Dijodohkan Dengan Senior Kejam?

Dijodohkan Dengan Senior Kejam?
Eps 42. Pertemuan antar pengusaha


__ADS_3

Saat Rin keluar dari ruangan ICU, secara kebetulan dia pun melihat Surya yang sepertinya sudah selesai bicara dengan dokter Firmansyah.


"Pa, bagaimana? Ka Radit dioperasi?" tanya Rin dengan suara yang amat lirih, Surya pun menjawabnya dengan anggukan pelan.


"Setelah melewati masa kritisnya nanti, dokter Firmansyah akan langsung mengoperasi Radit, kita doakan saja ya Rin agar semuanya baik-baik saja," jawab Surya.


Mendengar hal itu Rin ingin kembali menangis, dia tidak kuat dengan kabar itu, tapi dengan cepat tangan Surya mengelus punggung menantunya yang ingin kembali menangis itu.


"Sudah Rin, Radit kan orangnya kuat, semuanya pasti baik-baik saja kok. Sudah sebaiknya kamu makan dulu ya, papa tau kamu belum makan bahkan minum dari tadi," seru Surya.


Lalu kemudian Surya membawa Rin untuk pergi ke kantin yang ada di rumah sakit tersebut.


Sesampainya di kantin, mereka berdua memilih meja bundar kecil dengan 2 kursi yang saling berhadapan.


Mereka memilih tempat itu karena letaknya yang berada di pojok, dan sedikit jauh dari keramaian.


Beberapa menit setelah mereka memesan makanan, akhirnya kini 2 porsi roti bakar, juga secangkir teh dan kopi sudah terhidang di atas meja mereka.


Setelah Rin sudah beberapa kali menyeruput teh miliknya, akhirnya kini dia sudah mulai tenang, dia sudah bisa mengatur napasnya yang sedari tadi terus tersengal-sengal.


Surya yang sejak tadi diam mengamati Rin, akhirnya memutuskan untuk membicarakan apa yang sejak tadi ingin dia bicarakan, setelah melihat Rin yang sudah merasa lebih tenang.


"Sayang, sebenernya besok akan ada pertemuan antara para perwakilan perusahaan. Papa tidak bisa datang karena masih harus berangkat ke Singapura besok pagi, apa kamu bisa pergi sendiri tanpa Radit?" seru Surya menjelaskan, kemudian dia bertanya.


Rin yang mendengar itu pun dibuat bingung, dia meletakkan gelas teh yang dia pegang, kemudian matanya fokus melihat Surya, "Maksudnya pa?"


"Seharusnya kamu dan Radit lah yang pergi bersama ke acara itu, tapi karena Radit harus dirawat, kamu bisa sendiri?" ucap Surya memperjelas perkataannya tadi.


Rin terdiam, dan berpikir sejenak, "Lalu siapa yang akan menjaga Radit, pa?" tanya Rin, karena saat ini dia hanya memikirkan kondisi suaminya itu, jika dia pergi, dan Surya juga akan kembali ke Singapura besok pagi, jelas Radit akan sendiri bukan?

__ADS_1


"Akan ada banyak perawat, juga dokter yang menjaga Radit, Rin. Papa juga akan menyuruh 2 orang pelayan untuk berjaga dan mengawasi Radit dari depan ruang ICU ini, kamu tak perlu khawatir soal keamanan Radit disini," balas Surya.


Rin diam untuk berpikir lagi, "Yasudah pa, kalau begitu aku mau," ucapnya yang akhirnya membuat keputusan.


Surya yang mendengarnya pun tersenyum lega, "Sepertinya acara ini cukup penting ya?" pikir Rin dalam kepalanya.


......................


Saat ini Rin sedang berdiri di depan pintu ruangan ICU, dia berdiri dengan anggun dan cantik disana.


Gaun indah selutut berwarna silver semakin memperindah tubuh Rin saat ini, rambutnya tertata rapi, wajahnya pun juga terlihat lebih cantik dari biasanya.


Keindahan Rin saat ini seperti sedang memancarkan aura seorang putri kerajaan, dia benar-benar terlihat begitu menawan.


Namun tidak dengan matanya Rin, semua bagian ditubuhnya, dari atas sampai bawah memang terlihat indah, namun matanya tidak.


Mata itu terlihat begitu sembab, kantung matanya cukup besar, juga sedikit hitam. Hal ini sangat menjelaskan bahwa Rin sudah menangis semalaman.


Tubuh Rin kembali bergetar, ingin sekali rasanya dia jatuh, namun selalu ada pikiran yang terlintas di benaknya, "Jika kau sakit dan lemah, siapa yang akan menjaga Radit?"


Mata Rin yang sudah sembab itu kembali ingin meneteskan air mata, tapi kali ini dia menahannya sebentar.


Tangan Rin bergerak, kemudian menyentuh dinding kaca tersebut, ibu jarinya bergeser ke atas dan ke bawah layaknya sedang mengelus.


Dia ingin masuk ke dalam ruangan ICU tersebut, tapi dia tau itu justru akan membuat semuanya menjadi semakin berat, itu sebabnya Rin melihat dan mengelus Radit dari balik dinding kaca tersebut.


"Aku berpenampilan seperti ini karena papa bilang seharusnya aku pergi denganmu, aku ingin memperlihatkan diriku saat ini pada dirimu, namun kamu, kamu malah terbaring disana," ucap Rin dengan sangat lirih.


"Aku berpenampilan seperti ini hanya untukmu, hanya untukmu Raditya. Jadi meski kamu ada disana dan terbaring, aku akan tetap dan selalu menganggap mu ada disisi ku ya," lanjut Rin masih dengan sangat lirih.

__ADS_1


Setetes air mata pun akhirnya terjatuh dari matanya, tetesan yang lain ingin menyusul, tapi dengan cepat Rin kembali membendung semuanya.


Tangannya dia angkat untuk mengusap setetes air mata itu, "Aku pergi dulu ya," gumam Rin dengan senyum kecilnya.


Rin melihat Radit untuk beberapa saat lagi, setelah merasa sudah puas, Rin kembali berpamitan dengan sang suami, lalu akhirnya benar-benar pergi.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, sementara acara akan dilaksanakan pada pukul setengah 10, jadi Rin berangkat dengan terburu-buru.


Dia melangkahkan kakinya cukup cepat menuju tempat parkiran, masuk ke dalam mobil miliknya, lalu langsung menancapkan gas menuju lokasi acara.


Setelah Rin berkendara kurang lebih sekitar 20 menit, akhirnya dia telah sampai di tempat tujuannya, atau lebih tepatnya lagi, tempat acara pertemuan antar pengusaha dilaksanakan.


Rin turun di depan sebuah bangunan putih, itu bukanlah kantor maupun hotel, itu adalah bangunan yang biasanya para pengusaha gunakan untuk melakukan acara-acara besar saat mereka berada di Jakarta.


"Tolong ya pak," ucap Rin sembari memberikan kunci mobilnya kepada salah satu penjaga, penjaga itu pun mengambil kunci tersebut lalu pergi memarkirkan mobil Rin.


"Selamat datang nona Rin, anda datang kesini mewakili siapa?" sapa seseorang dengan ramah saat Rin berdiri tepat di depan pintu masuk, orang tersebut pun kemudian bertanya.


"Saya kesini mewakili Pak Surya," balas Rin sama ramahnya, namun ada saja orang yang tak suka dengannya disana, "Kenapa kau tidak mewakili Pak Pramana? Bukankah kau anaknya?" ucap orang itu dengan nada tak suka.


"Papaku akan datang kesini untuk mewakili perusahaannya sendiri," balas Rin dengan datar karena mulai tak nyaman.


"Ah maaf nona Rin, mulutnya memang kadang suka tidak bisa dikontrol," sahut orang yang menyapa Rin tadi, Rin hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


Setelah itu kedua orang yang menjaga pintu masuk tersebut pun mengizinkan Rin untuk masuk ke dalam.


Rin melangkahkan kakinya perlahan untuk memasuki gedung tersebut, setelah masuk matanya pun melihat setiap sudut bangunan yang cukup megah itu.


Kemudian dia masuk semakin dalam, dengan mata yang masih terus melihat sekeliling.

__ADS_1


"Rin!!" Terdengar ada seseorang yang berteriak dari balik kerumunan, "Rin!!" Suara teriakan itu kembali terdengar, mata Rin pun akhirnya mencoba untuk mencari si pemilik suara yang terus meneriaki namanya itu.


__ADS_2