
"Kring ... kring ... kring ...," tangan mungil itu mulai mencari-cari sumber dari suara bising yang membuat tidurnya terganggu.
"Uhhh ..., jam berapa sih kok alarm udah berisik gini?" Sambil mengerjap kan mata indahnya beberapa kali.
"Ica ...? Bangun udah hampir siang ini!" Suara derap langkah kaki mulai mendekat.
"Anak gadis satu ini kok suka banget rebahan ya? Bangun gih..!" Suara nyaring khas emak-emak terdengar dari balik pintu kamar itu.
Kamar itu di huni oleh seorang gadis bertubuh mungil yang bernama Ica, lebih tepatnya Dara Monica Agata. ia adalah seorang gadis berumur Delapan belas tahun (18) yang baru menyelesaikan sekolah SMK-nya tahun kemarin dan masih betah rebahan sampai sekarang ini. (hihihihi... 😊)
"I---iya ..., Ica udah bangun nih ...!" Suara serak khas orang bangun tidur.
"Astagfirullah, udah jam 09:37 Aku baru bangun. Pantas saja Umi sampai berteriak memanggilku, untung pintu kamar tidak sampai terbang karna teriakannya." Ica merutuki dirinya sendiri, masih di dalam kamarnya.
Pagi ini Ica bangun kesiangan, di tanggal pertama tahun ini. Ya ini tahun baru. Tapi Ica malah bangun kesiangan, bukan karna semalam Ica begadang merayakan tahun baru yaaa. Tapi semalam ia malah asik tidur di kamarnya, tanpa melakukan apapun.
Bukan Ica tidak mempunyai acara yang bisa di datanginya, tapi karna memang tidak ada yang mengajaknya untuk menyambut tahun baru bersama. Maklum, Ica adalah seorang gadis jomblo yang berkelas.
"Umi masak apa hari ini? Baunya enak banget, Ica sampe gak fokus mandinya hihihi." Ica mencoba menggombali Uminya yang sedang memasak di dapur.
Karna Ica tau, Uminya itu pasti akan melanjutkan omelan yang belum terselesaikan tadi. Maka dari itu Ica mencoba membuat Uminya tidak marah lagi kepadanya dengan cara memuji masakan yang sedang di masak Uminya itu.
"Haduh ..., Umi punya anak gadis tapi kok malesan banget, Kamu sholat subuh gak tadi?" Tanya Umi kepada Ica dangan tatapan tajam.
"Emmm ..., itu ..., anu ..., Umi. Ica minta maaf." Ica berucap sambil mengelus lengan Uminya.
Nada bicara Ica mulai terbata-bata menjawab pertanyaan Umi, entah kenapa detak jantungnya menjadi tidak kondisional sekali. Mungkin karna Ica baru menyadari bahwa subuh tadi ia tidak menjalankan kewajibannya, dan itu artinya akan bertambahlah durasi Umi berbicara hari ini.
"Berarti ada yang bakal kenak potong!" ucap Umi sambil terus memasak.
"Iya ..., Um---" suara Ica terhenti, karna Uminya melanjutkan ucapannya tadi.
__ADS_1
"Ica..., Umi tidak akan marah jika Ica tidak membantu Umi menyelesaikan perkerjaan rumah. Tapi Umi akan marah jika Ica lalai dalam menjalankan kewajiban Ica, faham kan maksudnya Umi?" Tanya Umi pada Ica sambil menatap lekat.
"Iya Umi maaf, insyaallah besok tidak terulang lagi hehehe ...," gadis itu tertawa kecut.
Obrolan Ibu dan Anak terus berlanjut sampai tidak terasa ternyata sudah jam 13:26, setelah selesai sholat zuhur Ica kembali ke kasur kesayangannya. Mata indahnya memandang langit-langit kamar yang ternyata kotor, dipenuhi dengan sarang laba-laba.
"Astagfirullah, joroknya aku." Ucap Ica sambil mengusap wajahnya pelan.
Di tengah lamunannya, Ica baru teringat jika dirinya mempunyai handphone yang seharian ini belom di sentuhnya sama sekali.
Pasti ada yang chat ngajakin main ni ...! Batin Ica sambil mencari handphonenya .
Ica membuka Handphonenya itu dan terpampang jelas ada 5 panggilan tak terjawab dan ada beberapa chat dari teman-teman dekatnya. Di antara beberapa pesan yang masuk, salahnya satunya berisi ajakan untuk merayakan tahun baru. Tapi ajakan itu langsung di tolak oleh Ica, karena memang gadis ini tidak suka tempat ramai.
Akhir - akhir ini Ica semakin sering mengurung dirinya di kamar, ia juga jarang bicara, bahkan dengan penghuni rumah. Itu semua di lakukannya karna ada suatu penyebabnya di masalalu.
"Humz ..., main game aja lah! Selesaiin misi dulu ...," ucap Ica pelan seraya membuka salah satu aplikasi Game Onlinenya.
" Iss ..., masak iya kalah si, gimana nih ...?" Ica mendengus kesal karna kalah dari permainan Gamenya.
Ica mulai mengoceh sendiri seperti biasa saat dirinya mulai kewalahan menyelesaikan game dan akhirnya sesuai dugaan, Ica kalah. Dan yang membuatnya lebih jengkel, lawan mainnya tadi malah mengajak Ica berdebat.
Entah kenapa, lama-kelamaan perdebatan mereka itu malah berubah menjadi musyawarah yang berjung pada hubungan tanpa nama namun sangat berharga.
(Satu Minggu kemudian)
Pagi ini, gadis bertubuh mungil itu sedang duduk di pinggir kolam menikmati udara sejuk sambil menggenggam handphonenya . Entah apa yang membuat Ica bangun pagi sekali hari ini, setelah selesai sholat subuh gadis itu langsung pergi ke taman belakang rumahnya.
Setelah berjam-jam duduk di pinggir kolam, sampai sinar hangat matahari pagi ini telah menerpa seluruh tubuhnya. Namun Ica tetap tidak beranjak dari tadi, dengan tatapan kosong entah apa yang sebenarnya sedang Ia fikirkan.
Sangat terlihat jelas bahwa ia sedang menangis entah apa penyebabnya, memang beberapa bulan terakhir ini Ica lebih sering menghabiskan waktunya untuk melamun dan biasanya lamunannya akan brakhir dengan isak tangis.
__ADS_1
Ica menundukkan kepalanya sambil memeluk erat tubuhnya sendiri, suasana masih hening hanya terdengar isak tangis pelannya sedari tadi.
"Kenapa harus kayak gini ...? Hiksssss ..., hiks ...?" Suara gadis itu terdengar pelan.
"Ica capek, semuanya ancur ..., maafin Ica ..., hikss." Gadis itu terus berderai air mata.
Hanya kalimat itu yang terus terucap sedari tadi, seolah-olah Dia sedang menyesali sesuatu.
Di tengah kesedihannya, tiba-tiba handphone Ica bergetar menandakan ada pesan masuk. Dengan cepat Ica membukanya, ternyata itu pesan dari Octa. Pemuda yang menjadi teman berdebat Ica seminggu yang lalu, saat di Game Online.
(Obrolan mereka di pesan singkat)
"pagi ...?" Sapa Octa.
"Iya pagi juga abang ...," balas Ica.
" Aihh kok suasana nya lagi horor, kenapa ca?" Tanya octa heran.
"Ahahaha sok tau nih,orang ica biasa aja kok." Balas Ica.
"Hilih ..., kalo lagi capek istirahat Ca! Kalo ada unek-unek cerita, Abang siap dengerin omelan mu." Ujar Octa dari sebrang sana.
"Tau saja Abang, emang unik patut untuk di masukkan ke musium supaya tidak punah." Tungkas Gadis itu, sambil tersenyum.
"Dinosaurus Kali punah ...?" Octa terkekeh pelan setelah membaca pesan dari Ica.
"Nah ..., bagus itu. Ica panggil Abang Dinosaurus aja ya ...!" Terlihat raut wajah gadis itu berubah menjadi sumringah.
"Suka-suka kamu saja, yang penting seneng ...." Octa hanya bisa pasrah atas kehendak gadis menggemaskan itu.
Tanpa Ica sadari dirinya sudah lupa akan kesedihan yang ia ratapi tadi, hanya karna obrolan tak jelasnya dengan Octa. Ica sangat senang bisa berkenalan dengan Octa, seorang laki-laki yang terpaut usia 2 tahun lebih tua darinya dengan sifat dewasa, baik hati dan yang paling Ica suka Octa orang yang sangat humoris.
__ADS_1