
"huft bisa-bisanya jadi canggung seperti ini, terus kenapa sih si senior itu pakai acara sok gak mau lihat, kan gue jadi merasa jelek," Rin terus berkomat-kamit dalam kamar mandi sambil terus mengganti bajunya.
Setelah mengganti gaunnya itu menjadi baju tidur dia pun melakukan rutinitas skincare malamnya, sehingga menghabiskan hampir satu jam di dalam kamar mandi.
Saat Rin keluar dia pun melihat Radit yang sudah tertidur di atas sofa di samping kasur mereka, Rin pun membangunkan Radit karena tak tega melihat dia tertidur di sofa.
"Kak, bangun. Biar aku aja yang tidur di sofa, atau biar aku aja yang tidur di kamar lain jadi kak Radit di kasur aja," ucap Rin sembari menggoyangkan tubuh Radit agar terbangun.
"Di luar kamar ini ada cctv, jadi kalau luh gk tidur di kamar ini orang tua kita bakal tau dan bisa-bisa kita kena marah nanti, dan juga sekarang Villa ini udah jadi milik luh, jadi luh yang lebih berhak tidur di kasur, gak usah sok kasihani gue, itu semua juga gara-gara luh yang muncul di kehidupan gue!" ucap Radit dengan kasar saat mata nya masih tertutup.
Mendengar hal itu Rin menjadi kesal dan sudah tak mau peduli lagi mau dimana pun pria itu akan tidur. Rin pun berjalan menuju kasurnya dan tertidur di kasur empuk tersebut.
Hingga akhirnya pagi pun datang, mereka telah melewati malam pertama tanpa hal romantis sama sekali, ya ini wajar terjadi karena mereka menikah tanpa cinta.
Radit yang bangun terlebih dahulu langsung memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, lalu setelah itu dia pergi keluar villa untuk menyelusuri bibir pantai.
Beberapa saat kemudian Rin juga bangun dan melakukan hal yang sama seperti Radit, dia membersihkan tubuhnya dan pergi keluar Villa berniat mencari udara segar.
Di luar dia pun melihat Radit yang sedang berjalan di bibir pantai, entah ini hanya perasaan Rin saja atau bagaimana, tapi Radit terlihat sedih.
Namun ketika mengingat kata-kata Radit tadi malam Rin pun langsung membuang pandangannya, dia tak ingin bersikap peduli dengan si senior nya itu karena hanya akan dibalas dengan kata-kata sadis.
Jadi Rin memutuskan untuk pergi ke arah berlawanan dengan Radit. Rin ingin melupakan semua hal menyedihkan yang telah terjadi padanya, dia ingin membuka lembaran baru meski dalam status yang tak dia inginkan.
Sejujurnya jika Radit bisa bersikap sedikit baik padanya mungkin Rin akan mulai belajar untuk mencintai Radit, karena bagaimana pun ini keinginan orang tuanya. Mungkin ini satu-satunya cara yang bisa Rin lakukan untuk membangkitkan usaha orang tuanya.
Tapi kenyataannya hal itu tak terjadi, saat Rin merasa Radit berbuat baik padanya ternyata itu semua ada sebabnya, dan bukan untuk berniat baik padanya.
__ADS_1
......................
Radit dan Rin yang mengambil izin selama lima hari pun akhirnya kini telah masuk kembali ke kampus mereka.
Pada akhirnya mereka malah menghabiskan waktu liburan yang telah disediakan orang tua mereka untuk bersenang-senang berdua hanya untuk saling berdiam, dan menikmati keindahan pantai sendiri-sendiri.
Sesampainya di sekolah pun Gita menjadi yang paling heboh, dan terus berada di samping Rin sepanjang hari, dia terus bertanya-tanya tentang apa yang telah pengantin barunya itu lakukan selama izin palsu mereka.
Sama seperti biasanya Rin menceritakan semua hal kepada Gita, dan bukan nya senang karena telah dikasih tau, Gita malah merasa kecewa mendengar bahwa tak ada hal spesial yang Rin dan Radit lakukan saat liburan.
Wajah nya pun berubah menjadi seperti seorang kekasih yang sedang ngambek, emang Gita sangat unik. Rin yang menderita tapi seperti dia yang paling tersakiti.
Di lain sisi juga banyak orang yang mengelilingi Radit, mayoritas dari mereka adalah cewek-cewek yang cemburu karena pangeran kampusnya malah mengikuti lomba bersama dengan Rin, padahal itu adalah impian mereka semua.
Dari sekian banyak orang disana juga terlihat wanita cempreng yang selalu menyempil di dekat Radit, wanita yang paling jijik untuk Rin lihat.
Entah mengapa wanita itu bersikap seolah-olah dia adalah kekasih Radit, padahal Radit pun tak pernah menganggap bahwa keberadaan nya itu ada.
Pantas jika diantara banyak mahasiswi Saskia lah yang terlihat paling dekat dengan Radit, padahal dia bukanlah tipe yang Radit suka untuk berada di dekatnya.
Siapa coba yang tak tau bahwa Radit membenci keributan, jadi tak mungkin jika tanpa alasan yang penting dia mau berada di dekat Saskia.
Beberapa saat kemudian dosen yang akan mengajar di kelas Radit saat ini datang, membuat keributan yang mengelilingi Radit pun akhirnya menghilang.
Begitu juga dengan Rin, saat dosen Rin datang, beberapa orang-orang yang mengerumuni Rin mulai bubar dan duduk di kursi mereka masing-masing.
Rin dan Radit pun mengikuti kelas mereka masing-masing dengan serius.
__ADS_1
Hingga akhirnya 4 jam berlalu dan waktu istirahat pun tiba, semua orang pergi meninggalkan kelasnya menuju kantin. Begitu pun dengan Radit dan Rin yang kebetulan bertemu di kantin.
Mereka hanya saling melihat sebentar kemudian berlalu pergi tanpa menyapa. Tapi ada satu hal membuat langkah Radit yang semakin jauh itu berhenti.
Radit mendengar ada suara sesuatu yang jatuh di belakangnya, dia pun berbalik dan melihat bahwa yang jatuh itu adalah Rin.
"Kak luh sengaja ya buat gue jatuh?!" teriak Rin dengan suara yang keras, hingga membuat satu kantin melihat dirinya, dihadapan Rin duduklah Saskia yang terlihat senang melihat Rin jatuh dengan baju yang menjadi kotor.
"Gue buat luh jatuh? Iiiuu mana mau gue kalau sampai sepatu gue nyentuh luh!" balas Saskia sembari berdiri dan sedikit mendorong Rin.
Tak terima didorong, Rin membalas dorongan itu dengan dorongan yang cukup kuat, hingga membuat perkelahian diantara keduanya tak dapat dihindari.
"Berhenti!" Radit yang awalnya diam melihat kedua wanita di hadapannya berantem akhirnya membuka suara setelah perkelahian di antara mereka berdua semakin dahsyat.
Suara lantang dari Radit sontak membuat kedua wanita itu menghentikan perkelahian mereka.
"Radittt, tengok tuh sih anak baru! Dia dorong akuuu." Saskia berlari kecil menghampiri Radit lalu berkata dengan manja sambil meraih dan menggandeng tangan Radit. Melihat hal itu wajah Rin terlihat semakin kesal.
Karena sudah sangat kesal Rin pun melangkah pergi dan ingin meninggalkan kantin tersebut, tapi kemudian tangan Radit menghentikan langkahnya.
"Makasih suamiku! Tapi lain kali kalau ada cewek yang nyakitin istrinya dibantu lebih cepat dong, jangan malah diam aja, terus itu tangannya gak bisa dijaga?" Bisik Rin sangat kecil hingga hanya Radit yang dapat mendengarnya.
Rin pun melepaskan genggaman tangan Radit dan berlalu pergi meninggalkan kantin itu.
Melihat Rin yang sudah pergi refleks Radit pun tersadar, dan secara spontan melepas gandengan tangan dari Saskia dan mendorongnya.
"Saskia! Dan semuanya juga dengarkan ini! Aku tak ingin melihat lagi kalian mengganggu Rin, karena saat ini kedudukan Rin di kampus ini sudah berubah, bukan aku yang akan menghakimi kalian jika Rin terganggu, tapi justru kampus ini yang akan turun tangan langsung," ucap Radit dengan tegas, meski tak terlalu kuat tapi suaranya bergema ke seluruh penjuru kantin.
__ADS_1
Mendengar hal itu semua orang kaget, Saskia pun bertanya apa maksud dari perkataan Radit, tapi Radit tak menjawab dan malah pergi meninggalkan kebingungan bagi semua orang.
"Aarrgggghhh apa yang sebenarnya baru aku katakan tadi?! mengapa kalimat itu keluar dari mulut ku?" teriak Radit dalam hati sembari mengacak-acak rambutnya.