
Kini Gara dan Sora diam terpaku setelah mendengar semua hal yang Rin katakan barusan.
"Hahaha ... Hahaha!! Luh pikir gue bakal percaya Rin? Memangnya luh siapa? Sampai-sampai Pak Surya dan Mr.Max mau mendengarkan pengaduan luh itu?! Luh baru pacarnya Radit, jangan berharap untuk lebih!" seru Sora tiba-tiba diiringi dengan tawanya.
"Gue tunangan Radit!" Tiga kata dari Rin kembali membuat Sora terdiam dan membeku, "apa maksud luh?" sahut Gara yang masih tak bisa percaya dengan semua hal yang telah Rin katakan.
"Masih kurang jelas? Gue Rin Ayu Pramana, adalah tunangan dari Raditya Angga Surya! Kalian pikir kenapa gue bisa jadi perwakilan keluarga Surya kalau gue bukan siapa-siapa? Dan berita gembiranya, gue dan Radit akan segera menikah!" balas Rin yang berbohong.
Karena tentu saja dia bukanlah tunangan Radit, melainkan sudah menjadi istri dari seorang Radit sekaligus menantu tercinta dari seorang Surya.
Meski Rin berbohong tapi itu sudah cukup membuat Sora juga Gara terdiam, dan tak dapat berkata-kata lagi.
Bagaimana jika Rin jujur kalau sebenarnya dia telah menikah dengan Radit? Bisa-bisa kedua orang itu akan mati berdiri.
"Omong kosong luh!" Sora berteriak dengan kencang, lalu tangannya pun bergerak untuk membalas tamparan Rin tadi, namun dengan cepat seorang pria sekitar umur 40 tahun menangkis tamparan tersebut.
"Jangan sakiti nona Rin!" tegas pria itu yang ternyata merupakan salah satu bodyguard di keluarga Surya.
"Terimakasih pak karena sudah datang tepat waktu," ucap Rin sembari memperlihatkan senyum tanda kemenangannya kepada Sora dan Gara. "Sekarang papa ada dimana pak?" lanjut Rin bertanya.
"Pak Surya kini sudah berada diruang Rektor nona Rin, anda ingin kesana juga?" jawab Si Bodyguard dan balik bertanya.
"Tidak pak, saya akan segera ke kelas untuk belajar setelah menyelesaikan masalah ini," seru Rin dan Si Bodyguard itu pun mengangguk.
Kemudian Si Bodyguard tersebut melempar jauh tangan Sora dari wajah Rin, lalu setelah itu dia melangkahkan kakinya satu langkah kebelakang untuk berdiri tepat di belakang sebelah kanan Rin.
Rin yang awalnya melihat Si Bodyguard kini kembali melihat Gara dan Sora, dan kali ini tatapan Rin terlihat begitu serius.
"Ku akui kalau kemarin aku terlalu lemah, dan juga terlalu cepat percaya dengan kalian yang seperti ular berbisa. Meski aku sudah melakukan seperti apa yang kalian minta, tapi tetap saja kalian memberitahukan kepada semua orang tentang penyakit Radit."
"Jadi setelah sudah tahu tentang kebusukan kalian yang sebenarnya, jiwa singa betina yang tertidur selama ini bangun. Kini aku akan bersikap tegas ke kalian berdua!"
"Tak akan ada kata maaf! Mulai dari saat ini juga akan ku pastikan kalian berdua menderita, dan kalian tidak akan ku biarkan untuk menikmati kebahagiaan sebagai akibat dari semua kejahatan yang telah kalian buat selama ini!"
"Dan perlu kalian ketahui, saat ini aku sedang tidak mengancam, tapi memberi hukuman!"
Rin mengucapkan semua kalimat-kalimat nya itu dengan suara yang pelan, perlahan, namun terdengar begitu tegas.
Setiap kalimat-kalimat dari Rin kini terasa begitu mengintimidasi bagi Sora dan Gara. Kini mereka diam dan tak bisa melawan lagi.
Rin yang melihat ekspresi bingung dan putus asa dari Sora dan Gara bener-bener merasa puas.
__ADS_1
Kemarahannya dan juga rasa kesalnya ke mereka berdua sejak kemarin akhirnya telah berhasil dia luapkan semua saat ini.
"Tolong urus mereka berdua pak, saya ingin pergi ke kelas saya," ucap Rin dan berlalu pergi.
"Baik!" balas Si Bodyguard itu, dengan cepat Si Bodyguard tersebut mengunci kedua tangan Sora dan Gara, lalu menarik mereka untuk kehadapan Surya.
"LEPASIN!!!"
......................
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Gara dan Sora, kini Rin pun kembali ke kelasnya.
Sesampainya disana Rin langsung mengikuti pembelajaran seperti biasanya, namun kali ini Gita, Putri, dan Sofia tidak berbicara dengannya.
Padahal biasanya meski sedang dalam proses pembelajaran, mereka berempat yang duduk berdekatan pasti akan saling mengobrol ketika ada waktu luang.
Tapi kali ini Gita, Putri, dan Sofia benar-benar seperti sedang mencuekin Rin. Sejak Rin masuk ke dalam kelas tadi, mereka tidak berbicara sama sekali dengan Rin, jangankan untuk berbicara, melihat Rin saja sepertinya mereka tidak melakukannya.
Hingga akhirnya waktu istirahat mereka pun tiba, saat Rin masih sibuk menyimpan semua buku-buku juga alat tulisnya ke dalam tas, Gita, Putri, dan Sofia sudah pergi terlebih dahulu meninggalkannya.
"Huft ... Jika begini bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya kepada mereka?" gumam Rin yang masih sibuk merapikan mejanya itu.
Tuukk ... Tuukk ...
"Kami tunggu luh di kantin," ucap orang tersebut yang ternyata adalah Gita, setelah mengatakan kalimat singkatnya tersebut, Gita kembali pergi meninggalkan Rin.
Rin yang merasa bahwa dirinya telah diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya pun langsung bergegas untuk menyusul Gita, dan yang lainnya ke kantin.
Dengan cepat dia memasukkan semua buku juga alat tulisnya ke dalam tas, lalu menutup tas nya itu dan langsung berlari kecil menuju kantin.
"Dimana mereka?" tanya Rin pada dirinya sendiri saat sudah tiba di kantin, mata Rin pun melihat sekeliling untuk mencari teman-temannya.
Tak lama setelah bola mata Rin mengitari kantin dari sudut ke sudut, akhirnya dia menemukan sesosok pria yang melambaikan tangannya kepada Rin.
"Rin!" teriak pria itu masih dengan lambaian tangannya, tanpa sadar senyum Rin pun mengembang saat melihat hal tersebut.
"Kak Alex, semuanya!" lirih Rin dan kemudian langsung pergi menuju ke meja tempat teman-temannya kini berada.
Namun senyum Rin yang sempat mengembang itu kembali menciut saat dirinya sudah berdiri di antara teman-temannya itu. Wajah mereka semua terlihat begitu dingin, hal inilah yang membuat Rin sedikit sedih.
"Ayo duduk," seru Sofia datar karena melihat Rin yang masih diam berdiri, mendengar hal itu Rin pun langsung duduk di satu kursi kosong yang memang sudah disediakan untuknya.
__ADS_1
Suasana diantara mereka pun sempat tegang beberapa saat, hanya ada suara hembusan napas dari ketujuh orang itu, sampai akhirnya kalimat dari Alex memecahkan keheningan.
"Kamu boleh cerita semuanya sekarang Rin," ucap Alex, dan seketika saja semua mata tertuju kepada Rin. Alex, Saskia, Gita, Putri, Sofia, dan Fathur melihat Rin denda tatapan penuh arti.
"Sebelumnya aku mau minta maaf ke kalian semua karena udah ngerahasiain tentang penyakit kak Radit," ucap Rin yang meminta maaf dengan kepala yang dia tundukkan.
Saat Rin mulai bercerita Gita, Alex, Saskia, Fathur, Putri, Sofia langsung mulai mendengarkan dengan seksama.
"Tapi yang perlu kalian tahu, kak Radit sendirilah yang memintaku agar berita tentang penyakitnya itu tidak disebarkan ke orang lain. Kak Radit tidak ingin kalian tahu bahwa dirinya mengidam penyakit kanker, dia tidak ingin kalian menganggapnya lemah."
"Bahkan aku sendiri bisa tahu tentang penyakit kak Radit itu setelah sudah sangat berusaha untuk meyakinkan dirinya, andai saja aku tidak melakukan hal tersebut waktu itu, maka aku pun juga tidak akan tahu tentang penyakit kak Radit sampai saat ini."
"Aku hanya tidak ingin melanggar janji yang telah kubuat dengan kak Radit, yaitu untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang penyakitnya."
Rin menjelaskan dengan panjang lebar, lalu setelah Rin mengatakan kalimat terakhirnya tersebut dia pun terdiam.
Rin merasa bahwa utang penjelasannya sudah selesai sampai kalimat tersebut, namun keenam temannya yang menyimak betul kalimat terakhir Rin langsung bersuara ketika Rin sudah cukup lama terdiam.
"Tidak ingin melanggar janji? Tapi kenapa kamu memberitahukan tentang hal itu kepada Sora dan Gara?" sahut Fathur yang bertanya mewakili pertanyaan kelima orang lainnya.
"Aku dipaksa kak," jawab Rin singkat, "Dipaksa? Dipaksa bagaimana?" sahut Putri langsung karena merasa Rin sepotong-sepotong dalam menjawab pertanyaan itu.
"Kemarin sepulang dari acara rapat, aku dan Mr.Max pergi ke rumah sakit karena Mr.Max ingin menjenguk kak Radit. Lalu tanpa kusadari ternyata Sora dan Gara mengikutiku dan Mr.Max sampai ke rumah sakit, kemudian mereka pun melihat Radit yang sedang terbaring di ruangan ICU."
"Saat aku kembali setelah mengantar Mr.Max ke tempat parkiran mobil, Sora dan Gara langsung mengancamku."
"Mereka mengatakan jika aku tidak menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan kak Radit, maka mereka berdua akan memberitahu kesemua orang, kalau kak Radit dirawat diruangan ICU karena penyakit serius yang selama ini disembunyikannya."
"Itu sebabnya aku terpaksa menjelaskan semuanya kepada mereka, ya meski pada akhirnya mereka tidak menepati apa yang telah kami sepakati."
Jawab Rin yang kembali menjelaskan dengan panjang lebar.
"Sepulang rapat? Astaga Rin, coba aja luh kasih tau ke kita, kan pasti gue dan Alex bakal ikut jenguk Radit, dan kalau ada gue dan Alex disana, dua orang itu pasti gak bakal berani ngancam luh kayak gitu!" sahut Saskia yang geram setelah mendengar keseluruhan cerita Rin.
"Maaf kak, aku tau aku yang salah, maaf semua," ucap Rin lirih dan sambil menundukkan kepalanya.
Tanpa sadar setetes air mata Rin pun jatuh kembali, entahlah itu tetesan air mata yang ke berapa.
"Rin, sudah jangan menangis lagi," ucap Sofia yang akhirnya mau menerima maaf Rin, dia pun langsung berdiri dari duduknya lalu memeluk temannya itu.
"Gue marah, gue kesal, dan gue merasa gak dianggap, tapi luh juga jangan nangis lah!! Kan jadinya gue serba salah!" sahut Gita yang malah ikutan menangis, dia pun berdiri dan juga memeluk Rin.
__ADS_1
Lalu Saskia, Putri, Alex, dan Fathur pun menyusul, mereka berdiri melingkar lalu memeluk Rin, memberikan dukungan sekaligus kehangatan.