Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 55. Kembali Dingin


__ADS_3

Setelah terus dibujuk akhirnya kini Rin mau untuk makan siang, atau lebih tepatnya lagi itu sudah menjadi makan sore.


Perlu waktu lebih dari satu jam untuk keenam temannya itu membujuk dirinya. Setelah sudah setuju untuk mau makan, Alex dan Fathur segera memesan makanan favorit Rin yang kebetulan sedang tersedia di kantin rumah sakit tersebut.


"Hiks ... Hiks ... Huaaahh Radit!! Hiks ..." Sembari makan Rin terus menangis, Rin menangis setelah dan sebelum dia memasukkan makanannya kedalam mulutnya itu.


Saskia, Alex, Gita, Fathur, Putri, dan juga Sofia yang melihat hal tersebut dibuat benar-benar bingung, bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, juga bingung karena Rin bisa menangis sambil terus mengunyah makanan.


"Aduh Rin, luh makan atau minum air mata sih?" ucap Saskia yang kebingungan, "Iya nih, udah dong nangisnya," sahut Fathur.


Bukannya berhenti menangis, Rin yang mendengar hal itu malah menangis semakin kuat, "Huahhhh!! A–aku salah a–apa? K–kok Radit marah? Hiks ... Aku g–gak bisa kalau harus g–gini ... Huahhhh!!"


"Hah? Apa yang kamu bilang?" seru keenam teman Rin berbarengan.


Mereka berenam benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Rin katakan barusan, hal ini dikarenakan Rin berbicara sambil terus mengunyah makanannya, dan juga dia mengucapkan kalimatnya itu dengan tersendat-sendat karena tangisnya.


Melihat kondisi Rin yang semakin parah itu membuat Gita langsung kembali mendekatkan dirinya, dia duduk disamping Rin lalu memeluk tubuh temannya itu dari samping.


"Rin sudah ya, kamu gak salah apa-apa kok. Mungkin Kak Radit tempramental seperti itu karena dia baru bangun dari komanya, kamu sendiri kan tau berapa lama Kak Radit dirawat di ruang ICU? Jadi kita maklumi saja sifatnya yang sekarang ya," ucap Gita dengan maksud untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Huft ... Huft ..." Setelah mendengar kalimat-kalimat dari Gita, Rin menghembuskan nafasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri, sekaligus mencoba untuk menghentikan tangisannya.


Selang beberapa detik Rin pun menolehkan kepalanya ke Gita, dan melihat sahabatnya itu dengan tatapan yang dalam.


"Mungkinkah Kak Radit akan kembali seperti biasanya? Apa nanti dia mau memaafkan kesalahanku? Jawab Gita," tanya Rin masih dengan menatap Gita.


Mendengar pertanyaan itu Gita sempat diam sejenak karena ragu dan bingung harus menjawab apa, "Kita doakan saja yang terbaik ya Rin, bukankah untuk saat ini kita semua harus fokus pada operasi Kak Radit besok?" ucap Gita yang akhirnya menemukan balasan paling sesuai.


Setelah mendengar jawaban Gita itu Rin pun langsung menyeka air matanya, "Ya, ya kamu benar Gita. Aku gak boleh egois juga, seharusnya aku bisa bersikap dan melihat dari sudut pandang Kak Radit."

__ADS_1


......................


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan setelah selesai shalat magrib berjamaah tadi Rin bersama teman-temannya langsung kembali ke kamar rawat inap Radit.


Ketika mereka sudah sangat dekat dengan kamar rawat inap Radit, secara kebetulan mereka berpapasan dengan Surya.


"Hai Kalian!" seru Surya yang sedikit berteriak, kemudian dia pun berlari kecil menghampiri Rin dan teman-temannya.


"Sudah mau pulang?" ucap Surya saat dia, menantunya, dan teman menantunya itu sudah saling berhadapan.


Mereka semua pun mengangguk kecuali Rin, "Iya, Pak. Hari sudah malam, tadi mama saya juga sudah telpon," balas Sofia.


"Saya juga pak," sahut yang lainnya.


"Yasudah kalian berenam hati-hati dijalan ya, sampaikan salam buat orang tua kalian, dan juga terima kasih karena sudah mau datang menjenguk Radit," ucap Surya lagi dengan senyum ramahnya.


Sofia, Putri, Saskia, Alex, Fathur, dan Gita pun mengangguk, "Besok kami juga akan datang kesini, untuk menunggu operasi Radit selesai sekaligus menemani Rin, bolehkan Pak Surya?" Putri pun sedikit berbasa-basi sebelum mereka pulang, "Tentu saja boleh!"


"Rin, kamu jaga Radit dulu ya. Sekarang dia lagi tertidur, papa ingin shalat Magrib dulu," ucap Surya saat keenam teman Rin itu telah benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Baik Pa," jawab Rin singkat.


Mendengar jawaban itu Surya pun langsung bergegas untuk pergi ke mushola karena waktu shalat magrib yang hampir habis.


Sementara Rin pergi kearah yang berlawanan untuk menuju ke kamar rawat inap Radit.


Saat sudah berdiri tepat di depan pintu kamar rawat inap tersebut, Rin menghentikan langkah kakinya. Seketika saja dia mengingat kata-kata Radit beberapa waktu yang lalu.


"Kau yang bodoh!"

__ADS_1


"Aku tidak ingin melihatmu!"


"Pergi dari sini!"


Kalimat-kalimat itulah yang terus menghantui kepala Rin saat ini. Dan hal inilah yang kini membuatnya ragu untuk membuka pintu kamar rawat inap tersebut.


"Apakah sebaiknya ku tidak usah masuk?" gumam Rin dengan lirih, tangannya yang sudah menggenggam gagang pintu tersebut pun terus gemetar sejak tadi.


"Masuk atau .... Tidak?" gumam Rin lagi dengan suara yang benar-benar sangat kecil.


Ditengah kegundahan hatinya itu, tiba-tiba saja dia mendengar suara yang sepertinya berasal dari arah dalam kamar rawat inap itu.


"Sampai kapan kau ingin berdiri disana?" ucap pemilik suara itu, Rin yang mendengar hal itupun dengan cepat langsung membuka pintu tersebut, entah kenapa kekhawatirannya ternyata bisa mengalahkan rasa ragu nya itu.


"R–Radit? Tapi tadi papa bilang kamu tidur, k–kamu bangun karena dengar suaraku yang berisik ya? M–maaf aku tidak bermaksud mengganggumu," ucap Rin sedikit terbata-bata karena gugup, dan takut jika dirinya kembali melakukan kesalahan yang dapat membuat Radit marah.


"Bukan," Radit membalas ucapan Rin yang panjang itu dengan 1 katanya yang terdengar begitu dingin.


"Maaf," ucap Radit lagi sambil menolehkan kepalanya untuk tidak melihat Rin.


Satu kata dari Radit itupun langsung membuat Rin membulatkan matanya karena tak percaya. "Maaf untuk a–apa?" tanya Rin yang masih bingung itu.


"Maaf karena aku telah membentak mu tadi," jawab Radit, meski itu masih terdengar sangat dingin namun Rin yang mendengarnya terlihat begitu senang, karena akhirnya kekasihnya itu mengatakan kalimat yang cukup panjang.


"Tidak masalah, aku juga minta maaf ya atas kebodohan yang telah kubuat." Perlahan Rin pun melangkahkan kakinya ke ranjang rumah sakit tempat Radit berbaring saat ini.


"Kalau untuk itu aku belum memaafkan mu," ucap Radit langsung, bahkan tanpa jeda setelah Rin mengatakan kalimatnya tadi. Balasan dari Radit itupun langsung menghentikan langkah kaki Rin yang ingin mendekat ke Radit.


"Aku ingin tidur, jadi kau jangan berisik!" lanjut Radit dengan dingin namun terdengar cukup tegas, meski sedih mendengarnya namun Rin tidak membalas dengan kata apapun lagi.

__ADS_1


Rin hanya diam, lalu dia berjalan perlahan untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


__ADS_2