
Mendengar pertanyaan dari Alex tersebut, Radit, Rin, Gita, Lily, dan Icha saling memandang satu sama lain dengan wajah panik dan kaget.
Diantara mereka bersembilan yang hadir di pesta tersebut, hanya lima orang itulah termasuk Rin dan Radit yang tau bahwa mereka telah menikah.
Kini Radit pun sedang bingung, benar-benar bingung. Rin, Gita, Lily, dan Icha pun juga sama bingung nya.
Sekarang apa yang harus Radit katakan? Jika dia menjawab jujur, jelas semua orang disana akan benar-benar kaget. Tapi jika Radit berbohong, bukankah itu akan berdosa?
"Ada apa? Mengapa kau hanya diam saja? Apa status pacaran kalian itu semua bohong? Atau ada hal lain yang kalian sembunyikan?" Tanya Alex lagi yang sudah sangat tidak sabar dengan jawaban Radit atas pertanyaannya tadi.
"Huft ...," Radit menghela berat napasnya.
"Bohong dari mana? Rin benar-benar kekasihku, hubungan aku dengan Rin adalah sebagai sepasang kekasih, apa masih kurang jelas?" Ucap Radit yang akhirnya menjawab pertanyaan Alex setelah memikirkannya baik-baik.
Kekasih, ya itulah satu-satunya kata yang terpikirkan oleh Radit, yang kemudian akhirnya dia pilih. Baik sepasang suami istri, maupun hanya berpacaran, pada akhirnya intinya sama bukan? Sebutan mereka berdua tetaplah sepasang kekasih.
Dengan menjawab seperti itu, maka Radit tidak berbohong, juga tidak sepenuhnya jujur. Radit pun juga merasa bersyukur karena Alex tidak menanyakan hal lain lagi.
"Tapi apa maksud mu menanyakan hal seperti itu? Apa kau ingin merebut Rin dari ku?!" Seru Radit dengan mata yang sudah menatap sinis Alex.
Alex terdiam sejenak, "Tidak, aku hanya penasaran saja, aku juga tidak mau kalau pria modelan seperti mu sampai menyakiti Rin yang sudah aku anggap seperti adek ku sendiri sejak kecil," Balas Alex dengan datar.
Semua orang yang ada di sana pun dibuat kaget dengan perkataan Alex barusan, bahkan Rin pun juga sama kagetnya. Sudah menganggap Rin sebagai adiknya? Apa maksudnya?
"Jadi kau tidak memiliki niat untuk memacari Rin?" Tanya Radit dengan wajah bingungnya, Alex dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya itu.
__ADS_1
"Memangnya kapan aku bilang kalau aku ingin menjadikan Rin sebagai pacarku?" Seru Alex.
"Dari kecil kak? Kak Alex udah kenal sama Rin emangnya sejak kapan?" Sahut Icha bertanya karena penasaran.
"Waktu itu aku kelas 4 SD, sementara Rin kelas 1 SD, itu berarti sudah berapa tahun ya? Aduh aku bingung juga ngitungnya," Jawab Alex dengan senyum ramah, dan tawa kecil di kalimat terakhirnya itu.
Melihat senyum dan tawa Alex tersebut, keenam wanita yang ada di pesta itu pun meleleh tak karuan, senyuman Alex benar-benar bisa mencairkan es disekitar mereka.
Sementara Radit yang melihat hal tersebut dibuat semakin kesal dan marah, "Apa yang kalian lihat dari pria sepertinya? Bahkan berhitung pun tak tuntas, terutama kamu Rin, berhenti melihat pria lain!" Ujarnya marah.
"Apa maksudmu dengan tak tuntas berhitung? Aku cuma tidak ingin menghitungnya, bukan tidak bisa! Kau pikir bagaimana bisa aku menjadi mahasiswa terpilih dalam program pergantian pelajar, jika tidak memiliki otak yang cerdas?!" Balas Alex sama marahnya.
"Hahaha ... Tentu saja bisa jika kau membayar orang-orang yang membuatmu bisa mengikuti program pergantian pelajar tersebut!" Ucap Radit dengan nada dan tawa mengejek.
Alex yang tak terima langsung menyiram Radit dengan segelas air yang ada di tangannya, membuat Radit kini benar-benar basah.
Dan pertarungan di antara mereka berdua pun kembali dimulai. Radit memasukkan donat utuh ke dalam mulut Alex, Alex pun membalasnya dengan memasukkan buah jeruk lengkap dengan kulitnya ke dalam mulut Radit.
Saling melempar maupun memasukkan makanan terus berlanjut antara Radit dan Alex. Fathur sudah sering memisahkan mereka, namun pada akhirnya mereka kembali bertengkar.
Rin pun juga sudah memarahi Alex dan Radit, sudah sangat sering, hingga Rin sampai bosan karena setiap selesai dinasehati, mereka hanya diam beberapa detik kemudian lanjut bertengkar.
Kini Rin, Gita, Fathur, Lily, Icha, Sofia, dan Putri hanya duduk manis di atas kursi mereka sembari memperhatikan kedua orang pria yang sedang bertengkar hebat itu.
"Pergi loh sana anak Pak Sufiks! Pergi loh dari pantai gue!!" Ucap Radit sambil menarik kera baju Alex, Alex pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Diam loh anak Pak Surya! Ini udah jadi pantainya adek gue!!" Balas Alex yang kemudian mendorong tubuh Radit untuk menjauh darinya.
"Sejak kapan gue ngizinin loh nyebut Rin adek loh hah?!!" Teriak Radit lagi dengan tangan yang mengayunkan sebuah sendok ke kepala Alex.
"Gue gak perlu izin ke loh kali Didit!!" Alex meraih sebuah sendok dan garpu kemudian mendaratkan nya ke kepala Radit juga.
Pertarungan mereka berdua pun berlangsung hingga 10 menit lamanya, hingga akhirnya kesabaran Rin pun habis setelah apa yang dilakukan oleh Radit dan Alex telah melewati puncaknya.
Sebuah daging steak yang mendarat di wajah Rin lah yang membuatnya akhirnya benar-benar marah, "BERHENTI!!!"
"Astaga! Kak Radit! Kak Alex! Kalian maunya apa sih? Kalian udah besar tapi kenapa masih kayak anak kecil gini? Liat semua akibat dari ulah kalian, pesta yang aku buat untuk bersenang-senang jadi hancur gini! Makanan semuanya rusak, mubazir kak!!" Ucap Rin yang kesal.
Rin menatap Radit dan Alex dengan tajam secara bergantian, "Udah puas ngancurin pesta ini? Buat apa kita ngumpul kalau tau bakal kayak gini?! Bukannya senang-senang, malah stress!" Lanjut Rin yang masih kesal.
Radit dan Alex yang mendengar semua omongan Rin pun dibuat menunduk, sesekali mata mereka melihat sekeliling tempat pesta yang hancur akibat ulah yang telah mereka perbuat itu.
"Maaf," Ucap Radit dan Alex berbarengan, dengan kepala yang menunduk juga nada bicara yang rendah, mereka benar-benar menyesal, namun tetap saja kata maaf tidak bisa memperbaiki semuanya.
Suasana menjadi hening beberapa menit, semuanya menghela berat napas mereka di waktu yang hampir berbarengan.
"Kak, bisa gak mulai sekarang untuk gak berantem lagi? Boleh bertengkar asal tau batasannya, lihat sekeliling, perhatikan dampaknya juga, kalau banyak kerugiannya buat apa bertengkar?" Ucap Rin dengan nada bicara yang sudah pelan.
"Kami berjanji gak akan ngulangin hal seperti ini lagi, maaf semuanya," Ucap Radit dan Alex berbarengan masih dengan kepala yang menunduk.
"Sudahlah angkat kepala kalian!" Sahut Fathur yang ingin kembali mencairkan suasana, Gita dan Putri pun juga ikut membantu mencairkan suasana yang sempat tegang itu.
__ADS_1
Beberapa menit setelah itu, meski yang sudah hancur tidak dapat kembali, tapi pesta mereka tetap berlanjut, dan mereka tetap bersenang-senang.