
"Rin ayok bangun," seru Radit yang lagi-lagi hari ini bangun pertama, dan lebih awal dari Rin.
"Astaga sayang, ada apa? Aku masih ngantuk. Emangnya bu dosen killer itu pengen ngasih pengarahan lagi?" balas Rin masih dengan mata tertutup, dan begitu enggan untuk bangun meski Radit sudah menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Bukan itu, tapi kita harus datang lebih awal juga hari ini. Ada hal yang pengen aku tunjukkan, ini kejutan," ucap Radit lagi sembari terus berusaha untuk membujuk Rin. Namun Rin masih teguh dengan sifat biasanya, yaitu tak akan mau bangun sebelum merasa waktu tidur nya cukup.
Jujur saja setelah masuk kuliah, Rin akan langsung tertidur kembali setelah melakukan shalat subuh, lalu akan bangun pada pukul 8 pagi, satu jam sebelum kelasnya dimulai.
Satu-satunya hari dimana Rin pernah datang lebih awal ke kampus, adalah saat hari pertama dia dihukum oleh Radit.
"Rin kumohon, ayo bangun," bujuk Radit untuk yang terakhir kalinya, dia pun mengatakan kalimat terakhirnya itu dengan nada yang sudah memelas. Mendengar suaminya yang sudah sangat frustasi dengan dirinya, akhirnya Rin pun memutuskan untuk bangun.
Dengan nyawa yang baru saja setengah terkumpul itu, Rin pergi ke kamar mandi, dan segera setelah itu dia memakai pakaian nya dan langsung menancapkan gas menuju ke kampus bersama Radit.
......................
"Eh itu mobil kak Radit!"
"Sepertinya lagi-lagi kak Radit datang bareng Rin deh, anak semester satu itu."
"Hubungan mereka apa sih sebenarnya?"
"Kak Saskia gak marah ya liat Kak Radit sama Rin datang, dan pulang bareng terus?"
Dan masih banyak lagi hal yang selalu di katakan oleh mahasiswa-mahasiswi kampus tersebut setiap kali melihat mobil Radit memasuki gerbang kampus itu.
"Ayo turun," seru Radit saat telah memarkirkan mobilnya dengan rapi, dengan sangat menurut Rin turun dari mobil, lalu setelah itu Radit menarik pelan tangan Rin.
Ternyata, Radit membawa Rin ke tengah lapangan. Membuat Rin seketika menjadi bingung dengan apa yang akan Radit katakan.
__ADS_1
"Semuanya tolong perhatiannya!" Dengan suaranya yang kuat Radit berteriak, membuat satu lapangan bergema.
Semua orang yang mendengar teriakan tersebut pun langsung memfokuskan perhatian mereka ke arah Radit.
Hal ini wajar saja terjadi, karena Radit adalah seorang pangeran kampus, siapa yang tak ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pangeran kampus tersebut.
"Ada satu pengumuman yang ingin aku katakan kepada kalian semua saat ini juga," lanjut Radit yang kemudian kembali menghadap Rin, Radit meraih kedua tangan Rin lalu menggenggamnya.
"Aku dan Rin, kini kami sedang berpacaran," ucap Radit lagi, dan membuat satu lapangan menjadi hening...
"APAAAA?!" teriak semua orang yang baru saja sadar dengan apa yang dikatakan oleh Radit barusan. Iya, semua orang termasuk Rin.
"Kak? ...," gumam Rin yang bingung, dengan tatapan mata juga wajah yang penuh dengan tanda tanya.
Melihat hal itu Radit hanya tersenyum, dan kemudian kembali melanjutkan perkataannya.
"Apa yang dikatakan oleh ku barusan itu adalah fakta, aku dan Rin telah menjalin hubungan ini sejak beberapa minggu yang lalu." Radit kembali bersuara untuk menjawab puluhan pertanyaan yang melayang dari mulut para mahasiswa-mahasiswi kampusnya itu.
"Dan sekarang aku ingin kalian semua untuk tidak pernah menyakiti, atau pun mengganggu Rin lagi. Jika kalian melakukannya maka kalian akan berhadapan denganku."
Radit pun melanjutkan kalimatnya dan menjelaskan dengan panjang lebar, satu lapangan pun dibuat terdiam dan mencoba mencerna apa yang dari tadi Radit katakan.
Saat seisi lapangan masih dibuat kaget dan bingung, Radit kembali menarik tangan Rin dan meninggalkan lapangan tersebut.
"Kak maksud yang tadi apa?" seru Rin yang akhirnya bertanya setelah mereka sudah cukup jauh dari keramaian mahasiswa.
"Maaf aku malah mengatakan bahwa kita hanya berpacaran. Karena aku takut jika orang tahu bahwa kita telah menikah, mereka malah akan berpikir bahwa kita menikah karena hal yang tidak-tidak. Aku tak ingin ada pandangan buruk tentangmu," ucap Radit dengan lembut.
"Tapi kak Radit bilang kalau di sekolah kita hanya akan sebatas senior-junior, jika orang tau kita telah berpacaran maka status senior-junior tak akan ada lagi," balas Rin yang malah memikirkan tentang hal itu. Radit yang mendengar respon Rin pun ingin marah, dan merasa kesal. Namun wajah polos istrinya itu mengacaukan semuanya.
__ADS_1
"Aku hanya tak ingin jika ada orang yang menyakiti mu lagi, Saskia tak akan melakukan hal bodoh itu kemarin jika seandainya dia sudah tau tentang status hubungan kita. Alex juga tak akan mau terlalu dekat dengan kamu, jika tau kamu milikku bukan?" seru Radit menjawab rasa penasaran Rin tadi.
Mendengar hal itu Rin pun mulai mengerti, ternyata kini suaminya sudah ingin mulai dimanjakan walau itu masih di kampus.
Rin juga tau bahwa Radit benar-benar sangat cemburu jika dia dekat dengan Alex.
"Baiklah, aku terima keputusanmu," ucap Rin sambil bercanda, kemudian tangannya dengan tanpa sadar langsung meraih kepala Radit dan mengelusnya.
"Rin...?" Radit membulatkan matanya karena kaget, pipinya pun mulai merah merona karena aksi yang dilakukan oleh Rin itu.
"Hehe ... Aku senang karena sekarang semua orang udah tau, bahwa akulah pemenang dari hatinya pangeran kampus. Aku suka sama kejutan yang kamu tunjukkan hari ini, makasih pangeranku," seru Rin dengan senyum yang sangat manis, juga tangan yang masih terus mengelus-elus kepala Radit.
"Terimakasih juga putri ku!" balas Radit dengan senyuman yang tak kalah manisnya, dia pun juga ikut-ikutan mengelus kepala Rin.
......................
"Cieee yang udah go publik. Gak bakal ada yang berani ngomongin lagi nih, karena bisa-bisa entar mereka malah di keluarin dari kampus ini ... Hahaha!" seru Gita saat melihat Rin yang baru memasuki ruangan kelas mereka.
"Apaan sih Gita! diam!" balas Rin dengan kesal juga malu-malu, melihat hal itu Gita dibuat semakin tertawa.
"Wah Rin, selamat yaa!" sahut Sofia juga Putri yang ikut menggoda Rin. "Pantesan tiap istirahat kalau gak makan berdua, pasti kak Radit ikut makan bareng kita," lanjut Sofia sambil mengingat-ingat hari-hari yang mereka lalui menjadi begitu lebih sering bertemu dengan Radit saat telah menjadi teman dekat Rin.
"Aduh kalian kok malah ikut-ikutan Gita sih?" balas Rin yang terlihat semakin pusing.
Tidak hanya sampai situ, saat Rin baru saja duduk di kursinya, satu persatu teman kelasnya mendatangi Rin.
"Rin kalau gue ada salah maaf ya!"
"Selamat Rin semoga langgeng."
__ADS_1
Ya kurang lebih 2 kata itulah yang di ucapkan oleh teman-teman kelasnya. Sebagian ada yang meminta maaf karena merasa takut jika pernah berbuat salah dengan Rin.
Sebagian nya lagi mengucapkan selamat, dan berpikir akan mendapatkan koneksi lebih di kampus, jika hubungan mereka dengan Rin maupun Radit dekat.