
Saat ini Rin sedang merawat Radit, dikarenakan ini hari Minggu jadi dia bisa merawat Radit seharian penuh.
Namun jam sudah menunjuk kan pukul dua siang, tapi Radit masih belum makan bahkan dari tadi pagi.
Sudah banyak cara yang Rin lakukan agar suaminya itu mau makan, tapi tetap saja dia tidak mau menyentuh makanannya tersebut sama sekali.
Sedari tadi pagi Radit terlihat selalu murung, wajahnya yang pucat tanpa senyum, juga tangan yang terpasang infus membuat kekhawatiran Rin semakin bertambah.
"Kak ayo makan," rayu Rin lagi sembari menyodorkan sendok berisi makanan yang telah diberikan oleh rumah sakit kepada Radit.
Namun Radit hanya diam tak merespon perkataan Rin, jangan kan untuk meresponnya menatap Rin saja sepertinya dia enggan, Radit terlihat terus memandangi jendela tanpa pernah melihat Rin, hal inilah yang membuat Rin hampir kehilangan kesabarannya.
"Kak, aku gak mau ngomong ini lagi untuk ke sekian kalinya, jadi ini yang terakhir. Ayo makan!" ucap Rin dengan mempertegas setiap kata-kata nya, tapi hasilnya tetap saja, Radit hanya diam.
"Oke baiklah, biar aku telpon papa sekarang dan suruh papa buat maksa kak Radit makan, atau mau aku panggilin kak Saskia aja? Atau mungkin Kak Alex? Biar gak usah makan, berantem aja sekalian!" lanjut Rin dengan kesal.
Radit yang dari tadi tak ada reaksi, namun ketika mendengar nama Alex, matanya seketika membulat dan terlihat marah.
"Yaudah kalau gitu mending loh aja yang pergi sana! Berduaan sama Alex! Lagian kenapa luh masih ada disini hah? Kan luh dah tau gue bakal mati, gak mau ajuin gugatan cerai aja?" sahut Radit dan berbicara dengan sangat cepat.
Mendengar kalimat itu bukannya marah Rin malah terlihat sedih, matanya mulai berkaca-kaca dan dia terdiam cukup lama.
"Hiks ... Kak Radit kenapa harus selalu nyebelin gini sih? Kenapa kak Radit malah ngomong kayak gitu hah?! Kak Radit gak bakal mati, aku akan selalu disamping kakak, dan gak akan pernah biarin siapapun, dan apapun itu buat nyakitin kak Radit. Cerai? Kak Radit bodoh? Kita baru nikah, siapa yang udah mau jadi janda hah?! Jadi aku gak bakal mau kalau kak Radit pergi!!!" ucap Rin memarahi Radit dengan air mata yang sudah mengalir begitu deras jatuh dari matanya, hingga Radit pun dibuat terdiam.
"Kenapa?" lirih Radit.
__ADS_1
"Karena aku istri kakak! Masih kurang jelas?! Perjodohan kita emang bukan didasari oleh cinta, aku juga gak bisa bohong kalau aku masih menganggap kak Radit senior kejam yang paling nyebelin dan aku benci, tapi itu disaat aku sebagai junior, dan kak Radit yang sebagai senior. Namun disaat kita ada di mode suami istri, maka aku akan mencintai kak Radit sama seperti seorang istri yang mencintai suaminya!" jelas Rin panjang lebar masih dengan air matanya.
Tak terasa mendengar jawaban Rin itu air mata Radit pun dibuat jatuh seketika bahkan sebelum dia menyadarinya.
"Bahkan dengan penyakit ku ini?" lirih Radit lagi sembari mencoba menahan air matanya yang akan jatuh begitu deras jika tak dibendung.
"Ya! Bahkan dengan penyakit kak Radit itu," balas Rin dengan nada yang sangat menyakinkan.
Tanpa Radit sadari, tubuhnya bergerak begitu saja untuk memeluk wanita yang telah menghilangkan kerisauan nya selama ini.
"Makasih," lirih Radit di pelukan itu, lalu dengan hangat Rin membalas pelukan tersebut, dan mengatakan semua akan baik-baik saja asal mereka menghadapinya bersama-sama.
Mereka pun tenggelam dalam pelukan yang penuh bahagia namun juga tercampur kesedihan didalamnya.
......................
"Kamu tak pulang? Ini sudah malam," tanya Radit sembari terus memperhatikan istrinya yang tengah sibuk menyuapinya itu.
"Hmm ... Sepertinya aku akan menghubungi papa untuk membawakan bantal dan juga selimut, aku ingin tidur disini bersamamu," jawab Rin dengan lembut, mendengar hal itu Radit menaikkan sebelah alisnya.
"Lalu kamu akan tidur dimana?" tanyanya lagi.
"Aku akan tidur di sofa," jawab Rin tanpa memperhatikan wajah Radit yang mulai terlihat kesal.
"Kalau begitu tidurlah di samping ku, kasur ini cukup luas untuk kita berdua," balas Radit.
__ADS_1
Awalnya Rin melakukan penolakan, cukup luas? Ranjang rumah sakit itu benar-benar akan sangat pas-pasan saat mereka berdua tertidur disana, namun Radit tak menerima penolakan, dia meminta dengan wajah memohon yang membuat akhirnya Rin tak dapat menolak.
Kamu? Bersamamu? Oke, jadi sebenarnya sejak kejadian tadi siang, secara spontan sebutan dari mereka berdua mulai berubah, kini Radit tak bilang luh, gue lagi. Begitupun dengan Rin yang tak lagi memanggil Radit dengan sebutan kakak. Tapi ini hanya akan berlaku saat mereka di mode suami istri dan sedang berdua saja sepertinya...
Waktu berlalu dengan cukup cepat, setelah Radit selesai makan, Surya pun datang membawakan bantal dan selimut yang Rin minta. Sekaligus dia membawakan makanan untuk menantunya itu dan makan bersama.
"Bagaimana Rin? Radit makan banyak?" tanya Surya di sela-sela makannya.
"Tenang aja pa, awalnya Kak Radit emang gak mau makan. Tapi akhirnya kak Radit dengan lahap makan makanannya kok," jawab Rin dan membuat Surya lega mendengarnya.
"Maaf ya sayang, papa dari tadi pagi gak bisa kesini, ada hal yang benar-benar penting di kantor tadi," seru Surya merasa bersalah.
"Gak apa-apa, Bagus kok pa," ucap Rin dan Radit secara bersamaan, membuat Surya seketika membulatkan matanya.
"Kalian baik-baik aja?" tanya Surya ragu, karena memang sangat sulit dipercaya jika selama ini dua orang yang selalu terlihat seperti Tom and Jerry menjadi begitu kompak.
Dua orang itu pun mengangguk secara bersamaan membuat Surya malah dibuat semakin bingung tak mengerti, kini isi kepala Surya dipenuhi oleh banyak pertanyaan, apa yang telah dia lewatkan?
......................
"Baiklah papa pulang dulu, kalian berdua baik-baik disini ya." Surya mengucapkan selamat tinggal sebelum akhirnya meninggalkan kamar rawat inap Radit.
Waktu yang sudah menunjukkan pukul 10 malam itu pun mengundang rasa ngantuk dari sepasang suami istri tersebut. Mereka pun kini sudah berada di atas ranjang rumah sakit itu, dan siap untuk pergi berlayar ke alam mimpi.
"Terimakasih untuk hari ini," bisik Radit sebelum akhirnya dia tertidur, Rin yang tidur menghadap Radit pun hanya bisa tersenyum melihat sikap Radit saat ini.
__ADS_1
Mungkinkah gembok cinta diantara mereka berdua benar-benar sudah terbuka? Itu yang Rin pertanyakan, namun tak terlalu lama dia berpikir, karena akhirnya dia ikut menyusul pria nya itu ke alam mimpi.