Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 41. Kembali Dirawat


__ADS_3

Rin terus berteriak, memanggil nama Radit dengan mulut yang bergetar juga tangisan yang sudah pecah.


"KAK RADIT AYO BANGUN!!"


"KAK! KAK RADIT, AKU MOHON!!"


Rin dan Alex berlari melewati setiap koridor rumah sakit, mereka berlari beriringan dengan para perawat yang mendorong sebuah brankar dengan Radit yang terbaring di atasnya.


"Tolong tunggu disini saja ya," ucap seorang perawat saat mereka telah tiba di depan ruang penanganan untuk Radit. Sementara para perawat lain langsung membawa Radit masuk ke dalam untuk segera ditangani.


"Sus, saya mohon izinkan saya masuk!" pinta Rin, namun perawat tersebut melarangnya dengan keras.


"Maaf tapi kami tidak akan bisa bekerja dengan baik jika anda ikut masuk, ini sudah peraturan rumah sakit, jadi mohon tunggu di luar!" ucap perawat itu lalu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


Saat perawat itu masuk Rin juga dengan cepat mengikutinya, namun dengan lebih cepat lagi perawat itu langsung menutup pintu ruangan tersebut, tubuh Rin pun menghadang pintu yang hampir tertutup sempurna itu.


BRAKK...


Dengan satu dorongan yang cukup kuat, Perawat itu pun berhasil menutup pintu ruangan tersebut secara sempurna, membuat Rin yang sempat menahannya sedikit terdorong jauh dari pintu itu.


"Sus, tolong biarkan saya masuk! Saya ingin melihat kondisi Radit! Hiks ... Tolong buka!" teriak Rin dengan air matanya, kedua tangannya itu pun terus memukul pintu ruangan tersebut.


Alex yang melihat hal itu langsung meraih kedua tangan Rin, dia menggenggamnya, lalu kemudian menarik Rin untuk menjauh.


"Rin sudah, kamu harus tenang, jangan emosian seperti ini, Radit pasti baik-baik saja kok, kamu gak perlu khawatirkan apapun," ucap Alex yang mencoba untuk menenangkan Rin.


Mata Rin yang sudah cukup sembab itu perlahan menatap dalam mata Alex, "Kak, gimana aku gak khawatir? Radit udah lama gak kayak gini, aku takut kalau ternyata penyakitnya kambuh, aku takut kehilangan Radit kak!!" ucap Rin dengan tangisan yang semakin histeris.


Alex menaikkan salah satu alisnya, wajahnya seketika berubah menjadi bingung setelah mendengar perkataan Rin barusan.


"Kambuh? Radit punya penyakit apa Rin?" tanya Alex, namun belum sempat Rin membuka mulutnya, ponsel Alex berdering tanda ada telpon masuk.


Segera Alex mengangkat telpon tersebut, lalu berbicara selama kurang lebih 2 menit, setelah itu telpon pun dimatikan.


"Rin aku minta maaf, tapi pihak kampus hanya memberikan ku izin untuk mengantar kalian saja, dan mereka bilang kamu boleh disini menunggu Radit karena Pak Surya masih di Singapura," ucap Alex setelah telpon tersebut mati.

__ADS_1


"Aku harus segera kembali ke kampus, kamu bisa sendiri disini?" lanjut Alex dan Rin pun mengangguk, "Hati-hati kak,"


Perlahan mata Rin pun mulai kehilangan keberadaan Alex, saat Alex benar-benar telah hilang dari pandangannya, Rin akhirnya mulai untuk menenangkan dirinya.


Dia duduk beberapa saat, kemudian kembali berdiri, matanya menangkap sebuah lampu yang terletak di kanan atas pintu ruangan tersebut, lampu itu mengeluarkan cahaya merah, pertanda bahwa sedang ada tindakan di dalamnya.


"Ya Allah, hamba mohon tolong selamatkan Radit, hamba tidak ingin kehilangannya, hamba mohon Ya Allah tolong sembuhkan Radit, buat dia sadar sekarang," ucap Rin yang berdoa.


......................


Waktu demi waktu berlalu, dari pukul 11 hingga saat ini sudah pukul 2 siang, namun belum ada tanda-tanda bahwa penanganan Radit akan segera selesai.


Sudah lebih dari 3 jam Rin menunggu di depan ruangan itu, berjalan bolak-balik di depan pintu ruangan tersebut, sesekali melihat lampu yang terletak di kanan atas pintu itu yang masih betah bewarna merah.


"Apa yang terjadi di dalam? Mengapa begitu lama sekali? Radit," lirih Rin dengan nada yang khawatir dan sangat takut untuk kehilangan.


Di saat Rin kembali berjalan bolak-balik tak karuan, dia mendengar suara dari salah seorang yang dia butuhkan saat ini.


Setidaknya pemilik suara itu akan mampu menjadi tempat bersandar Rin sekarang, juga sebagai wadah tangisannya.


"Rin!" ucap orang tersebut saat dirinya hanya tinggal selangkah lagi dari Rin, "Papa!!" tangis Rin pun kembali pecah di pelukan orang tersebut.


Pemilik dari suara yang memanggil Rin tadi ternyata adalah Surya, Surya langsung meninggalkan Singapura dan kembali ke Indonesia, saat dirinya mendengar kabar dari kampus bahwa Radit masuk rumah sakit.


"Sayang, sudah, sudah ya jangan menangis lagi," ucap Surya sembari menenangkan menantunya itu, "Siapa yang menangani Radit saat ini? Apa dokter Firmansyah?" lanjut Surya bertanya.


Perlahan Rin melepaskan pelukannya, kepalanya mendongak sedikit untuk melihat wajah Surya, wajahnya mulai terlihat bingung, "Iya pa, tadi aku sempat berusaha untuk masuk, jadi aku sempat ngeliat kalau dokter Firmansyah ada di dalam."


"Tapi pa, memangnya ada apa?" tanya Rin yang bingung, Surya yang mendengar hal itu tersenyum sekilas.


"Dokter Firmansyah itu adalah dokter terbaik di rumah sakit ini, dia juga salah satu dokter terbaik di Indonesia. Jadi setidaknya papa merasa sedikit tenang kalau dialah yang menangani Radit saat ini," jawab Surya menjelaskan.


"Jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir lagi ya Rin, kamu percayakan kalau Radit itu orangnya kuat?" lanjut Surya, dan Rin menjawabnya dengan mengangguk cepat penuh keyakinan.


Surya kembali tersenyum, lalu setelah itu dia membawa Rin untuk duduk di kursi yang terletak di samping kiri pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


Tak lama setelah mereka duduk, warna lampu yang sedari tadi berwarna merah, kini berubah menjadi hijau, dengan segera Rin dan Surya kembali berdiri.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Surya langsung saat Firmansyah baru saja keluar dari ruangan itu.


"Sepertinya terapi selama ini tidak berjalan dengan baik, terapi itu hanya sedikit memperlambat sel kanker yang ada. Dan karena hal ini, kami harus segera melakukan operasi," jawab Firmansyah, seketika Rin dan Surya yang mendengarnya pun langsung dibuat syok.


"Saat ini Radit masih belum melewati masa kritisnya, tapi kami sudah melakukan beberapa penanganan, kita doakan saja agar Radit bisa segera sadar. Mengenai operasi, mari kita bicarakan di ruangan saya," lanjut Firmansyah.


Setelah itu Surya pun ikut pergi bersama Firmansyah menuju ke ruang kerjanya, sementara Rin tetap menunggu di depan ruangan penanganan Radit tersebut.


Beberapa saat setelah itu para perawat keluar, dan membawa Radit untuk dipindahkan ke ruangan ICU, dengan begitu Rin bisa melihat Radit lebih leluasa.


......................


Rin yang sudah mengenakan baju protektif kini duduk di samping ranjang Radit yang masih tak sadarkan diri itu.


Kedua tangannya kini menggenggam erat tangan kanan Radit, dia meletakkan tangan Radit tepat di pipinya yang sudah basah karena air mata itu.


Mata Rin sendu melihat Radit, tubuhnya bergetar karena takut, bibirnya terus bergerak seolah-olah ingin mengatakan banyak hal, tapi apa yang bisa dia lakukan? Orang yang ingin dia ajak bicara kini malah tak sadarkan diri.


"Radit ... Aku mohon bangun, aku gak bisa, aku gak kuat kalau harus ngeliat kamu kayak gini terus, aku gak mau kamu kenapa-napa Radit. Aku mohon bangun ya," ucap Rin dengan suara yang sangat lirih, juga air mata yang semakin deras berjatuhan.


Tangan Rin mengelus perlahan tangan suaminya yang kini dia pegang itu, perlahan salah satu tangannya dia lepaskan dari genggaman tersebut, lalu dia angkat untuk memegang pipi suaminya.


Tangan Rin semakin bergetar saat tangannya tersebut menyentuh wajah dingin Radit, Rin yang tak kuat sedikit menggigit bibirnya.


"Hikss!! Radit!! Ku mohon bangun!!" seru Rin dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.


Tak lama setelah itu seorang dokter masuk, dia yang mendengar tangisan Rin pun langsung menyuruh Rin untuk keluar.


Meski Rin terus menolak untuk keluar, namun pada akhirnya dia mau keluar, karena dokter itu mengatakan jika Rin terus begitu, justru hal itu akan sangat menggangu Radit, juga pasien lainnya yang ada di dalam ruangan ICU tersebut.


"Kamu boleh kembali kesini nanti ya, tenangkan diri kamu terlebih dahulu, dengan begitu suami kamu, maupun pasien lain yang ada disini akan merasa semakin lebih baik," ucap dokter tersebut dengan lembut.


Rin mengangguk perlahan, kemudian dengan sangat lemas dia melangkah menuju ke luar, jujur dia tak ingin meninggalkan kekasihnya, namun apa boleh buat, yang dokter itu katakan benar.

__ADS_1


__ADS_2