
Sinar mentari pagi menyambut sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara itu.
Cahaya matahari pun masuk perlahan melalui celah-celah jendela yang ada, dan menyinari wajah mereka berdua. Dan siapa lagi sepasang kekasih itu kalau bukan Rin dan juga Radit.
Hingga akhirnya Radit terbangun karena sinar matahari itu menyilaukan matanya, lalu dia pun segera menggoyangkan tubuh Rin agar cepat bangun. "Rin ayo bangun!" ucapnya.
"5 menit lagi sayang, masih ngantuk banget," jawab Rin masih enggan untuk membuka matanya.
"Gak bisa! Kamu ingat hari ini kita bakal ada pengarahan dari dosen galak itu, mau di hukum? Kalau bisa kita harus sampai 1 jam sebelum masuk," tegas Radit masih sambil menggoyang kan tubuh Rin agar segera bangun.
Tak perlu waktu lama, setelah mendengar kata "dosen galak" seketika Rin langsung terbangun, dan dengan cepat berlari menuju kamar mandi.
"Dasar bocah" gumam Radit tersenyum melihat tingkah Rin yang lucu itu. Setelah itu dia pun keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi lain yang berada di luar dekat kamar mereka, karena tak mungkin dia akan menunggu Rin, mereka akan telat jika begitu.
Akhirnya sekitar 30 menit telah berlalu, Rin dan Radit pun sudah siap dengan pakaian mereka masing-masing, lalu mereka segera turun dan pergi untuk sarapan.
"Radit, hari ini papa sudah jadwalkan terapi untuk kamu ya, nanti kamu pergilah bersama Rin setelah pulang dari kampus untuk menemui dokter Firmansyah di rumah sakit biasanya," ucap Surya di tengah-tengah waktu sarapan mereka.
"Kak Radit ada terapi Pa?" tanya Rin bingung.
"iya Rin, papa telah membicarakan masalah penyakit Radit dengan dokter Firmansyah beberapa hari yang lalu, dan setelah melakukan banyak perbincangan, dokter Firmansyah pun mengatakan bahwa Radit bisa saja sembuh dengan beberapa terapi pengobatan," jelas Surya, dan saat mendengar akan hal itu Rin dibuat begitu senang.
"Kak Radit bisa sembuh!" ucap Rin kegirangan, Radit pun dibuat sama senangnya, apalagi ketika melihat Rin yang begitu bahagia mendengar tentang hal ini. Lalu mereka pun melanjutkan sarapannya.
Setelah siap sarapan tanpa menunggu berlama-lama lagi mereka segera berangkat ke kampus karena tak ingin terlambat.
......................
__ADS_1
"Rin ayo cepat sini!" teriak Gita saat melihat sahabatnya itu baru muncul dari area parkiran, Rin yang mendengar panggilan Gita pun segera berlari menghampiri Gita yang sedang berada di lapangan.
"Huft ... Hampir gue telat Git," seru Rin sambil mencoba mengatur napasnya yang sudah ngos-ngosan itu.
"Lagian kok luh mepet banget datangnya? Luh lupa kalau dosen galak itu yang kasih arahan, maka semua mahasiswa harus datang selambat-lambatnya 1 jam sebelum dia berceramah," ucap Gita seperti sedang menasehati Rin.
"Iya iya sorry, habisnya ya tadi itu di jalan macet banget, pas gue tengok ternyata ada orang yang kecelakaan, makanya sebagian jalan diblokir," balas Rin memberikan alasannya.
Belum sempat Gita berkata-kata lagi, tiba-tiba suara besar yang keluar dari mic membuat seluruh perhatian mahasiswa beralih ke asal suara itu. Seketika suasana yang awalnya ribut tiba-tiba menjadi sangat hening.
"Selamat pagi semuanya!"
"Pagi, Buk!"
Dengan diucapkan nya salam sapaan itu, maka disaat itulah pengarahan di mulai.
Dosen galak yang di maksud adalah seorang dosen wanita dari bidang studi hukum, meski dia tak pernah mengajari Rin, namun Rin tau betul seberapa killer nya dosen itu. Dosen itu benar-benar sudah sangat di kenal oleh seluruh penghuni di kampus tersebut.
Sekitar 20 menit lamanya dosen itu pun terus berbicara dan memberikan ceramahnya, para mahasiswa-mahasiswi mendengarkan dengan seksama dan tak berani membuat kebisingan, karena mereka tahu apa konsekuensi nya jika melakukan itu di hadapan dosen killer tersebut.
Hingga akhirnya dia menyudahi kalimat-kalimat panjang itu, dan membubarkan barisan padat di lapangan tersebut, satu persatu mahasiswa-mahasiswi meninggalkan lapangan itu lalu memasuki ruangan kelas mereka masing-masing.
"Rin!" teriak seseorang dan Rin langsung membalikkan badannya sembari mencari asal suara itu.
"Kak Alex?" gumam Rin saat Alex mulai mendekati nya, Rin pun menyadari bahwa suara tadi itu adalah milik Alex.
"Maaf, tapi kamu bisa bantuin aku?" seru Alex bertanya.
__ADS_1
"Bantuin apa kak? aku bisa-bisa aja kok," balas Rin dengan senyum begitu ramah.
Mendengar hal itu Alex pun ingin melanjutkan permintaan bantuannya, namun tiba-tiba saja suara Radit menghentikan omongan Alex. "Rin gak bisa bantuin loh! mau apa loh? biar gue aja," ucap Radit dingin namun terlihat tak suka.
"ah, o–oke. Bantuin gue di perpustakaan, ini disuruh sama dosen piket," balas Alex yang dibuat sedikit bingung, kemudian Radit pun meminta Rin untuk pergi saja karena dialah yang akan menggantikan Rin untuk menolong Alex.
"dasar cemburuan," gumam Rin dengan senyum saat sudah jauh dari Alex juga Radit.
Rin pun pergi ke kelasnya untuk melakukan pembelajaran sementara Radit, dan Alex pergi ke arah berlawanan untuk melakukan apa yang Alex minta tadi.
......................
Saat waktu istirahat telah tiba, banyak murid yang langsung pergi menuju kantin begitupun dengan Radit, awalnya Radit pergi ke kelas Rin terlebih dahulu, namun ketika tau bahwa Rin tidak ada di sana, dia pun langsung pergi menuju kantin.
"Kenapa dia tidak menunggu ku?" batin Radit sangat kesal, dia pun berjalan dengan begitu cepat, dia takut jika ternyata Rin sudah ada di kantin dan sedang berduaan dengan Alex.
Sesampainya di kantin Radit dibuat sedikit tenang, karena Alex dan Rin makan di meja yang berjauhan, jadi dengan segera dia menghampiri meja Rin. "Kenapa luh hilang hah?! Gue udah nyariin Luh kemana-mana," ucapnya dengan nada yang marah.
"Aku nggak hilang kok Kak, kan pas pembelajaran selesai aku langsung ke kantin, dan nggak kemana-mana tuh," balas Rin tanpa menoleh.
"Kak Radit juga enggak kan? pasti habis liat kelas aku langsung buru-buru kesini," lanjut Rin bermaksud mengejek perkataan Radit yang sok iya sebelumnya, hal ini membuat wajah Radit semakin terlihat kesal, sementara Gita, Sofia, juga Putri tertawa kecil.
"Luh ya! Maksud luh apa berani lawan gue?" ucap Radit dengan tangan yang sudah mengepal.
"Gak ada maksud apa-apa kak" jawab Rin datar.
"Rin liat gue!" seru Radit mulai dingin dan dengan sangat menurut Rin langsung menoleh, karena dia tau dinginnya Radit pada dia saat ini adalah tanda bahwa Radit sedang marah.
__ADS_1
"Luh... PULANG SENDIRI!" seru Radit dengan menekankan setiap kata-kata nya namun masih terdengar dingin, dia pun langsung meninggalkan Rin yang masih terlihat panik dengan perkataan yang baru saja dia katakan.
"Apa? kak tunggu!!" teriak Rin namun Radit sudah berlalu pergi, "Aaiisshhh ... Gue pulang naik apa entar?" ucapnya bingung.