak Radit gak kasih tahu ke orang-orang tentang penyakitnya? Kenapa Sora dan Gara bisa tahu lebih dulu? Ada apa sebenarnya?" Kurang lebih seperti itulah isi pertanyaan dari benak kebanyakan orang, yang saat ini sedang mengerumuni Sang Pangeran kampus.


"Terimakasih semuanya!" ucap Rin dengan senyum yang terukir di wajahnya, karena semua kebebasan mereka ini tidak lepas dari bantuan keenam temannya itu.


Mereka membalas senyum Rin, "Santai aja kali, kan kita teman! Ya gak?" balas Sofia dengan bersemangat, "Tentu!" seru yang lainnya.


"Hmm ... Tapi kenapa mereka bisa sampai kayak emak-emak yang berebutan sembako gitu, ya?" Dengan suara yang lirih, Radit bertanya dengan wajahnya yang seolah-olah terlihat polos.


Mendengar hal tersebut, sontak Rin dan yang lainnya langsung melihat ke arah Radit, dengan tatapan bingung bercampur dengan kesal.

__ADS_1


"Dit, luh yakin udah sehat bro?" gumam Fathur dengan wajah yang terlihat panik, "Perasaan gue yang dioperasi bukan kepala luh deh, kok kepala luh yang jadi eror?" sambung Alex.


Radit menaikan salah satu alisnya, "Huh? Maksud kalian apa? Ngomong yang jelas!" marah Radit dengan suara yang sedikit membentak.


Bukannya takut, ketujuh orang yang ada di dekatnya saat ini malah tertawa ngakak.


"Tuh! Kan benar otaknya sekarang yang bermasalah! Radit yang dulu mah gak lemot seperti gini! Hahaha ...." Alex berbicara dengan tawa yang tah berhenti-henti, hal ini tentu saja membuat Radit semakin marah, sekaligus semakin tidak mengerti.


Karena merasa Radit tidak akan paham jika tidak dijelaskan dengan rinci, pada akhirnya Rin pun bersuara untuk menjelaskan.


"Radit! Kamu sendiri tahu kan, bahwa kamu itu salah satu mahasiswa yang menjadi pilar kampus ini. Kalau kamu nggak ada, rasanya seperti ada sesuatu yang kurang gitu dari Universitas Gading Jaya. Jadi, saat kamu tidak masuk sekitar tiga minggu, tentu saja akan ada banyak orang yang penasaran dengan kondisi kamu."


"Kamu gak dengar, apa yang tadi mereka semua pada tanyain? Kak Radit udah sehat? Gimana kondisi Kak Radit sekarang? Kak Radit sakit apa? Kok lama banget di rumah sakit Kak Radit? Kak Radit, Kak Radit, Kak Radit! Kak Radit terus."


Rin menjelaskan dengan panjang lebar, dan juga dengan intonasi yang cepat, serta dengan nada yang sedikit mengejek di beberapa kalimat terakhir dari penjelasannya itu.


"Hmm ... Dan ya, tadi aku sempat dengar, salah satu dari mereka ada yang nanya tentang Sora dan Gara. Wajar sih kalau itu jadi salah satu hal yang membuat mereka pada penasaran. Karena disaat semua orang nggak tahu tentang penyakit kamu, tapi dua orang yang seperti ... Ya begitulah, malah bisa tahu, bukankah itu aneh?" lanjut Rin dengan wajah yang terlihat seperti sedang mengingat-ingat.


Radit mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, "Oh mereka berdua ya, ngomong-ngomong sekarang nasib mereka berdua gimana? Hmm," tanya Radit dengan wajah yang terlihat begitu penasaran, sembari memegang dagunya.


"Sora udah dikeluarkan dari kampus ini, dan gue dengar sih dia udah kembali ke Jepang tuh! Terus Gara ... Hmm ... Gak ada yang tahu sih gimana dan dimana cowok itu sekarang," sahut Saskia menjawab pertanyaan yang Radit lontarkan.


"Tapi ya, setahu gue nih ya, karena Mr.Max ikut dalam menyelesaikan masalah antara mereka berdua dengan Rin, perusahan Papa Gara jadi dapat masalah, beberapa investasi dari Maxert Company untuk perusahaan Pak Adi diputus. Terus akhirnya Gara dimarahi habis-habisan deh sama Papanya!" lanjut Saskia.

__ADS_1


Mendengar semua hal tersebut, ketujuh orang lainnya hanya menganggukkan kepala mereka, mereka percaya dengan apa yang Saskia katakan, karena bagaimanapun juga Saskia begitu ahli dalam hal informasi seperti ini.


Jika Saskia mengatakan demikian, maka kebenaran tak kan jauh larinya dari apa yang dia katakan. Lagi pula Si Ketua BEM itu juga sudah berkecimpung di dunia bisnis, jadi tak heran jika dia tahu informasi mengenai investasi itu.


__ADS_2