
"Gara?!" gumam Rin saat akhirnya dia berhasil menemukan si pemilik suara yang terus meneriaki namanya dari tadi.
Setelah meyakini bahwa yang meneriaki namanya tadi benar adalah Gara, Rin pun memutuskan untuk pergi dan menjauh saja.
Rin melangkahkan kakinya dengan cepat untuk semakin menjauh dari Gara, saat Rin mencoba untuk menjauh, Gara malah berlari mengejarnya.
"Hei ... Hei! Mau lari kemana kamu?" seru Gara dengan tangan yang menahan tangan Rin, membuat Rin tak dapat melanjutkan langkahnya.
Dengan cepat Rin berbalik, lalu dia mencoba untuk melepaskan tangan Gara dari tangannya itu, namun usahanya sia-sia, Gara memegang tangannya dengan sangat erat.
"Mau luh apasih? Lepasin gak tangan gue!" ucap Rin dengan nada tinggi karena marah, suara tinggi Rin pun menarik perhatian orang lain yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Santai dong," balas Gara dengan suara yang pelan, dia pun perlahan melepaskan tangan Rin.
"Gue cuma mau nanya dimana cowok luh yang udah berani-beraninya mukul gue waktu itu, kok dia gak kelihatan? Dia takut karena tau gue ada disini?" lanjut Gara dengan tawa ngeledek nya.
"Cihh... Radit takut sama luh? Takut? Bukannya luh yang gak bisa ngapa-ngapain pas Radit udah marah sama luh?" balas Rin yang tak terima Radit direndahkan oleh si Gara itu.
"Waww ... Kekasih Radit yang satu ini udah berani ngelawan ternyata, padahal waktu di pesta reuni, luh yang paling diam bahkan gak ngomong sama sekali buat ngelawan gue," ucap Gara dengan nada sok kagetnya.
"Tapi itu gak penting sekarang, sekarang kasih tau gue dimana Raditya?! Biar gue habisi dia disini!" lanjut Gara.
Secara refleks Rin yang mendengar perkataan Gara tersebut, langsung melayangkan tangannya dan menampar Gara dengan cepat.
"Radit sibuk, kalau luh mau nyakitin dia, lawan gue dulu!!" ucap Rin dengan lantang, meski sebenarnya saat ini dia benar-benar sudah takut.
Bagaimana mungkin Rin tidak takut, lawannya adalah seorang pria, terlebih lagi Gara adalah pria yang dikenal keras, bahkan untuk menyakiti wanita pun dia tak akan segan-segan.
__ADS_1
Tangan Rin pun mulai gemetar, saat Gara melangkahkan satu langkah kakinya ke arah Rin, disaat itulah Rin mundur.
"Ternyata bukan cuma cowoknya, tapi ceweknya sepertinya juga butuh pelajaran ya!" gertak Gara dengan suara yang kuat, tangannya pun bergerak untuk melakukan hal yang sama dengan yang Rin lakukan barusan.
Saat tangan Gara tinggal sejengkal lagi dari wajah Rin, seseorang meraih tangan tersebut dan menahannya, hingga tangan itu tak berhasil menyakiti Rin.
Rin yang sempat menutup matanya perlahan membuka matanya itu, "Mengapa tidak sakit?" gumamnya bingung.
"Kak Alex?!" seru Rin dengan nada tak percaya saat melihat Alex lah yang kini berdiri di hadapannya, tangan Alex pun terlihat sedang menahan tangan Gara yang sedikit lagi menyentuh pipinya.
Alex melihat Rin sekilas saat namanya disebut tadi, lalu kemudian dia kembali menatap Gara dengan wajah marah.
Alex menatap Gara dengan tatapan yang semakin tajam, "Jangan sakiti Rin!" ucap Alex diiringi dengan tangan yang melempar jauh tangan Gara untuk menjauh dari wajah Rin.
"Siapa luh hah?! Gue gak ada urusan sama luh!" seru Gara yang sangat marah karena gagal memberi pelajaran kepada Rin, padahal tangannya hanya tinggal beberapa centimeter saja dari wajah wanita yang membuatnya kesal itu, namun Alex menggagalkan semuanya.
Gara yang mendengar perkataan Alex barusan terdiam sejenak, wajahnya terlihat seperti sedang mengingat sesuatu, "Alex?" gumamnya.
"Ahh ... Nama luh Alex Sufiks ya? Anak dari pengusaha Turki itu?" lanjut Gara setelah dia berhasil mengingat nama Alex yang tak asing baginya itu.
Alex pun mengangguk, "Dan luh Gara Adi Putra, anak dari Pak Adi Putra yang merupakan rival perusahaan keluarga Surya, kan?" balas Alex dan Gara pun menganggukan kepalanya dengan bangga.
"Terus masalah luh sama Rin apa? Ngapain luh mau mukul dia tadi?! Ingat ya, Rin dan Radit gak ada hubungannya sama perusahaan keluarga loh itu! Perusahaan kalian emang bersaing, tapi bukan berarti luh bisa nyakitin mereka karena itu!" ucap Alex yang masih marah.
"Terlebih lagi yang pengen luh sakiti itu wanitanya, kalau Radit yang ada disini, gue yakin luh gak bakal berani!!" lanjut Alex.
Gara yang mendengar itu pun tertawa kencang, "Gue gak berani sama si Radit? Luh pikir dia siapa sampai gue harus takut sama dia hah?! Dan luh! Berani-beraninya luh ngomong kayak gitu ke gue! Luh itu gak tau awal mulanya masalah kami, jadi seharusnya luh diam!" balas Gara dengan suara yang cukup berteriak.
__ADS_1
"Bukannya sekarang Radit yang takut sama gue? Buktinya aja dia gak memperlihatkan wujudnya sekarang, pas ceweknya mau gue pukul, kok malah luh yang datang, dan bukan dia? Itu pasti karena dia takut kan?!" lanjut Gara.
"Radit gak datang kesini, itu semua karena dia lagi sa—" Alex ingin kembali membalas perkataan Gara, namun belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Rin pun memotong pembicaraan Alex tersebut.
"Sudah kak Alex, kita pergi saja dari sini," lirih Rin sembari menarik tangan Alex untuk pergi menjauh dari Gara.
Saat jarak antara Rin dan Gara sudah cukup jauh, tiba-tiba saja ada tangan lain yang meraih dan menahan tangannya.
Jelas itu bukan tangan Alex, karena Alex berada disisi kirinya, lalu tangan kiri Alex pun dia pegang. Sementara tangan yang baru saja memegang Rin itu berada di sisi kanan, tak mungkin kan tangan kanan Alex sepanjang itu untuk memegang tangan kanan Rin?
"Hei Rin!! Kok luh main kabur aja?!" ucap pemilik tangan yang meraih tangan Rin barusan, Rin yang mengenal siapa pemilik suara itu pun kembali berbalik untuk melihat.
"Yaampun Sora! Luh ngapain? Gue capek, jadi plis lepasin tangan gue!" seru Rin dengan lesu.
Ya, orang yang baru saja memegang tangan Rin barusan adalah Sora, si anak baru di kampus Rin yang sudah mencari gara-gara itu.
"Enak aja, masalah kita belum selesai ya! Gue belum ngasih pelajaran ke luh waktu itu! Ayo ikut gue sekara—" ucap Sora, namun tiba-tiba saja perkataannya terpotong.
Ada satu orang lagi yang bergabung di antara mereka, orang itu pun memegang bahu Sora, dan dengan suara mengerikannya, Sora pun langsung bergidik ngeri.
"Bukannya gue udah pernah bilang ya? Luh lawan gue Sora!" ucap pemilik suara itu yang berbisik tepat di telinga Sora.
"Kak Saskia?!" seru Rin dan Alex berbarengan dengan wajah senang mereka, Sora pun juga mengatakan hal itu secara berbarengan, namun berbeda dengan Rin dan Alex, Sora terlihat benar-benar ketakutan.
"Kak Saskia, a–anu aku gak mau ngapa-ngapain kok, a–aku pergi dulu ya kak!" ucap Sora dengan sangat gugup karena saking takutnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Sora pun berlari kecil meninggalkan Rin, Alex, dan Saskia.
__ADS_1
"Hahaha ... Sepertinya dia masih trauma banget ya sama Kak Saskia, baru dengar suara kak Saskia aja udah ketakutan banget tadi," ucap Rin dengan tawanya saat melihat Sora yang kabur ketakutan, Alex dan Saskia pun dibuat ikut tertawa.